Laman

Minggu, 27 Juni 2010

Mawarku...


Mawarku mekar
Oh indahnya...
Seperti wanita dibalut sutera
Tak lepas mata mengaguminya

Belum puas lagi hati ini
Kutemukan kelopaknya menguning
Aku resah
Berbisik padanya, Jangan layu Sayang...

Kelopaknya jatuh perlahan
Di tanah merah yang basah
Sungguh kasihan
Dia tak lagi secantik kemarin

Tak rela hati ini
Bolehkah temani aku sebentar lagi?
Kelopaknya jatuh satu persatu
Dalam kebisuan mengajarkanku tentang hidup

Bukankah hidup pun seperti itu?
Mekar pada waktu tertentu
Dan kemudian layu ketika masa telah tiba
Hakikat alam yang tak bisa kau ubah

Akhirnya kurelakan mawarku pergi
Kupotong tangkai yang telah layu
Dia menatapku dan tersenyum
Jangan sedih Sayang, hidup ini terus berputar...

Mawarku berbicara tentang dirinya dan hidup
Harus kupotong saat waktunya telah tiba
Jangan ada sesal dan sedih
Dia telah berjanji akan selalu mekar kembali

Alam telah membuat aturannya
Dan aku hanya perlu belajar menerima
Kapan mawarku harus kurelakan
Kapan bagian dari hidupku harus kututup

Dan seperti janji alam padaku
Mawarku akan tumbuh dan mekar kembali
Begitupun dengan hidupku akan indah kembali
Bila saatnya telah tiba nanti...