<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981</id><updated>2011-11-15T21:08:30.553+07:00</updated><category term='start line'/><title type='text'>Sunshine</title><subtitle type='html'>I want to be like the sunshine.. Shining everyday...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>127</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-5705437669980408949</id><published>2011-05-18T15:34:00.002+07:00</published><updated>2011-05-18T15:50:32.364+07:00</updated><title type='text'>Masih...</title><content type='html'>Saat kekosongan itu menjadi kebisuan yang panjang, tiba-tiba aku seakan dibangunkan dari mimpi yang tak berjudul. Dan terduduk aku di sana, di ranjangku yang dingin. Menatap ke sekeliling dengan rasa asing, tak bisa mengingat di manakah aku sekarang ini? Apa yang terjadi padaku? Apa yang terjadi pada hidupku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bak kilatan petir yang menghilang dalam satu kedipan mata. Ketika kubuka kembali mataku semua telah lenyap tak bersisa. Hanya tinggal bayang yang semakin menipis dan menjauh. Dan ketika ingin kugapai dengan tangan ini, mengapa tak mampu kuulurkan tangan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukatakan ingin kutinggalkan pintu yang tertutup itu. Kutiupkan asa ke hatiku, akan selalu ada pintu lain yang terbuka dengan cahaya terang menerangi. Kukuatkan langkah yang gemetar dengan berjalan lebih cepat dan tak menoleh ke belakang lagi. Kutulikan telingaku, mencoba membisukan duniaku ini. Sesulit inikah Tuhan hidup untukku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika kekosongan itu kembali datang, setelah membawa lari semua, aku terbaring diam masih di ranjang yang sama, ranjangku yang dingin. Aku hanya ingin menangis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-5705437669980408949?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/5705437669980408949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2011/05/masih.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5705437669980408949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5705437669980408949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2011/05/masih.html' title='Masih...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-1941143966955490633</id><published>2011-02-24T16:42:00.005+07:00</published><updated>2011-02-24T19:05:58.403+07:00</updated><title type='text'>Senandung Sunyi....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-xU2T7PzGzAY/TWYzntRFWqI/AAAAAAAAAWI/oWvZBXfOvys/s1600/sunyi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 259px; height: 194px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-xU2T7PzGzAY/TWYzntRFWqI/AAAAAAAAAWI/oWvZBXfOvys/s320/sunyi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577201945804102306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bibirnya terkatup rapat. Telah habis kata. Bahkan rasa pun enggan berbicara lagi. Keberaniannya telah terkoyak, keyakinannya telah sirna. Hilang entah ke mana... Mungkin dia lelah. Mungkin dia telah patah asa, terus menerus hanya mendengar gaung suaranya sendiri. Memantul sia-sia kembali padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi yang penting untuk dikatakan? Apa lagi yang perlu untuk diucapkan? Bukankah kata-kata telah kehilangan makna? Bahkan rasa pun kini malu, menyembunyikan wajahnya. Tak mampu lagi ia bersorak dan menari-nari dengan wajah gembira. Ia merasa bak seorang aktor tanpa penonton. Di atas panggung megah berlawan dengan kursi kosong yang tak pernah terisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu satu persatu pintu dikuncinya dengan rapat. Dikuburnya kunci-kunci itu jauh ke dalam. Berharap dengan tak melihatnya, ia akan lupa. Berharap pintu-pintu yang tertutup itu akan memutuskan semua ingatannya akan mimpi-mimpinya yang patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipejamkannya matanya. Tubuhnya menggigil, terangkul erat oleh sepi. Dibisikkannya sebuah pinta. Seandainya saja bisa, semua menghilang begitu saja saat mata kembali terbuka. Dan ada wajah dunia yang baru muncul di hadapannya. Yang punya warna, bukan hanya kelam. Yang hangat, tanpa dingin sepi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat dibukanya kembali matanya, napasnya tertahan... Terdengar olehnya sebuah senandung lirih yang menyayat hatinya. Wajah sunyi tersenyum padanya, bersenandung dengan bahagia. Perlahan airmatanya menetes. Di sana, sendiri dalam kegelapan ia menikmati senandung sunyinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: www.google.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-1941143966955490633?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/1941143966955490633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2011/02/senandung-sunyi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1941143966955490633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1941143966955490633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2011/02/senandung-sunyi.html' title='Senandung Sunyi....'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-xU2T7PzGzAY/TWYzntRFWqI/AAAAAAAAAWI/oWvZBXfOvys/s72-c/sunyi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-2190938154588133502</id><published>2011-02-08T22:36:00.006+07:00</published><updated>2011-02-09T13:40:14.444+07:00</updated><title type='text'>Jerat Rindu...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TVFv5QCdz6I/AAAAAAAAAWA/yntUXrdB2A4/s1600/dream.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 241px; height: 210px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TVFv5QCdz6I/AAAAAAAAAWA/yntUXrdB2A4/s320/dream.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571357243382550434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu... Kerinduan ini telah menyusup dan menyebar dengan cepat ke seluruh diriku. Bukan hanya hatiku yang telah tercemari kerinduan itu, tapi juga seluruh sudut pikiranku. Ia telah mengusir semua hal lain dengan garangnya, dan bertahta menjadi raja di sana. Menggantikan wajah dunia hanya dengan sebuah wajah. Wajahnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika dunia berbicara, yang kulihat hanyalah bibir-bibir bisu yang bergerak. Ruang kepalaku telah dipenuhi gaung suara yang lain. Yang tak pernah mau diam atau hilang. Suara yang selalu mempesonaku di setiap nada yang terdengar. Suaranya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan malam-malam lelap dan panjang kini pun bukan milikku lagi. Di sana, ada bayangnya, bergerak, berkata, tertawa... Dan ketika aku terbangun dengan tak rela untuk melepaskan mimpi tentangnya, aku masih tetap belum terjaga juga dari kerinduanku. Terperangkap di sini, dalam bayangnya yang telah menjadi tembok yang memisahkan jiwa dan ragaku dari sang hari. Bahkan kini wajah mentari dan rembulan pun terlihat sama di mataku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kumohon pada hati, tolong lepaskan kerinduan ini. Buang jauh dariku. Tak ingin lagi ku dibelenggu olehnya. Jeratnya mulai membuatku sesak dan kehilangan napas hidup. Telah lelah diri ini bermimpi tanpa henti di terang dan gelapnya hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku yang merana berbisik, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mimpi adalah mimpi, Sayang... Selamanya bukan nyata...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-2190938154588133502?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/2190938154588133502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2011/02/jerat-rindu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2190938154588133502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2190938154588133502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2011/02/jerat-rindu.html' title='Jerat Rindu...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TVFv5QCdz6I/AAAAAAAAAWA/yntUXrdB2A4/s72-c/dream.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-671374120731999965</id><published>2011-01-12T09:41:00.006+07:00</published><updated>2011-01-12T10:22:15.960+07:00</updated><title type='text'>Sometimes I Forget...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TS0Z0KzH8bI/AAAAAAAAAV0/btRUHfQnNJI/s1600/love.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 229px; height: 220px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TS0Z0KzH8bI/AAAAAAAAAV0/btRUHfQnNJI/s320/love.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5561129498915107250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebatang rokok di tangannya masih menyala. Dihisapnya perlahan. Entah ini sudah batang yang ke berapa. Matanya dari tadi terus menatap lelaki di hadapannya. Lelaki yang sedari tadi terus berbicara tentang hal-hal yang sama sekali tak ingin didengarnya saat itu. Namun ia tetap tinggal dalam diamnya, tak menyanggah atau menghentikannya. Ia hanya menghisap rokoknya, tanpa bisa menikmati setiap hisapan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendengar hatinya mencoba membujuknya. Merayunya untuk membuka mulut dan menumpahkan semua isi hatinya itu. Ia tergoda, ingin sekali menyela lelaki itu. Namun bibirnya tetap terkatup rapat. Ditelannya kembali semua kata yang telah berada di ujung bibirnya, yang telah lama menunggu kesempatan untuk berlari keluar dengan bebas. Tidak. Kebebasan itu bukan miliknya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu menatapnya, masih berbicara. Sesekali lelaki itu berhenti, bertanya padanya, meminta persetujuan lewat anggukan atau sekedar gumaman. Dan saat mata mereka bertemu, ia mencoba mencari sesuatu di sana. Tapi entahlah, ia tak pernah yakin akan apa yang ditemukannya di sana. Ia takut salah mengartikannya. Ia takut terlalu percaya diri atau terlalu putus asa untuk mengartikan tatapan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihisapnya lagi rokok di tangannya yang telah memendek. Dihembuskannya asapnya perlahan. Masih ditatapnya wajah lelaki itu lewat asap tipis di hadapannya. Ditelusurinya perlahan wajah itu. Mata itu. Hidung itu. Dan bibir itu... Tak sadar ia mendesah perlahan. Mengapa begitu sulit untuk menanggalkan keraguan dan membiarkan kejujuran menunjukkan wajahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarinya menekan sisa rokok di permukaan asbak. Diputarnya perlahan, hingga semua bara yang ada mati dan lenyap. Berharap seandainya ia pun dapat mematikan bara yang ada di dalam dadanya dan melenyapkannya selamanya. Dan saat itulah ia mendengar hatinya berbisik pelan pada lelaki itu: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sometimes i forget i'm not supposed to love you...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-671374120731999965?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/671374120731999965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2011/01/sometimes-i-forget.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/671374120731999965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/671374120731999965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2011/01/sometimes-i-forget.html' title='Sometimes I Forget...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TS0Z0KzH8bI/AAAAAAAAAV0/btRUHfQnNJI/s72-c/love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-2026329862961366950</id><published>2010-12-21T20:09:00.005+07:00</published><updated>2010-12-21T23:25:29.955+07:00</updated><title type='text'>Sepotong Rindu Untukmu...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TRDRrUurAII/AAAAAAAAAVo/qq6ETjxfKl8/s1600/miss.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 223px; height: 167px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TRDRrUurAII/AAAAAAAAAVo/qq6ETjxfKl8/s320/miss.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553168882776866946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini aku sering tertinggal dengan sang waktu. Tak lagi melihat wajahnya dengan jelas. Seperti hari ini, ketika aku tiba-tiba teringat padamu. Dan saat aku menoleh pada sang waktu, aku tersadar. Besok...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini aku telah meninggalkan semua ingatan tentangmu di belakang sana. Dan kudirikan sebuah tembok yang tinggi, agar aku tak bisa melihatmu lagi. Bila sepotong ingatanku masih juga berkeras menoleh, aku katakan padanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sudah tak perlu kau pikirkan lagi...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, waktu dan jarak telah membawa dirimu jauh. Tak terjangkau lagi olehku. Meski terkadang rasanya tak pernah ingin diri ini menjangkaumu lagi. Bukan karena aku telah kehilangan rasa itu. Tidak. Hanya saja terlalu banyak rasa sakit di sini. Rasa sakit yang tak ingin kuulang lagi, menyayat dan merobekkan hati. Karena kau tak pernah bisa kugapai meski jarak hanya setipis benang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyedihkan memang... Yah, setelah tahun berganti tahun, aku masih juga menangis ketika memikirkanmu. Memikirkan semua yang terjadi di antara kita. Masih terus bertanya pada diri sendiri, apa yang salah? Mengapa niat hati tak pernah cukup? Mengapa kata cinta itu sendiri tak pernah bisa menunjukkan wajahnya saat kita bersama? Bahkan masih ada sepotong rasa bersalah yang tertanam di sini, tak pernah bisa kucabut dan kubuang. Mungkin aku tak pernah cukup baik untukmu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat itu aku sendiri tak tahu bagaimana caranya agar bisa membuatmu mencintaiku. Mungkin aku terlalu bodoh. Tapi hingga kini pun, aku masih tetap tak juga mampu menyibak misteri tentangmu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berjalan meninggalkanmu dan membawa pergi hatiku yang compang-camping ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering mencoba membayangkan bagaimana rasanya bila tangan kita menyatu dalam genggaman erat. Mungkin akan ada rasa hangat mengalir darimu, menghangatkan hatiku yang terkadang rapuh ini. Atau mungkin genggaman itu akan menguatkan langkahku yang masih sering terseok-seok ini. Tapi sayang, bayangan itu tak pernah mampu menjadi utuh di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kau, ada banyak malam ketika aku meringkuk sedih, berharap kau datang, bertanya padaku, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ada apa?&lt;/span&gt; Atau sekedar mengusap kepalaku dan berbisik, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;semua akan baik-baik saja.&lt;/span&gt; Tahukah kau, ada banyak saat di mana aku begitu berharap kau memelukku dengan erat dan membuatku merasa dicintai olehmu? Seandainya kau tahu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu merasa tak pernah menjadi sempurna di matamu, di antara mereka. Dan seringkali aku berharap melihat kilat bangga di matamu untukku, seperti saat kau melihat mereka. Dan ketika hanya keluhan dan kritikan yang kau hadiahkan padaku, terpuruk aku dalam rasa diri yang tak pernah cukup pantas untuk ada di sisimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di sini aku kini, berdiri sendiri pada kakiku yang telah cukup kuat. Namun tak pernah hilang jejak dirimu dari setiap inci tubuhku. Juga dari setiap detik hidupku. Masih ada rasa sedih dan penyesalan yang sama. Juga masih ada kerinduan yang sama. Tak pernah pudar. Tak pernah bisa hilang. Meski terkadang aku ingin mengingkarinya, memalingkan wajahku darinya dan darimu, tetap, kau tak akan pernah bisa tergantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok adalah harimu. Ingin kuucapkan selamat untukmu. Kutiupkan kerinduan dan doaku untukmu di sana, dari hatiku yang terdalam. Semoga kau selalu diberkati oleh-Nya di sepanjang hidupmu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-2026329862961366950?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/2026329862961366950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/12/sepotong-rindu-untukmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2026329862961366950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2026329862961366950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/12/sepotong-rindu-untukmu.html' title='Sepotong Rindu Untukmu...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TRDRrUurAII/AAAAAAAAAVo/qq6ETjxfKl8/s72-c/miss.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-6762740798540025097</id><published>2010-12-17T11:31:00.003+07:00</published><updated>2010-12-17T11:45:10.028+07:00</updated><title type='text'>Abu-abu...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TQrqDTycLnI/AAAAAAAAAVg/AZAqqTSP4dI/s1600/color_grey_10.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TQrqDTycLnI/AAAAAAAAAVg/AZAqqTSP4dI/s320/color_grey_10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551506833259900530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Putih...&lt;br /&gt;Sebersih salju&lt;br /&gt;Selembut kapas&lt;br /&gt;Secantik merpati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitam...&lt;br /&gt;Seanggun malam&lt;br /&gt;Sepekat tinta&lt;br /&gt;Sekelam gagak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika putih dan hitam saling merangkul, memagut dan melebur menjadi satu&lt;br /&gt;Ketika tak jelas lagi wajah siapa yang terlihat&lt;br /&gt;Ketika semua garis memudar, lalu terhapus, hilang tak kentara &lt;br /&gt;Ketika hakikat terburai, luruh tak bersisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada kini hanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu-abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-6762740798540025097?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/6762740798540025097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/12/abu-abu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/6762740798540025097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/6762740798540025097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/12/abu-abu.html' title='Abu-abu...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TQrqDTycLnI/AAAAAAAAAVg/AZAqqTSP4dI/s72-c/color_grey_10.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-758025108032863980</id><published>2010-09-24T10:42:00.003+07:00</published><updated>2010-09-24T13:49:53.639+07:00</updated><title type='text'>Hilang...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TJxJxJkgFxI/AAAAAAAAAVI/4LtmP1F-0Fg/s1600/soul3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 185px; height: 273px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TJxJxJkgFxI/AAAAAAAAAVI/4LtmP1F-0Fg/s400/soul3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520368351980820242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu dia masih ada. Tapi di mana? Kucari dan kucari. Harusnya ada di sini. Bersembunyikah dia? Mungkin dia tengah memeluk sepi di sudut gelap itu, seperti yang kadang-kadang dilakukannya ketika dia tengah bersedih. Kusingkap tirai hati, berharap menemukannya di sana. Tapi sudut itu kosong. Bahkan sepi juga sedang pergi, seakan tak ingin memeluk hampa sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding putih di hadapanku ikut bungkam. Polos, kosong. Seakan ikut mengacuhkanku. Hanya hening yang tinggal. Tapi hening ini bukan hening damai. Hening ini kebisuan yang membosankan. Kutajamkan telinga, coba menangkap suara. Biasanya dia sering berdendang kecil. Atau mungkin aku bisa mendengar isakannya. Apapun itu, aku berharap bisa mendengar suara darinya. Tapi meski semua suara lain di sini telah berlari pergi, aku tak mampu menemukan suaranya. Membuat kerinduanku semakin menggila. Apakah dia tengah membisu? Tapi mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dia sedang meragukan keseriusanku untuk bertemu dengannya. Kupejamkan mata, membaur dengan hening. Kulapangkan hati dan kutenangkan pikiran. Kupusatkan tarikan napasku, menyebut namanya tanpa suara. Kubayangkan sosoknya, utuh dan jelas. Seindah tampaknya, berpendar dalam cahaya yang dulu selalu menyelimutiku dengan kehangatan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Biar aku melihatmu. Biar aku mendengarmu. Datanglah dan duduk di sini bersamaku. Aku membutuhkanmu...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tapi semua sia-sia saja. Di mana dia? Mungkinkah dia tengah tertidur lelap? Namun mengapa tarikan napasnya pun tak bisa kudengar? Ataukah dia telah pergi selamanya? Tidak. Dia masih ada. Aku tahu itu. Hanya saja aku tak bisa menemukannya. Ataukah dia sedang tak ingin ditemukan? Tapi mengapa? Apakah dia telah begitu membenciku? Tak ingin lagi melihatku? Tapi apa yang telah kulakukan padanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupanggil dia lagi. Kali ini dengan suaraku. Bukan hanya dengan hatiku saja. Berharap kali ini kesungguhanku akan membawa hasil. Namun hanya udara kosong yang memantul kembali. Kukeraskan suaraku. Mungkin tadi dia tak mendengar. Tapi masih, tak ada balasan. Kuteriakkan namanya dalam kekesalan dan putus asa. Ayolah! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku sedang menunggumu di sini. Harusnya kau tahu. Harusnya kau bisa mendengarku.&lt;/span&gt; Tapi tetap... Detik demi detik berlalu begitu saja. Tak ada sahutan. Kutarik napas dengan sisa asa. Kuhembuskan bersama tetesan airmata. Kubiarkan sedih akhirnya masuk menyusupi hatiku. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesulit inikah untuk menemukanmu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ke mana? Apa yang tengah kau lakukan? Mengapa tak juga kembali? Aku perlu untuk berbicara denganmu. Karena aku mulai panik dengan kekosongan ini. Dan selamanya diri ini tak pernah lengkap tanpa dirimu. Aku adalah kau. Dan kau adalah aku. Selamanya kita harus bersama, kecuali takdir dan maut telah bertitah dan kita harus memisahkan diri. Namun kini di dunia fana ini, aku di sini sendiri, tanpa dirimu. Hanya sebagai raga tak bernyawa. Bagaimana mungkin mampu hidup lagi dengan sempurna? Di manakah kau, wahai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku&lt;/span&gt;? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-758025108032863980?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/758025108032863980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/09/hilang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/758025108032863980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/758025108032863980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/09/hilang.html' title='Hilang...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TJxJxJkgFxI/AAAAAAAAAVI/4LtmP1F-0Fg/s72-c/soul3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-1146328996194460248</id><published>2010-09-22T17:07:00.004+07:00</published><updated>2010-09-22T17:44:50.793+07:00</updated><title type='text'>Tarian Kumbang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TJndyRzxBVI/AAAAAAAAAVA/qSfVkt79yXw/s1600/canvas.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 141px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TJndyRzxBVI/AAAAAAAAAVA/qSfVkt79yXw/s320/canvas.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519686674162976082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mengerjap silau kemilau&lt;br /&gt;Tebaran warna warni&lt;br /&gt;Hamparan luas menggoda&lt;br /&gt;Goyah terayu rasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi terbang terbebas&lt;br /&gt;Meluncur singgahkan hati&lt;br /&gt;Mabuk wangi semerbak&lt;br /&gt;Hasrat manis tercicip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmati anugerah dunia&lt;br /&gt;Manis tertelan tawar&lt;br /&gt;Sayap terkepak pasti&lt;br /&gt;Manis lain menanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-1146328996194460248?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/1146328996194460248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/09/tarian-kumbang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1146328996194460248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1146328996194460248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/09/tarian-kumbang.html' title='Tarian Kumbang'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TJndyRzxBVI/AAAAAAAAAVA/qSfVkt79yXw/s72-c/canvas.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-7413326106772674549</id><published>2010-09-06T10:15:00.004+07:00</published><updated>2010-09-06T11:46:11.664+07:00</updated><title type='text'>Sangkar Emas...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TIRt4PNg2BI/AAAAAAAAAU4/xHsPRvQ7ECc/s1600/sangkar.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 193px; height: 261px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TIRt4PNg2BI/AAAAAAAAAU4/xHsPRvQ7ECc/s320/sangkar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513652656731641874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kilau emas silaukan mata&lt;br /&gt;Buai hati bahagia semu&lt;br /&gt;Sangka berdunia istana megah&lt;br /&gt;Tak kurang segala apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji memukau tidurkan mimpi&lt;br /&gt;Terlena lupa siapa diri&lt;br /&gt;Ribuan masa mati suri &lt;br /&gt;Isakan jiwa terbungkam sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbangun sayap terkepak kuat &lt;br /&gt;Terbentur jatuh terpuruk bingung&lt;br /&gt;Tak beratap langit luas &lt;br /&gt;Pintu istana terkunci rapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhimpit sesak berbatas jeruji&lt;br /&gt;Kilau tahta meredup gelap&lt;br /&gt;Rindu peluk cakrawala bebas &lt;br /&gt;Tuan, sudikah buka pintu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-7413326106772674549?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/7413326106772674549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/09/sangkar-emas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/7413326106772674549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/7413326106772674549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/09/sangkar-emas.html' title='Sangkar Emas...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TIRt4PNg2BI/AAAAAAAAAU4/xHsPRvQ7ECc/s72-c/sangkar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-4275776292196589241</id><published>2010-09-01T15:54:00.007+07:00</published><updated>2010-09-01T18:52:29.210+07:00</updated><title type='text'>Belenggu...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TH4-XvYwnNI/AAAAAAAAAUw/Wt9MVcwvveo/s1600/6616-116555931826-579256826-2189555-5127400-n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TH4-XvYwnNI/AAAAAAAAAUw/Wt9MVcwvveo/s320/6616-116555931826-579256826-2189555-5127400-n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511911571526294738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesak menghantam himpit bahagia&lt;br /&gt;Dinding-dinding kian mendekat&lt;br /&gt;Tak sisakan banyak udara&lt;br /&gt;Panik menyergap cepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa asa dan doa&lt;br /&gt;Berangkulan dorong kuat &lt;br /&gt;Tetap diam angkuh membatu&lt;br /&gt;Bisakah airmata pecahkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuh dalam pasrah terpaksa&lt;br /&gt;Payah habis segala&lt;br /&gt;Teriakan jiwa bergaung sunyi&lt;br /&gt;Memantul dinding terkutuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkapar meski mata nyalang &lt;br /&gt;Gelap gamang melayang&lt;br /&gt;Celah tak lagi bersisa&lt;br /&gt;Cahaya di mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-4275776292196589241?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/4275776292196589241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/09/belenggu.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4275776292196589241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4275776292196589241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/09/belenggu.html' title='Belenggu...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TH4-XvYwnNI/AAAAAAAAAUw/Wt9MVcwvveo/s72-c/6616-116555931826-579256826-2189555-5127400-n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-8141587413853724958</id><published>2010-08-22T01:47:00.003+07:00</published><updated>2010-08-22T02:28:21.410+07:00</updated><title type='text'>Bingkisan Yang Bernama Hidup...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/THAnzuJtjXI/AAAAAAAAAUY/ATB45ri6YII/s1600/smile+n+tears.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 206px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/THAnzuJtjXI/AAAAAAAAAUY/ATB45ri6YII/s320/smile+n+tears.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5507946113789693298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini mungkin bisa diibaratkan sebagai bingkisan-bingkisan yang dikirimkan untukmu. Ada bingkisan yang berisi tetesan airmata dan ada bingkisan yang berisi senyum dan tawa. Terkadang ketika kau membukanya, kau akan menemukan indahnya bahagia di sana untukmu. Tapi terkadang pula kau hanya menemukan airmatamu di sana. Lalu seringkali kau berpikir untuk menyimpan bingkisan itu, karena rasa sayangmu padanya. Akan manis rasanya. Tapi terkadang pula kau ingin membuangnya, karena tak ingin mengingat tetesan airmata yang telah kau jatuhkan. Tapi selamanya bingkisan-bingkisan itu akan selalu menjadi bagian dari dirimu. Yang tak akan pernah bisa kau lenyapkan atau hadirkan nyata selamanya. Karena waktu terus bergulir, tak pernah mengijinkanmu untuk menghentikannya. Tak peduli betapa besar cintamu padanya atau berapa besar kebencianmu untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, aku telah membuka sebagian dari bingkisan-bingkisanku. Dan di sini aku tengah mengenang semua waktu yang telah berlalu. Yang sebagian ingin kubuang dan sebagian lagi ingin kusimpan selamanya. Tapi bukankah tak ada yang abadi? Bukankah kita harus belajar untuk tidak memeluk terlalu erat dan tidak meronta melepaskan sesuatu sebelum waktunya tiba? Bukankah ada masa untuk segalanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berkata, tertawalah ketika kau menangis. Tertawakan tangisanmu. Mungkin dengan begitu, tawa itu akan membuat tangisanmu menjauh pergi, bukan merajai hatimu. Dan ketika kau bahagia, menangislah. Mungkin dengan begitu, tangisan itu akan membuatmu merasakan syukur yang dalam karena kau masih bisa rasakan bahagia sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak bingkisan yang menungguku, yang harus kubuka. Tapi, biarkanlah aku tertawa saat ini, karena aku baru saja membuka bingkisan yang berisi airmata. Biarkan tetesan-tetesan airmataku ini menguap dalam tawaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-8141587413853724958?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/8141587413853724958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/08/bingkisan-yang-bernama-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8141587413853724958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8141587413853724958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/08/bingkisan-yang-bernama-hidup.html' title='Bingkisan Yang Bernama Hidup...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/THAnzuJtjXI/AAAAAAAAAUY/ATB45ri6YII/s72-c/smile+n+tears.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-724587898048068777</id><published>2010-08-20T15:18:00.003+07:00</published><updated>2010-08-20T16:26:05.139+07:00</updated><title type='text'>Melepasmu Pergi...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TG5KAp_qWOI/AAAAAAAAAUQ/0m42TjAeZYQ/s1600/IMG_0019a.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TG5KAp_qWOI/AAAAAAAAAUQ/0m42TjAeZYQ/s320/IMG_0019a.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5507420769454020834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perahu mengayun sendu&lt;br /&gt;Selendang putih terlepas perlahan&lt;br /&gt;Berat guci seberat rasa&lt;br /&gt;Ikhlas masih terikat kenangan&lt;br /&gt;Di mana simpul untuk dilepas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusentuh lembut dirimu&lt;br /&gt;Jemari gemetar terbuka perlahan&lt;br /&gt;Angin datang merangkulmu pergi&lt;br /&gt;Tertelan ombak tak berbekas&lt;br /&gt;Hati berteriak dalam harap bisu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laut masih biru&lt;br /&gt;Hatiku merah berdarah lagi&lt;br /&gt;Airmata menetes seiring cinta&lt;br /&gt;Menyatu dalam laut bersamamu&lt;br /&gt;Separuh jiwa telah kau bawa pergi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binar ceria matamu&lt;br /&gt;Celoteh riang indah suaramu&lt;br /&gt;Lembut sentuhan tangan kecilmu&lt;br /&gt;Hangat napasmu di kulitku&lt;br /&gt;Menggetarkan sukma dan jiwa hampa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilang sudah semua&lt;br /&gt;Tinggal kenangan bukan nyata&lt;br /&gt;Mata terpejam hati berserah &lt;br /&gt;Lirih melantun doa untukmu&lt;br /&gt;Nak, selamanya aku cinta padamu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(17 Agustus 2010, Bandengan Jepara, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;In Memoriam Baby Emma...&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo: Angel Li&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-724587898048068777?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/724587898048068777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/08/melepasmu-pergi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/724587898048068777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/724587898048068777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/08/melepasmu-pergi.html' title='Melepasmu Pergi...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TG5KAp_qWOI/AAAAAAAAAUQ/0m42TjAeZYQ/s72-c/IMG_0019a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-8506394620801275606</id><published>2010-08-12T18:22:00.005+07:00</published><updated>2010-08-12T21:35:04.848+07:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan, Baby...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TGQDEEqbpTI/AAAAAAAAAUI/3_WWcgIeS7k/s1600/child_jesus_6.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 246px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TGQDEEqbpTI/AAAAAAAAAUI/3_WWcgIeS7k/s320/child_jesus_6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504528013059663154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku mendapat kabar kepergiannya saat aku baru membuka mata pagi itu. Membaca sms yang sudah masuk pada pukul dua dini hari, aku serasa lumpuh. Sudah pukul delapan lewat. Sudah hampir enam jam berlalu. Sesaat duniaku menjadi kosong. Senyap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sudah pergi... Seperti ada sebuah bisikan singgah di telingaku. Aku duduk, masih menatap layar telepon, tak tahu mesti melakukan apa. Kubaca kembali dengan lebih perlahan huruf-huruf di layar. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Baby sudah pulang...&lt;/span&gt; Pulang? Pulang ke mana? Pulang ke rumah? Atau pulang kembali ke atas sana? Tapi kemarin Baby masih di ICU, mungkinkah bisa secepat itu dia pulang ke rumah? Bukankah mestinya dilanjutkan perawatan ke kamar biasa? Seketika itu juga harap yang tadi sempat memunculkan wajahnya padaku, langsung lenyap tak berbekas. Jantungku berdegup kencang ketika akhirnya kubalas sms itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir pukul sembilan ketika aku meluncur menuju ke Krematorium Nirwana. Ya, Baby telah pulang. Berpulang tepatnya. Aku menerima sms yang mengabarkan bahwa dia akan dikremasi pagi itu juga. Harapanku untuk melihatnya sekali lagi musnah sudah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Petinya sudah ditutup. Ingat saja saat dia masih lucu ya...&lt;/span&gt; Itu sms yang kuterima tadi, membuat aku terbayang kembali pada saat aku mengunjunginya pertama kali di rumah sakit, saat ia menjalani kemoterapi untuk pertama kalinya. Baby masih bisa tertawa, masih bisa bermain denganku, bahkan masih berceloteh riang dengan bahasanya sendiri. Meskipun selang obat dan selang makanan melekat di tubuh dan wajahnya. Dia sangat manis. Sangat cantik. Seperti tidak merasakan penderitaan apapun atas sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya begitu cepat. Terlalu cepat. Baru kemarin rasanya ketika aku dipenuhi sukacita mendengar berita kelahiran Baby. Empat belas September tahun lalu. Lalu detik demi detik berlalu, menjadi menit, jam dan hari. Bulan demi bulan berlalu. Aku masih ingat pertama kali melihatnya tertawa dan mulai belajar mengenal dunia. Tapi belum lagi perkenalan itu berjalan lama, aku telah mendapat kabar tentang dirinya yang sakit. Tapi ia masih tersenyum dan tampak seperti layaknya bayi-bayi lucu lainnya, meskipun menjalani proses pengobatan yang panjang dan berat. Dan tiba-tiba tampak secercah cahaya menyinari ketika mendengar berita bahwa Baby memasuki masa remisi, di mana sel kankernya telah berada di bawah batas normal. Dan harapan kami pun tumbuh dengan lebih cepat. Baby pasti bisa sembuh! Tapi sayang seperti secepat munculnya harapan itu, kini harapan itu telah meredup, layu dan mati... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Baby menjalani pengobatan lanjutan, ia kembali terserang demam. Dan kali ini tubuhnya sempat membiru, yang kemudian diketahui bahwa paru-parunya meradang. Karena itu Baby terpaksa dimasukkan ke ICU. Dan ketika aku mengunjunginya, ia telah berpindah kamar, ke kamar ICU utama, dengan alasan agar bisa lebih mendapat perhatian perawat. Yang artinya, keadaannya mulai mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku melihatnya di balik kaca, dari jarak yang cukup jauh, aku hanya bisa memandangi tubuhnya yang tergolek pasrah. Dengan bantuan mesin di kiri dan kanan serta selang-selang yang entah untuk apa. Dia tertidur pulas dalam pengaruh obat bius. Dan begitu juga ketika aku kembali lagi menjenguknya minggu lalu. Padahal ingin sekali aku mendekatinya. Menyentuh tangan mungilnya dan berbisik di telinganya, "Nak, kamu pasti bisa sembuh. Yang kuat ya... Kami semua mencintaimu. Menunggumu kembali..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku khawatir. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bahkan tidak punya kata-kata penghiburan untuk sahabatku, sang Ibu yang selalu menemani Baby dengan tabahnya. Ya, aku tahu sebenarnya dirinya pun sangat sedih dan khawatir. Namun tak pernah ada ekspresi cemas dan takut di wajahnya. Juga tak pernah terlontar keluh kesahnya. Semuanya hilang dalam diam dan doanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah suka ke tempat pemakaman atau tempat-tempat seperti itu. Begitupun dengan krematorium ini. Suasananya membuatku ingin berlari jauh. Aku tak pernah suka akan perpisahan. Apalagi perpisahan yang terjadi tiba-tiba dan tidak diinginkan. Tapi di sinilah aku, berdiri di pintu, tak berani beranjak masuk. Dan ketika ia muncul, dengan selendang putih di bahunya, aku kembali merasa lumpuh. Selendang itu pernah digunakannya untuk membalut tubuh Baby. Dan senyum Baby kembali muncul di hadapanku, membuat tempat itu menjadi terlihat tak sungguh-sungguh nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya sembab. Pasti ia telah banyak menangis sejak jam dua tadi. Namun tak ada sisa airmata di sana. Mata itu bicara padaku, tentang kepasrahannya. Dan aku hanya bisa merangkulnya, tanpa sepatah kata pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada peti. Hanya ada pintu besi yang telah tertutup rapat. Baby telah masuk ke sana lima belas menit yang lalu. Tak ada ucapan selamat tinggal lagi yang bisa kuucapkan. Aku hanya bisa menunggu dalam diam. Masih merasa semua ini tak nyata. Terlalu cepat. Benar-benar terlalu cepat semuanya ini terjadi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang ada di sana menunggu proses kremasi selesai. Dan ketika petugas yang berpakaian biru itu datang dan mengumumkan bahwa pintu sudah bisa dibuka, aku bangkit, mendekat. Pintu terbuka perlahan. Dan sebuah meja yang sepertinya terbuat dari marmer, terdorong keluar dengan perlahan. Tak ada peti. Hanya ada puing-puing di atas meja. Aku mendekat lagi, ingin melihat lebih jelas. Tulang-tulang kecil berserakan di sana, bercampur dengan abu. Aku menoleh padanya. Dia mendekap mulutnya dengan tangan, menahan tangis dan sedihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi itu tak ada lagi. Yang tersisa hanya tulang-tulang putih dan abu. Habis sudah. Hilang selamanya... Seperti itulah adanya kita semua, dari abu kembali menjadi abu. Begitu sederhana. Lalu apa yang selama ini begitu kita sombongkan? Apa yang membuat kita begitu yakin bahwa kita ini berbeda dengan yang lain? Bahwa kita lebih hebat, lebih tinggi dan lebih terhormat dari yang lain? Pada akhirnya kita semua akan kembali menjadi abu. Abu yang sama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum menangis. Aku tak bisa menangis. Hatiku berduka, tapi airmataku tak juga mau menetes. Aku kehilangan, tapi apa yang bisa aku lakukan? Masa-masa sulit itu telah dijalaninya dengan berat. Dia telah berjuang dengan kekuatan yang sangat besar meskipun tubuhnya begitu kecil dan lemah. Tapi bila pada akhirnya napasnya terhenti, apakah itu sebuah kekalahan? Tidak. Bagiku dia tetap seorang pemenang yang hebat. Bagiku dia tetap sosok yang sangat-sangat mengagumkan. Sosok yang telah datang dan pergi dengan begitu cepat namun telah menyentuh banyak hati dan sisi hidup. Sosok yang telah mengajarkanku begitu banyak tentang hidup. Hidup ini hanya sebentar. Hidup ini rapuh. Kita hanya seorang manusia yang pada akhirnya juga tak bisa lari dan mengelak dari kematian dan kehendak Yang Di Atas. Juga bahwa, hidup ini sangat berharga. Begitu banyak yang berjuang demi sebuah napas, sementara kita sering menghabiskan detik demi detik dengan penyesalan diri dan semua omong kosong tak berguna...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum setahun waktu berlalu. Dia bahkan tak sempat meniup lilin ulang tahun di atas kue tart pertamanya. Tak sempat membuka kado ulang tahunnya yang pertama. Bahkan tak sempat mengenakan sepatu perak cantik yang kubelikan untuknya minggu lalu. Tapi bila memang ini adalah akhir dari perjalanannya yang singkat, biarlah dia pergi dengan damai. Biarlah dia melepaskan semua sakit dan derita yang ada. Dan semoga dia beristirahat dengan tenang di atas sana. Dan tersenyum serta tertawa kembali merangkul bahagianya yang abadi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan, Baby... We love you...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(*finally my tears going down...)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-8506394620801275606?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/8506394620801275606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/08/selamat-jalan-baby.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8506394620801275606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8506394620801275606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/08/selamat-jalan-baby.html' title='Selamat Jalan, Baby...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TGQDEEqbpTI/AAAAAAAAAUI/3_WWcgIeS7k/s72-c/child_jesus_6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-367369226464872507</id><published>2010-08-10T20:07:00.001+07:00</published><updated>2010-08-10T20:09:38.169+07:00</updated><title type='text'>Kangen...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEPBjxD45SI/AAAAAAAAATQ/z9cDheSxqCA/s1600/index2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 92px; height: 118px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEPBjxD45SI/AAAAAAAAATQ/z9cDheSxqCA/s320/index2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495448790531368226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baru lima menit berlalu darimu, bayangmu sudah memenuhi seluruh isi kepalaku. Menyingkirkan semua hal-hal lain yang penting dan selalu penting bagiku. Aneh. Ini sesuatu yang tidak biasa. Seperti juga hari ini, bukan hari yang biasa. Aku telah menghabiskan waktu yang begitu panjang bersamamu, hanya dengan berbagi cerita dan tawa tentang hal-hal konyol dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi? Aku, yang selalu menghargai setiap detik dalam hidupku. Yang selalu menghabiskan waktuku dengan semua hal rutin yang seakan tak pernah ada habisnya. Yang selalu merasa tak pernah cukup waktu untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;break&lt;/span&gt; sejenak dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;do nothing&lt;/span&gt;. Dan hari ini semuanya menjadi terbalik. Seperti bukan hidupku. Seperti bukan diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati mimik wajahmu yang selalu penuh dengan ekspresi jujur dan spontan sesuai dengan suasana hatimu, aku terbius. Mendengarkan celotehanmu, nada yang naik dan turun, gembira dan sedih, seakan mendengarkan alunan musik, aku terbuai. Dan saat itu, seluruh isi pikiranku seakan berlarian keluar, tak mampu melawan kekuatan pesona dirimu yang merajai pikiranku ini. Dan waktu tiba-tiba tak lagi bisa menampakkan wajahnya, menghilang entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru lima menit ketika kutinggalkan dirimu di sana, tapi bayangmu, suaramu, masih ada di sini. Begitu jelas, begitu nyata. Mengikuti diriku bak sebuah bayang diri yang tak bisa lepas. Mengapa? Aku bingung. Dan ketika kucoba mengusir semua bayang itu tiba-tiba ada hasrat untuk memutar langkah, berbalik mencarimu hanya untuk berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku kangen...&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-367369226464872507?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/367369226464872507/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/08/kangen.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/367369226464872507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/367369226464872507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/08/kangen.html' title='Kangen...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEPBjxD45SI/AAAAAAAAATQ/z9cDheSxqCA/s72-c/index2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-5453477842717779852</id><published>2010-08-08T23:29:00.001+07:00</published><updated>2010-08-08T23:31:36.851+07:00</updated><title type='text'>Janji Bapak...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TF7btCYf3kI/AAAAAAAAAUA/iAe-rzHKHGo/s1600/fathershand.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TF7btCYf3kI/AAAAAAAAAUA/iAe-rzHKHGo/s320/fathershand.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5503077361473543746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Malam itu sekali lagi terlintas di pikiran Thea untuk mengakhiri hidupnya yang pahit itu. Setelah lelah menghabiskan waktu dengan menangis dan meratap sementara tak ada satu pun orang yang peduli. Seakan-akan tak pernah ada cinta untuk dirinya. Meskipun dari orang-orang yang sedarah dan sedaging dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thea membenci hidupnya. Meski telah berulangkali mencoba merenungkan arti hidupnya, ia tak menemukan satu alasan pun mengapa ia harus tetap hidup. Dari hari ke hari ia semakin terpuruk dalam keputusasaan dan rasa sendirinya. Dan pikiran untuk mengakhiri semuanya terus datang menggoda. Sampai malam itu, ia memandangi sebuah pisau lipat. Jantungnya berdetak kencang. Ada ragu dan ada bujukan merdu. Ia tak mampu mendengar suara-suara itu dengan jernih. Saat hatinya mulai goyah dan ia mencoba mengumpulkan keberanian diri, tiba-tiba dia mendengar suara yang memarahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau mau bunuh diri jangan di sini!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thea mendongak kaget dan melihat wajah Ibu yang tengah mengintip di jendela kamar yang terbuat dari kawat tipis, menangkap basah dirinya. Thea terhenyak. Apa tadi yang dikatakan ibunya? Jangan di sini? Jadi, sebenarnya wanita itu tak peduli bila dia  bunuh diri? Yang penting jangan di sini? Jangan di rumahnya? Kenapa? Karena ibunya takut menjadi susah karena dirinya? Itukah pembuktian bahwa memang ibunya tak mencintai dan menginginkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat itu Thea tak perlu waktu lagi untuk mengumpulkan keberanian, pisau itu langsung mengiris kulit dan dagingnya. Thea kalap. Gelap mata. Tak ada lagi nalar yang bekerja. Hitam semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan entah berapa banyak irisan yang singgah di kulit dan dagingnya sampai pintu kamar berhasil didobrak dari luar. Theo kakaknya masuk, merampas pisau itu dari tangannya. Sementara Andita, kakak perempuannya mencoba memegangi Thea yang mulai histeris. Thea memberontak dalam jeritan dan tangisnya. Dan kemudian sebuah hantaman keras membuatnya terlempar dan terdiam sejenak. Pandangannya berkunang-kunang. Sakit yang luar biasa terasa di sebelah kepalanya. Theo melayangkan tinjunya padanya. Mata lelaki itu melotot dan dia berteriak pada Thea, "Sadar!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya sadar, Thea balas memelototinya dengan mata basah dan merah serta berteriak, "Ayo pukul lagi! Pukul! Pukul sampai mati!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan entah berapa lama pergumulan itu terjadi hingga Bapak datang, menarik Thea dan memeluknya kuat. Meski Thea masih berusaha memberontak. Bapak lalu berbisik dengan suara bergetar, "Nak, nanti kita pergi dari tempat ini. Kita hidup berdua saja." Sebuah bujukan atau janji? Entahlah... Namun ketika Thea melihat padanya, Thea menemukan mata tua itu basah. Untuk pertama kalinya Thea menemukan cinta untuk dirinya. Dan seketika itu juga perlawanannya terhenti. Thea hanya menangis, tanpa jeritan lagi. Hanya menangis dengan isakan yang menyayat hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak ada yang berubah setelah hari itu. Meski luka-lukanya berangsur sembuh. Ada guratan-guratan yang tertinggal di tangannya, yang selamanya mengingatkannya akan hari kelam itu. Hari di mana ia memberontak marah pada hidup. Hari di mana pemberontakannya itu terhenti karena suara dan janji Bapak padanya. Tapi tetap saja tak ada cinta dan perhatian untuk dirinya setelah hari itu berlalu. Sikap Ibu yang sinis dan selalu penuh celaan masih tetap menjadi santapan batinnya. Pertengkaran dan makian masih menjadi warna rumah itu. Dan Bapak? Di mana Bapak? Masih di sana. Di dalam rumah itu. Sesekali menghilang, namun selalu ingat untuk pulang. Dan tidak pernah mengeluarkan satu patah kata pun padanya lagi. Seakan tak pernah berada di sana dan tak melihat apa yang terjadi dalam rumah itu. Dan seakan ia tak pernah mengucapkan kalimat itu pada Thea. Janji itu... Hilang begitu saja. Seperti hanya sebuah khayalan kosong dari hatinya sendiri yang haus akan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu begitu cepat. Kini, Thea telah terbawa jauh dari bayangan gelap masa lalu dan kesedihan pahit hidupnya. Meski masih terseok-seok, kini ia telah mampu menatap hidup dengan lebih berani. Langkahnya pun telah jauh meninggalkan tempat dan orang-orang yang dulu meninggalkan begitu banyak kepedihan dan cerita sedih dalam hidupnya. Termasuk Bapak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam Thea mendengar sebuah kabar yang mengguncangkan jiwanya. Bapak telah pergi. Dan ketika Thea pulang, ia hanya menemukan sebuah peti yang telah tertutup rapat. Bahkan sosok Bapak tak bisa lagi dilihatnya untuk terakhir kalinya. Thea hanya bisa mendekati peti itu, merabanya dengan tangan yang bergetar. Dan suara Bapak terdengar kembali, "Nak, nanti kita pergi dari tempat ini. Kita hidup berdua saja..." Suara yang tak pernah mau hilang dari dalam hati dan ingatannya. Selalu membayangi langkahnya dan mengikat jiwanya dalam harap tak pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airmata Thea menetes jatuh satu persatu. Selama ini dia berusaha melupakan janji Bapak itu. Selama ini dia berpura-pura tak peduli pada janji itu. Meskipun sebenarnya janji itulah yang membuat hatinya yang telah hancur menjadi luluh. Janji itu yang dibawanya dalam setiap detik perjuangannya untuk tetap hidup. Janji yang membuatnya merasa bahwa Bapak mungkin menyayanginya, atau setidaknya pernah menyayanginya. Dan kini, lelaki itu pergi begitu saja meninggalkannya. Meninggalkan janjinya itu, tanpa pernah mampu membuatnya menjadi nyata. Mengikis semua sisa harapan yang tertinggal di hati Thea, selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thea memeluk peti keras yang terasa dingin itu. Membuat tubuhnya semakin menggigil. Dan lirih ia berbisik, "Thea telah lama menunggu Bapak, berharap bisa tahu, apakah Bapak menyayangi Thea? Hanya itu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peti kayu itu basah oleh airmata Thea. Namun hanya kebisuan yang memantul di udara hampa. Sehampa hati Thea kini, ditinggalkan oleh sang Bapak, tanpa sebuah jawaban. Selama-lamanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-5453477842717779852?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/5453477842717779852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/08/janji-bapak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5453477842717779852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5453477842717779852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/08/janji-bapak.html' title='Janji Bapak...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TF7btCYf3kI/AAAAAAAAAUA/iAe-rzHKHGo/s72-c/fathershand.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-1048609846487236295</id><published>2010-07-31T07:48:00.004+07:00</published><updated>2010-07-31T08:24:45.283+07:00</updated><title type='text'>Terbang Pergi...</title><content type='html'>Aku bertanya pada Tuhan, jalan mana? Bukan ingin melepas kewajiban diri, namun suara hati tak terdengar jelas. Lalu mentari kembali terbit, seakan tak pernah lelah. Dan suara itu berkata perlahan, ini titik akhirnya, Sayang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuh tetes airmata, tertutup sudah pintu hati. Terkunci dengan pasrah. Sudah, akhiri saja. Tak sanggup lagi biarkan tanya dan ragu mengintip. Biarkan kunikmati sedih ini. Tak perlu ada yang mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpiku telah terbang pergi. Kutatap dirinya untuk terakhir kali dengan senyum perih. Lama sudah ia memohon pembebasan ikatan, yang telah melemahkan sayap-sayapnya. Kasihan dia. Terbelenggu dalam ingin tanpa ketulusan. Menodainya, kehilangan kemurnian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan biarkan aku sekali lagi, mengenang rasa manis itu. Yang pernah jadi milik jiwa. Yang pernah menjadi warna hidup. Yang selamanya menjadi lukisan indah yang tak selesai, karena hasrat yang telah lenyap tak berbekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan aku memberikannya sebuah pelukan selamat tinggal... Selamanya, hanya ada goresan cinta di sini, bukan kebencian, Sayang...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-1048609846487236295?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/1048609846487236295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/terbang-pergi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1048609846487236295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1048609846487236295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/terbang-pergi.html' title='Terbang Pergi...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-4810436351940227340</id><published>2010-07-28T00:20:00.005+07:00</published><updated>2010-07-28T00:48:50.728+07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Kubisa Hidup Lagi...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TE8blyeO5YI/AAAAAAAAATw/mDxScGqL2qU/s1600/sad.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 106px; height: 141px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TE8blyeO5YI/AAAAAAAAATw/mDxScGqL2qU/s320/sad.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498644006060352898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ingin rasanya kutuliskan sepucuk surat untukmu, wahai kekasih hatiku. Lama sudah kita tidak bertukar kata. Meski raga bersua, tapi tatap selalu tak berpelukan. Begitupun hati yang kini mulai menolak untuk menyenandungkan nada-nada cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang salah? Tangan-tangan waktukah yang telah menarikmu jauh dariku? Ataukah harap diri yang terbang terlalu tinggi hingga tak mau lagi kembali di sini? Tak pernah mau menurut lagi, bak seorang bocah yang telah melihat dunia bebas. Tak lagi bahagia bermain dalam pekarangan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila saja kubisa buka ikatan keangkuhan diri, ratapan hati akan terdengar. Membelah kebisingan dunia. Menceritakan tentang rindu pada kekasih. Akankah dia kembali, menjadi ksatria yang menolong sang puteri? Ataukah memang dia hanya seorang raja yang begitu mencintai singgasananya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila seluruh telah kuberikan dan tak bersisa lagi, bagaimana kubisa hidup lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-4810436351940227340?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/4810436351940227340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/bagaimana-kubisa-hidup-lagi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4810436351940227340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4810436351940227340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/bagaimana-kubisa-hidup-lagi.html' title='Bagaimana Kubisa Hidup Lagi...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TE8blyeO5YI/AAAAAAAAATw/mDxScGqL2qU/s72-c/sad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-4961479282384210803</id><published>2010-07-26T23:28:00.004+07:00</published><updated>2010-07-27T00:37:07.087+07:00</updated><title type='text'>Kucium Bintang...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TE3BIyuTLOI/AAAAAAAAATo/EGoe42Ppy0k/s1600/star.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 113px; height: 135px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TE3BIyuTLOI/AAAAAAAAATo/EGoe42Ppy0k/s320/star.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5498263076888325346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tujuh malam sudah aku duduk di sini. Menanti rembulan menyapaku. Tapi dia tak jua bergeming. Larut dalam bisu. Duniaku pun luruh, sehitam malam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusapa dia dengan cinta yang tersisa. Berharap ada senyum penghiburan lara. Mungkin aku yang tak punya kepekaan. Tuli rasa karena impian yang bersembunyi tak berani menampakkan wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi kini menjadi teman tak tampak. Menyatu dalam aliran darah, hidup dalam napas. Bergembira di sana, dalam denyut kehidupan. Senyumnya adalah dukaku. Bahagianya adalah tangisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerlip cahaya memanggil di kegelapan. Aku terpukau, lupa akan lara. Dan sepi menampakkan wajah tak ramah, tak lagi cinta pada napas dan darahku. Dan dia pun pergi begitu saja, tak sudi lagi menawan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang tersenyum, kirimkan salam dan kalungkan cahaya. Membelai hati, menidurkan lara. Impian mengintip, menampakkan wajahnya untuk pertama kalinya. Begitu cantik berkilau tanpa riasan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kucium bintang, lupakan rembulan. Sejenak saja, ingin memeluk bahagia di malam ini. Esok? Aku tak tahu. Aku tak peduli...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-4961479282384210803?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/4961479282384210803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/kucium-bintang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4961479282384210803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4961479282384210803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/kucium-bintang.html' title='Kucium Bintang...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TE3BIyuTLOI/AAAAAAAAATo/EGoe42Ppy0k/s72-c/star.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-4183728918205712721</id><published>2010-07-25T04:36:00.007+07:00</published><updated>2010-07-25T05:31:39.641+07:00</updated><title type='text'>Tertelan Bimbang...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEtm-13LBbI/AAAAAAAAATg/3yzyhQsBtII/s1600/desperate.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEtm-13LBbI/AAAAAAAAATg/3yzyhQsBtII/s320/desperate.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497600999932233138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hanya bayang setipis asap&lt;br /&gt;Kala menghilang menyisakan tanya&lt;br /&gt;Kala nyata terbius mimpi&lt;br /&gt;Antara ada dan tiada... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kupeluk erat, rasa mengabur&lt;br /&gt;Saat kulepas, dia datang membelai sukma&lt;br /&gt;Tanya dan harap bermain bersama&lt;br /&gt;Menyiksa jiwa hingga menangis tersedu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerat mengikat, mengiris sukma&lt;br /&gt;Hasrat ingin melepas terbalut ragu&lt;br /&gt;Jiwa terbelah, tak lagi utuh&lt;br /&gt;Bak istana megah telah terbelah dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam berwajah pagi&lt;br /&gt;Rembulan menguning&lt;br /&gt;Mentari tak lagi bercahaya&lt;br /&gt;Di manakah aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan, siapa aku? &lt;br /&gt;Cermin jiwa telah retak&lt;br /&gt;Bayang diri terpantul kabur&lt;br /&gt;Puteri ataukah hamba hina tak bernilai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-4183728918205712721?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/4183728918205712721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/tertelan-bimbang.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4183728918205712721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4183728918205712721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/tertelan-bimbang.html' title='Tertelan Bimbang...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEtm-13LBbI/AAAAAAAAATg/3yzyhQsBtII/s72-c/desperate.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-4713299015513118116</id><published>2010-07-22T07:16:00.000+07:00</published><updated>2010-07-22T09:12:12.775+07:00</updated><title type='text'>Hidup Bukan Milik Kita Sendiri...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEeke9TCGVI/AAAAAAAAATY/3vsKQh8UBBg/s1600/index6.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 114px; height: 114px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEeke9TCGVI/AAAAAAAAATY/3vsKQh8UBBg/s320/index6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496542721986402642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Satu hari lagi. Hari yang baru. Hari yang samakah? Tidak benar-benar sama. Berbeda. Namun tak cukup berbeda jauh. Masih dengan keadaan yang sama, orang-orang yang sama. Hanya saja hari ini mengingatkan akan panjang langkah yang telah terayun selama ini. Satu tahun lagi berlalu. Satu angka lagi untuk umur. Angka yang terus menjadi pengingat akan jejak-jejak yang telah ditinggalkan di dunia ini. Angka yang selalu mengingatkan tujuan yang belum tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napas selamanya adalah anugerah. Meski awal perjalanan tak pernah mudah. Terseok-seok, jatuh dalam ribuan tanya untuk diri dan hidup. Berjuang sendiri untuk menguatkan kaki hingga mampu berdiri dengan tegar. Melihat dunia yang tak pernah menjadi sempurna, dipenuhi parut-parut yang menyedihkan. Namun saat mata hati terbuka, ketika akhirnya penderitaan dan kebahagiaan yang lain menjadi lebih penting di atas kebahagiaan diri sendiri. Akhirnya menemukan sebuah keyakinan serta tujuan baru yang lebih layak untuk diperjuangkan. Agar hidup ini bisa menjadi indah, bukan hanya untuk diri. Tapi juga bagi sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Airmata dan sakit selalu menjadi bagian dari hidup. Jangan disesali. Berhenti berontak. Belajar menerima. Menerima itu indah. Terima hidup dengan senyum. Berkarya selalu. Hidup bukan hanya milik sendiri. Anugerah hari ini adalah titipan bahagia untuk dibagikan pada sekitar. Buat sesuatu untuk orang-orang yang tidak memiliki kesempatan meski untuk bermimpi. Masih banyak tangan-tangan yang perlu diraih. Menunggu hati tergerak dalam kasih yang besar. Masih banyak hidup yang bisa disentuh. Dengan sentuhan berarti yang bisa mengubah warna hidup menjadi lebih cerah dan bersinar. Belajar seperti lilin kecil yang mengorbankan diri demi terang dunia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak yang harus dilakukan. Masih setumpuk harapan dan keinginan diri yang belum terlaksana. Masih akan ada hari-hari berat dan panjang yang harus dilewati. Ditemani sunyi malam dan lelah jiwa dan raga. Namun lelah tak pernah menjadi penghalang melainkan harga yang pantas untuk dibayar demi napas-napas hidup yang lain. Yang membuat semakin besar bara semangat di dalam diri. Pasti mampu tercapai dengan restu sang Pencipta. Tak akan pernah surut meski dihadang badai dan topan. Waktu terus berputar. Segalanya akan berubah. Musim akan berganti. Bunga-bunga akan bermekaran lagi. Bila tiba saatnya nanti. Hanya perlu memupuk kesabaran dalam detik-detik yang ada. Disertai doa dalam penyerahan diri sempurna pada sang Kuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Ulang Tahun. Semoga segala cita dan impian terwujud dan terlukis dalam senyum di wajah-wajah mereka yang telah tersentuh oleh karya dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;* Dedicated for someone who teach me that life is a place for sharing and happiness comes from giving yourself to others. Thank you, Sir...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-4713299015513118116?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/4713299015513118116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/hidup-bukan-milik-kita-sendiri.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4713299015513118116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4713299015513118116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/hidup-bukan-milik-kita-sendiri.html' title='Hidup Bukan Milik Kita Sendiri...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEeke9TCGVI/AAAAAAAAATY/3vsKQh8UBBg/s72-c/index6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-8918292669221745283</id><published>2010-07-18T18:41:00.000+07:00</published><updated>2010-07-18T19:38:16.809+07:00</updated><title type='text'>Rasa...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEL0COSnsWI/AAAAAAAAATI/poGQOw_FxjQ/s1600/images2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 275px; height: 183px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEL0COSnsWI/AAAAAAAAATI/poGQOw_FxjQ/s320/images2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495222814378537314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kau bicara tentang rasa yang sama. Tapi mampukah kau tuangkan rasamu dengan tepat dalam kata-kata? Mampukah kata-kata mewakili seluruh unsur dari rasamu itu, agar aku bisa tahu bahwa rasamu dan rasaku ini memang sama? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tahukah kau bila rasa itu tak pernah menjadi zat yang padat dan tetap? Ia selalu berubah wujud. Dan bila saat ini matamu melihatnya dalam wujudnya yang sekarang, tahukah kau bila esok mungkin wujud itu tak akan kau temukan lagi di sana? Akankah kau mengerti, ataukah kau akan mengutuknya, merasa telah terperangkap dalam wajah palsunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak penting apakah rasaku ini, karena akupun tak dapat menaruh seluruh kepercayaan hati padanya. Bukan tak berani. Bukan tak yakin. Bukan. Tapi karena aku begitu mengenalnya. Mengenal rasaku. Rasaku yang selalu berubah wujud dalam hitungan waktu. Karena itulah hakikat dirinya, yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bila kau tanyakan apakah rasa kita sama, aku tak punya jawabnya. Karena mungkin saat ini mereka, rasaku dan rasamu, menampakkan wajah yang sama. Namun nanti, esok atau lusa, mungkin mereka tampak sama sekali berbeda. Mungkin... Mungkin juga tidak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi biarlah rasa itu menjadi rasamu. Dan rasa ini menjadi rasaku. Tak perlu kita tanyakan atau bicarakan. Biarlah ia menjadi seperti hakikatnya. Bebas, tak terikat. Karena ikatan hanya akan membuatnya kehilangan kemurnian wajah dan dirinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bila memang rasa kita ini sama, biarlah mereka menari bersama untuk saat ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-8918292669221745283?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/8918292669221745283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/rasa.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8918292669221745283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8918292669221745283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/rasa.html' title='Rasa...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEL0COSnsWI/AAAAAAAAATI/poGQOw_FxjQ/s72-c/images2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-862837377399316241</id><published>2010-07-18T11:13:00.000+07:00</published><updated>2010-07-18T12:09:10.955+07:00</updated><title type='text'>Lukisan Kita...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEKKsypELJI/AAAAAAAAAS4/piC-zmdMYsQ/s1600/wedding.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 221px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEKKsypELJI/AAAAAAAAAS4/piC-zmdMYsQ/s320/wedding.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5495106997458316434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku kira cerita cinta dalam hidupku akan seperti cerita Cinderella. Aku, akan menjadi pangeran yang akan menemukan seorang gadis sederhana, baik hati dan lemah lembut yang akan menjadi puteri hatiku. Akan kulindungi dirinya dan kuberikan cintaku seutuhnya. Dan puteri-ku begitu memujaku, mencintaiku dengan sepenuh hati dan jiwanya. Dan akan bahagia selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika kutemukan sosok itu padamu yang begitu memukau hatiku, menjadi pusat duniaku, segera kupinang dirimu. Manis. Hidup kala itu begitu manis. Dan aku menjadi pangeran sesungguhnya dalam dunia nyata, bukan lagi hanya sebuah angan dan mimpi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi waktu seakan begitu cepat berlalu. Perlahan-lahan bagian demi bagian lukisan itu memudar, menghilang, menyisakan sebuah lukisan nyata yang tak lagi terlihat indah. Bahkan terkadang tampak begitu menyedihkan, membuatku tak berhasrat lagi memandanginya. Mencoba melupakannya, menatap ke arah yang berbeda. Meski diriku masih berada di dalam lukisan itu sendiri. Tak pernah cukup keberanian diri untuk melangkah keluar dan meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin ketika kau duduk di sampingku, aku menatapmu. Ada rasa asing yang menampakkan wajahnya padaku. Tapi juga ada sebuah wajah lain yang mengucapkan salam padaku. Wajah yang begitu kukenal. Wajah yang dulu sering datang menemani. Wajah kerinduan. Ya, kerinduanku akan dirimu. Baru kusadari begitu lama waktu telah berlalu, membawa jiwamu jauh dari jiwaku. Meski sosokmu masih ada di sini. Selalu di sini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana cinta itu, Sayang? Mengapa tak lagi terasa? Dan mengapa seakan tak berarti sedikitpun untukmu? Seakan kau hanya inginkan ragaku di sini. Meski jiwa dan rasaku telah terbang jauh, kau tak peduli. Tak pernah menjadi begitu penting lagi bagimu. Seakan bahagia itu hanya ada dalam selembar kertas jaminan hidup dan atap yang sama yang kita naungi. Aku sedih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak lagi merasa menjadi seorang pangeran tampan yang hebat. Dan kau tak lagi terlihat indah seperti Cinderella-ku. Lalu harus kuapakan impian ini? Buang jauh dan lupakan? Tapi dia telah melekat kuat dalam hati dan jiwa ini. Melebur dalam kekecewaan dan hasrat yang semakin melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih seorang pangeran dan kau masih menjadi puteri itu. Tapi hanya dalam lukisan sempurna tak nyata. Yang menjadi lukisan yang terpajang di dinding dunia. Yang hanya bisa terlihat sempurna di mata dunia. Namun ketika mata hati ini menatapnya, bagian-bagian indahnya telah luntur menyisakan warna pudar. Tapi tak pernah mampu kubuang lukisan lama yang telah tergantung bertahun-tahun itu. Hanya karena dunia. Dunia, yang selalu berbicara. Meski dia tak pernah sungguh-sungguh tahu dan mengerti tentang aku. Tentang kau. Tentang kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di sinilah kita, memakai topeng pangeran dan puteri dengan wajah bahagia. Menutupi wajah kecewa dan sedih yang ada. Dan di sinilah kita, dalam panggung sandiwara yang mengisahkan kisah Cinderalla. Memerankan tokoh-tokoh penting dengan baik bak aktor kawakan. Menyimpan rapat-rapat semua sakit dan sedih selama raga masih berada di atas pentas. Dan berkubang dalam derita dengan wajah sempurna kebahagiaan... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-862837377399316241?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/862837377399316241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/lukisan-kita.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/862837377399316241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/862837377399316241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/07/lukisan-kita.html' title='Lukisan Kita...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TEKKsypELJI/AAAAAAAAAS4/piC-zmdMYsQ/s72-c/wedding.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-8123486575998104421</id><published>2010-06-27T21:43:00.000+07:00</published><updated>2010-06-27T22:17:18.835+07:00</updated><title type='text'>Mawarku...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TCdqgOfX2oI/AAAAAAAAASw/ZXjgT23etcQ/s1600/mawar.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TCdqgOfX2oI/AAAAAAAAASw/ZXjgT23etcQ/s320/mawar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5487471772852279938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mawarku mekar &lt;br /&gt;Oh indahnya...&lt;br /&gt;Seperti wanita dibalut sutera&lt;br /&gt;Tak lepas mata mengaguminya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum puas lagi hati ini&lt;br /&gt;Kutemukan kelopaknya menguning&lt;br /&gt;Aku resah&lt;br /&gt;Berbisik padanya, Jangan layu Sayang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelopaknya jatuh perlahan&lt;br /&gt;Di tanah merah yang basah&lt;br /&gt;Sungguh kasihan&lt;br /&gt;Dia tak lagi secantik kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak rela hati ini&lt;br /&gt;Bolehkah temani aku sebentar lagi?&lt;br /&gt;Kelopaknya jatuh satu persatu&lt;br /&gt;Dalam kebisuan mengajarkanku tentang hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah hidup pun seperti itu?&lt;br /&gt;Mekar pada waktu tertentu&lt;br /&gt;Dan kemudian layu ketika masa telah tiba&lt;br /&gt;Hakikat alam yang tak bisa kau ubah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kurelakan mawarku pergi&lt;br /&gt;Kupotong tangkai yang telah layu &lt;br /&gt;Dia menatapku dan tersenyum&lt;br /&gt;Jangan sedih Sayang, hidup ini terus berputar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mawarku berbicara tentang dirinya dan hidup&lt;br /&gt;Harus kupotong saat waktunya telah tiba&lt;br /&gt;Jangan ada sesal dan sedih&lt;br /&gt;Dia telah berjanji akan selalu mekar kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam telah membuat aturannya&lt;br /&gt;Dan aku hanya perlu belajar menerima&lt;br /&gt;Kapan mawarku harus kurelakan&lt;br /&gt;Kapan bagian dari hidupku harus kututup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti janji alam padaku&lt;br /&gt;Mawarku akan tumbuh dan mekar kembali&lt;br /&gt;Begitupun dengan hidupku akan indah kembali&lt;br /&gt;Bila saatnya telah tiba nanti...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-8123486575998104421?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/8123486575998104421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/mawarku.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8123486575998104421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8123486575998104421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/mawarku.html' title='Mawarku...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TCdqgOfX2oI/AAAAAAAAASw/ZXjgT23etcQ/s72-c/mawar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-141629530606966121</id><published>2010-06-23T14:18:00.000+07:00</published><updated>2010-06-23T18:03:42.667+07:00</updated><title type='text'>Sepeda Tua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TCHo3byqprI/AAAAAAAAASo/z_1N81jqeOE/s1600/sepeda+1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 275px; height: 183px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TCHo3byqprI/AAAAAAAAASo/z_1N81jqeOE/s320/sepeda+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5485921860164691634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Teguh memandangi bapaknya yang sedang mengelap sepeda tuanya. Tak habis pikir dia, sepeda itu sudah kelihatan sangat tua, meskipun selalu dirawat bapaknya dengan baik selama ini. Namun sudah banyak bagian yang berkarat dan aus di makan waktu. Tapi bapaknya begitu menyayangi sepeda tua itu. Bukan apa-apa, kalau dulu mereka tinggal di kampung, bagi orang-orang kampung, sepeda tua itu adalah pemandangan biasa. Namun kini, meski sudah setahun ikut dengan Teguh, tinggal di perumahan elit, bapaknya masih tetap lengket dengan sepeda itu. Ke mana-mana mengendarai sepeda itu. Membuat orang-orang se-kompleks berbisik-bisik. Lama-lama Teguh menjadi risih juga. Setengah malu, setengah takut kalau-kalau orang menilainya sebagai anak yang tidak berbakti. Membiarkan orangtuanya mengendarai sepeda butut sementara dirinya sendiri memiliki rumah megah dan mobil yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak, sepedanya sudah tua. Ganti, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan keriput lelaki itu terhenti. Bapak mendongak, menatap Teguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teguh beli motor buat Bapak, ya? Kan capek mesti ngayuh sepeda terus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapaknya tersenyum. "Bapak tidak tahu cara naik motor, Nak. Lagipula kelihatannya bahaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu Teguh beli mobil saja. Nanti pakai supir, jadi ke mana-mana ada yang mengantar. Bapak tidak perlu repot lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak bangkit, duduk di samping Teguh. "Mobil? Mobil itu mahal. Lagipula naik mobil itu membosankan. Kalau dengan sepeda, Bapak bisa menikmati tiupan angin. Hitung-hitung juga sebagai olahraga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh mendesah. Jalan buntu. Bapak tetap bersikeras bersama sepeda tuanya. Tidak ada cara membujuknya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak balik memandangi Teguh. Diamatinya wajah teguh lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu malu dengan sepeda Bapak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh menelan ludah, wajahnya merona merah mendengar pertanyaan bapaknya yang seakan bisa membaca keresahan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan begitu, Pak...," Teguh berusaha mengelak. "Hanya saja Teguh sekarang sudah mapan. Tak sepantasnya Teguh membiarkan Bapak naik sepeda tua. Bapak juga sudah tua, harusnya bisa menikmati sisa hidup yang ada."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu terdiam mendengar kata-kata anaknya. Ia memandangi sepeda tuanya. Ada kesedihan terpancar di wajahnya, seperti seseorang yang sebentar lagi akan dipisahkan dari kekasih hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sepeda ini menemani Bapak melewati banyak hal bersama-sama," katanya perlahan dengan pandangan menerawang, seakan bisa menembus masa lalu. "Saat ibumu akan melahirkanmu, Bapak mengantarnya ke Bidan dengan sepeda ini. Juga saat pertama kali kamu pulang ke rumah. Sepeda ini juga yang mengantar Bapak setiap hari ke sawah dan pulang dari sawah. Sudah banyak yang dilakukan sepeda tua ini untuk kita. Bapak merasa sayang untuk melepasnya, Nak..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh tertegun mendengar kata-kata bapaknya. Bayangan masa lalu tiba-tiba terhampar di hadapannya. Saat ia kecil, ia selalu merasa begitu senang ketika Bapak memboncengnya dengan sepeda itu. Ia duduk di belakang, tertawa girang sambil memegangi baju Bapak kuat-kuat. Teguh kecil bahkan sering tak sabar menanti saat di mana ia boleh mengayuh sendiri sepeda itu. Dan ketika hari itu tiba, ketika kaki-kaki kecilnya telah memanjang dan Bapak memperbolehkannya membawa sepeda itu berkeliling, Teguh merasa sangat bahagia. Dikayuhnya sepeda itu cepat-cepat dan ia menikmati hembusan angin di wajahnya. Ya, hembusan angin itulah yang dibicarakan bapaknya tadi! Teguh baru tersadar. Dan waktu telah bergulir dengan begitu cepat. Ia sendiri telah lupa akan rasa itu. Juga telah lupa dulu ia pernah begitu mengagumi sepeda itu. Saat sepeda itu masih muda, belum setua hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh menatap sepeda tua itu, yang kini terlihat menyedihkan, seakan tahu dia tak diinginkan lagi. Kemudian tatapannya beralih pada lelaki di sampingnya, yang juga kini telah menua. Lelaki yang telah mendampingi dirinya dan membesarkannya dengan penuh kasih. Tiba-tiba Teguh merasa begitu malu pada dirinya sendiri. Hanya karena memikirkan gengsi dan rasa malunya, ia telah mengesampingkan perasaan bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau memang menurut kamu sepeda ini tidak pantas lagi, ya sudah," kata Bapak perlahan dengan wajah pasrah, memecah kesunyian di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teguh menggeleng cepat. "Maafkan Teguh, Pak. Teguh lupa akan jasa-jasa sepeda Bapak ini. Teguh juga sekarang mengerti mengapa Bapak begitu menyayangi sepeda ini. Karena sepeda ini membawa begitu banyak kenangan dalam hidup Bapak. Kenangan hidup yang tidak ingin Bapak lupakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak menoleh, menatap Teguh dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya terlihat gemetar ketika sebuah senyuman tipis terbentuk. Ditepuk-tepuknya bahu Teguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu memang anak yang baik, Guh. Bapak bangga punya anak sepertimu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak lalu bangkit berdiri dan menghampiri sepeda tuanya. Dielus-elusnya kembali sepeda itu dengan rasa sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sudah hampir setahun Bapak pergi meninggalkan Teguh, namun sepeda tua itu masih terparkir di halaman rumahnya yang luas. Dan kini setiap sore Teguh selalu terlihat asyik mengelap sepeda itu, sama seperti yang dikerjakan bapaknya dulu. Bahkan sesekali Teguh mengayuh sepeda itu berkeliling kompleks dengan wajah ceria. Ia tak peduli tatapan aneh dari tetangga-tetangganya. Ataupun bisikan-bisikan celaan mengenai sepeda tuanya yang terlihat tak sedap lagi dipandang mata. Biarlah mereka bicara. Mereka hanya menilai penampilan luar dari sepeda itu saja. Mereka tak pernah tahu kalau sesungguhnya sepeda itu menyimpan begitu banyak kenangan berharga yang mahal harganya. Yang tak akan pernah bisa digantikan dengan uang... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id/imglanding?q=foto sepeda tua&amp;imgurl&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-141629530606966121?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/141629530606966121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/sepeda-tua.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/141629530606966121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/141629530606966121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/sepeda-tua.html' title='Sepeda Tua'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TCHo3byqprI/AAAAAAAAASo/z_1N81jqeOE/s72-c/sepeda+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-8331967031436938277</id><published>2010-06-22T14:48:00.000+07:00</published><updated>2010-06-23T09:47:48.535+07:00</updated><title type='text'>Inikah Persimpangan Itu?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TCDHaxaS5kI/AAAAAAAAASg/vMqap8APgHY/s1600/Crossroad_by_ducks_rebellion.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 299px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TCDHaxaS5kI/AAAAAAAAASg/vMqap8APgHY/s320/Crossroad_by_ducks_rebellion.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5485603608891418178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Inikah persimpangan itu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kau mungkin tak pernah tahu apa yang telah kulewati. Jalan ini tak pernah menjadi mudah bagiku. Meski mungkin terlihat mudah di matamu. Tidak. Aku telah jatuh dan bangun berulangkali dalam usahaku untuk tetap bertahan. Namun perih di luka-lukaku ini tak tertahankan lagi. Meski aku selalu berharap luka-luka itu bisa sembuh dan aku dapat kembali kuat melangkah. Tapi tidak seperti itu adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tak pernah benar-benar ada di sini. Ketika aku butuh sebuah tangan untuk kupegang, hanya udara kosong yang dapat kugapai. Dan ketika langit hidupku begitu gelap dan membuat langkahku gentar, aku berharap ada sebuah pelita yang kau hadirkan di sini. Namun selalu, kembali aku hanya mampu sendiri memaksa diri meredam kegentaran jiwa ini. Memaksa untuk terus melangkah maju. Berharap bisa menemukanmu di depan sana. Mungkin tinggal beberapa langkah lagi. Atau hanya tinggal selangkah lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kau tak pernah ada di sini ataupun di sana. Seperti seorang pemimpi yang tak pernah ingin bangun dari tidurnya, aku pun terus melangkah dan berdendang, menghibur laraku sendiri. Membisikkan kata-kata penghiburan untuk telingaku sendiri. Dan meniupkan doa ke atas sana. Tuhan, tolong pertemukan kami...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kakiku terasa begitu lelah kini. Tak mampu kuseret lagi. Meski masih ada sedikit asa yang tertinggal yang bercampur dengan ketidakrelaan untuk melepas impian hati. Tapi aku sungguh tak mampu lagi melangkah. Dan meskipun telah kuhabiskan waktu di sini, merenungkan perjuangan ini, berusaha mengumpulkan kembali semangat yang menyala seperti dulu, tak ada yang berubah. Tak ada yang terjadi. Masih, hanya aku di sini. Sendiri dalam lelahku. Di mana kau? Akankah ada hari di mana kau datang membawa pelita itu dan menggenggam tanganku untuk berjalan bersama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penantian ini serasa tak memiliki akhir. Seperti juga jalan ini, seakan tak berujung. Aku tak ingin lagi melangkah. Tak mampu. Jiwaku telah berontak. Meminta sebuah pembebasan untuk memilih jalan yang lain. Jalan yang dinaungi terang. Begitu menggoda. Begitu ingin kulepaskan jiwaku berlari serta mengajak ragaku ikut bersamanya. Meninggalkan jalan berliku ini, tempat kuberharap menemukanmu. Tapi aku masih tak rela. Tak rela melepaskan semua rasa dan asaku tentangmu. Tahukah kau? Rasakah kau apa yang kurasakan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu bahagia? Bila hati dan jiwa terpenjara pada ikatan janji yang entah kapan menjadi nyata. Bagaimana mungkin bahagia itu bisa kugapai? Dan bila penjara ini kudobrak dengan paksa, akankah kusesali suatu hari nanti? Siapakah yang tahu? Kau? Tapi bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan jawab darimu, sementara dirimu sendiri tak mampu kutemukan di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah persimpangan itu? Bila akhirnya aku melangkah di jalan yang berbeda, akankah kecewa dirimu ketika kau tak menemukanku di sini, setia menunggumu? Bila kulakukan semuanya untuk bahagia diri ini, akankah kau tahu bahwa telah kuhabiskan ribuan malam menantimu di sini? Bahwa akhir seperti ini tak pernah kuinginkan terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: google&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-8331967031436938277?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/8331967031436938277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/inikah-persimpangan-itu.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8331967031436938277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8331967031436938277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/inikah-persimpangan-itu.html' title='Inikah Persimpangan Itu?'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TCDHaxaS5kI/AAAAAAAAASg/vMqap8APgHY/s72-c/Crossroad_by_ducks_rebellion.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-8228573367552617025</id><published>2010-06-19T23:56:00.000+07:00</published><updated>2010-06-20T00:49:28.170+07:00</updated><title type='text'>Andai Aku Seekor Elang...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TB0C76V7ywI/AAAAAAAAASY/ddwz4tMLJGE/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 225px; height: 224px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TB0C76V7ywI/AAAAAAAAASY/ddwz4tMLJGE/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5484543149503924994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Andai aku seekor elang, akan kukepakkan sayapku ini sekuat yang aku bisa. Saat amarah menguasai dan membungkam semua kata yang telah berbaris, memaksa untuk mendobrak kebisuan yang memuakkan ini. Biar saja kubawa pergi semua ketidaksetujuanku akan sikapmu. Dan saat aku menggapai angkasa bebas itu, akan kuteriakkan amarahku. Biar dia lepas ditelan udara kosong dan tak bersisa meninggalkan goresan luka di dirimu dan juga di diriku ini. Karena bukan itu yang kumau. Bukan luka di sana atau di sini. Bukan. Aku hanya ingin didengarkan sebagai makhluk yang punya harga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak seperti itu adanya. Aku bukan elang. Tapi seandainya pun aku elang, sayap-sayapku ini telah melemah termakan janji diri. Hanya bisa kutelan semua amarah, meracuni diriku sendiri. Membuatku sesak dan sekarat, tanpa kau sadari. Ataukah selama ini kau mengira diriku sekuat elang, karena sorot mataku tajam tak pernah membiarkan perihku terlihat? Atau karena kedua kakiku yang terlihat kokoh karena selalu kupaksa meredam gemetar yang ada? Atau karena selalu kutegakkan kepalaku meski hatiku remuk redam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan elang. Tapi saat ini aku ingin menjadi seekor elang. Terbang jauh ke dunia antah berantah, di mana tak ada satupun makhluk yang kukenal dan mengenalku. Biar tak ada masa yang mengikuti kepakan sayapku. Biar tak perlu basa dan basi menjadi topeng diri. Biar semua rasa ini bisa terurai dalam sapuan angin. Dan bila aku akhirnya lelah, akan kucari sebuah persinggahan, untuk sejenak berhenti. Sendiri dalam keheningan. Mencoba berteman dengannya dalam kepasrahan bukan keterpaksaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akh... Andai aku seekor elang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo link: google&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-8228573367552617025?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/8228573367552617025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/andai-aku-seekor-elang.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8228573367552617025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8228573367552617025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/andai-aku-seekor-elang.html' title='Andai Aku Seekor Elang...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TB0C76V7ywI/AAAAAAAAASY/ddwz4tMLJGE/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-67531685100448615</id><published>2010-06-12T11:08:00.000+07:00</published><updated>2010-06-12T11:38:58.249+07:00</updated><title type='text'>Tolong Beri Aku Cinta...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBMKEcV1VII/AAAAAAAAASI/vQNcQDvSXzY/s1600/sad-woman-silhouette.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBMKEcV1VII/AAAAAAAAASI/vQNcQDvSXzY/s320/sad-woman-silhouette.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481736242883548290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu benci rumah ini. Aku benci kamar ini. Aku benci seluruh isinya. Aku benci seluruh isi rumah ini. Ayahku, ibuku juga kakakku. Ya, aku benci semuanya. Bahkan diriku sendiri. Aku benci diriku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu saat ini ayahku ada di mana. Dia selalu tak ada di sini. Hanya muncul sekali waktu dan menghilang dengan cepat. Tak pernah berbicara padaku, bahkan rasanya dia tak pernah memandangku. Seakan-akan aku ini tak pernah kelihatan. Tapi aku tak peduli, seperti halnya dia tak pernah peduli padaku. Bagiku tak ada bedanya bila dia ada atau tidak. Benar-benar tak ada perbedaan. Ibuku? Dia selalu ada di sini. Di rumah ini. Bahkan seperti tak pernah beranjak dari tempatnya duduk. Di kursi malas reyot yang sudah bertahun-tahun menopang tubuhnya yang semakin hari semakin gemuk. Dia juga seperti ayahku, tak peduli padaku. Dia hanya peduli padaku ketika butuh seseorang untuk dimaki atau dijadikan sasaran kemarahan. Kadang-kadang aku sengaja memancing kemarahannya, mencoba menunjukkan kebencianku padanya. Seperti kemarin siang ketika aku menemukan nasi yang separuh basi di atas meja makan. Aku memuntahkan suapanku ke dalam piringku dan melempar piring kaleng itu ke tempat sampah, membuat bunyi kelontang yang membuatnya terlompat kaget. Saat itulah kata-kata makiannya meluncur, tapi aku sungguh tak peduli. Meski wajahnya seakan mau meledak dan urat lehernya membengkak tegang, aku berlalu meninggalkannya begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakakku? Aku lebih-lebih benci padanya. Aku benci melihat rambut gondrongnya yang selalu licin berminyak dan lengket. Menjijikkan. Aku benci melihat lirikan matanya yang genit pada gadis-gadis tetangga dan aku benci melihatnya terus berjongkok di depan pagar rumah, menunggu seseorang untuk digodanya. Lelaki bodoh! Dia tak pernah sadar wajahnya selalu terlihat tolol!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku paling benci hari Sabtu dan Minggu. Aku benci hari yang panjang, hari di mana aku tak tahu harus ke mana.  Tak ada sekolah tempat ku pergi, tak ada lapangan bola di samping sekolah tempat ku menghabiskan waktu seharian tak peduli tak ada yang bisa kulakukan di sana. Sebenarnya aku bisa saja berjalan kaki dari rumah ke tempat itu, tapi dengan langkah kakiku ini butuh waktu satu jam perjalanan. Aku tak suka berjalan kaki. Mengingatkanku pada mobil Pingky yang setiap hari parkir di halaman depan sekolah. Mengingatkanku pada kemiskinanku. Aku benci menjadi miskin. Aku benci ingat bahwa aku ini miskin. Tapi aku tak punya uang untuk naik ojek pada hari Sabtu seperti ini. Ibuku tak pernah memberiku uang lebih. Selalu pas. Pas untuk naik ojek, pulang dan pergi, Senin sampai Jumat. Bahkan aku tak pernah punya sepeser pun uang untuk jajan  di sekolah. Huh! Aku benci saat bel istirahat berbunyi, itu tandanya sebentar lagi aku akan menyaksikan geromboralan orang berkumpul, menikmati bermacam-macam jajanan sambil bercanda ria. Tiap kali aku selalu harus bersembunyi di dalam toilet sekolah selama waktu itu agar tak terlihat sebagai makhluk aneh di antara mereka. Aku benci toilet sekolah. Aku benci baunya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku bangun kesiangan, menyeret kakiku ke dapur. Tak ada makanan di meja. Memang tak pernah ada sarapan di rumah ini. Mengapa harus merasa heran? Ibuku yang pemarah itu sedang sibuk dengan cuciannya di kamar mandi. Dan ayahku seperti biasa sudah menghilang. Dia bagai hantu yang datang dan pergi secepat kilat. Mungkin dia juga sama sepertiku, benci rumah ini, benci istrinya yang semakin membengkak dan jelek, dan benci anak-anaknya yang menjijikkan dan yang juga membencinya. Kadang aku merasa udara di rumah ini telah teracuni. Racun kebencian yang kuat memenuhi udara, yang terkadang membuat napasku sesak pada malam hari ketika aku akan tidur. Dan aku sering merasa heran, entah mengapa aku masih juga hidup keesokan harinya. Aku benci harus bangun lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakakku yang selalu merasa ganteng itu tengah berselonjor santai di kursi reyot ibuku. Di jarinya terselip sebatang rokok kretek yang sesekali dihisapnya dalam-dalam. Satu hal lagi yang sangat kubenci. Asap rokok itu, yang melayang ke mana-mana. Udara rumah ini bukan saja teracuni kebencian tapi juga nikotin sialan itu. Aku tak tahan lagi. Semua ini membuatku muak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusambar tas selempangku, yang aku tahu persis apa isinya. Tak ada benda berharga. Hanya sebuah buku catatan jelek yang biasa kugunakan untuk menumpahkan kebencianku bila sedang memuncak. Dan sebuah dompet robek yang hampir kosong, yang hanya terselip sebuah kartu pelajar dan beberapa uang logam. Kubanting pintu depan keras-keras, sebagai pemberitahuan pada seisi rumah kalau aku pergi. Juga sekaligus melampiaskan kebencianku. Dadaku mulai terasa sesak, aku butuh udara segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan tanpa arah. Mau ke mana? Tak tahu. Jalan saja terus, ke mana saja. Ke neraka pun boleh! Bodoh amat! Mau tersesat, mau hilang, tak ada yang peduli padamu! Apa yang kau risaukan? Apa yang kau takutkan? Mati? Kau bahkan selalu mengemis-ngemis kematian pada Tuhan. Aku mendongak ke atas, ke langit biru. Dan kutemukan biru kosong di sana, seakan mengejekku tanpa wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakiku melangkah lebih cepat. Napasku pun semakin cepat. Dadaku sesak. Angin berhembus kencang. Debu-debu jalan berterbangan, membutakan mataku. Aku menutup mataku. Tiba-tiba terdengar suara klakson dan ban berdecit keras yang memekakkan telingaku. Langkahku sontak terhenti. Mataku terbuka, mengerjap, mencoba melihat di antara perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Kurang lima senti lagi, mencium tubuh kurusku ini. Seorang lelaki dengan wajah merah penuh kemarahan melongokkan kepalanya dari kaca jendela mobilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau mati yaaaa!!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menantang tatapannya dengan penuh kemarahan juga. “Kalau iya, kenapa???”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia memakiku gila sebelum memundurkan mobilnya sedikit dan melanjutkan perjalanan, lewat di sampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki kurang ajar! Kenapa tadi dia tidak menabrakku? Seandainya dia tidak mengerem, menabrak tubuhku ini sejauh lima meter ke depan dan kemudian digilas truk lagi dari belakang, mungkin sekarang aku sudah rata dengan aspal jalan tapi terbebas selamanya. Bebas dari tubuh tak berguna ini. Bebas dari kebencian ini. Bebas dari dunia menyebalkan ini. Bebas dari sesakku ini. Dan bayangkan, Ibuku yang pemalas itu terpaksa harus meninggalkan kursi reyotnya untuk menyambut tubuhku yang tak bernyawa lagi. Dia pasti akan marah sekali, karena aku membawa kesialan untuknya dengan kematianku, membuatnya tak bisa duduk tenang untuk satu hari ini di kursinya menikmati siaran televisi. Dan ayahku yang tak pernah ada di rumah itu, terpaksa harus pulang mengurusi pemakamanku, karena bagaimanapun besarnya kebencian yang dimilikinya, aku yakin dia tak akan meletakkan tubuhku di depan rumah untuk menjadi santapan anjing liar. Juga kakakku yang tolol itu, aku tertawa membayangkannya tak bisa melakukan kegiatan membosankan itu, menunggui gadis-gadis tetangga, karena hari ini dia terpaksa harus mau menunggui mayat adik yang dibencinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin bertiup semakin kencang. Aku berjalan lagi, tak peduli pada debu bercampur pasir yang berlomba masuk ke mataku yang terasa semakin perih. Rasanya ingin menyumpah-nyumpah orang itu. Menyumpah ketepatan kakinya menginjak rem. Ini pasti perbuatan Tuhan. Belum saatnya tiba, terdengar sebuah suara di kepalaku. Kurang ajar! Aku menengadah ke langit yang kini tampak abu-abu. Aku tidak minta dilahirkan! Aku tidak minta ada di dunia ini! Kau tahu itu! Kau tidak berhak memaksaku hidup! Bila aku tak ingin hidup, tak seorang pun bisa memaksaku! Tak juga dirimu yang Kau sebut Maha segalanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petir menggelegar di atas kepalaku. Aku melihat beberapa orang berlarian, dan motor-motor sepanjang jalan itu berlari lebih cepat. Tiba-tiba wajahku terasa basah. Hujan. Bagus! Kini aku harus berhujan-hujan. Aku tak pernah membawa payung. Aku benci payung. Aku benci hujan. Aku benci dinginnya. Kutengadahkan wajahku ke atas dengan amarah yang memuncak. Aku benci Kau, Tuhan!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan air hujan menyiram wajahku, bercampur dengan airmataku yang mengalir deras, masuk ke dalam mulutku saat gigiku yang belum sempat kusikat saling beradu akibat kemarahan yang tak bisa kuredam lagi. Tubuhku menggigil akibat dingin dan emosi yang berlebihan. Napasku semakin sesak, terhalang air hujan, udara yang basah dan setan kebencian di napasku. Aku mulai berlari, berlari lagi. Berlari lebih cepat. Lebih cepat lagi. Secepat yang aku bisa. Lari! Lari! Aku hanya ingin berlari. Berlari jauh. Lari dari hidup ini. Lari dari hujan ini. Lari dari kebencian yang semakin menyesakkan ini. Lari dari Ibuku yang gembrot itu. Lari dari rumahku yang kumuh dan beracun itu. Lari! Lari! Lari!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napasku seakan terhenti. Seluruh urat-urat di tubuhku seakan mengejang kaku. Dan darahku rasanya membeku, seperti mesin pembuat botol yang tiba-tiba berhenti berputar, menyisakan botol-botol tolol berdiri diam dalam antrian. Seperti itulah bayangan sel-sel tubuhku terlihat saat itu. Dan aku terjatuh, celanaku basah, kotor, berlumpur. Wajah ibuku dengan kemarahannya terbayang di kepalaku. Ugh!!! Aku benci sekali padanya! Aku ingat sebutannya untukku, perempuan sial! Ya, aku memang sial. Selalu sial. Bisa lahir di dunia ini saja sudah cukup sial, apalagi terlahir di rumah sialan itu. Lututku terasa sakit, lecet. Tanganku pun demikian, menempel pada aspal keras yang basah. Aku terengah-engah, waktu seakan berhenti berputar saat itu. Tubuhku terguncang keras. Tak sanggup kutahan lagi semua ini. Isi hatiku ini, isi pikiranku ini, semuanya berdesakan ingin keluar. Dan teriakanku pada dunia. Aku berteriak keras. Aku sendiri tak tahu apa yang kuteriakkan. Aku tak peduli. Aku menangis, meraung-raung. Tak sadar lagi akan sekelilingku. Dan entah berapa lama itu terjadi, sampai kemudian aku membuka mataku dan seakan-akan diberi sebuah pencerahan, tepat di depan sana, tak jauh dari tempatku terjatuh, aku melihat rel kereta itu, di depanku, tertidur dengan damai seakan tersenyum padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan aku bangkit. Ya, itu jawabannya. Jawaban atas tangis, jerit dan benciku. Aku terus berjalan. Pakaianku kini lengket, membungkus tubuh kurusku yang kedinginan. Tapi tak mengapa, sebentar lagi semua rasa yang kubenci ini akan hilang. Hilang selamanya. Dingin terkutuk ini. Sesak sialan ini. Rel itu semakin tampak jelas, kosong di sana. Aku mempercepat langkahku. Sebentar lagi, sebentar lagi… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya kakiku menginjak besi rel itu. Aku tersenyum, tak pernah merasa sepuas ini. Teringat olehku Ridwan yang mengangkat piala juara umumnya pada perlombaan pidato kemarin. Seperti itu barangkali rasanya. Aku merebahkan diri di sana, mengatur posisiku tepat di tengah-tengah rel. Tanganku kubentangkan, membayangkan seandainya napasku terhenti tangan itu akan langsung berubah menjadi sayap yang mengembang dan menerbangkanku ke langit di atas sana, meninggalkan kehidupan busuk ini. Air hujan jatuh deras di wajahku, terasa sakit bagai butiran-butiran kristal yang dilemparkan. Tak mengapa. Sebentar lagi, semua sakit ini akan hilang. Semua benci ini. Semuanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kututup mataku perlahan. Kuhirup napas-napas terakhirku dalam tarikan yang dalam, ingin menyalami sesakku dengan ucapan selamat tinggal. Meski aku membencinya, tapi dia selalu setia menemaniku. Ya, kebencian ini selalu setia menemaniku. Meski terkadang di tengah malam aku meringkuk sendirian di sudut ranjangku, ketakutan merasakan kebencian itu diam-diam mencekik leherku, ingin mengambilku dari hidup ini. Bukan aku takut mati. Tidak. Aku sangat mendambakan mati. Tapi aku tak mau bila mati itu berarti dibawa ke dunia lain oleh kebencian yang sama. Aku sudah muak padanya. Muak pada kebencian itu! Ia mengisi diriku terlalu penuh, menjadikanku seperti makhluk terkelam di muka bumi ini. Dan tak menyisakan sedikitpun tempat untuk hadirnya cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta? Huh! Aku tak mengenalnya sama sekali. Aku bahkan tak percaya dia ada. Dia itu hanya ilusi, sesuatu yang kosong. Sesuatu yang selalu dibicarakan orang-orang hanya sekedar agar ada bahan pembicaraan. Sesuatu yang jadi alasan, sebab dan akibat untuk semua yang terjadi di hidup ini. Orang menikah karena cinta, orang patah hati karena cinta, orang bunuh diri karena cinta, orang menangis karena cinta. Tapi dalam hidupku, pada diriku, tidak demikian adanya. Aku tak menemukan cinta itu dalam pernikahan Ibu dan ayahku. Aku patah hati karena kebencianku pada mereka, aku sekarang ingin bunuh diri karena kebencianku pada dunia dan benci itu sendiri. Aku sering menangis karena kebencian pada apa saja, siapa saja. Tidak ada cinta dalam hidupku. Meski sedikitpun. Yang ada hanya kebalikannya, kebencian. Hidupku penuh dengan kebencian yang berlimpah ruah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa diriku tengah melayang ketika sayup-sayup di antara suara hujan kudengar suara melengking. Tak jelas. Malaikat maut kah itu yang datang? Tanah di bawahku terasa bergetar. Jadi rasanya seperti ini, kematian itu? Seperti dunia terbelah? Tiba-tiba kurasakan tubuhku ditarik, diangkat. Dan kurasakan rasa panas menjalari tubuhku, bergesekan dengan sesuatu. Rasanya aku seperti dibawa berlari. Terdengar suara napas yang memburu di sela air jatuh. Kupaksa membuka mataku. Berat. Terdengar suara menggelegar datang tiba-tiba dan kemudian menghilang dengan cepat. Dan hembusan angin yang kencang menyambar bersamaan dengan suara itu. Lalu tubuhku terasa terhenti. Dan suara tarikan napas itu terdengar jelas kembali. Dan kurasakan sesuatu yang berdetak, menempel di kulitku. Kupaksa membuka mataku sekali lagi, bersiap melihat wajah kematian untuk pertama kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah tua keriput begitu dekat dengan wajahku. Bahkan kurasakan napasnya yang masih memburu. Dia tengah menatap ke arahku dengan mata sendu dan iba. Mata itu basah, berlinang airmata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bukan wajah kematian. Itu wajah seorang kakek tua! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nak, nak… Mengapa mau bunuh diri? Kau masih muda, apa yang membuatmu tak mau hidup lagi? Untung Bapak sempat menolongmu, Nak… Untung… Tuhan masih sayang padamu, Nak…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkata padaku dengan suara penuh syukur, seakan-akan aku ini seseorang yang berarti baginya. Ia menggeleng-geleng, penuh penyesalan, seakan-akan ikut menyesali keputusanku untuk mengakhiri nyawaku. Mengapa dia peduli? Dia bukan siapa-siapa. Dia bukan ayahku yang selalu tak ada. Dia bukan ibuku yang selalu marah. Dan dia bukan kakakku yang selalu tak peduli padaku dan hidup dalam dunia tololnya. Dia bukan siapa-siapa. Lalu mengapa dia peduli?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airmataku mengalir. Tapi kali ini aku menangis bukan karena aku benci padanya. Bukan karena aku benci tak jadi mati. Aku menangis karena kata-katanya, Untung, Tuhan masih sayang padamu, Nak… Benarkah itu? Benarkah Tuhan sayang padaku? Aku menangis karena airmatanya, karena kepeduliannya menyeret dan menggendongku lepas dari gilasan kereta api. Aku menangis karena dia begitu menghargai nyawaku yang tak berarti ini. Aku menangis karena untuk pertama kalinya aku melihat apa yang disebut cinta itu. Cinta itu kutemukan di wajah lelaki tua itu. Bukan di wajah ibuku, ayahku atau kakakku… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memohon, berbisik penuh harap padanya dan pada Tuhan di atas sana, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tolong, beri aku cinta…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id/imglanding?q=sad%20woman%20photo&amp;imgurl&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-67531685100448615?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/67531685100448615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/tolong-beri-aku-cinta.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/67531685100448615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/67531685100448615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/tolong-beri-aku-cinta.html' title='Tolong Beri Aku Cinta...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBMKEcV1VII/AAAAAAAAASI/vQNcQDvSXzY/s72-c/sad-woman-silhouette.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-8578684509537005851</id><published>2010-06-12T10:44:00.000+07:00</published><updated>2010-06-12T11:00:20.480+07:00</updated><title type='text'>Apa Kabar</title><content type='html'>Hai, apa kabar? &lt;br /&gt;Sudah lama tidak bersua&lt;br /&gt;Berbagi cerita&lt;br /&gt;Bercanda riang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat masa lalu?&lt;br /&gt;Ada tawamu di ingatan&lt;br /&gt;Merdu celotehmu&lt;br /&gt;Indah terngiang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendung datang&lt;br /&gt;Katamu pun menjadi bisu&lt;br /&gt;Tersisa isak&lt;br /&gt;Mengiris hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada senyum &lt;br /&gt;Saat mentari kembali bersinar&lt;br /&gt;Kita bergandengan&lt;br /&gt;Melangkah bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat genggaman terlepas&lt;br /&gt;Langkah tak lagi searah&lt;br /&gt;Hati melekat&lt;br /&gt;Selamanya denganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai, apa kabar?&lt;br /&gt;Masih ingatkah kau padaku?&lt;br /&gt;Aku ingat&lt;br /&gt;Aku rindu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-8578684509537005851?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/8578684509537005851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/apa-kabar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8578684509537005851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8578684509537005851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/apa-kabar.html' title='Apa Kabar'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-6494089804247306564</id><published>2010-06-11T23:17:00.000+07:00</published><updated>2010-06-12T00:11:34.347+07:00</updated><title type='text'>Sepak Bola</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJqbVhQWCI/AAAAAAAAASA/gr6xOfeQGCY/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 275px; height: 183px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJqbVhQWCI/AAAAAAAAASA/gr6xOfeQGCY/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481560714328954914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suami masuk ke kamar dengan wajah cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri: "Bolanya uda abis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami: "Udah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri: "Siapa menang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami: "Draw." Senyum lebar. "Gue menang setengah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri: "Apaaa????" (Melotot)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami: "Gue menang, kok lu marah? Gue menang, Say..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri: "Gue marah bukan karena lu menang atau kalah. Gue marah karena lu judi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami: (_ _)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Questions: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kenapa orang-orang sering berkata: Gak seru nonton bola kalo gak taruhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jadi sebenarnya pro ke sebuah team sepak bola itu karena nge-fans ama permainan team-nya atau karena faktor investasi duitnya di kemenangan team itu? (Soalnya dari cerita pendek di atas, si suami hepi-hepi aja karena 'menang setengah' walau pun team unggulannya kagak menang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sebenarnya yang bikin piala dunia itu rame, pertandingan bolanya sendiri atau taruhan di balik pertandingannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi bingung mengamati perilaku orang-orang seputar piala dunia yang bikin heboh sekitar televisi dan bikin sepi sepanjang jalan raya... Ada yang pengen menjawab? Atau malah ada yang pengen ikut bertanya???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-6494089804247306564?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/6494089804247306564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/sepak-bola.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/6494089804247306564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/6494089804247306564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/sepak-bola.html' title='Sepak Bola'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJqbVhQWCI/AAAAAAAAASA/gr6xOfeQGCY/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-3463244684200410807</id><published>2010-06-09T14:49:00.000+07:00</published><updated>2010-06-09T18:47:47.960+07:00</updated><title type='text'>Hidup</title><content type='html'>Dengan kondisi masih melayang-layang, Fika membuka pintu toilet wanita. Baru saja kakinya melangkah masuk, ia tertegun melihat ramai orang yang berkerumun, tengah memandangi sesuatu di lantai. Fika mendekat. Ia tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis muda terkapar di lantai. Mulutnya mengeluarkan busa dan tubuhnya mengejang sekali-sekali. Matanya masih terbuka, menatap lemah, kosong ke udara. Dan seorang gadis lain, yang tampaknya teman gadis yang terkapar itu, berjongkok di sebelahnya. Panik memanggil-manggil nama gadis itu, yang tampaknya sudah setengah sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar gumaman tak jelas dari orang-orang di sekeliling. Tak ada yang membantu. Tampaknya semuanya ketakutan dan bingung. Ataukah memang tak ada benar-benar peduli, selain menjadikan hal itu sebagai tontonan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fika mendekat. Jantungnya bertalu cepat. Keringat dingin membasahi keningnya. Masih ada sisa pengaruh dari sebutir obat yang diminumnya tadi ditambah dengan rasa shock-nya melihat kejadian di depan matanya itu. Begitu nyata. Begitu menyedihkan. Dan tiba-tiba ia merasa ditampar keras. Kepalanya terasa semakin berat. Ia mundur, bersandar pada wastafel. Matanya mengabur. Tiba-tiba ia ingin menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu, dengan tatapan kosong dan lemah, seakan sedang mengiba pada kehidupan. Akankah dia mati? Sadarkah dia apa yang tengah dialaminya? Menyesalkah dirinya? Ataukah ia telah pasrah, sengaja mengundang kematian itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah dirinya pun seperti itu? Mengejek dan menantang kematian? Bila tidak, lalu apa yang dilakukannya di sini? Di diskotik yang dipenuhi orang-orang tak bahagia yang mencari kebahagiaan semu ini? Menggunakan segala cara dan mempersetankan nilai sebuah kehidupan itu sendiri. Menyampahkan kehidupan, tidak menginginkannya dan terus-menerus meneriakkan rasa putus asa dan kecewa pada kehidupan. Tapi sebenarnya mereka tak pernah benar-benar sadar bagaimana bila akhirnya kehidupan itu benar-benar pergi? Dan kini, ketika ia menyaksikan sendiri di depan matanya kematian begitu dekat, ia begitu terguncang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita berseragam masuk. Sepertinya karyawan dari gedung itu. Ia mendekat, menyuruh semua orang menjauh. Ia lalu memberi pengarahan pada gadis satunya lagi. Dan akhirnya bersama-sama mereka memapah gadis yang OD itu keluar dari toilet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fika hanya mampu memandangi kepergian gadis itu dengan sebuah harap dalam hatinya, semoga gadis malang dan tak bahagia itu tertolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar toilet seorang lelaki baik hati telah menunggunya. Lelaki yang belakangan ini menemaninya, menggantikan kekosongan hatinya. Lelaki itu tampak khawatir melihat wajah pucat Fika. Namun Fika tak mampu berkata, tak mampu menceritakan apa yang telah terjadi di dalam sana. Lelaki itu, bukan lelaki yang dicintainya. Tapi juga bukan lelaki yang telah membuatnya melangkah masuk ke dunia kelam itu. Bukan. Bukan dia. Tapi lelaki yang lain. Lelaki yang telah menghancurkan hatinya menjadi kepingan-kepingan tak berharga. Lelaki yang sangat dicintainya, dipujanya dan menjadi harapan hidupnya. Lelaki yang telah datang, menawarkan cinta dan memberikan cintanya di awal. Namun lelaki itu pulalah yang kemudian menghempaskannya jatuh tanpa perasaan. Meski kata maaf terucap. Meski ia menyatakan ribuan penyesalan. Namun tetap saja, Fika merasa tak berharga lagi ketika cinta itu harus pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamarnya yang remang-remang dan sepi malam itu, Fika duduk sendiri. Mengambil kertas dan pena. Ia harus menuliskan sebuah surat. Surat untuk lelaki itu. Lelaki yang telah memporakporandakan hati dan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tadi, aku melihat seorang gadis terkapar OD di lantai toilet. Kasihan sekali. Ekspresi wajah gadis itu sarat akan kesedihan dan keputusasaan. Tapi entah mengapa, aku mendengar sebuah teriakan minta tolong darinya. Minta agar bisa dilepaskan dari kematian yang seakan sudah siap menjemputnya. Dan aku melihat diriku di sana, terbaring tanpa daya, sama seperti gadis itu. Dan aku tiba-tiba merasa begitu iba pada diriku sendiri. Diriku yang belakangan ini begitu kubenci. Yang juga begitu membenci hidup tapi sekaligus takut pada kematian. Ya, belakangan ini aku berusaha membuang hidup dan mengundang kematian. Semua ini karena dirimu. Kau yang membuatku begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kau kalau aku mencintaimu dengan begitu besar? Lebih besar dari cintaku pada diri dan hidupku sendiri? Dan ketika kau mengecewakanku, aku marah pada diriku sendiri. Marah karena aku tak cukup pantas untuk kau cintai. Marah karena aku tak mampu membuatmu mencintaiku sebesar rasa cintaku ini. Dan aku menghukum diriku sendiri dengan mencoba menghancurkan diriku sendiri. Serta mencoba menghancurkan hidup yang aku miliki. Karena hidup ini tak lagi menjadi indah tanpa kau di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku juga marah padamu. Marah karena cintamu tak pernah menjadi benar-benar baik, seperti apa yang terucap dulu. Ketika kau melangkahkan kakimu menjauh dariku, jalan di hadapanku langsung menghilang, tak berbekas. Dan aku merasa seperti dihadapkan ke tepi tebing yang tinggi dan curam. Begitu ingin diri ini melompat ke bawah sana. Melayang jatuh dan hancur berkeping-keping tanpa bentuk lagi. Biar saja. Bukankah kau tak peduli? Aku pun tak peduli lagi. Biar mati sekalian rasa ini. Biar punah sekalian diri ini. Menghilang selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tahukah kau di balik semua rasa marahku ini? Hatiku sebenarnya bersedih. Bersedih karena cintaku telah terbang meninggalkanku. Dan meski aku telah mengemis dan mengiba pada kehidupan, dia tetap saja begitu arogan, tak berbelas kasih padaku. Karena itu aku membencinya, tak ingin lagi menyambutnya. Dan aku tak pernah mau mengakui kesedihanku ini. Memakai topeng kemarahan ini, padahal di dalam diri ini sebenarnya ada harap bila kehidupan mau menampakkan wajah baiknya kembali padaku. Dan tadi, di wajah gadis itu aku melihat topeng yang sama. Aku merasakan harapan yang sama. Sama seperti diriku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu apa yang akan kutemui esok hari. Juga tak tahu harus bagaimana menghadapi hidup yang masih terus berlanjut ini. Tapi, aku tak mau lagi menantang kematian. Tidak. Aku tak ingin seperti gadis itu. Aku berharap dia baik-baik saja dan masih diberi kesempatan oleh kehidupan. Karena aku tahu dia pun tak benar-benar menginginkan kematian. Hanya saja ia telah begitu putus asa dan kecewa dalam menemukan cinta bagi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan mencoba memulai hidupku yang baru, di lembaran yang baru. Tanpamu. Tanpa mengingatmu dan semua rasa indah serta sakit yang pernah ada. Akan kulepaskan semua, agar aku mampu bernapas lagi dalam hidup ini. Aku tak ingin tenggelam dalam duka dan perihku ini. Juga tak ingin lagi memakai topeng ketegaran palsu. Aku ingin belajar mencintai diriku kembali. Dan belajar merangkak maju. Semoga suatu hari nanti aku akan dapat berdiri dan berjalan kembali di atas kedua kakiku. Semoga...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fika melipat surat itu, memasukkannya dalam amplop dan meletakkannya di meja. Mungkin besok akan diposkannya. Mungkin juga tidak. Tidak penting lagi. Yang terpenting, dia telah mengungkapkan semua kejujuran hatinya. Dan juga telah membuat pilihan untuk kembali menyambut hidup seperti dulu lagi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-3463244684200410807?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/3463244684200410807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/hidup.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/3463244684200410807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/3463244684200410807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/hidup.html' title='Hidup'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-1660225350363189466</id><published>2010-06-08T20:34:00.000+07:00</published><updated>2010-06-08T21:30:41.223+07:00</updated><title type='text'>Di Mana Kunci Jiwaku?</title><content type='html'>Rasanya berat untuk membuka mata. Ada apa? Entah... Jam tidur yang kurang? Tidak juga. Malah belakangan ini tidur selalu menjadi lebih panjang. Hampir setiap hari bangun ketika matahari telah naik tinggi. Tapi tidur tidak juga menjadi pelepas lelah dan beban. Malah selalu rasanya begitu lelah untuk bangun dan menyambut dunia kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering terbangun dalam tidur. Berpikir tentang banyak hal. Hal-hal penting yang sebenarnya tidak penting. Ya, terlalu banyak hal tidak penting dalam hidup ini yang terlihat seakan-akan penting atau dibuat menjadi penting. Dan rasanya mulai muak sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlintas di pikiran, apakah tidur ini kini telah menjadi kegiatan untuk melarikan diri dari kehidupan dan dunia? Mungkin. Hanya ingin menutup mata selama mungkin dan tidak mempedulikan apapun, siapa pun. Bahkan diri sendiri, juga pikiran sendiri dan hati ini. Hati yang belakangan ini tak pernah merasa bahagia, mengecil dan merasa terasing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau telah mencoba menghibur hati dengan nyanyian gembira, dengan wajah-wajah ceria, namun tetap saja ia masih merajuk. Dan pikiran ini entah berkelana ke mana, tak pernah mau diam sejenak. Tak mau bersahabat dengan hening. Berlari, berputar, tersesat... Meski saat mata telah menutup, mencoba melupakan semua. Melupakan hati dan pikiran. Tak pernah mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lelah, dan sangat lelah karena tak tahu darimana lelah itu berasal. Aku butuh bicara pada sang Jiwa. Karena dia yang tahu segalanya. Segalanya tentang aku, hatiku dan pikiranku. Mengapa mereka tak bahagia, mengapa mereka tersesat. Dan mengapa energi jiwaku perlahan menghilang. Entah terhisap ke mana dan oleh apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di manakah kunci pintu jiwaku? Hilang? Aku mencari dan mencari. Mengapa tak jua terlihat? Tahukah kau di mana bisa kutemukan? Tolong beritahu padaku. Tolong bantu aku mencarinya. Agar aku bisa membuka pintu itu, masuk ke dalam dan bicara pada jiwaku...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-1660225350363189466?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/1660225350363189466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/di-mana-kunci-jiwaku.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1660225350363189466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1660225350363189466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/di-mana-kunci-jiwaku.html' title='Di Mana Kunci Jiwaku?'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-8829005361018905811</id><published>2010-06-05T08:18:00.000+07:00</published><updated>2010-06-05T09:02:11.237+07:00</updated><title type='text'>Sepotong Catatan Hidup...</title><content type='html'>June 5, 2010&lt;br /&gt;Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini aku bersiap mengunjungi seorang teman baik di rumah sakit. Anaknya sakit. Sakit parah yang entah bisa disembuhkan atau tidak. Namun ada harapan sembuh, itu menurut data statistik yang ada. Hanya saja butuh waktu dan pengobatan yang mahal, panjang dan menguras energi. Energi sang Anak dan energi jiwa si Ibu. Entah ini kabar yang melegakan atau malah sebaliknya. Bagiku sama saja. Dari semenjak mendengar kabar itu, aku merasa tak pantas untuk bisa tersenyum lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bukan siapa-siapa untukku. Itu benar. Kalau ditinjau dari darah, kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Tapi dalam hidupku yang tidak ramai ini, yang diisi dengan hanya beberapa orang saja, dia benar-benar seseorang untukku. Aku ingat awal pertemanan kami dulu. Semuanya begitu lancar mengalir hingga hari ini. Dia bukan tipikal orang yang selalu ceria dan berbagi cerita. Tidak. Aku lah si pendongeng setiap kali kami bertemu. Dan dia, selalu mendengarkan dengan setia. Terkadang aku mengingatkan diri untuk tidak banyak berceloteh lagi di pertemuan berikutnya. Aku pikir, mungkin sebenarnya dia juga ingin bercerita tentang dirinya, hanya saja aku tidak memberinya kesempatan. Lalu pada kali berikutnya, tetap saja aku menjadi pendongeng. Tetap saja dia tersenyum, tertawa dan mendengarkan dengan serius. Butuh waktu yang lama hingga akhirnya aku mengerti, dia suka mendengarkan cerita hidupku. Mungkin seperti pergi menonton film atau membaca sebuah buku, atau makan ice cream sambil memperhatikan orang-orang sekitar. Sebuah kesenangan. Sebuah hiburan. Dan aku baru mengerti bahwa tidak semua orang suka bercerita. Dan tidak selamanya berteman berarti harus saling berbicara. Terkadang kau menemukan seorang teman baik, yang di mana saat bersamanya kau merasa nyaman tanpa perlu melakukan atau mengatakan apapun. Itulah bentuk hubungan kami. Hubunganku dengan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu menganggapnya sebagai sebuah bagian yang penting, meski kami jarang bertemu. Terkadang dengan kata-katanya yang sedikit, dia membagikan kebijaksanaan hidup padaku. Sering aku malah belajar tentang hidup dan manusia itu sendiri dari dirinya. Dan aku bangga memiliki teman sepertinya. Bukan karena kesempurnaannya, tapi lebih karena kesederhanaannya dalam sebuah diri yang sesungguhnya sangat hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan menemaninya dalam sebuah jalan pendek berkerikil tajam, babak baru kehidupannya, aku sempat memaki kehidupan. Hidup yang tiba-tiba begitu kejam padanya. Seperti sebuah tsunami yang memporakporandakan kehidupan damai di sebuah tempat yang damai. Aku sempat khawatir, akankah kedamaian itu kembali lagi? Tapi ternyata, damai itu berganti dengan sebuah kebahagiaan baru ketika cahaya mentari datang menyinari tempat itu. Aku melihatnya memunguti serpihan-serpihan hidupnya. Dan aku melihatnya merekatkan serpihan-serpihan itu dengan sabarnya. Dan sepanjang waktu itu aku kembali belajar tentang kebesaran hati. Aku telah memaki, namun dia yang menjadi obyek penderita tak mengeluarkan sebuah kata umpatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan hidupnya kuikuti bak sebuah cerita episode yang tak bisa kutinggalkan. Ada harapan di sini, di hatiku. Harapan bahwa cerita akan berakhir happy ending. Dan ketika sesosok manusia baru lahir dari rahimnya dan membawa kebahagiaan baru, aku menarik napas lega. Babak baru kehidupan dimulai. Episode baru. Episode yang menggembirakan. Episode kemarin yang penuh duka dan airmata telah berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku salah. Baru sepotong episode, cerita telah berubah. Berganti menjadi duka kembali. Cahaya yang ada perlahan meredup. Kabar buruk datang. Si anak sakit. Aku terpuruk. Kali ini bukan memaki kehidupan, tapi melontarkan protes pada si Pencipta. Apa yang Kau inginkan??? Sungguh, bukan aku ingin menjadi murtad. Tapi sakit ini, seperti sesuatu yang akan direnggut dariku. Dia bukan darah dagingku. Bukan juga siapa-siapa. Tapi anak itu, permata hatinya. Dia, sosok luar biasa yang telah kuikuti jalan hidupnya selama ini. Dia harusnya pantas mendapatkan yang lebih baik dari apa yang terjadi sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapakah aku ini yang berhak menilai? Aku hanya seorang bodoh yang tak pernah mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya. Aku hanya terlalu tolol untuk bisa mengerti maksud sang Pencipta. Pasti ada maksud baik di balik semua ini. Yang terbaik menurut-Nya. Meski aku tak tahu apa itu. Meski aku tak bisa menerka hingga detik ini. Semoga. Aku berharap. Sangat berharap... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dan mati adalah sebuah misteri yang tak pernah benar-benar terpecahkan. Siapakah kita ini manusia, hingga mampu berbicara, berbuat dan mengerti secara sempurna? Kita yang selalu penuh dengan keinginan diri, harapan dan mimpi... Kini aku hanya berharap jalan berkerikil tajam ini akan cepat berakhir, jangan tak berujung. Dan hanya berharap, bila memang jalan ini harus dilewatinya, semoga aku dapat menjadi sepatu baginya. Ikut merasakan sakit dan perihnya, agar sakit dan perihnya bisa berkurang dan tak merobek-robek jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-8829005361018905811?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/8829005361018905811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/sepotong-catatan-hidup.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8829005361018905811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8829005361018905811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/sepotong-catatan-hidup.html' title='Sepotong Catatan Hidup...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-7026543454061185948</id><published>2010-06-02T21:18:00.000+07:00</published><updated>2010-06-02T21:29:54.329+07:00</updated><title type='text'>Cinta Yang Samakah?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TAZqgTrJNyI/AAAAAAAAARI/Z8lfHPJba_0/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 89px; height: 118px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TAZqgTrJNyI/AAAAAAAAARI/Z8lfHPJba_0/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5478183100012377890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita bicara tentang cinta yang sama? Seperti apakah cintamu? Cinta tanpa batas dan syarat? Ataukah cinta yang hanya kebetulan juga bernama cinta, namun tak punya sayap untuk terbang bebas? Yang selalu dibalut dengan ikatan yang menyesakkan. Dengan berjuta alasan atas nama kebahagiaan yang tak pernah berwujud nyata. Hanya ada dalam impian yang terasa semakin mengabur. Ditemani harap yang tinggal memiliki napas satu-satu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahu apakah telah mati ketika masih hidup. Ataukah berharap tetap hidup dalam kematian. Dan begitu tragisnya, tak tahu menghitung tahun, bulan, hari, ataukah jam, menit atau detik... Kau tetap tak punya secuil keberanian membebaskan cintamu. Melihatnya terbang bebas. Tersenyum. Bahagia. Merelakan bahagia mengisi seluruh relung jiwanya. Meski mungkin bahagianya tak menyisakan tempat untukmu. Atau mungkin masih ada tempat di sana? Siapa yang dapat menjawabnya? Kau? Aku tidak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apakah kita bicara tentang cinta yang sama? Karena telah kubuka ikatan pada sayap cintaku. Kini kulihat dia terbang bebas. Sebebas jiwaku kini. Dan bila mati mendekat atau hidup berulang, tak akan ada perbedaan apapun bagiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena setidaknya aku telah pernah bahagia..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: google&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-7026543454061185948?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/7026543454061185948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/cinta-yang-samakah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/7026543454061185948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/7026543454061185948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/06/cinta-yang-samakah.html' title='Cinta Yang Samakah?'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TAZqgTrJNyI/AAAAAAAAARI/Z8lfHPJba_0/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-7112891532166758151</id><published>2010-05-18T16:52:00.000+07:00</published><updated>2010-05-18T17:27:18.948+07:00</updated><title type='text'>Masih Tentang Dirimu, Sunny...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S_JqzD-4jcI/AAAAAAAAARA/sp-il_3Md3U/s1600/sun.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S_JqzD-4jcI/AAAAAAAAARA/sp-il_3Md3U/s320/sun.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472553922683506114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku melihat sesuatu yang mengingatkan diriku akan dirimu. Hhhh... Mengapa masih juga terasa sesak dada ini setiap kali ingatan akan dirimu singgah? Padahal sudah kucoba berulangkali melepaskan rasa ini, menggantikannya dengan rasa bahagia. Karena harusnya kau menjadi bahagiaku. Harusnya... Hanya saja tak pernah menjadi indah cerita yang kita punya. Aku di sini, sendiri, tanpamu. Dan kau di sana, tanpaku. Meski aku selalu mencoba meyakinkan diri bahwa kau di sana baik-baik saja dan selalu tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah kau baik-baik saja? Aku tak tahu. Tak pernah benar-benar bisa tahu. Dan tak pernah benar-benar bisa meyakinkan diriku ini. Terkadang merasa harap ini hanya menjadi sebuah alasan untuk menghibur diri sendiri. Sebuah cara untuk tetap bisa melanjutkan napas sementara ingatan tentangmu tak pernah akan pupus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kukatakan sekali lagi kata maaf, apakah akan ada perbedaannya? Bila airmata ini kembali menetes dengan segenap kejujuran jiwa, apakah akan kau terima sesalku? Seandainya bisa kutebus salah dan sesalku ini... Berharap bahwa masih ada satu kali saja kesempatan diberikan oleh takdir. Walau aku pun tahu harapku ini tak akan pernah jadi nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tentangmu. Selalu tentangmu. Akan kuhabiskan hidup ini dengan sebuah cerita pahit tentangmu. Menemaniku. Menemani langkahku yang seringkali masih terpuruk, tak pernah menjadi benar-benar kuat. Tapi tak akan kusesali sedikitpun semua ini. Karena semua ini tidaklah sebanding dengan apa yang telah kulakukan padamu. Biarlah kuresapi rasa tak damai ini. Bila itu memang harus kulakukan untuk penebusan diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunny, &lt;br /&gt;Seandainya esok aku masih diberi kesempatan merasakan hangatnya mentari sekali lagi, aku tahu aku masih tak akan menemukan nyata dirimu di sini, di sisiku. Hanya tertinggal sebuah ingatan dan bayangan yang tak pernah menjadi utuh. Namun, aku akan selalu menemukanmu ada di sana. Di bayang mentari itu. Sehangat mentari itu. Seindah dirinya. Karena selamanya kau adalah mentariku. Selamanya kau adalah Sunny-ku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: Google, http://www.google.co.id/imglanding?q=sun photos&amp;imgurl=&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-7112891532166758151?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/7112891532166758151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/05/masih-tentang-dirimu-sunny.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/7112891532166758151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/7112891532166758151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/05/masih-tentang-dirimu-sunny.html' title='Masih Tentang Dirimu, Sunny...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S_JqzD-4jcI/AAAAAAAAARA/sp-il_3Md3U/s72-c/sun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-3503890732470765019</id><published>2010-05-13T09:37:00.000+07:00</published><updated>2010-05-13T10:24:20.024+07:00</updated><title type='text'>Segelas Teh Manis dan Sepotong Waktu...</title><content type='html'>Ditemani segelas teh manis, Dian duduk di depan laptop, mencoba menulis sesuatu. Menulis... Belakangan ini jemarinya yang bermasalah atau otaknya yang bermasalah? Dian sendiri tak yakin. Tak banyak yang bisa dituangkannya di layar. Tulis, hapus, tulis, hapus... Seperti itu yang selalu terjadi belakangan ini. Ada virus yang tengah masuk dalam dirinya, pikirannya dan mungkin jiwanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesosok manusia yang tak pernah benar-benar hilang dari hidupnya, meski belakangan ini sempat berhasil dienyahkannya. Kini sosok itu masuk kembali menari-nari di benaknya. Bukan dengan tarian yang indah, tapi dengan tarian sendu yang menyedihkan. Membuatnya larut dalam rasa tak bahagia. Rasa sesal? Atau lebih tepatnya rasa bersalah? Tapi salahkah dirinya? Masih ada sisa ego yang tertinggal hingga hari ini yang membuatnya tak ingin duduk di kursi terdakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup hanya sebentar... Kalimat itu kerap diucapkan. Kalimat itu selalu terngiang di kepalanya, terutama saat ia teringat pada sosok itu. Tapi... Sekali lagi, tapi, tetap saja masih ada enggan muncul ketika ia terpikir untuk mengangkat telepon atau mengirimkan sebuah pesan singkat: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai, apa kabar? Semoga baik-baik saja.&lt;/span&gt; Kedengarannya klise sekali, bukan? Sangat basa-basi? Sepertinya... Tapi bila tidak demikian bunyi kalimat tersebut, apa yang harus dituliskannya? Pengakuan bahwa dirinya rindu? Lalu bisakah ia juga mengakui bahwa di antara rindunya masih ada rasa tak rela menjadi orang yang dipersalahkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilema... Hidup ini memang penuh dilema. Dian tak mampu menuangkan rasanya dalam kalimat-kalimat apalagi dalam kata-kata kepada seseorang. Dia tak yakin ada yang mampu mengerti. Dia bosan mendengar penghiburan. Juga muak akan penilaian serta penghakiman dari yang tak benar-benar memahami dirinya dan semua cerita ini. Bahkan dari seseorang itu yang kini sering hadir dalam momok menakutkan. Ya, sosok rapuh yang terkadang berubah menjadi monster tak nyata yang meneror kebahagiaan dan kepercayaan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Dian harus membuat sebuah pengakuan. Tapi pengakuan seperti apa? Dia malah khawatir pengakuan polosnya akan membuat banyak sanggahan dan berakhir sebagai pertikaian baru. Hhhhh... Begitu rumitnyakah yang dinamakan perasaan itu? Seandainya mereka adalah pria-pria, mungkin semua ini lebih mudah diselesaikan. Bukankah pria selalu bangun dan hilang ingatan akan kejadian kemarin? Mungkin itu juga yang menjelaskan mengapa di sekitarnya kini yang tertinggal hanya pria-pria. Mungkin karena dia merasa nyaman berhubungan dengan mereka semua, dengan tidak banyak menuangkan perasaan di dalam hubungan itu. Terbekatilah para pria....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh manisnya tinggal setengah gelas. Tapi layar laptop masih kosong. Bukan benar-benar kosong, tapi telah dikosongkan kembali. Berkali-kali, bukan hanya sekali. Yang menandakan bahwa hari ini Dian masih belum mampu menuangkan gelisah hatinya. Dan hari ini ia masih harus membiarkan dirinya dipeluk keresahan. Akhirnya ia menutup laptopnya, memutuskan untuk menyerah pada hari ini. Masih ada besok, hibur hatinya. Dan masih akan ada segelas teh manis yang lain. Mudah-mudahan besok dan segelas teh manis yang lain tidak akan berkomplot seperti hari ini. Mudah-mudahan, doa hatinya sebelum meneguk isi gelas yang tertinggal...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-3503890732470765019?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/3503890732470765019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/05/segelas-teh-manis-dan-sepotong-waktu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/3503890732470765019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/3503890732470765019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/05/segelas-teh-manis-dan-sepotong-waktu.html' title='Segelas Teh Manis dan Sepotong Waktu...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-577410029578724277</id><published>2010-05-09T18:38:00.000+07:00</published><updated>2010-05-09T19:49:12.251+07:00</updated><title type='text'>Bila Kubisa Hidup Sekali Lagi...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S-auW5FJjVI/AAAAAAAAAQ4/HRpS8HCFmyA/s1600/28523_1443256525117_1344237240_31218177_4193667_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S-auW5FJjVI/AAAAAAAAAQ4/HRpS8HCFmyA/s320/28523_1443256525117_1344237240_31218177_4193667_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5469250505790819666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kau tak akan pernah tahu rasa yang ada di hati ini. Atau mungkin kau sebenarnya pun tahu, hanya saja kau tahu akan batas yang tak seharusnya kau lewati. Aku tak tahu... Aku tak pernah yakin... Saat kau datang dan berbagi padaku tentang duniamu, sering aku bertanya-tanya sendiri dalam hati. Mengapa kau ceritakan begitu banyak padaku? Aku yang bukan siapa-siapa untukmu ini. Aku merasa kau meletakkan begitu banyak kepercayaan di diriku. Kepercayaan yang kini membuat hatiku lebih sering gundah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupku ini bak sebuah cerita sederhana yang tertulis dengan rapi dan indah. Itu sebelum kau datang dan menjadi bagian dalam cerita hidupku. Kini cerita itu tak lagi rapi tertulis. Semuanya menjadi tak beraturan. Bahagiaku tidak lagi menjadi sederhana, seperti kala aku membuka mata pada pagi hari menyambut mentari. Kini bahagiaku menyeruak hanya ketika kau datang. Seakan-akan kau telah menyingkirkan pesona sang mentari dan menjadi mentari itu sendiri bagi diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau membuatku tersenyum dan tertawa, di saat awan muram merangkul hari-hariku. Bahkan kau kerap menjadi seperti malaikat penjaga jiwaku. Melakukan begitu banyak hal yang membuatku merasa begitu penting sebagai seseorang. Begitu beruntung. Begitu berharga. Meski sampai detik ini aku tak menemukan satu alasanpun yang sungguh-sungguh bisa menghapus raguku, untuk semua kebaikan yang telah kau lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau sering terdiam dengan sabar mendengarkan semua keluh kesahku, yang terkadang mengalir begitu lancar tanpa kusadari. Dan saat aku tersadar, aku tertegun. Cerita hidupku ini harusnya bukan cerita yang menarik untuk dirimu yang memiliki hidup yang penuh warna. Tapi kau bukan hanya mendengarkan saja. Kau sungguh-sungguh mendengarkan dan menyimak. Dari semua kesulitan dan ketidakbahagiaanku, kau mencoba melakukan banyak hal untuk mengubah hari-hariku. Tanpa menjelaskan padaku mengapa dirimu begitu peduli. Tanpa kumengerti mengapa kau bersikap seperti ini. Dan aku tak pernah punya keberanian untuk bertanya padamu. Aku takut, takut jawaban darimu akan menghancurkan seluruh cerita yang tak pernah kuinginkan berakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pandai bersandiwara. Aku bukan seorang aktor. Tapi aku kini pun bukan seorang bocah kecil yang bebas berlari dan mengekspresikan diri. Aku kini hidup dalam duniaku yang penuh dengan ikatan aturan dan tanggungjawab. Yang tak pernah bisa aku persetankan begitu saja hanya demi sebuah rasa dan hasrat diri. Karena inilah diriku, yang lahir dan terbentuk dari begitu banyak tangan-tangan kebaikan yang selamanya ini selalu mejagaku dengan baik. Yang tak bisa kulupakan atau kutinggalkan begitu saja tanpa rasa sesal yang tertinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup tak pernah menjadi mudah, bukan? Ketika kau berpikir bahwa bahagiamu telah utuh kau genggam erat dan tiba-tiba bahagia lain datang menggoda. Dengan wajah yang lebih bersinar indah, mengajakmu untuk pergi bersamanya. Bila kukatakan itu adalah bisikan hati, dari lubuk hati yang terdalam, lalu apakah semua ini akan bisa menjadi pembenaran diri? Ataukah selamanya, tak akan menjadi jelas antara kebenaran dan yang bukan kebenaran itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kini bak seekor burung camar yang telah terkurung di pulau sunyi ini, pulau yang telah menjadi darah dan dagingku. Ketika dirimu datang, menyapaku, bermain denganku, baru kusadari ada indah dunia lain di luar sana. Dunia yang tak mungkin kujamah lagi. Namun, bila kapal yang akan membawa dirimu pergi telah siap berlayar suatu hari nanti, aku hanya bisa bersedih dalam diam, menatapmu pergi dari pulau ini. Tanpa bisa mengepakkan sayapku lagi, meski hasrat ingin terbang bebas mengikuti ke mana kau pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila saja kubisa hidup sekali lagi, tak perlu kupertanyakan semua ini. Akan kupaparkan kejujuran hati dan pikiranku padamu. Sepolos lontaran kata seorang bocah kecil. Dan bila saja kubisa hidup sekali lagi, akan kuabdikan hidupku padamu, untuk membalas semua yang telah kau lakukan tanpa banyak kata padaku. Karena jujur, semua ini sungguh berarti dan menyentuh jiwaku. Namun hanya bila kubisa hidup sekali lagi, karena kini hidupku telah kuabdikan pada yang lain...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-577410029578724277?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/577410029578724277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/05/bila-kubisa-hidup-sekali-lagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/577410029578724277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/577410029578724277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/05/bila-kubisa-hidup-sekali-lagi.html' title='Bila Kubisa Hidup Sekali Lagi...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S-auW5FJjVI/AAAAAAAAAQ4/HRpS8HCFmyA/s72-c/28523_1443256525117_1344237240_31218177_4193667_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-4538721012588434649</id><published>2010-04-17T10:33:00.000+07:00</published><updated>2010-04-17T17:44:50.457+07:00</updated><title type='text'>Di Balik Kisah Mencari Wajah Ibu (LMCR 2009)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S8lbK7bCykI/AAAAAAAAAQo/t9Zki07zDM8/s1600/IMG_0311.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S8lbK7bCykI/AAAAAAAAAQo/t9Zki07zDM8/s320/IMG_0311.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460996266471377474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Awalnya dapat email dari milis Yuk Nulis, kelompok menulis-nya Lini (julukan kehormatannya: Ibu Kos). Email-nya dari Mbak Henny yang berisi info lomba LMCR dari Raya Kultura bekerjasama dengan PT. ROHTO. Sehabis baca email itu jadi kepikiran, mau coba-coba ikut gak? Dulu, jaman masih es-em-a memang suka ikut-ikut lomba nulis antar sekolah. Tapi itu juga bukan lomba nulis cerpen. Tapi kalo nulis cerpen dulu juga sering ngirim-ngirim ke majalah remaja. Cuman ya itu dia, DULUUU....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang sejak putus kuliah n mulai kerja, uda gak pernah nulis lagi. Jadi gak pede sendiri. Hampir sepuluh taon kali berhenti nulis. Baru mulai nulis lagi taon 2009, diajak Ibu Kos Yuk Nulis. Awal-awalnya takut juga, tapi setelah beberapa kali nulis n dikasi jempol ama temen-temen Yuk Nulis, akhirnya jadi sedikit pede kembali. Makasih ya teman-teman tercintaaa :D Efek jempolnya besar banget. Itu juga salah satu metode pelatihan Ibu Kos yang selalu siap memberi support pada kita-kita yang pemula ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email-nya Mbak Henny itu akhirnya di-print keluar. Syarat-syarat lombanya ditempelin ke 'vision board'. Sekedar info, di samping meja kerja, ada vision board, buat nempelin apa aja yang pengen diraih, baik dalam kerjaan maupun dalam hidup. Setelah tempel, udah deh... Maksud hati supaya inget, malah lupa ama lomba itu n sibuk dengan kerjaan...hahaha. Masih gak mulai-mulai juga nulisnya. Biasa, udah jadi penyakit menahun. Selalu menunda apa saja yang bisa ditunda... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus suatu malam, mungkin karena soal lomba itu nyangkut terus dipikiran, jadinya gak bisa tidur. Mikir-mikir, kalo mau bikin cerpen, bagusnya cerita apa ya? Bagusnya cerita kehidupan kali. Tentang apa? Mikir lagi... Hmmm... Kalo tentang anak jalanan, pengemis gimana? Terbayang deh wajah seorang anak kecil, kumal dengan baju compang-camping. Trus matanya bersinar polos... Duh, jadi kasian... Trus, mau dibikin cerita apa soal anak ini? Eh, kasi nama dulu deh... Namanya Tono aja kali ya? Nama sederhana tapi enak didengar. Ntar... Liatin si Tono dulu jalan di jalanan, ngemis sana-sini. Tono, si bocah yatim piatu, yang jadi pengemis karena takdir hidup. Tapi inti ceritanya apa? Oh, mungkin si Tono nyari ibunya. Ibunya yang gak dia kenal sama sekali. Dia pengen tahu gimana wajah si Ibu yang sangat dirindukannya itu. Karena itu dia selalu memperhatikan wajah-wajah wanita yang lewat di pinggiran lampu merah tempatnya mengemis... Hmmm... Tapi gimana dia bisa ketemu ibunya? Wah, bisa jadi cerita bersambung nih,kalo mau pake acara ketemu segala. Ini, kan cuman mau bikin cerita pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir dua jam ngebayangin Tono n kesehariannya (kayak nonton film, tapi layarnya itu cuman pikiran sendiri), tiba-tiba keluar ide. Gimana kalo si Tono nyari ibunya dengan majang wajah dia dipinggir jalan? Tiba-tiba sebuah lokasi muncul di pikiran. Itu, kalo gak salah dekat Pasar Baru ada sebuah tempat di mana pelukis-pelukis jalanan mangkal. Kios-kios mereka kan berderet sepanjang jalan. Nah, kalo wajah si Tono digantung di sana, mungkin wanita yang menjadi ibunya bisa menyadari kesamaan wajah mereka n mikir kalo gambar itu gambar anaknya yang dia buang. Mungkin gak sih??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, malah jadi gak bisa tidur setelah banyak berimajinasi. Bangun ah! Bangun, keluar kamar, nyalain laptop. Mending mulai nulis aja, mumpung lagi semangat. Sambil nulis, nyalain DVD yang tadi baru beli kali. Belum nonton. Harusnya DVD-nya bagus. The Music of David Foster and Friends. Belinya bela-belain karena mau liat Charice Pempengco, si gadis muda dari Philipina yang kereeen banget nyanyinya. Ternyata emang keren! Nonton para penyanyi-penyanyi kaliber dunia, kayak Andrea Bocelli, Michael Buble, Josh Gorban, Katharine McPhee, dkk. Apalagi waktu melihat Charice nyanyi, wah! Jadi mau nangis. Terharu liat gadis enam belas tahun yang mungil itu bisa nyanyi di concert-nya David Foster. Pernah nonton di Oprah perjalanan karir si Charice yang asalnya cuman dari keluarga biasa. Dari Philipina ke Amerika. Benar-benar membuktikan bahwa 'Miracle' itu ada. Selama kita punya impian dan mau percaya serta berusaha, jalan pasti ada. Jadi semangat! Ayo, nulis lagi! Semangat! Kan cita-citanya mau jadi penulis dunia, jangan mau kalah ama Charice....hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nulis sampe jam tiga lebih, DVD-nya pun udah habis. Tapi belom kelar, nih. Mata udah mulai ngantuk. Ya, udahlah, di-save aja dulu. Besok dilanjutin. Tidur dulu. Besok pagi-pagi mesti kerja lagi. Tapi besoknya dan besoknya serta besoknya lagi, saking sibuknya, malah gak inget buat lanjutin nulis. Ntar aja, masih banyak waktu. Dan tanpa sadar, ternyata waktu cepat banget berjalan. Pas nyadar, ya ampun, lusa udah mau ke Malaysia selama dua minggu. Nah, loh! Sementara dead-line lombanya tinggal seminggu. Waduh! Berarti paling lambat besok udah mesti kelar. Kalo gak, gak bisa ikut lomba lagi. Soalnya di rumah mertua di Malaysia gak ada printer, juga kalo ngirim dari sana ke Indonesia, kapan nyampenya? Waaaaaaaa.... Panik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari terakhir sebelum ke Malaysia, sekitar jam dua belas siang setelah kerjaan dipaksain beres, cepat-cepat buka tulisan kemarin. Harus selesai nih! Bukan apa-apa, kalo gak ngirim pasti ada rasa bersalah ama diri sendiri. Persoalan menang atau gak, itu gak penting. Yang penting, kan uda janji ama diri sendiri mau ikut lomba ini. Harus ikut! Soalnya dulu-dulu uda sering kayak gini, rencana mau ikut lomba selalu gak jadi gara-gara tulisan gak selesai. Kenapa gak selesai? Ya itu, penyakit lama, tunda terus... Akibatnya, nyesal sendiri, ngerasa seperti udah mengecewakan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, cepat-cepat nulis. Untung lagi lancar. Abis itu ngedit. Lagi ngedit-ngedit, tiba-tiba suami muncul, udah siap mau ketemu orang makan siang. Oh, no! Nanyain ke dia, bisa gak kalo gak ikut? Wah, tampangnya langsung berubah masam. Gimana, dong? Tunggu deh, bentar lagi. Dia malah nanya, bikin apa? Ngedit tulisan, mau ikut lomba. Gak bisa nanti aja? Yah, gak bisa lah! Kan besok mau pergi Malaysia. Harus hari ini. Mukanya masih masam, soalnya si suami ini emang gak ngerti soal nulis menulis ini. Kalo menurut dia gak penting banget... Hiks... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kerja dengan buru-buru dijagain suami yang sebentar-sebentar liat jam. Pas selesai n mau di-print, ya amplop! Tinta printer-nya abis. Gimana dong? Ada-ada aja. Apa nyerah aja? Tapi mikir lagi, kalo nyerah bakal nyesal seumur hidup loh. Ayo dong, berjuang. Ah, ke toko aja, beli tinta. Akhirnya minta suami nganter ke toko. Meski mukanya masih masam, dianterin juga. Makasih ya.... (_ _)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila bener! Harga tintanya mahal amat! Ya, sutralah. Apa boleh buat. Investasi! Hehehehe... Pulang ke kantor, cepat-cepat nge-print. Gak tau deh kalo ada banyak yang salah. Habis ngedit-nya buru-buru. Abis itu ngecek kelengkapan syarat kayak foto, cd, bla bla bla... Udah lengkap semua, masukin amplop. Panggil anak buah, kirim ke Tiki yang ekspress! Hfffffffffff.... Legaaaaaa! Akhirnya bisa bernapas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, pulang dari Malaysia, masih ngantor beberapa hari. Abis itu ada jadwal meditasi sepuluh hari. Jadi inget lomba cerpen itu kan pengumumannya pas lagi pergi meditasi. Wah, jadi gak bisa tahu hasil pengumumannya. Soalnya pas meditasi kan kita mesti mutusin semua kontak dengan dunia luar. Menyepi di Bogor sana. Gak boleh nelpon, gak boleh ada komunikasi apapun, pokoknya meditasi aja deh. Ya, udahlah, pulang dari sana baru ngecek. Lagian GR amat, belum tentu juga menang! Iya, sih.... &gt;&lt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh hari di tempat meditasi ternyata berat banget! Jadi kangen ama rumah n orang-orang semua. Jadi mellow. Tapi kudu sabar, gak boleh kabur. Kan kemaren katanya mau tau gimana rasanya meditasi. Ya udahlah, nyabar-nyabarin diri aja. Pas malam kesepuluh, kita dibebasin bicara dan boleh nelpon. Asiiiiiiiiik! Cepat-cepat nelpon suami, nanya kabar dia n nanya gimana kerjaan yang ditinggalin. Soalnya khawatir juga, selama ini kan gak pernah pergi selama itu tanpa kontak sama sekali. Tiba-tiba si suami nanya, apa ada ikut lomba menulis? Katanya ada yang nelpon dua kali, nyari n bilang kalo menang. Hah??? Beneran? Eh, suami malah bilang, gak tau ah, gak jelas itu ngomongnya (padahal dia yang gak ngerti). Nanti dia nelpon balik lagi katanya. Waaaaaa... Gimana sih suami ini? Suami bilang lagi, tapi katanya juara satu. Beneran ada ikut lomba? Yaaaaaaah... Masa sih gak inget? Ada kan, tapi cuma lomba satu itu aja. Tapi, masa sih juara satu? Padahal itu kan ngikutnya maksa banget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari meditasi, cepet-cepet buka internet. Wah, jadi hampir lupa betapa menyenangkannya bisa online. Nyari di website Raya Kultura. Nyari nama pemenang, dan ternyata.... horeeeeeeeeeeeeeee! Bener-bener menang! Wuih, senengnya! Uda lamaaaaaa banget gak pernah ngerasain rasa seperti ini....hahahaha... Si suami muncul dan comment, kok bisa ya menang? Mungkin yang ikutan cuma beberapa orang aja! Wah, maksudnya??? Grrrr.... Ngecek lagi ke web-nya, ternyata yang masuk enam ribu naskah lebih! Pas dikasitahu, suami malah bengong ngeliatin (tampang gak percaya) dan akhirnya nanya, emang nulis cerita apa? (Bayangin aja, baru nanya sekarang dia....). Akhirnya ceritain ke dia kisah si Tono. Tau comment-nya setelah diceritain? Dia nanya, begitu aja ceritanya??? (Langsung speechless...hiks). Nasib... Nasib... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, itulah cerita dibalik proses pembuatan cerita Mencari Wajah Ibu (judul aslinya Wajah Ibu, tapi di-edit ama Ibu Naning Pranoto). Ceritanya panjang ya? Hehehe... Intinya, sebenarnya masih gak percaya bisa menang. Soalnya masih suka gak pede ama tulisan sendiri. Tapi bangga juga sih bisa terpilih...hehehe... Tapi yang terutama, ngerasa bersyukur banget akhirnya bisa ngikut lomba, meski dengan terburu-buru. Juga merasa bersyukur banget dapat email info lomba dari Mbak Henny. Dan yang pasti, bersyukur banget bisa join di Yuk Nulis, yang menjadi tempat nyaman buat menulis lagi. Padahal dulu impian untuk jadi penulis uda terbang jauh banget, kirain uda gak bisa balik lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, buat semua teman-teman di Yuk Nulis yang lagi belajar menulis, ayo lebih giat lagi latihan nulisnya! Lagian kan LMCR 2010 udah buka tuh! Ayo pada ikutan! Syukur-syukur ada yang menang dari Yuk Nulis, wah pasti bangga itu Ibu Kos kita (Bu Kos, smileeeeeeeee....hehehe). Tapi kalo gak menang juga gak pa-pa. Yang penting kita semua punya semangat juang n mau berusaha. Semangat juang itu yang penting! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus, buat teman-teman yang punya impian laen, ayo kejar impiannya! Jangan takut! Jangan menyerah! Selama napas masih ada, berarti masih ada kesempatan buat mengejar impian kita. Hidup itu hadiah dari Tuhan, kita harus pergunakan sebaik-baiknya. Yes? YEEEESSS! (Jadi ikut-ikutan gaya Ibu Kos) ;-p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Mencari Wajah Ibu ada di sini:http://lmcr.rayakultura.net/2009/11/mencari-wajah-ibu/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-4538721012588434649?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://lmcr.rayakultura.net/2009/11/mencari-wajah-ibu/' title='Di Balik Kisah Mencari Wajah Ibu (LMCR 2009)'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/4538721012588434649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/04/di-balik-kisah-mencari-wajah-ibu-lmcr.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4538721012588434649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4538721012588434649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/04/di-balik-kisah-mencari-wajah-ibu-lmcr.html' title='Di Balik Kisah Mencari Wajah Ibu (LMCR 2009)'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S8lbK7bCykI/AAAAAAAAAQo/t9Zki07zDM8/s72-c/IMG_0311.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-4511999803299875828</id><published>2010-04-10T04:16:00.000+07:00</published><updated>2010-04-10T05:04:50.059+07:00</updated><title type='text'>Rasa Yang Terpenjara...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S7-jTgqSt3I/AAAAAAAAAQA/neP_oigvAd8/s1600/SuperStock_1555R-19100.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S7-jTgqSt3I/AAAAAAAAAQA/neP_oigvAd8/s320/SuperStock_1555R-19100.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5458260828976494450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bila nurani membisu dan rasa meraja, aku akan bisa menemukanmu di sini. Di sisi menjadi milik diri, bukan angan semata. Akankah ada akhir dari perjuangan batin ini, dengan diri sendiri sebagai lawan? Babak belur diri ini. Berdarah-darah. Pukulanku menjadi sakit dan lukaku sendiri. Hanya demi sebuah rasa. Hanya demi seseorang. Dirimu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah menjadi yakin apakah rasa ini begitu pantas aku perjuangkan. Hanya ketika kau ada di sini, tersentuh oleh jiwa dan raga, akalku menjadi lemah. Tak lagi mampu meneriakkan banyak tanya. Inikah kekuatan cinta? Cintakah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang seperti seorang diri di dunia ini. Tak berteman. Bahkan dengan diri sendiri. Adakah yang bisa mengerti? Adakah yang akan mengerti? Adakah yang mau mencoba untuk mengerti? Sementara diri pun terkadang masih keras menyangkal. Seakan tak pernah rela melepaskan sedikit iba untuk rasaku.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap kau punya jawab yang pasti. Yang bisa kupegang erat untuk jadi pelita jalan ini. Tak peduli pelita itu tak pernah menjadi seterang adanya pelita. Sungguh, aku tak peduli. Meski sinarnya redup, namun harapku ia tak akan pernah padam. Cukup untukku. Cukup untuk menerangi jalan sempit tak mudah ini. Jalan kecil milikku bersamamu. Karena hanya di jalan ini aku bisa menemukanmu. Dirimu menjadi milikku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salahkah aku? Salahkan aku. Tak akan kubela diri. Akan kududuki kursi dakwaan itu dengan kepasrahan. Bila memang ini yang harus kulakukan sebagai penebusan rasa. Rasaku ini yang terpenjara di hati. Yang mungkin selamanya tak akan pernah mendapatkan sayapnya untuk bisa terbang bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://images.google.co.id/imglanding?q=heart in jail photo&amp;imgurl&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-4511999803299875828?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/4511999803299875828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/04/rasa-yang-terpenjara.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4511999803299875828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/4511999803299875828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/04/rasa-yang-terpenjara.html' title='Rasa Yang Terpenjara...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S7-jTgqSt3I/AAAAAAAAAQA/neP_oigvAd8/s72-c/SuperStock_1555R-19100.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-6450967728278260765</id><published>2010-04-05T20:10:00.000+07:00</published><updated>2010-04-05T20:48:40.291+07:00</updated><title type='text'>Tentang Djuna</title><content type='html'>Namanya Djunaedi. Aku sempat bingung harus memanggilnya apa. Waktu aku bertanya, dia menyuruhku memanggilnya dengan nama Edi. Edi? Hmmm... Kayaknya tidak sesuai dengan tampang. Teman-temannya malah memanggilnya dengan panggilan Suneo (temannya Nobita dalam cerita Doraemon). Alasannya? Mungkin karena wajahnya yang mirip Suneo. Mirip? Sedikit, cuma ini Suneo versi Jawa, bukan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali bertemu dia, jujur aku tidak terkesan sama sekali. Malah aku sempat berpikir, benar mau diterima bekerja orang ini? Masalahnya, tampangnya itu tidak meyakinkan. Rambutnya kriwil, lebih ke arah acak-acakan. Matanya besar, tapi tidak berani menatap ke arah orang yang mengajaknya bicara. Suaranya? Serak dan tidak jelas. Saat wawancara saja, aku merasa agak kesal dengan sahutannya yang terdengar buru-buru, sebelum mendengar habis apa yang aku katakan. Satu lagi, tampangnya lesu, seperti orang yang tidak cukup gizi dan semangat hidup. Maaf...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By the way, akhirnya Djuna diterima juga bekerja (akhirnya aku memanggilnya Djuna, karena memang rasanya lebih cocok!). Hari pertama dia naik ke lantai dua, mau ke toilet. Ia membungkuk dengan tangan di depan, sikap minta permisi. Dia melihatku lalu menunduk, mengeluarkan suara tak jelas. Aku menatapnya bingung. Begitupun dengan yang lain. Dia mengeluarkan suara tak jelas lagi dengan kikuk (ini pengaruh gugup), membuatku bertanya: apa??? Akhirnya dia menunjuk ke belakang, yang membuat kami semua bergumam: ooooh... Dan meledaklah tawa kami setelah itu. Benar-benar manusia aneh bagiku. Membuat aku semakin ragu dengan keputusan menerima dirinya, karena aku tipe orang yang suka pada orang yang percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak terlalu memperhatikan cara dia bekerja, soalnya dia bekerja di lantai satu, sementara aku sibuk di lantai dua. Cuma sesekali ketika aku turun, aku selalu menemukan dia sedang mengerjakan ini dan itu dengan serius. Tapi pikirku, biasalah anak baru masih fresh jadi selalu rajin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai satu hari aku mesti turun langsung ke bawah, mengawasi pekerjaan di lantai satu. Aku melihat Djuna bekerja dengan cepat, lebih cepat dari teman-temannya yang lain. Dan ketika aku mencari sesuatu dan bertanya tanpa menujukan pertanyaanku pada satu orang, si Djuna yang langsung berdiri dan mencari sesuatu itu dan memberikannya padaku. Hmmm... Not bad! Sangat bertolak belakang dengan kesan lesu dari wajah dan tubuhnya yang kurus. Dan seharian itu aku mengamati keseriusannya bekerja. Dia malah mengingatkan teman-teman lainnya untuk bekerja lebih cepat. Bahkan ketika ada yang bermalas-malasan, si Djuna langsung mengambil sekarton barang baru dan meletakkan karton itu di depan si pemalas. Dan ternyata tampang Suneo-nya (galak) bisa keluar juga. Aku sempat mendengar dia mengomeli temannya yang melakukan kesalahan. Padahal saat berhadapan denganku, si Djuna selalu tampak gugup dan pasrah pada nasib, alias tidak punya ketegasan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saat pulang kerja, aku berada di luar, melihat Djuna menyalakan motornya. Suara motornya ampuuuun! Bisa membuat orang-orang se-erte bangun. Ada yang salah di motornya, mengeluarkan suara seperti sapi sedang disembelih. Si Djuna terlihat gelagapan dengan wajah merah padam. Lama dia hanya duduk berjongkok di samping motornya dan memegang motor itu, tampak prihatin seperti tengah menjagai orang sakit. Aku akhirnya bertanya dan mendengarkan cerita motor yang mengalami kecelakaan dan kemudian baru keluar dari bengkel itu dengan keadaan yang tak baik juga. Akhirnya karena iba, aku memberi si Djuna kasbon untuk membawa motornya ke bengkel esok hari. Wajahnya langsung cerah bak langit biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin saat menerima gaji pertamanya, dia tersenyum lebar. Tetap terlihat jelek...hahaha... Maaf... Aku pesan padanya, kerja yang rajin. Dan dia mengiyakan dengan cepat (khas Djuna, yang tidak bisa basa-basi). Tapi kesan pertamaku kini berubah terhadap Djuna. Yang aku lihat kini adalah seseorang yang rajin, jujur dan punya semangat kerja yang tinggi. Walaupun tampangnya masih lesu, juga tubuh kurusnya masih selalu terlihat melengkung, namun bila aku butuh sesuatu, aku yakin dia akan tergopoh-gopoh datang untuk segera membantuku. Membuatku jadi bersyukur akan satu lagi orang baik yang dikirimkan Tuhan untuk membantuku. Terima kasih Tuhan. Dan terima kasih Djuna... ^0^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-6450967728278260765?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/6450967728278260765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/04/tentang-djuna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/6450967728278260765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/6450967728278260765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/04/tentang-djuna.html' title='Tentang Djuna'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-8174502446279982758</id><published>2010-04-05T18:45:00.000+07:00</published><updated>2010-04-05T20:09:25.151+07:00</updated><title type='text'>Palsu</title><content type='html'>Kau tak seindah kau yang terlihat. Kau juga tak sebaik kau yang terucap. Wajahmu, senyummu itu... Semua palsu. Kau tutupi bopeng dan parut di sana dengan sebuah topeng malaikat polos tak berdosa. Dan seringai kejammu, kau gantikan dengan senyum manis bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau selalu ingin terlihat sempurna. Baik raga maupun jiwamu. Selalu memberi. Selalu berbagi. Selalu memiliki hati yang besar. Namun dibalik semua yang terlihat itu, hatimu lebih kecil dari pasir di pantai. Dan pemberianmu hanya wujud pemenuhan kesombongan diri. Dan sikap berbagimu selalu disertai sebuah alasan tersembunyi. Alasan yang selalu ada hanya untuk kepentingan diri dan egomu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau terlalu palsu. Selalu palsu. Tak punya ketulusan dan kejujuran. Namun dalam katamu selalu kau ucapkan kata kejujuran. Dan dalam tindakan serta sikapmu kau pamerkan ketulusan. Agar orang-orang memuja dan memujimu. Agar orang-orang terpesona akan dirimu. Dan memang banyak yang akhirnya cinta padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tidak. Dulu iya. Dulu aku begitu lugu mengira itulah dirimu yang sejatinya. Sebelum akhirnya kutemukan topeng wajah malaikatmu terlepas dari buruk wajahmu. Sebelum akhirnya aku terjerat dalam keserakahan hatimu. Sebelum akhirnya aku terpuruk jatuh dalam kecewa akan kepalsuan dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kau lelah berpura-pura? Tidakkah kau ingin lepaskan topengmu? Biarkan dunia melihat wajahmu yang sesungguhnya. Meski tak seindah yang kau inginkan namun tetap saja parut di wajahmu itu lebih indah karena mengandung kejujuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tersenyum padaku dan bilang bahwa dirimu padaku selalu akan menjadi sahabat selamanya. Aku tak setuju. Maaf. Aku tak suka kepalsuan. Dan dirimu hanya pernah menjadi sahabat dalam lembar cerita hidupku yang telah kututup dengan paksa. Ya, telalu banyak kecewa dan sakit di sini, di hatiku. Yang kau hadiahkan tanpa ada rasa kasihan sedikitpun. Dan bagiku itu bukan perbuatan seorang sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau masih begitu palsu di hadapanku. Berbicara mengenai ketulusan dirimu. Mengira aku akan sekali lagi terperdaya. Mengira aku akan sekali lagi terbuai. Tidak. Aku tak sebodoh itu. Cukup sudah sekali salah langkahku. Cukup sudah asaku untukmu. Cukup sekali saja kau porak porandakan hati dan hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak punya maaf untukmu. Percuma kau katakan maaf berkali-kali. Karena tak kutemukan ketulusan dalam katamu itu. Hanya kosong tak bermakna. Hanya sebuah kata yang tak punya martabat lagi ketika kau ucapkan. Sumbang. Hampa. Kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergilah. Jangan dekati aku lagi. Obralan kata dan senyum palsumu tak lagi akan kubeli. Juga tak akan kuterima meski kau berikan gratis. Kecuali bila telah datang kesadaran dirimu yang murni dengan semua parut dan borokmu. Kecuali bila kerendahan hatimu telah berhasil mengalahkan kesombongan dan ego kesempurnaan dirimu. Bila saja kau yang sebenarnya menawarkan kata persahabatan itu, mungkin, mungkin akan kubuka hatiku sekali lagi untukmu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-8174502446279982758?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/8174502446279982758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/04/palsu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8174502446279982758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8174502446279982758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/04/palsu.html' title='Palsu'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-1287988308745155819</id><published>2010-04-02T14:46:00.000+07:00</published><updated>2010-04-02T16:20:53.387+07:00</updated><title type='text'>Kamu Bukan Anak Sial</title><content type='html'>"Mama bilang aku anak sial."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap lurus ke arahnya, ke matanya yang bulat dan indah. Dia menunduk sejenak, kemudian ketika dia mengangkat kepalanya kembali, tatapan kami bertemu. Dia segera membuang tatapannya ke arah lain. Mata itu kini bergerak gelisah, dan senyum yang biasanya selalu menghias wajahnya menguap seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Reza. Dia adalah satu dari promoter baru di perusahaan kami. Dia anak muda yang sangat percaya diri. Juga ceria. Itu salah satu alasan mengapa kami menerimanya. Tapi di balik keceriaan dan kepercayaan diri itu sebenarnya ada bagian kehidupan yang kelam yang berusaha disembunyikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini menilai dari prestasi kerjanya yang naik dan turun tak menentu, aku mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya. Dan di pertemuan malam itu, seperti biasa dia hadir dengan penampilan memukau. Ya, Reza adalah seseorang yang sangat memperhatikan penampilan dirinya. Keinginan terbesarnya adalah menjadi seorang artis terkenal. Namun karena terlahir di keluarga miskin dengan bekal pendidikan yang rendah, dia hanya berharap suatu hari nanti jalan menuju impiannya bisa terbuka. Tanpa bisa mengikuti kursus atau sekolah-sekolah khusus untuk mengantarnya lebih dekat ke impiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kami bertemu, dia selalu menatapku langsung tepat di mata dengan senyuman lebar. Aku suka dengan tatapan penuh percaya dirinya itu. Karena bagiku mata adalah cermin jiwa. Dari mata kita bisa membaca banyak hal yang tak terucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bertanya tentang prestasinya yang dinilai tidak bagus oleh perusahaan, dia masih tersenyum ceria, menjelaskan bahwa mungkin hanya karena faktor 'hoki' belum ada. Dan ketika aku menyinggung soal dirinya yang dilaporkan 'moody', dia sedikit terkejut. Dan akhirnya ketika aku menasehatinya untuk jangan membawa beban masalah sampai membuat diri sendiri stress, wajahnya yang ceria itu menghilang. Serta keluarlah dari mulutnya cerita mengenai ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada manusia yang sial di dunia ini. Meskipun orang itu terlahir tak punya kaki atau tangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tahu proses manusia terlahir di dunia? Cara pembuahan terjadi? Kamu, saya dan semua orang yang terlahir di dunia ini adalah pemenang. Terlahir sebagai pemenang. Dari jutaan sperma, hanya satu yang berhasil membuahi sel telur. Dan satu itu adalah kamu, saya dan semua orang yang ada di dunia ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kembali menatapku. Namun mata bulat itu kini berkaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan percaya apa yang dikatakan mamamu atau siapa saja yang menyebutmu anak sial. Tidak. Kamu bukan anak sial. Apa yang dikatakan orang-orang itu tidak selalu benar dan tidak penting. Yang terpenting adalah apa yang kamu yakini dan pikirkan tentang dirimu. Kalau kamu yakin kamu itu orang yang baik dan hebat, itulah dirimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendekatkan wajahku, merendahkan suaraku agar yang lain tidak bisa mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Reza, ada sebagian orang yang terlahir di keluarga yang tidak mendukung mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, saya seperti itu. Keluarga saya cuma tahu menuntut. Kemarin Mama datang minta uang dan saat saya bilang saya tidak punya uang, Mama marah dan bilang percuma dia datang menemui saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela napas. Sesak rasanya membayangkan gajinya yang begitu kecil sebagai seorang promoter. Dia harus mengandalkan omzet penjualan untuk mendapatkan penghasilan bagus. Dan bila penjualannya menurun otomatis uang yang diterimanya juga menjadi sedikit. Sementara dia masih harus membayar cicilan motor yang dipakai kakaknya, menghidupi adiknya dan memberi uang pada ibunya bila ibunya datang meminta. Sementara dia sendiri harus membayar kos dan makan. Terkadang aku merasa dirinya begitu hebat masih bisa selalu tampil dengan percaya diri dan ceria menghadapi hidup yang begitu sulit unuk dijalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat tidak ada yang mendukungmu, kau harus bisa lebih kuat. Berdiri di atas kakimu sendiri. Berusaha untuk masa depanmu. Dan jangan pernah putus asa atau membuang-buang waktumu. Buktikan pada orang-orang bahwa kamu ini tidak seperti yang mereka katakan. Saya yakin kamu bisa berhasil. Dan ketika kamu sudah berhasil, barulah kamu bisa mendukung penuh keluargamu. Mskipun mereka tak pernah berikan dukungan itu padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata itu bergerak semakin gelisah. Ada air di sudut matanya. Airmata yang ditahannya agar jangan jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu itu selalu memakai topeng. Topeng keceriaan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tertawa, meski hambar. "Tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak," sangkalnya meski terdengar lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya," kataku tegas. "Kamu selalu ceria, tapi sebenarnya dalam hati kamu banyak kesedihan yang tidak bisa kamu ucapkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya," akunya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan pakai topeng itu. Buang. Jadilah dirimu yang benar-benar ceria. Semua orang punya masalah, semua orang punya kesedihan. Tapi jangan simpan di hati. Bagi keluar kesedihanmu itu. Namun, percayalah bahwa suatu saat keadaan akan menjadi lebih baik. Pasti akan lebih baik. Karena itu, hiduplah dengan benar-benar ceria. Saya yakin kamu bisa. Tapi kamu harus percaya bahwa dirimu bisa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kembali menatapku. Tak mampu berkata lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tahu kamu punya impian yang besar. Saya percaya kamu bisa meraihnya. Tapi semua itu bukan datang dengan sendirinya. Kamu harus berusaha, berusaha mencari jalan ke arah sana. Kamu juga perlu uang untuk bisa mencapai impianmu. Karena itu kamu harus serius dan berusaha keras dalam bekerja. Fokuskan dirimu untuk mencapai target penjualan agar kamu punya uang lebih untuk bisa kamu gunakan untuk masa depanmu. Jadi, jangan biarkan lagi masalah apapun mempengaruhi dirimu dan prestasimu dalam bekerja. Karena ini penting. Penting untuk dirimu sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum padanya. "Oke. Sekarang kita bicara soal gaji dan komisi kamu bulan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengambil buku catatan di meja dan saat itu dia langsung cepat-cepat menyeka kedua ujung matanya. Aku pura-pura tidak melihat dan mulai menjelaskan padanya hitungan bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat semua sudah selesai, dia tersenyum kembali dan mengulurkan tangannya dan mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk dan membalas senyumnya. "Semangat, ya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku melihat sebuah cerita kehidupan lagi. Cerita sederhana, biasa, berunsur kepahitan namun menyentuh jiwaku. Ada kesedihan yang terasa. Namun ada doa yang terucap. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Semoga kau tetap kuat, Reza...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-1287988308745155819?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/1287988308745155819/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/04/kamu-bukan-anak-sial.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1287988308745155819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1287988308745155819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/04/kamu-bukan-anak-sial.html' title='Kamu Bukan Anak Sial'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-120726073969234871</id><published>2010-04-02T13:47:00.000+07:00</published><updated>2010-04-02T14:42:59.460+07:00</updated><title type='text'>Cintakah Kau Padaku?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S7WfHFNZEVI/AAAAAAAAAPw/Fuqp4MH7bp4/s1600/love.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 276px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S7WfHFNZEVI/AAAAAAAAAPw/Fuqp4MH7bp4/s320/love.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5455441467635470674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seingatku, kau tak pernah bilang kau suka padaku. Apalagi cinta. Dan kau tak pernah menceritakan rasamu padaku. Atau menanyakan rasaku padamu. Seakan itu tidak penting. Tak pernah menjadi penting bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku bingung. Bingung akan sikapmu yang selalu lain dari yang lainnya. Bingung akan kata-katamu yang selalu mencoba menggetarkan sukmaku. Bingung dengan semua yang ada pada dirimu, yang kau tujukan padaku. Tak pernah yakin diri ini mengartikan semuanya. Ataukah aku yang terlalu bodoh untuk menangkap pernyataan tanpa katamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu. Aku menanti. Dan saat waktu terus bergulir tanpa sebuah pernyataan pasti darimu, perlahan diri ini pun menyangkal semua harapan akan rasa yang sama. Dan aku pun mulai belajar melihat dirimu seperti mereka, sama, tak berbeda, tak harus kuberi rasa istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika aku telah mampu mengeluarkan bayangmu dari hatiku, kau kembali menebarkan pesona dirimu. Ketika aku berpaling, menganggap semuanya hanya sebuah intermezzo biasa, kau merajuk. Kau pinta aku menatapmu, menjadikanmu pusat duniaku. Hanya kau. Ya, hanya dirimu. Bukan yang lain. Dan tak boleh ada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu... Dengan alasan apa aku harus berikan kebebasan hati ini? Hatiku hanya satu, mengapa harus kuisi dengan sosokmu? Sosok yang tak pernah membuat sebuah pernyataan tegas akan rasa dan hasratmu. Sosok yang seperti asap yang tak pernah mampu kusentuh dan kupegang. Sosok yang terkadang menghilang begitu saja dan kemudian kembali berusaha menyelubungi seluruh diriku tanpa rela memberi sedikit celah pada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila memang kau suka padaku dan bila memang ada cinta itu di sana, mengapa tak pernah cukup kekuatan dirimu untuk menyatakannya? Tidakkah cinta harusnya memberimu kekuatan? Tidakkah cinta harusnya membahagiakanmu ketika kau mengungkapkan kejujuran akan dirinya? Kecuali bila ini bukan cinta. Kecuali bila kesombongan diri lebih berada di atas cinta itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila aku punya cinta, akan kuteriakkan selantang-lantangnya dengan suara yang aku punya. Dan akan kubiarkan seisi dunia tahu. Tak peduli dunia menertawakan atau tak setuju padaku. Karena yang terpenting dari semuanya adalah cintaku ini membuatku bahagia dan bangga akannya. Tapi, hanya bila aku punya cinta...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jadi, cintakah kau padaku?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://images.google.co.id/imglanding?q=love photo&amp;imgurl&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-120726073969234871?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/120726073969234871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/04/cintakah-kau-padaku.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/120726073969234871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/120726073969234871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/04/cintakah-kau-padaku.html' title='Cintakah Kau Padaku?'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S7WfHFNZEVI/AAAAAAAAAPw/Fuqp4MH7bp4/s72-c/love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-3020658761669905203</id><published>2010-03-30T16:16:00.000+07:00</published><updated>2010-03-30T18:22:25.934+07:00</updated><title type='text'>Cerita Hari Ini</title><content type='html'>Ada pertemuan di bank P hari ini pukul sebelas, mau membahas masalah kredit yang masih tertunda gara-gara dokumen yang belum jelas. Pagi ini aku bangun dengan semangat baru dan rasa syukur seperti biasanya. Mandi, makan pagi lalu mulai bekerja. Mengatur beberapa kiriman dulu, membuat beberapa laporan dan mengatur kerja untuk anak-anak kantor. Setelah beres, pukul setengah sebelas meluncur ke bank P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan aku mendapat telepon dari bank M, kantor asal di mana aku dulu membuka tabungan. Sudah lama sekali aku tidak ke bank tersebut, sejak pindah kantor baru. Hanya saja tabungan awal tetap tidak ditutup. Si Ibu, teller bank tersebut, yang dulu sering kutemui ketika aku datang berkunjung, masih ingat pada diriku dengan baik. Begitupun denganku, wajah si Ibu langsung terbayang ketika mendengar dia menyebutkan namanya. Si Ibu mengatakan sudah lama mencari-cari aku dan menelepon berulang-ulang, namun tidak bisa menghubungi. Katanya ada souvenir mau diberikan. Wow! Gratisan? Jarang-jarang ada yang membagi gratisan...hehehe... Hati langsung berbunga-bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut ke bank P. Sampai di bank, aku harus menunggu pihak ketiga yang telat. Paling menyebalkan pekerjaan menunggu itu. Setelah menunggu kurang lebih dua puluh menit, si Bapak akhirnya tiba. Pembicaraan dimulai dan berputar-putar akan masalah yang solusinya ditolak mentah-mentah semua sama si Bapak. Membuat manager bank stress dan aku yang selama itu hanya diam mendengarkan ikut stress akan kekerasan hati si Bapak. Akhir pertemuan, si Manager pergi dengan putus asa dan si Bapak mengeluh tidak senang, menyalahkan pihak bank. Aku? Lebih tidak senang mendengar banyak kata-kata negatif dari mulut si Bapak. Akhirnya aku yang meledak marah setelah bosan mendengar si Bapak berbicara. Dan kuangkat telepon, minta segera dijemput. Si Bapak langsung terdiam dan suasana ruangan jadi kaku. Kabar buruk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meninggalkan bank P, aku hampiri manager yang malah mengungsi ke kursi customer service dan menitipkan pesan bahwa aku tidak akan mengganti bank untuk urusan itu. Kalau memang akhirnya transaksinya tidak disetujui si Bapak, apa boleh buat. Aku minta dibatalkan saja. Anggap saja bukan rejekiku. Meski aku katakan dengan tegas dan tampak baik-baik saja, tapi sebenarnya di dalam hati aku merasa khawatir dan kecewa sekali dengan pertemuan yang tidak berjalan lancar hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari sana suasana hati jadi buruk. Pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan negatif mondar-mandir. Kok, ada orang seperti itu, ya? Sudah diajak bicara baik-baik, eh malah tidak dipercaya. Dikasih solusi, tidak mau mendengar dan menerima. Maunya menang sendiri. Maunya kepentingan dia sendiri yang dipikirkan. Masa pihak bank diminta mengubah kebijakan dan peraturan. Memang itu bank bapaknya??? Lagipula mau bisnis, tapi kepercayaan pada orang lain tidak ada. Padahal sudah menggunakan bank sebagai penengah. Tambah pikir, tambah kesal jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di kantor, anak kantor datang, melaporkan bahwa giro sudah diambil dari customer. Namun giro yang seharusnya jatuh tempo tanggal satu April malah dibuka customer tanggal dua April. Wah! Emosi lagi! Tanggal dua kan hari libur, dan besoknya Sabtu. Artinya giro itu baru bisa cair hari Senin, tanggal lima! Benar-benar kelewatan kan orang itu! Sengaja buka giro pada hari yang tidak bisa dicairkan. Segala cara dilakukan untuk menunda pembayaran. Heran! Beda apa bayar hari ini dan besok? Toh harus bayar juga, kan? Bukannya lebih baik bayar lebih cepat? Satu berita buruk lagi mengeruhkan hari ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya semangat dan rasa syukur pagi tadi sudah menguap entah ke mana. Tapi tetap harus kerja. Meski efek kemarahan dan kekesalan malah jadi tumpah ke pekerjaan. Jadi berpikir, ada apa dengan hari ini? Apa salah memilih warna baju jadi aura-nya jadi jelek? Atau memang lagi hari sial untuk hitungan primbon? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya melanjutkan pekerjaan lagi, mengecek email. Tiba-tiba melihat ada email masuk dari sebuah organisasi sosial yang memberitahu bahwa tulisanku dimuat di majalah mereka. Thank God! Akhirnya ada kabar baik. Senangnya! Jadi bisa tersenyum sendiri dapat kejutan baik. Sedikit mengusir rasa stress seharian ini. Lalu waktu aku membalas email tersebut, tiba-tiba telepon berdering. Dari bank M lagi. Ibu teller bilang ada ticket dinner dan nonton konser acara TV untuk berdua dari bank tersebut. Mau diberikan padaku. Another suprise??? Nonton konser Anang? Wah, mau sekali! Lagipula kapan lagi bisa dapat tawaran seperti ini? Tiba-tiba diri merasa diberkati sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, hari ini belum berakhir ketika aku menuliskan cerita ini. Namun hari ini seperti roller coaster. Naik turun dengan cepat. Ada berita baik, ada berita buruk. Ada rasa marah, kesal, kecewa, senang dan gembira serta syukur. Aku sejenak terdiam. Ini, kan yang namanya hidup? Ada sedih ada gembira. Tidak mungkin hanya ada rasa senang terus yang tak berakhir. Dan juga tidak ada rasa tidak senang yang tak akan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ingat ajaran yang pernah kudengarkan saat meditasi dulu mengenai berdiam diri. Katanya, berdiam diri adalah tidak menginginkan perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan cepat berlalu dan tidak menginginkan perasaan-perasaan menyenangkan tidak berakhir. Dan itulah yang memang sering terjadi. Aku, kau, kita, sering menginginkan perasaan-perasaan tidak menyenangkan cepat berlalu. Mengutuknya, tidak menyukainya, membencinya hingga membuat kita stress, marah dan mengatakan bahwa hari ini hari yang buruk. Sementara saat kita merasa senang dan bahagia, kita berharap hari itu tidak akan berakhir, kalau bisa abadi selamanya. Seperti harapan sejoli yang sedang dimabuk cinta yang menjanjikan tidak akan berubah selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup, rasa, keadaan dan bahkan diri kita sendiri, dari waktu ke waktu selalu berubah. Mengalami banyak perubahan. Karena perubahan adalah nadi kehidupan itu sendiri. Ada perubahan barulah ada kehidupan. Kadang terjadi perubahan yang terasa buruk, kadang malah terjadi perubahan ke arah yang baik. Dan begitu juga dengan suasana hati kita. Terkadang kita menjadi kecewa dan marah. Bukan tidak boleh tapi harusnya kita tahu bagaimana untuk cooling down kembali dengan satu keyakinan bahwa tidak ada yang abadi. Bahwa suatu saat keadaan buruk ini akan berlalu. Dan ketika keadaan menyenangkan datang, kita harusnya mengingatkan diri, jangan terlena. Berbahagialah, tersenyumlah, tapi jangan lupa untuk tetap tegar kalau keadaan berbalik kembali. Karena inilah hidup. Hitam dan putih. Terang dan gelap. Baik dan buruk. Tertawa dan menangis. Selama kita hidup, kita akan selalu tetap memiliki dua bagian yang tak terpisahkan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-3020658761669905203?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/3020658761669905203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/03/cerita-hari-ini.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/3020658761669905203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/3020658761669905203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/03/cerita-hari-ini.html' title='Cerita Hari Ini'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-5722181433572745580</id><published>2010-03-26T17:52:00.000+07:00</published><updated>2010-03-26T18:16:29.084+07:00</updated><title type='text'>Ngalor-ngidul Sebentaaaar Aja...</title><content type='html'>Mau nulis apa ya?? Hmmm.... Ntar gue pikir dulu... Kalo diibaratkan pikiran itu punya ruang-ruang atau divisi-divisi khusus, kayaknya udah gak ada deh ruang kosong, buat nambah satu pikiran baru lagi... Overload! Iya nih, akhir-akhir ini bener-bener udah mulai ngerasa seperti ngangkut beban berton-ton tiap harinya di kepala. Dari pagi, coba keluarin pikiran-pikiran tentang kerjaan. Tengah hari, udah masuk lagi pikiran-pikiran baru... Malam... waaaaah... Ampun! Kembali overload! So? This is life? Masa? Emang beginilah hidup? Gak ada bentuk laen yang lebih menyenangkan? Oh.. No!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus? Ini lagi nungguin supervisor gue nonton secret. Bukan apa-apa, gue hari ini lagi bingung aja mau bahas apa. Lagian dari pagi tadi sampe sore searching produk di internet, mata gue udah berkunang-kunang. Pengennya? Tutup mata kali yee... Nah, orang yang lemes kayak kondisi gue sekarang ini, gimana caranya coba kasih motivasi? Makanya sambil nunggu DVD-nya abis diputer gue malah bengong gak tau mau ngapain. Kan laptop-nya dipake nonton ama dia. Tinggallah compie tua ini yang uda dua bulan kali gak gue buka. Mau ngecek email, eh loading-nya lamaaaaa banget. Malah jadi stress. Iseng-iseng buka blog gue... eh kok gampang ya... (Mungkin emang mau disuruh nulis, setelah absen begitu lama...hehehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back to the topic, nulis apa coba? Cerita cinta? Lagi gak ada inspirasi. Juga lagi ilfil. Nulis tentang kehidupan yang sedih? Lagi hambar nih rasa di hati, apalagi sejak melototin terlalu banyak produk. Kembali lagi soal kerjaan, yang entah kapan akan berakhir... Hussssh! Gak boleh bilang gitu, ntar bener-bener berakhir, gak ada kerjaan dong? Waduh! Iya, kemaren sempat diingetin ama customer gue, kan ceritanya dia nelpon n nanya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lagi stress?&lt;/span&gt; Iya nih, stress... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Napa?&lt;/span&gt; Kerjaan gak abis2... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jangan ngomong gitu, ntar kamu gak dapat kerjaan malah ngeluh lagi. Dikasi kerjaan banyak ama Tuhan mesti disyukuri.&lt;/span&gt; Iya juga sih, Pak. Jadi harus bersyukur ya, Pak? Iyalah... Ya, deh... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya, wes nanti aja saya telpon lagi kalo uda ga stress. Nanti kamu malah tambah stress kalo saya ganggu sekarang.&lt;/span&gt; Dan telepon pun ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan belakangan uda gak banyak waktu buat berimajinasi. Lebih banyak di dunia nyata. Makanya kagak pernah nulis lagi. Mau nyuri-nyuri waktu, baru buka blog eh.... Uda ada yang nelpon. Baru mau nulis judul, eh disuruh beresin ini n itu. Sampe nyerah sendiri. Malam hari? Wah, malam hari dengan sisa-sisa energi pun kadang-kadang masih digunain buat kerja. Kerja, kerja, kerja.... Tiba-tiba nyadar, jangan-jangan gue jadi workaholic ya... (Jangan ah!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, dari tadi mikir n nanya mau nulis apa, ternyata gue uda nulis banyak ya... hahaha... Ngalor-ngidul yang gak jelas. Yah, gak pa-pa lah, sekali-kali ganti gaya menulis. Daripada gak nulis sama sekali kan... ;-p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, ada customer gue datang. Gue cabut dulu nih... Daaaaaaa...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-5722181433572745580?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/5722181433572745580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/03/ngalor-ngidul-sebentaaaar-aja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5722181433572745580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5722181433572745580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/03/ngalor-ngidul-sebentaaaar-aja.html' title='Ngalor-ngidul Sebentaaaar Aja...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-1456040143063960296</id><published>2010-03-24T19:56:00.001+07:00</published><updated>2010-03-24T20:17:08.316+07:00</updated><title type='text'>Waktu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S6oQOZj9vmI/AAAAAAAAAPo/daKTEEcONDs/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 222px; height: 228px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S6oQOZj9vmI/AAAAAAAAAPo/daKTEEcONDs/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5452188138451353186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari kau di sana&lt;br /&gt;Dan aku selalu menatap ke arahmu&lt;br /&gt;Terkadang aku merasa khawatir saat melihatmu&lt;br /&gt;Terkadang aku merasa seperti dikejar sekelompok anjing &lt;br /&gt;Ayo, lari...&lt;br /&gt;Lari yang lebih kencang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saat menatapmu aku menyesalimu&lt;br /&gt;Merasa kau terlalu serius&lt;br /&gt;Harusnya kau bisa berhenti sejenak&lt;br /&gt;Beri aku sedikit kesempatan untuk bernapas lega&lt;br /&gt;Karena rasanya mulai sesak napasku ini&lt;br /&gt;Selalu harus berpacu dengan dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin melupakanmu&lt;br /&gt;Ingin rasanya mematikan dirimu&lt;br /&gt;Atau mungkin sekedar tertawa mengejek dirimu&lt;br /&gt;Sesekali menunjukkan padamu bahwa aku bisa juga tak peduli&lt;br /&gt;Namun itu hanya anganku&lt;br /&gt;Yang tak pernah bisa jadi nyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akh! &lt;br /&gt;Aku benci padamu&lt;br /&gt;Kebebasanku ini kini kau rampas&lt;br /&gt;Ataukah aku yang merelakannya padamu?&lt;br /&gt;Dengan iming-iming kesuksesan diri?&lt;br /&gt;Mungkin...&lt;br /&gt;Mungkin dirimu tak pernah lebih berdosa daripadaku&lt;br /&gt;Dan salahmu hanya sebuah pembelaan diriku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya aku punya mesin yang mampu menghentikanmu&lt;br /&gt;Atau memutarmu kembali berjalan mundur&lt;br /&gt;Atau memaksamu terbang ke depan&lt;br /&gt;Atau berkompromi denganku sesuai dengan kebutuhan diriku&lt;br /&gt;Akh, seandainya saja...&lt;br /&gt;Pasti aku tak akan pernah merasa kekurangan dirimu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(* di tengah kerjaan yg gak selesai-selesai...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.google.co.id/imglanding?q=watch photo&amp;imgurl&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-1456040143063960296?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/1456040143063960296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/03/waktu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1456040143063960296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1456040143063960296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/03/waktu.html' title='Waktu'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S6oQOZj9vmI/AAAAAAAAAPo/daKTEEcONDs/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-2828992401056875772</id><published>2010-03-21T11:42:00.000+07:00</published><updated>2010-03-21T12:33:54.482+07:00</updated><title type='text'>Diriku Yang Patah...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S6WuOTK4xSI/AAAAAAAAAPg/xkoBJEtYFl8/s1600-h/6a0120a611d5e8970b012876e2b264970c-800wi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S6WuOTK4xSI/AAAAAAAAAPg/xkoBJEtYFl8/s320/6a0120a611d5e8970b012876e2b264970c-800wi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450954484689192226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bila diibaratkan aku ini sebuah taman, dulu aku adalah sebuah taman kecil, sederhana, polos dan tanpa warna. Lalu pada suatu masa, kau, manusia, datang melihat diriku yang tak merasa indah ini. Namun di matamu, kau mampu melihat keindahan diriku yang memikatmu untuk tinggal. Kau merasakan butiran tanahku di jemarimu, kau hirup udara tamanku dengan wajah berseri. Lalu kau tabur benih-benih di sini, tepat di jantung jiwaku. Setiap hari kau datang, kau siram tamanku dengan penuh cinta dan kesabaran. Lalu perlahan seiring waktu berjalan, tunas-tunas baru bermunculan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama waktu yang telah kau habiskan di sini, dengan diriku? Berapa banyak kesabaran dan harapan yang telah kau tuang pada waktu? Aku tak ingat lagi. Aku lupa menghitung waktu. Karena dengan kehadiranmu di sini, aku terbuai, lupa akan waktu. Karena aku mengira dirimu akan selamanya berada di sini, melihat ke arahku, menabur, menyiram dan selamanya terpikat akan indah diriku. Ya, kau telah membuatku merasa indah dengan cintamu. Kau yang telah menghembuskan napas hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman yang kau cintai ini kemudian berubah menjadi taman yang penuh warna. Bunga-bunga bermacam warna dan bentuk, bermekaran dengan cepat dan riang. Wanginya memenuhi udara, berharap selamanya akan jadi candu dirimu. Agar tak pernah kau berpaling pada taman yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian, ada yang berubah. Kau bilang esok tak lagi akan kembali padaku. Kau bilang taman ini tak lagi membuatmu nyaman dan kau tak ingin tinggal lebih lama lagi. Kau bilang cukup sudah waktu yang kau habiskan untuk menyiraminya. Kau bilang, kau tak lagi punya sisa benih baru untuk kau tabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu... Apa yang terjadi? Apa salahku? Apa warna bunga-bungaku tak seindah yang kau harapkan? Apa wangi bunga-bungaku kini telah tercium hambar? Apa indah diriku tak lagi cantik di matamu? Apa yang tak kau sukai? Ubahlah. Aku membebaskan dirimu mengubah apa saja yang tak kau sukai dari taman ini, sesuai dengan keinginanmu. Asalkan kau bahagia. Asalkan kau tak meninggalkanku. Asalkan kau tetap mencintaiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau menggeleng. Tak ingin berkata lagi. Dan dengan teganya, kau membalikkan tubuhmu, melangkah pergi, meninggalkanku begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada lagi yang menyirami bunga-bunga indahku. Mereka ikut sedih, perlahan menjadi layu dan mengering. Tak ada lagi yang menaburkan benih baru, menggantikan yang telah mengering. Bahkan tanah di sinipun mulai ikut mengeras dan kering. Tak ada lagi keindahan yang tersisa. Tak ada lagi wangi semerbak di udara. Hanya ada taman sederhana yang tampak kusam dan menyedihkan. Mulai mati. Mati tanpa napas kehidupan yang telah ikut kau bawa pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis. Bahkan airmataku tak mampu menghidupkan kembali taman ini. Karena airmataku mengandung sakit, kecewa dan sedihku. Bukan lagi air yang mengandung cinta, yang dulu kau tuangkan. Ya, taman ini telah mati. Mati karena tak dicintai lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintaimu karena telah menghembuskan napas kehidupan untukku, dulu.&lt;br /&gt;Aku membencimu karena telah mengambil kembali napas kehidupanku, kini.&lt;br /&gt;Haruskah aku tetap mencintaimu kini?&lt;br /&gt;Salahkah bila akhirnya aku membencimu kini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan aku sendiri, dengan semua kekosongan dan kesuraman ini. Biarkan aku tutup pintu taman ini rapat-rapat. Terlalu banyak luka dan sampah yang berserakan di sini. Biarkan saja... Biarkan aku meratapi cinta yang telah hilang ini. Sampai habis airmataku. Sampai perihku tak lagi terasa perih. Sampai semua sampah telah kembali tertelan dan menyatu kembali ke bumi. Sampai semua luka sembuh seiring waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu harapku. Semoga suatu hari nanti, ada yang kembali mengetuk pintu tamanku ini. Manusia baru, manusia lain, dan bukan dirimu lagi. Dan semoga ketika waktu itu tiba, aku telah siap membuka kembali pintu tamanku, dengan keberanian baru, yang kini belum juga aku miliki.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://images.google.co.id/imglanding?q=withered garden photo&amp;imgurl&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-2828992401056875772?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/2828992401056875772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/03/diriku-yang-patah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2828992401056875772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2828992401056875772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/03/diriku-yang-patah.html' title='Diriku Yang Patah...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S6WuOTK4xSI/AAAAAAAAAPg/xkoBJEtYFl8/s72-c/6a0120a611d5e8970b012876e2b264970c-800wi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-6919892407585918720</id><published>2010-03-20T23:29:00.000+07:00</published><updated>2010-03-21T01:12:03.055+07:00</updated><title type='text'>Kau...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S6UOcnFICqI/AAAAAAAAAPY/WHE6TKrHtQY/s1600-h/Its-Too-Late4.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S6UOcnFICqI/AAAAAAAAAPY/WHE6TKrHtQY/s320/Its-Too-Late4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450778808691460770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di suatu masa yang lalu, kau mengisi hatiku. Berada di sana, memporakporandakan suasana hatiku. Meniupkan banyak harap dan bahagia. Namun hanya kosong ketika coba kuraih dan kudekap. Aku terpaku. Kebingungan. Tak mengerti. Tak yakin. Salahkah aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian di suatu masa lain yang lalu, kau mengisi pikiran dan anganku. Ketika hanya bayangmu yang tertinggal dengan kenangan yang tak bisa jua lepas. Bukannya semakin mengabur dan akhirnya hilang, malah semakin jelas dan mengikat erat diri dengan rindu yang membuatku tak mampu bernapas. Aku menangis. Berharap. Bertanya. Berdoa. Mencoba mengirimkan pesan rinduku pada angin malam. Akankah kau mendengarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, di sini, saat ini, kau hadir kembali. Utuh, sosokmu, bukan bayangmu saja. Begitu nyata, bisa kuraih. Begitu mudah, tinggal seujung jari. Namun aku pangling. Kau? Kaukah itu? Yang dulu memporakporandakan hatiku? Yang pernah meniupkan bahagia dan harap kosong yang menghadirkan nelangsa? Yang pernah meninggalkan bayangan yang meraja di pikiran dan anganku? Yang aku rindukan selama jutaan detik yang telah berlalu? Mengapa aku serasa tak mengenalimu lagi? Aku bingung. Aku gundah. Aku tak mengerti. Terlalu bodohkah aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika kau meniupkan harap, menawarkan bahagia untukku, yang dulu begitu kuimpikan, aku tertegun... Bukankah dulu aku pernah merana berharap bahagia itu bisa menjadi milikku? Namun hanya hampa dan bayang tak nyata yang menjadi teman rinduku kala itu. Kini kau tawarkan asa dan bahagia itu, seakan aku masih bisa tersenyum dan bermimpi. Tidakkah kau sadari masa ini bukan milikmu dan milikku lagi? Tidakkah kau sadari semua sudah begitu terlambat untuk bisa jadi nyata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau, selamanya hanya sepotong kisah indah yang telah berakhir.&lt;br /&gt;Kau, selamanya hanya pernah menjadi rindu yang pernah bernapas dalam anganku.&lt;br /&gt;Kau, selamanya tak pernah sungguh bisa menjadi bahagia nyataku.&lt;br /&gt;Karena waktu telah berlari menjauh...&lt;br /&gt;Karena selamanya, waktu tak ingin kembali lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link:http://images.google.co.id/imglanding?q=too late photo&amp;imgurl&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-6919892407585918720?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/6919892407585918720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/03/kau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/6919892407585918720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/6919892407585918720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/03/kau.html' title='Kau...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S6UOcnFICqI/AAAAAAAAAPY/WHE6TKrHtQY/s72-c/Its-Too-Late4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-563402504816959917</id><published>2010-03-08T23:10:00.000+07:00</published><updated>2010-03-09T00:17:30.222+07:00</updated><title type='text'>Bila Saja...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S5UuaKE49lI/AAAAAAAAAPQ/cyB8amYpot0/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 98px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S5UuaKE49lI/AAAAAAAAAPQ/cyB8amYpot0/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5446310351290824274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku ingin suatu hari nanti tak ada lagi pertentangan&lt;br /&gt;Aku ingin suatu hari nanti tak ada lagi perbedaan&lt;br /&gt;Aku ingin suatu hari nanti tak ada lagi kesedihan&lt;br /&gt;Aku ingin suatu hari nanti hanya ada senyum dan bahagia&lt;br /&gt;Adakah hari itu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku merasa hilang di tengah-tengah hidupku sendiri. Hilang dan tak bisa menemukan diriku sendiri. Mencoba mencari, mencoba menemukan, tapi tak jua terlihat. Kucari lagi, lebih keras, namun yang ada malah rasa putus asa. Di mana-mana terlihat kosong dan hampa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi, saat aku melihatmu menangis. Sejenak aku seperti melihat cermin diriku di dirimu. Rasa sakit itu, rasa kecewa dan derita itu. Dan ketika dengan cepat kau seka airmatamu, tak ingin terlihat lemah di hadapanku, aku tertegun. Betapa piciknya aku ini tak pernah menyadari topeng ketegaran yang selama ini kau pakai. Bukankah kita semua pernah mengenakan topeng yang sama? Bukankah kita semua seperti dirimu, berusaha tertawa dan tersenyum dengan sisa harapan yang ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah kau. Kau adalah aku. Karena itukah, sakitmu bisa kurasakan? Karena itukah airmatamu tadi mengiris hatiku yang juga penuh dengan bekas luka ini? Meski kita belum lama saling mengenal. Meski tak ada ikatan darah yang mempertegas kesamaan rasa ini. Ya, tanpa kau dan aku sadari, kita tak pernah terpisah. Terikat pada sebuah benang tipis abadi yang selamanya ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya seperti seorang lemah yang tak berdaya mengubah apa yang tak kuinginkan dan apa yang tak kau inginkan. Membalikkan nyata menjadi sama seperti impian yang kita rajut dengan susah payah. Tiap kali aku coba untuk hembuskan napas pengharapan dari setiap kata yang kutujukan padamu, juga sejuta cinta agar kau tetap kuat dan selamanya tegar. Tapi sesungguhnya, aku takut. Takut bila suatu hari nanti kau tak lagi meletakkan percayamu padamu. Dan bila jalan impian ini terlalu panjang untuk batas kesabaranmu. Bagaimana bila kau terpuruk lagi, selamanya melepas harap dan mimpimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bila saja ada nyanyian hati yang tak pernah berakhir&lt;br /&gt;Bila saja ada bahagia yang tak pernah berubah wajah&lt;br /&gt;Bila saja ada senyum abadi di wajahmu, di wajahku, di wajah kita&lt;br /&gt;Dan bila saja selalu ada cukup cinta untukmu, untukku, untuk kita semua&lt;br /&gt;Sehingga tak ada lagi airmata dan perih yang pernah singgah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link:Google&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-563402504816959917?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/563402504816959917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/03/bila-saja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/563402504816959917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/563402504816959917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/03/bila-saja.html' title='Bila Saja...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S5UuaKE49lI/AAAAAAAAAPQ/cyB8amYpot0/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-2283895972430822545</id><published>2010-02-27T17:20:00.000+07:00</published><updated>2010-02-27T18:57:39.415+07:00</updated><title type='text'>Sepotong Kisah Di Langit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S4kBhdrqkwI/AAAAAAAAAPI/Jd-DaeGs-SQ/s1600-h/airasia-plane.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 222px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S4kBhdrqkwI/AAAAAAAAAPI/Jd-DaeGs-SQ/s320/airasia-plane.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442883299069039362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Air Asia 27/02/2010&lt;br /&gt;13.40 KL time&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kursinya misah. Kata check in officer yang orang India, "You orang punya ticket different so i tak boleh arrange seat." Si India berkacamata itu tampak tidak sehat, matanya sayu dan menatap ke depan dengan bosan. Pelayanannya sangat lambat, terbukti dari counter sebelah tiga kali lebih cepat berganti customer. Ya sutralah... Lagian 17F dengan 18B hanya berjarak satu baris n masih sepesawat kok. Not big deal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampe di atas pesawat, sudah ada dua wanita di kursi 17E dan 17D. Dua-duanya wanita Indonesia. Harusnya TKI yang siap-siap pulkam. Yang 17D belum terlalu tua. Yang 17E lebih 'ibu-ibu'. Mereka asyik bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia bercampur dialek melayu. Si muda bercerita tentang majikannya. Kurang jelas. Ada kata: marah, goda, suami baik.... Kira-kira apa ya yang diceritakannya? I dun know...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tutup mata, lipat tangan, ingat teknik meditasi. Perhatikan napas, masuk, keluar, masuk, keluar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara percakapan dari sebelah tertangkap lagi sepotong-sepotong. Gak bisa konsen nih... Si Ibu dari Jawa, yang muda dari Lampung, transit Jakarta dulu. Si Ibu bertanya," Lampung jauh ya dari Medan? Bla...bla....bla..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo konsentrasi! Meditasi. Napas masuk, napas keluar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada bunyi logam beradu, lalu suara bisik-bisik tumpang tindih. Ternyata si Ibu masang seat belt tapi kekencengan dan sekarang gak bisa dia buka. Perutnya tercekik. (Eh, benar gak pemakaian kata ini, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;perut tercekik?&lt;/span&gt; Femi tuluuuung....hihihi) Seat belt-nya diutak-atik, gak mau lepas juga. Bantuin deh... Si Ibu tersenyum malu n ngucapin &lt;span style="font-style:italic;"&gt;thank you aaa...&lt;/span&gt; (ucapan terima kasih khas dalam bahasa Inggris ala melayu). Bukain seat belt-nya, longgarin talinya, trus masangin lagi. Rebes!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayaknya susah nih mau meditasi. Baca majalah aja ah... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Travel 3 sixty&lt;/span&gt;. Si muda n Ibu kembali ngobrol. Dari belakang juga terdengar dialek Jawa-Melayu. Bunyinya? Kereeeen bo....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"You tinggal mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Serang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Serang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Serang." Diam sejenak, "Banten."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Banten? Sumatera?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan. Jawa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jawa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jakarta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jakarta mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jawa Barat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jawa Barat? Oh, i tahu. Dekat sama Bandung la..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan. Jakarta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waaaaaaaaaaaaaa..... Ini mah maen pingpong. Uda pengen nyeletuk, "Tahu Tangerang gak???" Pusing dah! Muter-muter kagak ketemu :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uda ah, konsen ke majalah aja. Baru tahu ternyata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dubai is not the capital of the United Arab Emirates or UAE, melainkan Abu Dhabi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"You pakai apa?" Suara dari sebelah kembali membuyarkan konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jempol."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jempol? Apa itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si muda terkikik. "Ini, kartu jempol kalau sms ke luar cuma tiga ratus, kalau sms dalam negeri cuma seratus. Kalau bebas sms dalam negeri tiga ratus, better call lebih murah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bener gak sih?? Info akurat or.... Tapi emang kan yang terakhir sukanya putus nyambung, putus nyambung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ibu ngeluarin hape-nya. Nokia. Masih mengkilat. "You pakai apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si muda ngeluarin hape-nya. Nokia juga. Beda model. "Beli harga berapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiga ratus lima puluh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I punya cuma tiga ratus sahaja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramugari muncul membagikan kartu imigrasi. Ini dia nih pemborosan. Masa bagi-bagi kartu imigrasi lagi ama orang Indonesia. Waktu mau ninggalin Indonesia kan uda dikasi kartu imigrasi. Sepotong disetor ke imigrasi, sepotong lagi mesti disimpen n disetor kembali waktu masuk kembali ke Indonesia. Sekarang dikasi kartu baru, nyuruh isi dua bagian, keberangkatan n kedatangan, buntut-buntutnya juga ntar di imigrasi kartu itu ditolak n berakhir di tong sampah. Birokrasi gak jelas. Btw, disuruh isi, isi ajalah.....(_ _)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramugari bertanya, "Indonesia? Malaysia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga-tiganya Indonesia. Selesai ambil kartu, lanjutin baca majalah. Sampe mana tadi? Oh ya, Abu Dhabi. Kartunya ntar aja diisi. Baru baca beberapa menit, rasanya ada yang merhatiin. Nengok. Ternyata si muda n si ibu nyuri-nyuri pandang berulang-ulang. Waaaaaa..... Ada apa nih? Gak mungkin karena faktor &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cakep&lt;/span&gt; kan? Orang kita sama-sama sejenis kok... (Jadi ingat Jiwa oh Jiwa....wakakakakak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjutin baca lagi ah... Ada liputan Michael Buble' dengan kalimatnya yang keren. Catat gih, ntar bisa masukin ke pesbuk. Kan uda lama gak nulis status. Ambil notes, pulpen, catat. Udah. Sekalian deh ngisi kartu imigrasi konyol itu. Oh... Jadi nyadar. Mungkin si Ibu n si muda itu mau minjem pulpen buat nulis, jadi liat-liat mulu... Abis selesai ngisi, tiba-tiba ada paspor n kartu imigrasi disodorin dari samping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolong isi. Saya tak tahu. Terima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama: Siti. Tahun lahir: 1988. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Glek!&lt;/span&gt; Muda kali... Tapi tampangnya uda tiga puluhan... Tadi katanya, anaknya udah dua. Satu umur lima belas, yang satu lagi umur sebelas. Loh.... Dua puluh dua dikurang lima belas??? Kagak nyambung nih! Masa umur tujuh tahun uda ngelahirin anak? Waaaaaaaa.... Bisa masuk MURI!!! Emang umur segitu uda bisa reproduksi? Hmmm... (mesti nanya Dokter Imelda). Pasti ada yang salah. Nanya langsung ke orangnya aja kali ya? Gak ah, ntar ketahuan nyuri denger....hehehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uda beres, balikin ke mbak 22. Dia senyam-senyum ngucapin terima kasih. Sama-sama... Ambil pulpen lagi. Nulis aja deh, kayaknya seru nih bikin cerita dengan judul: Sepotong Kisah Di Langit. Kan kata ibu kost, judul cerita mesti menarik...^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari mana nih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang nyuil dari samping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasport n kartu imigrasi disodorkan. Kali ini si Ibu. Waaaaaaa... Lama-lama bisa jadi pegawai imigrasi nih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolong dicek, benar tak borang ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bener, kan? Memang dari wajah aja kepercayaan bisa didapat...hahaha (geer mode on). Baca. Loh, masih banyak kotak-kotak yng dikosongin. Dari atas aja deh bacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama: Wasidah. Tempat tanggal lahir: 01 06 1973. No pasport: Jawa Tengah... Loh, kamsud-nya??? Wah, yang ini parah. Kalau sampe di bagian imigrasi jangan-jangan dikarantina...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini salah isi. Mesti ganti kartu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ibu langsung panik, "Waduh..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minta aja lagi sama pramugari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ibu memandang bolak-balik ke depan n ke samping. "Jadi bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarik napas... "Minta aja lagi ama dia," sambil nunjuk ke pramugari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ekspresi panik n tak percaya diri. Kayak tampang orang yang abis bikin salah n mau diproses hukum. Oalah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gratis kok. Minta aja lagi yang baru. Mereka punya banyak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dipanggil juga si pramugari cantik yang tanpa bertanya langsung memberikan kartu baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak, tolong isi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya amplop!&lt;/span&gt; First, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kakak?&lt;/span&gt;. Plis deh... Tadi, taon kelahirannya tujuh tiga, kan? Second, ngisi lageeee???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu gak bisa baca?" Mata membulat, suara agak kesel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah si Ibu berubah, campuran malu n kaget ditodong pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa..." suaranya mengecil, "tapi..." dia lalu menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kira-kira apa maksudnya? Bisa atau gak? Hhhhh.... Ya sudahlah, itung-itung bantuin orang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi lagi, Nama....bla...bla...bla...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang nyenggol. Wah, jangan lagi deh! Udah parnod duluan... Pasport ijo n kartu imigrasi lagi? Nengok gak? Nengok gak? Aaaaaaaaa....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Mbak 22 tersenyum manis, "Kakak mau minum apa? Saya bayar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waaaaaaa.... Jadi terharu. Hiks... Mau dibayarin minum, Coy! Ternyata baek juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan Mbak, saya gak mau minum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uda selesai ngisi, si Ibu kabur ke toilet. Sisa si Mbak 22.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak... Kakak..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak cuti ke Jakarta? Atau mau ke mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan. Saya tinggal Jakarta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh... Saya kira orang Malaysia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesem! Dari tadi ngomong uda pake logat Jakarta, pake 'gak' bukan 'tak', masa masih gak jelas juga. Jangan-jangan penilaian Indonesia/ Malaysia-nya berdasarkan besar mata, kalo sipit... (mulai sensi). Grrrrrrrrrrr...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak cuti ke Malaysia? First time?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suami saya orang Malaysia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ibu kembali. Si Mbak 22 bisik-bisik ke si Ibu, gosipin soal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;suami Malaysia&lt;/span&gt;. Pura-pura gak denger...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman mendarat sebentar lagi. Syukurlah! Waktunya beresin barang-barang n...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THE END&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: www.google.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-2283895972430822545?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/2283895972430822545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/02/sepotong-kisah-di-langit.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2283895972430822545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2283895972430822545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/02/sepotong-kisah-di-langit.html' title='Sepotong Kisah Di Langit'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S4kBhdrqkwI/AAAAAAAAAPI/Jd-DaeGs-SQ/s72-c/airasia-plane.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-5450667063919342869</id><published>2010-02-19T00:57:00.000+07:00</published><updated>2010-02-19T02:05:20.123+07:00</updated><title type='text'>Tinggal Separuh Sayap...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S32OCuHIE1I/AAAAAAAAAK0/gsnNOYOUKew/s1600-h/002500.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S32OCuHIE1I/AAAAAAAAAK0/gsnNOYOUKew/s320/002500.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439660102322230098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di suatu masa, kita pernah duduk bersama, membuka kotak mimpi masing-masing, saling memamerkan, saling mengagumi dan saling berbagi. Pernah kita tertawa bersama, kita tak saling setuju, kita saling menghibur, kita bernyanyi bersama, kita saling diam sejenak... Tapi pada masa itu kita telah berjanji tanpa kata, berjanji dengan sorot mata dan bahasa kalbu bahwa kita akan selalu bersama-sama selama napas masih ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kala itu, kau merangkulku bak pasangan jiwa yang selama ini hilang dan telah kau temukan kembali. Oh, indahnya duniaku kala itu... Tak ada yang lebih serasi seperti kita berdua. Tak ada yang lebih menyelami isi hatimu seperti diriku. Dan tak ada yang bisa memiliki rasa, mimpi dan hasrat yang begitu sama seperti diriku. Hanya engkau seorang. Kita adalah sayap-sayap malaikat. Aku dan kau harus selalu bersama agar malaikat itu dapat terbang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, hanya ada aku di sini. Tanpa ada kau di sini. Hanya ada diriku. Tak ada dirimu lagi. Kau tahu aku di mana, namun enggan kau cari. Rinduku mengetuk, namun enggan kujawab. Kini bukan kala itu. Aku bukan aku lagi. Begitupun kau bukan kau lagi. Namun masa yang lalu, bayanganmu, kenangan itu, potret diri kita di sana, semua masih sama. Tetap sama, tak pernah berubah. Senyum kita, suara tawa kita, dan rasa kita dulu... Namun sayang, semua itu tersimpan di sana, di masa lalu. Tak bisa dan tak mau melangkah ke sini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh kasihan, malaikat itu kini tak mampu terbang lagi. Separuh sayapnya telah hilang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo link: http://images.google.com.my&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-5450667063919342869?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/5450667063919342869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/02/tinggal-separuh-sayap.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5450667063919342869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5450667063919342869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/02/tinggal-separuh-sayap.html' title='Tinggal Separuh Sayap...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S32OCuHIE1I/AAAAAAAAAK0/gsnNOYOUKew/s72-c/002500.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-1591909568252620856</id><published>2010-02-17T19:40:00.000+07:00</published><updated>2010-06-12T14:52:55.770+07:00</updated><title type='text'>Just Another Love Story...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S3w4b-ZMcYI/AAAAAAAAAKs/vpFA5lPkclo/s1600-h/love.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 246px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S3w4b-ZMcYI/AAAAAAAAAKs/vpFA5lPkclo/s320/love.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439284503213011330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semalam Drew bilang ingin bercerai pada suaminya, Vint. Lalu Vint membalas dengan berkata besok dia akan membeli Audi A8, mobil yang diimpi-impikan Drew selama ini, untuk Drew. Tak ada pertanyaan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengapa ingin bercerai dariku?&lt;/span&gt; Dan tak ada pembahasan dengan topik,&lt;span style="font-style:italic;"&gt; Kita harus menyelesaikan masalah dalam perkawinan ini.&lt;/span&gt; Yang ada hanyalah Vint berlalu, masuk ke kamar tidur dan ketika Drew menyusul setengah jam kemudian, ia menemukan lelaki yang telah mengawininya hampir tiga tahun itu telah mendengkur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, bukannya ke kantor pengacara seperti yang sudah direncanakannya, Drew malah berada di dalam showroom mobil Audi. Dan hanya dalam setengah jam saja semua urusan surat-surat diselesaikan. Pembelian atas nama Drew, pembayaran dilakukan Vint tunai. Benar-benar menunjukkan ketulusan hati Vint tanpa cela dan tanpa celah. Yang artinya bila Drew melangkah keluar dari showroom itu dan menjual mobil itu serta kembali mengajukan tuntutan cerai, Vint tak bisa bebuat apa-apa. Yang artinya juga, cinta Vint tak bersyarat. Namun Drew tidak luluh sama sekali ketika menerima kwitansi pembayaran itu. Tak ada ekspresi di wajahnya. Tawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian mobil itu siap, Vint mengantar Drew menjemput impiannya. Wajah Vint berseri-seri, merasa begitu bangga bisa menghadiahkan sesuatu yang sangat berharga untuk wanita yang dicintainya. Tapi wajah Drew datar, meski si sales mobil menatapnya penuh rasa iri. Dia tidak merasa seberuntung seperti yang dipikirkan si sales mobil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drew mengendarai sendiri mobil barunya keluar dari showroom. Sampai di lampu merah kedua, Drew mengambil handphonenya, memencet tuts-tutsnya dengan cepat dan berbelok ke tikungan yang berbeda dengan arah pulang ke rumah mereka. Isi sms-nya singkat: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku perlu udara segar. Malam baru pulang. Jangan tunggu aku&lt;/span&gt;. Dan Drew kemudian menginjak gas lebih dalam, meninggalkan sedan hitam yang dikendarai Vint di belakang. Ya, dia benar-benar butuh udara segar. Dadanya mulai terasa sesak meski dalam mobil baru yang masih berbau baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di cafe Geographer, Drew berhenti. Mengambil tempat di sudut, memesan tequila, meskipun sebenarnya masih terlalu siang untuk minuman seperti itu. Handphone-nya berbunyi beberapa kali. Ia hanya mengecek sebentar dan mengacuhkannya. Vint. Pesan singkat, misscall. Akhirnya Drew memutuskan mematikan handphone-nya. Biarkan saja lelaki itu stress memikirkannya. Drew tiba-tiba merasa marah sekali, dia merasa begitu bodoh. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Permintaan cerai dipatahkan dengan sebuah Audi?&lt;/span&gt; Dia merasa seperti seorang anak kecil yang baru saja dibohongi seorang dewasa dengan sebuah permen. Dan bagaimana bila manis permen itu telah habis???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vint mengira bisa membeli cinta dan dirinya dengan materi. Pertukaran ini benar-benar tidak layak dan pantas. Lagipula, kenapa juga dia menyetujuinya? Harusnya malam itu juga dia menolak dengan tegas dan mengunjungi lawyer pada hari berikutnya. Mengajukan tuntutan cerai, menyeret Vint ke pengadilan dan memintanya atau memaksanya menandatangani surat cerai. Dan beberapa bulan dari sekarang dia sudah bebas dari kemelut ketidakbahagiaannya selama ini. Bagai burung gereja di luar sana, bisa terbang ke mana saja dan berkicau sesukanya. Tapi sekarang? Drew menatap Audi-nya yang terparkir di seberang jalan. Kilat dan mewah. Ia tiba-tiba merasa begitu benci pada mobil itu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mobil sialan!&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari siang hingga malam, Drew berpindah-pindah dari cafe yang satu ke cafe yang lain. Entah sudah berapa macam minuman alkohol yang diteguknya. Dan entah sudah berapa banyak. Drew merasa menjadi perhatian beberapa laki-laki yang datang sendirian dan sepertinya punya misi mencari pasangan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;One night stand?&lt;/span&gt; Meski pikirannya sedang kacau, begitupun dengan hubungannya dengan Vint, Drew tak pernah berpikir sedikitpun untuk mencari perhatian atau cinta sesaat dari laki-laki lain. Drew tahu semua itu tidak berarti. Hanya akan membawa kerumitan yang disertai penyesalan tak berujung. Bukan itu yang dicarinya. Bukan. Dia mencari kebahagiaannya yang hilang. Bahagia yang dulu miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, belakangan ini Drew terus menerus merasa telah membuat pilihan yang salah dengan memilih Vint sebagai suaminya. Vint yang baik, Vint yang sukses, Vint yang tampan. Apa yang kurang dari dirinya? Harusnya tidak ada. Tapi memang ada yang kurang bagi Drew. Hanya saja Drew tak mampu mengatakannya secara langsung, walaupun ia berencana mengatakannya bila Vint menanyakannnya. Namun sialnya, Vint tak pernah menanyakannya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengapa kau terlihat tidak bahagia bersamaku? Mengapa kau ingin bercerai?&lt;/span&gt; Drew sendiri bingung tak pernah dikejar dengan pertanyaan semacam itu. Vint tak pernah menuntut penjelasan, meski mereka berdua tahu ada yang salah di antara mereka. Seakan-akan perkawinan mereka adalah drama membosankan yang tidak boleh dicemari oleh keributan dan perselisihan bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drew merasa pantas marah pada Vint. Marah karena Vint tak benar-benar peduli akan rasa dan keinginannya untuk bahagia. Vint yang mengira materi bisa membuat Drew tinggal di sisinya. Ia bahkan tak peduli bila hati Drew sebenarnya tak ada di sana. Drew merasa Vint bukan seorang lelaki yang pantas untuk dikagumi atau dicintai. Tidak. Dulu cintanya belum ada pada lelaki ini, sampai kapanpun tak akan diberikannya juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drew membayangkan Vint yang menunggunya seharian. Mungkin dengan kemarahan terpendam yang akhirnya akan ditumpahkannya. Bayangkan saja bila kau baru menghadiahkan isterimu sebuah Audi A8, lalu isterimu itu menghilang seharian hingga larut malam, dengan kondisi tak dapat dihubungi, dan kemudian dia pulang dalam keadaan setengah mabuk dan kembali minta cerai? Tiba-tiba Drew merasa puas dengan imajinasi di dalam kepalanya. Wajah Vint yang memerah menahan marah, ekspresi seakan-akan dia baru saja dikhianati... Itu bayaran yang setimpal setelah lelaki itu tidak menggubris permintaan cerai-nya, malah berusaha membeli cintanya dengan sebuah Audi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Drew tiba juga di rumah. Seperti dugaannya, Drew bahkan tidak perlu repot-repot memasukkan kunci rumah, karena Vint yang membukakan pintu untuknya. Drew bahkan tak menatap wajah laki-laki yang sebentar lagi bukan suaminya itu. Ia berlalu begitu saja, meski hatinya menunggu sebuah pertanyaan atau tuntutan penjelasan dari Vint. Karena dengan satu pertanyaan itu saja, Drew berencana akan menuntaskan drama membosankan ini dengan cepat dan sesuai dengan apa yang telah diputuskannya. Tak boleh ada yang salah lagi kali ini. Tak boleh termakan rayuan materi. Kali ini tak ada yang bisa dibeli Vint. Drew telah bersumpah pada dirinya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Drew masuk ke kamar, Vint mengekorinya. Drew melempar kunci Audy-nya ke meja rias, menimbulkan bunyi keras. Ia sengaja, memancing reaksi Vint. Tak sabar menunggu pertanyaan Vint. Namun masih sunyi. Tak sabar Drew berbalik menghadapi Vint yang tengah berdiri diam memperhatikan dirinya. Mata mereka bertemu. Ada kemarahan di sana, bukan di mata Vint, tapi di mata Drew.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ingin bercerai," kata Drew membuka suara dengan tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada reaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drew mulai tak sabar. Emosinya naik lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau boleh tidak menanyakan mengapa. Tapi aku tetap mau bercerai. Audi-mu? Aku kembalikan. Aku tak mau. Aku tak suka lagi Audi. Aku lebih suka kebebasanku, tanpamu. Tak peduli kau tak mengerti dan tak mau mengerti. Aku juga tak peduli lagi bila kau menolak. Karena aku telah putuskan ingin bercerai darimu. BERCERAI," kata Drew berapi-api dengan menekankan kata terakhir dengan penekanan yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali hening. Vint masih berdiri di sana, tanpa suara, tanpa gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drew semakin tak tahan. Benar-benar manusia berhati batu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau..." kata-kata Drew tertahan. Ia menghentakkan kakinya dengan kesal. "Sudahlah! Aku tak mau lagi berbicara denganmu. Tak berguna! Semua ini memang tidak perlu dibicarakan! Aku tidak perlu menjelaskan apapun, karena memang kau tak butuh penjelasan itu. Semua ini tidak penting!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drew berbalik, masuk ke dalam kamar mandi, membanting pintu kamar mandi dan terduduk di toilet, menangis. Ia menangis terisak-isak. Harusnya ia merasa bahagia dan menang telah melontarkan kembali keputusannya untuk bercerai, namun mengapa ia malah menangis? Apa yang ditangisinya? Drew sendiri tak tahu, namun ia merasa ia begitu tidak bahagia. Padahal ia mengira setelah mengumumkan keinginan bercerai ia akan bisa lepas dari ketidakbahagiaannya. Drew tiba-tiba merasa begitu gagal dan merasa begitu kesepian. Seperti dirinya berada seorang diri di dunia ini, tak punya siapa-siapa. Tak punya cinta. Dan di luar sana ada seorang lelaki yang telah mengawininya, berjanji selalu menemaninya sampai maut memisahkan mereka. Tapi sebelum maut itu datang, Drew sudah merasa terpisah darinya ribuan tahun. Tak terjangkau lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa lamanya Drew berada di dalam kamar mandi itu. Dia sendiri tak menyadari waktu yang telah berlalu, hingga airmatanya telah mengering. Dan ia merasa begitu lelah. Dan ruangan itu masih sesunyi sebelumnya, seakan hanya dia satu-satunya manusia yang ada di rumah itu. Pikirannya kembali teringat pada Vint, yang kini harusnya tengah tidur lelap, tak mengerti dengan kesedihan dan kemarahan wanita yang sebentar lagi bukan isterinya itu. Vint yang baik, Vint yang sukses, Vint yang tampan. Vint yang tak pernah benar-benar jadi miliknya. Vint yang tak pernah benar-benar menyentuh hatinya dengan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kamar mandi dibukanya dan betapa terkejutnya Drew mendapati Vint berdiri tepat di depan pintu. Baru saja Drew akan akan membuka mulut ketika Vint tiba-tiba memeluknya. Pelukan yang begitu erat yang membuat Drew hampir tak bisa bernapas. Terlalu erat, seakan-akan ingin berkata bahwa ia tak ingin melepaskan Drew lagi. Tak pernah rela untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan tinggalkan aku, Drew. Ajari aku bagaimana membuatmu bahagia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drew tertegun. Jantungnya seakan berhenti saat itu juga. Berapa lama ia menunggu sebuah kalimat itu keluar dari mulut Vint? Dan ketika Vint melepaskan pelukannya dan mata mereka bertemu, saat itulah Drew jatuh cinta pada Vint untuk pertama kalinya. Untuk pertama kalinya cinta Vint menyentuh hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://images.google.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-1591909568252620856?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/1591909568252620856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/02/just-another-love-story.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1591909568252620856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1591909568252620856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/02/just-another-love-story.html' title='Just Another Love Story...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S3w4b-ZMcYI/AAAAAAAAAKs/vpFA5lPkclo/s72-c/love.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-3703210717793879018</id><published>2010-02-09T20:20:00.000+07:00</published><updated>2010-02-09T21:43:12.747+07:00</updated><title type='text'>Nak, Boleh Ibu Peluk Sebentar?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S3FxypSm5VI/AAAAAAAAAKk/K1TYJ8Y6P6o/s1600-h/iz156010.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 254px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S3FxypSm5VI/AAAAAAAAAKk/K1TYJ8Y6P6o/s320/iz156010.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436251340104197458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kadang Tyas tak mengerti harus bagaimana menghadapi sang Ibu. Ibunya, wanita yang kini sudah mendekati kepala enam itu, bukanlah seorang wanita yang mudah dihadapi dan dimengerti. Semenjak mulai remaja, Tyas mulai melihat sosok ibunya sebagai sosok yang berbeda dengan sosok ibu yang selama ini ada di dalam angan-angannya. Terkadang Tyas berpikir apakah sikap ibunya diakibatkan oleh kemiskinan dan penderitaan yang harus dilalui mereka selama ini? Mungkin. Hanya saja, kini keadaan ekonomi mereka sudah sangat jauh membaik, namun sikap ibunya bukan semakin membaik melainkan semakin memusingkan kepala Tyas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya adalah seorang wanita keras yang hampir setiap waktu berpikiran negatif. Sering kali Tyas mencoba mengajaknya berbicara dari hati ke hati, mencoba memasukkan pikiran-pikiran positif pada ibunya. Tyas pun mengajak ibunya beibadah setiap minggu, berharap mungkin dengan begitu mata hati ibunya dapat terbuka. Ada yang mengatakan tabiat seseorang susah diubah apalagi bila seseorang itu sudah mulai berumur. Mungkin itu benar, karena meski telah berusaha berkali-kali, Tyas tetap merasa gagal mengubah sikap ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tyas sering merasa sedih melihat ibunya yang hingga kini tak pernah terlihat bahagia. Ada saja yang dikeluhkan ibu dari hari ke hari. Semua tak bisa memuaskan hatinya. Padahal Tyas sering mengingatkan ibunya bahwa sebenarnya di usianya yang telah senja ini, ibunya semestinya menikmati hidup dengan tenang tanpa banyak beban pikiran lagi. Lagipula semua anak-anak telah dewasa dan menemukan jalan masing-masing. Bahkan telah lahir cucu-cucu yang lucu yang harusnya bisa menjadi sumber kebahagiaan wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan dalam keluarga mereka tak pernah menjadi benar-benar damai. Anak-anak yang kini juga rata-rata telah menjadi orangtua mulai protes pada sikap ibu yang tak pernah mau berubah. Ibu yang selalu memikirkan diri sendiri. Ibu yang selalu mengeluh tentang apa saja, yang membuat anak-anaknya merasa enggan berada di dekatnya. Ibu yang menyimpan begitu banyak dendam masa lalu dan menjadikannya seorang wanita yang tak bahagia. Ibu yang sering ngambek untuk hal-hal kecil yang seharusnya bisa disikapinya dengan bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tyas pun sering merasa pusing menghadapi keluhan adik-adiknya tentang ibu. Keluhan yang sama dari waktu ke waktu tak pernah berubah. Bahkan belakangan ini adik-adiknya mulai mengambil jarak dan mulai menyerah, tak lagi punya keyakinan bahwa suatu hari Ibu mereka dapat disadarkan. Tyas pun sering merasa berdosa ketika ada pertanyaan terselip di pikirannya, "Benarkah ini Ibu yang melahirkan dan membesarkanku? Bukankah seorang Ibu harusnya lemah lembut dan punya cinta untuk anak-anaknya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya ibu tak pernah bersimpati atas kehidupan mereka, anak-anaknya. Membuat mereka merasa begitu jauh dengan wanita itu. Jangankan berpelukan, untuk memegang dan menyentuh tangan ibu saja mereka merasa sungkan. Ada dinding yang tidak kelihatan. Dinding yang terbentuk dari rasa kecewa dan perasaan tidak dicintai orangtua sendiri. Tyas sering berharap seandainya ibu mau membuka hati dan membiarkan mereka, anak-anaknya masuk. Anak-anak yang adalah darah dan dagingnya yang berasal dari dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini seperti yang sudah-sudah terjadi, Tyas menyempatkan diri bercakap-cakap dengan ibunya. Seperti biasa dalam percakapan mereka, Tyas selalu mencari kesempatan untuk mengingatkan ibunya untuk mengubah sikapnya yang negatif. Meski sebenarnya Tyas juga mulai merasa lelah, merasa melakukan pekerjaan yang sia-sia. Namun entah mengapa hatinya masih tidak mau menyerah juga pada wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan maksud Tyas untuk selalu menasehati orangtuanya sendiri. Ia pun tahu harusnya posisi mengingatkan itu datang dari ibunya. Bukan dirinya sebagai anak. Namun Tyas tak pernah merasa ibunya pernah berusaha menjadi contoh yang baik untuknya. Ibunya terlalu sibuk dengan pikiran dan dunianya sendiri. Dunia sempit yang tak pernah membuatnya tersenyum, meski sehari saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hari ini, entah mengapa ibunya tidak membalas perkataan-perkataan Tyas seperti yang biasa dilakukannya. Wanita itu hanya diam. Tak ada wajah tak suka di sana. Tak ada pembelaan diri seperti biasa. Bahkan tak ada kemarahan yang meledak seperti yang sudah-sudah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Tyas mengakhiri perkataannya, tiba-tiba sang Ibu mengangkat wajah, menatap Tyas lama. Ia kemudian bertanya, "Nak, boleh ibu peluk sebentar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tyas terpaku, bingung bercampur tak percaya. Ibunya? Memeluknya? Itu adalah sesuatu yang tak pernah berani diimpikannya selama ini. Namun tak sadar kepalanya terangguk pelan. Dan wanita itu memeluknya. Lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tyas merasa seakan waktu berhenti saat itu juga. Seakan dunia ini membeku dalam sebuah momen yang selamanya tak akan pernah bisa dilupakannya. Airmatanya menetes. Kerinduannya akan kasih ibunya setelah berpuluh tahun berlalu kini terbayar sudah. Segala rasa frustasi, kecewa dan sedih kini seakan-akan mendapat sebuah jawaban pasti. Ya, ini wanita yang telah melahirkannya. Wanita ini bukan sebuah batu tak berhati. Wanita ini, punya perasaan. Hanya saja selama ini ia bagai telah membeku, tak terjamah, tak tersentuh. Dan kini, mungkin karena Tuhan menjawab doanya, wanita itu tiba-tiba membuka hatinya dan membiarkan Tyas masuk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba semua keraguan Tyas bahwa mungkinkah ibunya juga memiliki hati yang baik sirna seketika. Ya, Tyas yakin ibunya memiliki hati yang baik. Di dalam sana, ada hati yang baik yang selama ini bersembunyi. Entah karena apa, entah mengapa, selama ini hati itu tak pernah terlihat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Tyas melepaskan pelukannya dan tersenyum. Itu senyuman yang terindah yang pernah Tyas lihat sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah lama Ibu ingin memeluk kalian," kata ibunya pelan, dengan mata berkaca-kaca sarat akan kerinduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tyas tak dapat menahan airmatanya kembali. Ya, Tuhan... Ternyata selama ini, wanita yang mereka rasakan tak berhati itu juga memendam kerinduan akan cinta. Segala kejadian buruk dan kesalahpahaman di antara mereka selama ini yang membutakan mata mereka akan kerinduan itu. Kerinduan yang tak terucapkan selama ini. Kerinduan yang telah dibungkus oleh ego masing-masing. Dan kini seakan telah memasrahkan dirinya pada kekuatan cinta, wanita itu melepaskan seluruh topeng hidupnya dan membiarkan jiwanya yang telanjang di hadapan sang anak. Mengakui dengan segala kerendahan hatinya sebagai seorang ibu bahwa dia telah lama merindukan anak-anaknya berada kembali dalam pelukannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://images.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-3703210717793879018?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/3703210717793879018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/02/nak-boleh-ibu-peluk-sebentar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/3703210717793879018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/3703210717793879018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/02/nak-boleh-ibu-peluk-sebentar.html' title='Nak, Boleh Ibu Peluk Sebentar?'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S3FxypSm5VI/AAAAAAAAAKk/K1TYJ8Y6P6o/s72-c/iz156010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-5442689231161608177</id><published>2010-02-07T21:11:00.000+07:00</published><updated>2010-02-07T22:54:27.049+07:00</updated><title type='text'>Bahasa Mandarin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S27c6ADyn4I/AAAAAAAAAKc/-QZlQhInA4w/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 116px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S27c6ADyn4I/AAAAAAAAAKc/-QZlQhInA4w/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435524689289191298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Meski dilahirkan di keluarga keturunan Tionghoa dan dari kecil sering mendengar bahasa mandarin digunakan Mama saat berbicara dengan teman-teman dan saudara-saudaranya, tetap saja lidahku tak pernah bisa melafalkan bahasa yang super susah itu dengan baik. Masalahnya, meski Mama dan Papa fasih berbicara, bahkan bisa menulis dengan baik dan benar (maklum, mereka masih sempat merasakan sekolah mandarin sebelum dilarang oleh pemerintah), mereka tidak pernah benar-benar mengajarkan kami bahasa itu. Hanya dipakai kadang-kadang dengan campuran bahasa Indonesia dan logat Makassar yang membuat bunyinya menjadi lebih aneh lagi. Apalagi setelah kemudian beberapa waktu lamanya bahasa mandarin sempat dilarang di Indonesia. Jadilah aku sebagai anak Indonesia keturunan Tionghoa, bermata sipit namun tidak bisa berbicara dalam bahasa nenek moyangku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu hari aku bekerja pada seorang pengusaha Korea. Ceritanya begini, si Korea ini ingin berbisnis dengan orang Taiwan. Si Korea tak bisa berbahasa mandarin dan si Taiwan juga tak bisa berbahasa Korea. Akhirnya Bos aku bertanya: "Angel, kamu bisa bahasa mandarin kan?" Dan aku yang sok tahu mengangguk dengan santainya. Lalu kemudian si Bos menginstruksikan apa saja yang harus aku katakan pada orang Taiwan itu. Seketika itu juga wajahku memucat. Tunggu! Aku memang tahu bahasa mandarin, tapi sedikit... Lebih banyak tahu dengar daripada tahu bicara. Masalahnya kalau disuruh berbicara, meskipun aku tahu apa yang harus aku katakan tapi biasanya yang keluar dari mulutku sering tidak sama dengan apa yang aku pikirkan. Soalnya beda nada sedikit saja dalam bahasa mandarin, artinya bisa langsung berubah jauh. Gawat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari kantor, aku segera menelepon Mama dan meminta Mama membuatkan kalimat-kalimat yang akan kukatakan pada si Taiwan. Dan kutulis di kertas lalu kuhapalkan. Tapi tetap saja aku merasa itu tidak akan berhasil dengan baik, karena besok aku bukan mau berpidato melainkan berbincang dengan si Taiwan. Ini percakapan dua arah. Nah, kalau si orang Taiwan itu bertanya macam-macam bagaimana? Bagaimana caraku menjawab dengan benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya di bawah tatapan mata Bos Korea itu aku menelepon orang Taiwan itu. Keringat dingin membanjiri wajahku. Suaraku kayak kucing tercekik, terbata-bata dan rasanya sembilan puluh persen nadaku salah semua. Lanjut ceritanya aku sendiri tak tahu si Taiwan menjadi lebih jelas dengan apa mau Bos-ku atau malah lebih pusing dari sebelumnya setelah mendengarkan penjelasanku yang tidak jelas....hahahaha....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian super memalukan itu, aku menolak mengatakan tahu bahasa mandarin. Biar saja orang-orang protes kenapa mataku sipit tapi hanya bisa berbahasa Indonesia. Dan sejak itu juga aku langsung kabur kalau Bos-ku memintaku menjadi perantara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku bertemu suamiku yang notabene bahasa sehari-harinya adalah bahasa mandarin. Meski aku berusaha selalu menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengannya, selalu saja dijawabnya dengan bahasa mandarin. Akhirnya mau tidak mau aku berusaha menggunakan bahasa mandarin juga. Dan telingaku mulai belajar menangkap penggunaan kata dan nada yang benar darinya. Yang membuatku belajar dengan cepat adalah suamiku tak pernah mengkritik kata-kata yang salah kuucapkan. Malah dia selalu serius mendengarkan. Cuma kadang-kadang ketika aku melihat ekspresi aneh di wajahnya aku bertanya padanya, "Mimpai ma?" (Mengerti gak?) Dan dia menggeleng....hahahaha... Jadi ternyata sering kali dia sendiri tidak mengerti apa yang kukatakan tapi bersikap bijak tidak mau memprotes sehingga aku tetap percaya diri berkata-kata dalam bahasa mandarin... (Jadi ingat Ibu kost yang tidak pernah mengkritik tulisan2ku.... Jadi pede-pede aja, merasa kayak orang jago nulis....hihihi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering dibawa bertemu teman-teman suamiku yang rata-rata orang luar dan berbahasa mandarin. Dan itu kugunakan sebagai kesempatan belajar juga. Telingaku kubuka lebar-lebar. Terus terang aku hanya mampu mengerti sekitar empat puluh persen pembicaraan mereka. Selebihnya aku menebak-nebak apa yang mereka maksudkan. Sering juga sepulang dari sana, aku bertanya pada suamiku, apa arti kata ini, apa arti kata itu... Kalau mereka berusaha berbicara denganku, aku juga berusaha menjawab. Meski sering aku lebih banyak merasa malu, karena setelah mendengar jawabanku, kadang-kadang wajah mereka terlihat aneh. Itu menandakan pasti ada yang salah dengan pengucapan kata-kataku. Cuma aku sendiri merasa sudah benar dan tidak tahu di mana letak kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku masuk dalam keluarga besar suamiku. Ini lebih susah lagi. Mereka tidak mengenal bahasa Indonesia. Jadi seratus persen aku harus berusaha memakai bahasa mandarin untuk bisa berkomunikasi dengan mereka. Sepeti biasa aku pakai cara menebak-nebak. Sering Ibu mertuaku bercerita padaku lalu dia bertanya, "Mimpai ma?" Dengan cepat aku selalu menganggukkan kepala atau berkata: "Mimpai." Menurutku itu cara cepat supaya tidak repot. Padahal sering aku sebenarnya tidak mengerti jelas. Sampai suatu hari seperti biasa Ibu mertuaku itu bercerita padaku dan bertanya lagi: "Mimpai ma?" Aku mengangguk. Tiba-tiba dia bertanya lagi: "Terus menurutmu bagaimana?" Waduh! Bagaimana, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bagaimana&lt;/span&gt;? Ceritanya saja aku tidak mengerti, bagaimana aku mau menjawab bagaimana???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun aku terus belajar mendengar dan berbicara. Aku sendiri tidak tahu apakah bahasa mandarinku sudah ada kemajuan atau tidak. Yang selalu ada di kepalaku malah aku tidak pandai berbahasa ini. Sampai kemudian orang-orang mulai suka mengira aku ini bukan orang Indonesia. Katanya bahasa mandarinku fasih. Begitupun dengan Ibu mertuaku yang bilang sekarang lebih gampang berbicara denganku daripada dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata fasih di Indonesia belum tentu hebat di negara asal bahasa mandarin itu sendiri. Negeri Panda. Aku ingat pertama kali menginjakkan kaki ke Cina dan terbengong-bengong mendengar mereka berbicara. Ya, ampun! Bilang apa mereka??? Kata-kata yang mereka keluarkan seperti orang-orang lagi berkumur dan berusaha berbicara. Itu kesan pertama yang kudapat. Boro-boro berbicara dengan mereka, sepotong kata saja kadang tidak bisa kutangkap dan kumengerti. Kalau bahasa mandarin di Indonesia saja nadanya sudah susah, ini lebih-lebih susah lagi. Seperti mendengar lagu lama dengan aransemen berbeda. Aneh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadinya aku lebih banyak diam dan bersembunyi di belakang suamiku. Kalau diajak berbicara, cepat-cepat aku menoleh ke arah suamiku. Minta dia yang menjawab (jadi kayak Presiden punya juru bicara....hahaha). Yang parah, kalau ada orang Cina yang menelepon ke handphone-ku dan menanyakan sesuatu. Kalau kebetulan suamiku ada, aku masih bisa langsung berkata, "Ten i sia ce" (tunggu sebentar), lalu handphone-ku kusodorkan ke suamiku. Beres. Tapi masalahnya kalau suamiku lagi tidak ada, aku terpaksa berusaha mengobrol dengan orang Cina itu. Obrolan itu bisa menjadi obrolan panjang yang berputar-putar, karena aku berusaha menjelaskan apa yang ingin aku katakan. Sementara orang Cina itu berusaha menjelaskan balik apa yang dia kira aku katakan.... Capek deh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula kata-kata Cina yang sering dipakai di Indonesia, ternyata banyak berbeda dengan kata-kata yang dipakai di Cina. Misalnya kita menyebut customer dengan kata :"Ku Khe". Mereka menyebutnya dengan kata: "Khe Fu." Awal-awalnya aku jadi bingung. Lama-lama aku akhirnya terbiasa menggunakan kata-kata yang berbeda pada orang-orang yang berbeda.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pengalaman-pengalamanku selama aku belajar menggunakan bahasa mandarin. Sekarang aku sudah sedikit lebih pede. Sudah bisa mengangkat telepon tanpa rasa takut bila ada panggilan dari Cina. Meski sebenarnya masih delapan puluh persen yang aku mengerti. Sisanya? Seperti biasa, tebak saja! Pakai feeling ;-p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang juga aku sudah bisa menangkap gaya dan nada bicara di negeri Cina sana. Tidak mendengar suara kumur-kumur lagi, tapi yang mereka ucapkan sudah berbentuk kata-kata yang ditangkap oleh telingaku. Meski sebenarnya Cina itu terlalu luas dan orang-orang Cina yang datang dari bebagai daerah punya logat dan nada yang berbeda-beda pula. Tapi jangan suruh aku berkaraoke di sana. Soalnya di Cina semua lagu tidak disertai teks Pin Yin, seperti di Indonesia. Sering aku cuma bengong dan mereka keheranan. Terpaksa aku mengaku: aku bisa berbahasa mandarin tapi aku buta huruf, alias tidak bisa membaca. Jadinya, orang-orang Cina yang mau berurusan denganku lewat email dan messenger kupaksa belajar bahasa Inggris. Karena semua email yang masuk menggunakan bahasa mandarin, akan kubalas kembali dengan pesan singkat: "Please write in English." (Bagus kan, aku mengajak mereka belajar bahasa asing....hehehe). Belajar membaca dan menulis bahasa mandarin? Nanti dulu deh... Hidupku sudah cukup rumit tanpa ditambah harus mengingat huruf-huruf kanji yang menurutku 'very complicated' itu (jurus ngeles...wkwkwkwk). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang akhirnya aku mengerti, untuk bisa bahasa (aktif), sebenarnya yang terpenting bukanlah ambil kursus. Kursus lebih mengarah pada tahu bahasa secara pasif. Tapi bila ingin bisa aktif berbahasa, yang terpenting adalah bagaimana berlatih menggunakan bahasa itu setiap hari, langsung dengan orang-orang yang berbahasa sama. Cara itu lebih cepat dan efektif. Karena di saat praktek langsung itu, kita bisa langsung tahu kesalahan kita dan bisa mendengar kata-kata yang benar dari pihak lain. Juga perlu memutuskan urat malu, yang penting pede. Jangan takut berbicara. Benar salahnya urusan belakang. Karena kalau kita berusaha terus menerus, lama-lama lidah kita akan terbiasa dan menjadi terampil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, semoga ceritanya bermanfaat buat yang lagi belajar berbicara bahasa mandarin... :-D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link:http://images.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-5442689231161608177?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/5442689231161608177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/02/bahasa-mandarin.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5442689231161608177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5442689231161608177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/02/bahasa-mandarin.html' title='Bahasa Mandarin'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S27c6ADyn4I/AAAAAAAAAKc/-QZlQhInA4w/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-8824253198730772287</id><published>2010-02-05T22:02:00.000+07:00</published><updated>2010-02-13T15:27:21.556+07:00</updated><title type='text'>Tak Tersentuh....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S2xCnMryVjI/AAAAAAAAAKU/wlXfVc_gSCA/s1600-h/70359-bigthumbnail.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 221px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S2xCnMryVjI/AAAAAAAAAKU/wlXfVc_gSCA/s320/70359-bigthumbnail.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434792091516556850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dulu kukira tanganku dapat menyentuh langit&lt;br /&gt;Saat coba kugapai, aku baru sadar&lt;br /&gt;Ternyata langit selalu tampak begitu dekat&lt;br /&gt;Namun selamanya tak tersentuh&lt;br /&gt;Itu yang kini kurasakan tentangmu&lt;br /&gt;Selamanya tak tersentuh....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku membuatmu jatuh cinta padaku, kukira ini akan menjadi sebuah permainan yang menarik. Melihat binar di matamu, melihat pipimu yang merona ketika sengaja kutatap tanpa kedip... Melihat kau tertunduk malu dan kemudian mencuri pandang lagi dengan penuh harap...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu duniamu seakan menjadi milikku. Aku yang menuangkan warna duniamu. Aku yang melukis gambar duniamu. Duniamu lahir dari sapuan kuasku. Duniamu ada di dalam tangan, hasrat dan kehendakku. Aku dapat membuat duniamu seindah surga dengan bahagia yang tak berakhir. Aku juga dapat meniupkan keresahan, kebimbangan dan sedih di sana. Semua, tentang duniamu adalah milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku membuatmu jatuh cinta, kupikir akulah pemenangnya. Kupikir setelah kuhisap manis cintamu, aku dapat terbang ke manapun aku suka. Tak melekat. Kupikir setelah waktu berlalu, seperti itu jugalah bayangmu dan namamu akan berlalu. Karena ini cintamu, bukan cintaku. Ini pengorbananmu, bukan pengorbananku. Ini kerelaanmu, bukan kerelaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah kukira, cinta yang lahir itu, yang kukira hanya lahir di dirimu, kini mengikat dan menjeratku. Membuat aku terpenjara dan menjadi tawanan atasnya. Membuat aku bukan milikku lagi. Membuat aku bukan diriku lagi... Sungguh, tak pernah kukira cinta itu kemudian tak pernah mau pergi. Tak pernah kukira kini cinta itu melekat kuat padaku. Dan tak pernah kukira, hatiku tak pernah rela mengijinkan manis itu berakhir. Manis itu kini akhirnya menjadi candu jiwaku yang membuatku tenggelam dalam kubangan cinta. Kubangan cintaku untukmu. Bukan cintamu untukku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku membuatmu jatuh cinta, tak pernah terlintas olehku kalau aku akan menjadi korban cinta ini juga. Kini aku yang terpesona akan dirimu. Tergila-gila. Terikat. Teracuni. Kubiarkan duniaku jatuh ke tanganmu. Kini kaulah sang pelukis yang melukiskan indah dan suram duniaku. Senyummu menjadi bahagia tak berakhirku. Dan gelengan kepalamu, ketidaksetujuanmu, menjadi derita tak berujungku. Cinta ini menjadi anugerah sekaligus kutukan bagi hidupku. Karena dari seorang penguasa kini aku menjadi seorang tawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku membuatmu jatuh cinta, aku mengira kau dapat kuraih dan kugapai dengan mudah. Namun kini ketika kau membuatku jatuh cinta, aku baru tersadar. Kau bagai langit di atas sana, kau begitu dekat namun selamanya tak dapat kusentuh. Cinta ini kini membuatku merana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://images.google.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-8824253198730772287?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/8824253198730772287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/02/tak-tersentuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8824253198730772287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8824253198730772287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/02/tak-tersentuh.html' title='Tak Tersentuh....'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S2xCnMryVjI/AAAAAAAAAKU/wlXfVc_gSCA/s72-c/70359-bigthumbnail.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-2697786509817873993</id><published>2010-01-24T13:23:00.000+07:00</published><updated>2010-01-24T14:34:47.592+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Cerita Cinta...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S1v2NHUFJjI/AAAAAAAAAKE/8pLXByb_7ug/s1600-h/father-daughter.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 308px; height: 319px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S1v2NHUFJjI/AAAAAAAAAKE/8pLXByb_7ug/s320/father-daughter.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430204480887268914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mengelus-elus kepala anak perempuan yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sudah hampir dua minggu. Tak ada kemajuan yang telihat, bahkan sebaliknya, wajah mungil itu semakin terlihat menderita. Mengiris-iris hati lelaki itu, berharap seandainya saja ia bisa menggantikan tempat anak itu dan mengambil semua deritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chika, nama anak perempuan berumur sembilan tahun itu. Dia adalah anak tunggal dari sebuah keluarga berada. Chika termasuk anak yang beruntung, papa dan mamanya adalah orang-orang yang hangat dan selalu ada menemani hidupnya. Namun sayang, dalam usianya yang begitu muda Chika mengidap penyakit yang kemudian membuatnya harus berhenti bersekolah dan tinggal di rumah sakit. Penyakit yang mengambil seluruh keceriaan masa kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chika mengerang, sesekali terdengar suara kecilnya yang memanggil-manggil dengan susah payah. Lelaki yang adalah papanya itu mendekatkan telinganya ke mulut Chika, berusaha menangkap kata-kata yang keluar. Sesaat, Chika membuka matanya. Mulutnya yang kering dan bergerak lambat, memanggil sang Papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, Nak? Papa di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Chika tergerak, berusaha menggapai papanya. Namun segera tangan itu terjatuh lagi. Lelaki itu segera mengambil kedua tangan anaknya dan merangkulkannya erat ke lehernya. Ditempelkannya pipinya ke pipi sang Anak. Merasakan kulit halus itu masih hangat. Sebuah rasa syukur mengaliri jiwanya yang merana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Papa di sini, Nak. Papa sayang padamu," bisik lelaki itu dengan suara bergetar. Sesetes airmata jatuh mengalir dari sudut matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia teringat sembilan tahun lalu ketika ia sedang merencanakan pernikahan dirinya dan kemudian mendapati bahwa calon isterinya hamil dan bukan benih dari dirinya. Ia sangat terpukul akan kenyataan itu. Tak pernah menyangka bahwa kekasihnya yang telah empat tahun menjalin hubungan dengannya melakukan kesalah bodoh bersama lelaki lain dalam keadaan tak sadar. Sebagai lelaki, egonya menyuruhnya untuk membatalkan pernikahan dan melupakan wanita itu. Namun ia terlampau mencintai wanita itu. Mereka telah menjalin hubungan yang baik selama tiga tahun pertama, hanya saja pada tahun keempat ia mesti meninggalkan sang Kekasih dan pergi bekerja di luar negeri. Tak pernah disangkanya kepergiannya membuahkan sebuah tragedi yang hampir membuatnya depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia pulang dan mendengarkan sebuah kejujuran pahit dari sang Kekasih yang meminta maaf dan merelakannya untuk pergi, ia tak mampu meninggalkan wanita itu. Berhari-hari ia terombang-ambing tak mampu mengambil keputusan. Ia ragu. Apakah ini akan menjadi keputusan yang benar atau salah. Separuh dirinya mempertanyaan kepercayaannya pada kekasihnya itu. Separuh dirinya lagi menangis mengingat semua tragedi yang telah menimpa kekasihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika kekasihnya melahirkan, mula-mula ia dipenuhi dengan kemarahan dan penyesalan. Ia merasa kalah dan merasa telah dikhianati oleh kekasih, dunia dan Tuhan. Tapi entah mengapa, ia pergi juga menjenguk wanita itu dan bayi perempuannya. Saat itulah semua kemarahan dan penyesalannya hilang entah ke mana. Ia jatuh cinta pada bayi cantik itu. Ia melihat sosok kecil tak berdosa itu begitu rapuh dan hatinya tergerak untuk melindunginya. Ia akhirnya menyerah pada cinta. Cinta pada sosok kecil yang bahkan belum membuka matanya untuk melihat dunia. Dan cinta pada wanita yang telah menawan hatinya sejak bertahun-tahun silam. Ya, ia masih mencintai wanita itu. Dan akhirnya ia memutuskan untuk memberi maaf dan menerima wanita itu dengan keadaannya yang tidak sesempurna seperti yang ia harapkan. Memutuskan untuk berada di samping mereka berdua, dua sosok yang telah menyentuh hatinya. Juga memutuskan untuk melepas semua ego dan keraguan yang masih tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ternyata mampu mencintai Chika seperti darah dagingnya sendiri. Bahkan mungkin lebih. Chika adalah sumber kebahagiaan dan tawanya. Yang kemudian membuat hidupnya lebih hidup dan bermakna. Namun, tiga tahun kemudian, sang Isteri akhirnya pergi duluan, meninggalkan dunia ini karena penyakit turunan yang di deritanya. Ia patah hati. Kesedihannya terasa begitu panjang dan menyakitkan. Namun, kehadiran Chika-lah yang membuatnya mampu bertahan dan tersenyum kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari dalam hidupnya, ia melihat Chika sebagai anugerah terbesar yang diberikan Tuhan padanya. Ia tak pernah lagi mengutuki tragedi dulu yang membuat pernikahannya menjadi tak sempurna. Ia kini bahkan melihat sebuah kesempurnaan dari takdir hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, permata hatinya itu pun sakit. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Segala macam pengobatan telah diusahakannya. Namun sekali lagi ia harus pasrah pada nasib. Hatinya patah sekali lagi, namun ia masih tak mengutuk takdir hidupnya. Setiap hari ketika ia membuka mata dan masih menemukan gadis kecilnya bernapas, ia mengucap sebuah syukur dari hatinya yang terdalam. Masih ada satu hari lagi bersamanya. Dan dalam setiap tarikan napasnya, ia memanjatkan sebuah harap dan doa untuk diberikan kebersamaan yang lebih panjang dengan buah hatinya itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo link: http://media.photobucket.com/image/daughter with father on the bed photo/Lil_d_shorty/father-daughter.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-2697786509817873993?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/2697786509817873993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/01/sebuah-cerita-cinta.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2697786509817873993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2697786509817873993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/01/sebuah-cerita-cinta.html' title='Sebuah Cerita Cinta...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S1v2NHUFJjI/AAAAAAAAAKE/8pLXByb_7ug/s72-c/father-daughter.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-8601577908109996969</id><published>2010-01-14T15:12:00.000+07:00</published><updated>2010-01-14T18:12:06.647+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Kisah Tentang Dirinya...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S0762qZlg_I/AAAAAAAAAJ0/viG_5SAxtP0/s1600-h/mother-daughter3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S0762qZlg_I/AAAAAAAAAJ0/viG_5SAxtP0/s320/mother-daughter3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426550418029511666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wajah yang dihiasi kerutan-kerutan itu terlihat begitu sedih. Mata indah bulat yang biasanya memancarkan ketegasan diri kini berkaca dan mulai memerah. Bibir tipisnya gemetar, menceritakan kisah puluhan tahun yang lalu, yang membuatku terpaku tak bisa berkata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menikah karena perjodohan keluarganya. Suaminya adalah seorang lelaki tampan, anak pertama yang dalam adat keluarga Tionghoa merupakan penerus keluarga. Karenanya setelah menikah, dia ikut bersama suaminya tinggal di dalam rumah mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mertuanya adalah seorang wanita kolot yang sangat menjunjung tinggi aturan-aturan lama. Karena itu, sebagai menantu yang baik, dia harus melayani sang Ibu mertua dalam kesehariannya. Mulai dari menyiapkan air cuci muka di pagi hari, air panas untuk mandi sang Ibu dan juga menu makanan yang sesuai dengan kemauan wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehariannya adalah bekerja. Dari sejak ia membuka mata hingga menutup mata lagi di malam hari, ia harus membereskan semua pekerjaan rumah dan membuat ibu mertuanya tenang. Bila tidak, ia harus siap menerima segala kemarahan sang Ratu keluarga. Terkadang ia menginginkan sebuah hiburan, pergi melihat dunia luar bersama sang Suami, namun kerutan di dahi mertuanya dan tatapan yang tak suka membuatnya sering mengurungkan niatnya. Baginya kata 'kebebasan' adalah sebuah kata asing yang tak akan pernah mampu diraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan terbesarnya datang ketika ia melahirkan seorang puteri cantik. Walaupun itu berarti pekerjaannya semakin bertambah banyak. Meskipun juga, sebenarnya kehadiran puterinya tersebut tak disambut dengan baik dalam keluarga karena sesuai dengan kepercayaan dan adat orang-orang mereka, anak perempuan tidak lah seberharga anak laki-laki. Seandainya saja ia melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia akan mendapat perlakuan istimewa, begitupun dengan sang Anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun malang, anak tersebut kemudian sakit. Ia tak mengerti sakit apa yang diderita anaknya itu. Suatu hari ia menemukan puteri cantiknya itu tak bernapas lagi. Yang lebih menyedihkan lagi ketika mertuanya melarang dirinya ikut pada penguburan anak tersebut. Ia hanya bisa melihat jasad anaknya dibawa oleh orang-orang yang tak dikenalnya dengan kepasrahan total seorang menantu. Tak pernah ada acara penguburan seperti yang biasa dilakukan bila seorang anggota keluarga telah berpulang. Seakan-akan bayi mungil itu tak juga mendapat pengakuan dari keluarga besarnya. Dan ketika ia bertanya pada orang-orang di rumahnya di mana anak tersebut dikuburkan, tak ada yang dapat memberinya sebuah jawaban. Meski suaminya sendiri. Hingga hari ini, dia masih terus bertanya-tanya sendiri, di mana tubuh puterinya berada. Ia ingin bisa berziarah ke makam sang Puteri seperti yang biasa ia lakukan pada kerabat-kerabat yang telah pergi, namun bagaimana mungkin itu dilakukannya? Ia takut bila saja jasad puterinya itu telah dibuang begitu saja, di tempat yang tidak layak. Dan itu membuat kecemasan dan kesedihan hatinya tak pernah berakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tiba-tiba dia mengisahkan sepotong kisah pahit itu dengan linangan airmata. Aku tak mampu berkata-kata. Tertegun, tak pernah menyangka kisah masa lalunya begitu keras dan kejam. Selama ini aku mengenalnya sebagai wanita yang keras dan selalu mampu memutuskan segala sesuatunya sendiri. Yang seakan-akan mampu menggenggam dunia di tangannya. Sosok yang  membuatku segan namun juga menaruh hormat padanya. Tak pernah kubayangkan dirinya pernah hidup dalam tekanan aturan keras yang telah menorehkan luka dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku protes akan sikap kerasnya dan begitu banyak larangan-larangan yang dikeluarkannya. Terkadang aku tak mengindahkan aturan-aturan yang diterapkannya. Namun ada juga banyak saat di mana aku luluh melihat betapa besarnya hati dan cintanya untuk kami. Di balik semua sikap kerasnya, dia masih punya selautan perhatian dan kasih sayang yang diberikannya. Bahkan tak pernah sekalipun dia berkeinginan mengulang kisah yang sama, kisah dulu, di mana menantu menjadi jajahan mertua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah dituntutnya untuk melayani. Bahkan kerap kali ketika aku mengunjunginya, yang memang hanya bisa kulakukan beberapa kali dalam setahun karena jarak yang memisahkan kami antar negara, dia yang menyiapkan semua makanan untukku. Bahkan dia tahu apa saja makanan kesukaanku. Tiap kali aku datang, makanan-makanan tersebut sudah terhidang di meja makan. Membuatku merasa begitu dicintai sekaligus membuatku merasa malu dan tak enak, mengingat statusku ini. Bahkan dia sering melarangku mengerjakan pekerjaan rumahnya. Namun aku selalu senang membantunya, melihat wajahnya yang bahagia ketika aku mau meringankan bebannya meski hanya dengan pekerjaan-pekerjaan rumah yang ringan dan sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dia Ibu mertuaku. Wanita bersosok mungil yang sering kali terlihat susah untuk dimengerti dan banyak menuntut. Namun juga merupakan wanita penyayang yang punya banyak cinta dan kasih sayang. Ia selalu tampak tegar. Selalu tampak kuat di mataku. Namun hari ini dia menangis di hadapanku. Aku hanya bisa mengelus pundaknya, menggenggam tangannya. Tak mampu menghiburnya dengan kata-kata penghiburan apapun. Aku hanya memanjatkan sebuah doa kepada Tuhan. Berharap Dia menyembuhkan luka hati dan memberi sebuah ketenangan jiwa pada wanita hebat ini. Karena bagaimanapun juga, apapun yang telah terjadi di masa yang lalu tak bisa lagi untuk diubah. Namun satu hal yang aku temukan di matanya, cinta seorang Ibu pada puteri mungilnya hingga kini masih ada di hatinya yang lembut. Cinta itu tak pernah berubah, meskipun empat puluh tahun telah lama berlalu...  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.luminousplayhouse.com/wp-content/uploads/mother-daughter3.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-8601577908109996969?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/8601577908109996969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/01/sebuah-kisah-tentang-dirinya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8601577908109996969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/8601577908109996969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/01/sebuah-kisah-tentang-dirinya.html' title='Sebuah Kisah Tentang Dirinya...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S0762qZlg_I/AAAAAAAAAJ0/viG_5SAxtP0/s72-c/mother-daughter3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-7357341890142915172</id><published>2010-01-11T13:26:00.000+07:00</published><updated>2010-01-11T14:18:57.857+07:00</updated><title type='text'>Sadness...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S0rPBvl5tFI/AAAAAAAAAJs/sDKAExuTq90/s1600-h/14277-Sad_butterfly.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S0rPBvl5tFI/AAAAAAAAAJs/sDKAExuTq90/s320/14277-Sad_butterfly.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425376329983439954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku menolak untuk menangis. Tidak aku tidak sedang ingin menangis. Aku juga menolak untuk marah. Marah tak baik untuk diriku. Aku percaya bahwa bila hati masih memiliki harapan dan keyakinan, pasti ada jalan untuk mencerahkan semua yang keruh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika kata tak lagi berguna. Ketika ketulusan dan kejujuran tak lagi menjadi sesuatu yang dihargai, lalu bagaimana kekeruhan bisa dijernihkan kembali? Dan ketika kepercayaan hanyalah sebuah kata kosong tak bermakna, apa lagi yang bisa kau agungkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam? Ya, kini aku memilih untuk diam. Diam seribu bahasa. Karena telah habis seluruh kata-kataku kugunakan. Telah kutumpahkan semua ketulusan dan kejujuran hati yang pada akhirnya harus pulang kembali padaku dengan wajah lesu bak seorang pejuang yang kalah di medan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baik-baik saja. Itu kukatakan pada diriku setiap hari. Itu yang kuingatkan pada diriku setiap saat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, beberapa hari ini, tubuhku mulai menolak kata-kata itu. Tubuhku mulai mengingkari pernyataan itu. Langkahku mulai goyah. Gerakanku mulai terasa lemah. Dan bahagiaku kini bersembunyi tak mau menampakkan wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa kubohongi diriku. Tak bisa kuiming-imingkan hari esok yang lebih berwarna. Ya, diriku tengah berduka. Berduka untuk pengkhianatan beruntun yang datang dari orang-orang yang kukasihi. Orang-orang yang selama ini berkata satu hati denganku. Orang-orang yang selama ini begitu manis dan indah bersikap di hadapanku. Namun pada akhirnya mereka jualah yang mematahkan semua harapan dan semangat diriku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit. Hatiku sakit seperti diiris mata pisau yang tajam. Dan kini hatiku terluka. Meski aku menolak untuk mengakuinya, luka itu ada di sana. Menganga dan perih. Meski aku tetap diam dalam ketenangan menjalani hari-hari ini dan berusaha tetap menolak semua rasa sakit dan duka itu, kini tubuhku memberontak, tak mau menurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ada yang salah dengan tubuhku. Bukan karena virus atau penyakit yang menjadi penyebabnya. Tapi sakit hatiku lah yang membuatnya ikut melemah dan sakit. Sebuah tanda dari tubuhku untuk membangunkanku dari kepura-puraan diri. Aku seakan mendengarnya berteriak: "Menangislah! Marahlah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bila aku dapat menangis dan berteriak marah, tubuhku tak perlu ikut sakit. Mungkin bila aku dapat menangisi kekecewaan hatiku ini, mungkin kini aku baik-baik saja. Hanya saja aku terlalu angkuh untuk meneteskan airmataku. Bukan. Bukan angkuh sebenarnya. Mungkin kau pun tak akan mengerti. Terlalu banyak kekecewaan yang tak ingin lagi kubahas dan kurenungkan lagi. Aku hanya ingin melupakan semuanya tanpa perlu mengingatnya lagi. Namun sayang, pikiran dan hatiku kini telah merekam semuanya dengan sangat jelas. Dan hatiku ini, ternyata tak pernah sekuat baja. Kini dia bersembunyi di sudut jiwaku, mengecil dan tak tampak seindah dulu. Ia bak sebuah tanaman yang melayu karena tak mendapatkan siraman cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam, aku tiba-tiba teringat pada-Nya. Rindu bercakap-cakap dengan-Nya lagi. Tapi kemudian kututup mataku dan kupaksakan diriku untuk melupakan-Nya juga. Tidak, aku tak ingin mempertanyakan-Nya. Aku tak ingin menyalahkan-Nya. Dan saat ini, aku bukan seseorang yang dapat berbicara dengan baik pada-Nya. Aku tahu bukan diri-Nya yang salah. Akulah yang bertemu orang-orang yang salah. Orang-orang yang tak tahu akan nilai kepercayaan dan ketulusan. Dan itu yang membuat aku tak mengerti. Itu yang membuatku terus bertanya: "Mengapa?" Dan pertanyaan itu tak pernah berjawab. Semua alasan yang ada rasanya tak pernah menjadi logis dan benar. Dan tetap tak bisa kutemukan jawaban yang bisa mendamaikan hatiku. Atau mengikhlaskan rasa sakitku untuk hilang. Tak pernah rela... Tak pernah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak ingin mendendam. Aku tak pernah ingin membenci. Namun, aku juga tak pernah bisa mengerti dan menerima. Membuat diriku semakin terpuruk dalam duka yang tak berakhir. Menyalahkan diri sendiri yang tak pernah lelah menyimpan harap yang seakan tak berguna sama sekali. Tak pernah mau menyerah. Terlalu keras kepala...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyangkalan rasa ini benar-benar menguras semua energi tubuh dan jiwaku. Aku harus berhenti. Karena tak ada energi yang tersisa untukku bertahan dalam topeng kedamaian ini. Aku butuh untuk menangis. Menangisi semua sakit dan kecewa hatiku. Mengeluarkan semua caci maki yang terpendam, yang selama ini tabu untuk kuucapkan. Dan semoga bila semua telah kulakukan, hatiku akan kembali membesar dan bersinar. Dan semoga, ketika luka telah kututup dan kusembuhkan, bahagia mau kembali menampakkan wajahnya padaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong doakan aku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.desicomments.com/user/2008/03/6177/14277-Sad_butterfly.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-7357341890142915172?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/7357341890142915172/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/01/sadness.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/7357341890142915172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/7357341890142915172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2010/01/sadness.html' title='Sadness...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/S0rPBvl5tFI/AAAAAAAAAJs/sDKAExuTq90/s72-c/14277-Sad_butterfly.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-5929918460191328999</id><published>2009-12-29T09:59:00.000+07:00</published><updated>2009-12-29T13:17:56.630+07:00</updated><title type='text'>Hidup Bagai Sebuah Jalan...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Szl_PDUO_TI/AAAAAAAAAJk/HAWmObM-i7A/s1600-h/street-road-vehicles-car-shops.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Szl_PDUO_TI/AAAAAAAAAJk/HAWmObM-i7A/s320/street-road-vehicles-car-shops.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420503523082042674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Duduk dalam mobil, menatap jalan di depan, tiba-tiba aku disadarkan akan hidup yang telah kulewati. Ya, hidup ini juga bagai sebuah jalan. Dan kita semua bagai kendaraan-kendaraan yang lalu lalang, yang mengarah ke suatu tempat dengan tujuan masing-masing. Ada yang searah. Ada yang setujuan tapi tidak searah. Ada yang hanya berjalan bersama sampai titik tertentu dan kemudian berpisah di tikungan tertentu, ada juga bisa yang terus bersama-sama hingga akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerap kita berhenti di lampu merah yang sama, bersisian, saling memandang tanpa saling mengenal. Kerap kita saling memberi senyum ramah, sekedar sebuah tanda perkenalan yang singkat. Tapi kerap juga kita bersisian atau saling melewati tanpa saling memandang dan memperhatikan karena kita masing-masing sibuk dengan pikiran masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga orang-orang yang kita ajak sekendaraan. Orang-orang yang telah kita pilih untuk bersama-sama berjalan dalam hidup ini. Suami, istri, anak-anak, orangtua, saudara dan sahabat-sahabat. Tapi sering pula terjadi bahwa pilihan itu akhirnya berubah. Sering kita terpaksa merelakan orang-orang tersebut memilih kendaraan yang lain, bersama dengan orang yang lain. Seperti dalam perceraian misalnya. Atau mereka yang memang tak bisa bersama-sama dengan kita karena telah sampai duluan pada tujuan mereka. Yang harus turun pada tempat tertentu. Ya, seperti saat kematian datang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan panjang yang terkadang membuat kita bertanya-tanya berapa lama lagi kita akan sampai ke tujuan, kita selalu berharap perjalanan itu lancar-lancar saja. Tapi terkadang kita menemui hambatan atau musibah. Tanpa kita sangka-sangka terjadi kecelakaan. Kecelakaan ringan seperti terserempet kendaraan lain. Sama seperti dalam hidup ketika seseorang menyerempet kita baik dengan kata-kata atau perbuatan yang membuat kita terluka. Lalu apa yang terjadi saat kendaraan kita diserempet? Marah? Ya, reaksi pertama yang umumnya terjadi bila kita terserempet adalah marah atau kesal. Turun dari mobil dengan wajah tertekuk, memeriksa kendaraan kita dan minta pertanggungjawaban dari si penyerempet. Bila si penyerempet turun dengan wajah bersalah dan permintaan maaf, kita biasanya kemudian memilih jalan damai. Claim asuransi saja, atau bayar ganti rugi. Tapi bila si penyerempet yang jelas-jelas sudah salah malah turun dengan wajah marah dan balik menyalahkan kita, apa yang terjadi? Kita biasanya bertambah marah dan ngotot membela kebenaran kita. Logikanya memang kita berhak membela kebenaran kita. Tapi kejadian tak selalu harus seperti itu. Reaksi masing-masing orang berbeda. Ada yang mengalah dan memilih tidak mempermasalahkan kejadian itu. Ada yang menuntut ganti rugi hingga harus ke kantor polisi. Ada yang esok harinya sudah melupakan peristiwa itu. Ada yang bertahun-tahun masih menyimpan marah dan dendam. Mengerti... Mengalah... Kata-kata yang memang sulit untuk dijunjung. Tapi di balik sikap mengerti dan mengalah untuk tujuan damai, selalu ada sebuah berkah dan ketenangan untuk diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang pula kita yang tanpa sengaja, tanpa ada maksud, menyerempet orang lain. Terkadang kita bertemu orang-orang yang tidak mempermasalahkan kerugian atau kerusakan yang kita timbulkan. Orang-orang yang mau berbesar hati mengerti bahwa kita hanya kurang hati-hati tanpa ada maksud lain dan menerima permintaan maaf kita. Aku ingat kejadian nyata pertama kali membawa mobil dan belum tahu cara memarkir yang benar. Yang kemudian membuatku menabrak mobil belakang, milik teman kos. Waktu itu aku begitu ketakutan, meski ada asuransi yang bisa membayar. Sudah kubayangkan semprotan yang bakal dikeluarkan dari teman tersebut. Tapi sebaliknya orang itu hanya menghela napas beberapa kali dan menolak penggantian kerugian memakai asuransi. Dia malah memilih memperbaiki sendiri mobilnya yang penyok tanpa meminta ganti rugi dariku. Serta memaafkan kesalahanku saat itu juga. Yang akhirnya membuatku termenung sendirian. Masih ada orang baik berhati lapang seperti itu? Orang yang bahkan tidak aku kenal, yang hanya kutahu bahwa dia sekos-an denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang di perjalanan juga terjadi kecelakaan besar, yang membuat si penumpang luka berat dan kendaraan hancur tak berbentuk. Kasus besar. Ada orang yang menjadi korban. Ada orang yang harus disalahkan. Dalam kehidupan ini, peristiwa seperti itu bisa menjadi dendam yang membuat hubungan antar korban dan si pelaku putus selamanya. Tapi siapa sebenarnya yang mengira ini akan terjadi? Tak ada yang mengharapkan hal yang buruk terjadi. Tapi begitulah situasi jalan yang dipenuhi berbagai kendaraan. Serempet-menyerempet pasti terjadi. Sama seperti situasi hidup ini yang dipenuhi berbagai orang dengan kepentingan yang berbeda-beda. Akan terjadi gesekan-gesekan. Tinggal bagaimana kita memilih untuk menyikapinya. Inilah kenyataan hidup yang seperti suasana jalan. Bahwa hidup bukan hanya jalan yang lancar, yang berisi senyum, tawa dan bahagia. Tapi juga terkadang hidup diwarnai dengan perselisihan, ketidaksetujuan dan juga perbedaan akan kebenaran. Karena kita berjalan dalam satu jalan yang sama. Dalam hidup yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku percaya bahwa bisa bertemu orang-orang yang kini ada dalam hidupku adalah takdir dari Yang Di Atas. Aku juga percaya bahwa setiap peristiwa dan kejadian membawa sebuah pesan tersendiri. Juga bahwa setiap orang yang datang dalam hidupku membawa misi dan tujuan tersendiri. Dan semua itu harus disyukuri dan direnungkan kembali. Bukan disesali atau dibenci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang terlalu penting di hidup ini untuk dijadikan dendam yang tak berakhir. Tak ada yang terlalu penting di hidup ini untuk tidak dapat dimaafkan. Karena kita semua sama. Suatu saat tanpa sengaja kita yang menyerempet dan meminta maaf. Suatu saat ada yang menyerempet kita dan mengharapkan maaf dari kita. Karena itu, mudah-mudahan kita bisa belajar berbesar hati dan mengikhlaskan segalanya untuk sebuah kedamaian dalam hidup yang singkat ini. Dan menghargai takdir kebersamaan yang telah diatur Yang Di Atas pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: google&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-5929918460191328999?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/5929918460191328999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/hidup-bagai-sebuah-jalan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5929918460191328999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5929918460191328999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/hidup-bagai-sebuah-jalan.html' title='Hidup Bagai Sebuah Jalan...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Szl_PDUO_TI/AAAAAAAAAJk/HAWmObM-i7A/s72-c/street-road-vehicles-car-shops.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-5393074827599292582</id><published>2009-12-22T09:17:00.000+07:00</published><updated>2009-12-22T10:47:09.456+07:00</updated><title type='text'>Anak dan Bunda...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SzA-S3D2i6I/AAAAAAAAAJc/lMgJHcLPNhg/s1600-h/401181839_4535122145.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SzA-S3D2i6I/AAAAAAAAAJc/lMgJHcLPNhg/s320/401181839_4535122145.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417898845465381794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan sebutan itu menjadi begitu kabur di ingatannya? Dia pun tak tahu. Sampai kemudian dia tersadar dan merasa begitu jauh darimu. Dia pernah mencoba untuk berbalik kembali dan menggapaimu lagi, tapi... akh.... Mengapa tak juga tergapai? Mengapa seakan ada dinding penghalang yang tak tampak di antara kalian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila bisa dia teriakkan sesalnya, dia akan menahan hidup untuk tak berubah dan tetap membiarkannya ada di sampingmu selamanya. Tetap menjadi seorang kanak-kanak yang lugu dan polos, yang selamanya tak mempermasalahkan apa itu kebenaran. Yang terpenting baginya, masih dapat dia rasakan hangatnya tubuhmu memeluk dirinya, juga suaramu yang pernah menjadi petikan dawai yang indah memenuhi isi dunianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ini tak pernah menjadi mudah untuknya. Dia pun tahu tak pernah menjadi mudah untukmu juga. Melihat sosok yang dulu kau timang bertumbuh besar dan mulai berusaha melepaskan ikatan dan belenggu yang kau pasang. Mendengar dia mulai mempertanyakan tindakan dan sikapmu. Dan ketika dia mulai menyatakan ketidaksetujuannya, ada luka di matamu. Dan ketika dia tidak lagi merasa aman bersamamu dan berusaha berlari menjauh, kau mulai mencercanya meski sebenarnya hatimu terasa perih. Meski sebenarnya kau harapkan dia dapat menunjukkan cintanya yang menurutmu pantas kau terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kau juga tahu, bahwa dibalik semua pemberontakan dan ketidaksetujuannya padamu, di balik semua ekspresi wajahnya yang seakan penuh kemarahan dan kebencian padamu, ada sebuah hati yang haus akan cinta. Hati yang menunggu dirimu untuk mengerti dan melepaskan semua ego dan memeluknya dengan cinta tanpa syarat. Dia hanya seorang kanak-kanak yang berproses menjadi dewasa, dengan begitu banyak pertanyaan dan kebingungan yang harus dihadapinya. Dia butuh bimbingan dan kasihmu untuk menjadi pelita dalam kegelapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup terkadang menjadi begitu rumit untuk dimengerti. Ketika setiap pribadi tak mau berhenti sejenak, merenung dan melepaskan semua keinginan dan ego atas nama cinta. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa sebenarnya yang terpenting dari semua keributan dan perselisihan itu? Pada akhirnya tak ada yang terlalu penting untuk diributkan. Pada akhirnya bahagia dan damai lah yang ingin dicapai, bukan? Tapi semua itu hanya bisa dimenangkan dalam cinta. Hanya cinta. Cinta yang tak bersyarat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda, &lt;br /&gt;Andaikan aku dapat melepas semua kesombongan diri&lt;br /&gt;Akan kupeluk dirimu yang telah begitu asing di diriku&lt;br /&gt;Akan kubayar masa yang telah berlalu tanpamu&lt;br /&gt;Aku ingin belajar kembali mencintaimu&lt;br /&gt;Dengan segenap hati dan jiwaku&lt;br /&gt;Dengan segenap kesabaran dan kebesaran hatiku&lt;br /&gt;Mengerti bahwa kebenaranku tidaklah menjadi begitu penting&lt;br /&gt;Yang terpenting cintaku padamu tak akan pernah berakhir&lt;br /&gt;Dan aku akan berlutut memohon maafmu&lt;br /&gt;Untuk semua kata dan tindakanku yang tak pernah menjadi hebat&lt;br /&gt;Telah melukai hatimu dalam prosesku menemukan diri sendiri&lt;br /&gt;Proses yang begitu sulit dan menyiksa&lt;br /&gt;Namun kini, ketika aku telah tegar berdiri&lt;br /&gt;Dan menemukanmu telah hilang dari hidupku&lt;br /&gt;Ada sesal yang tak pernah terbayarkan &lt;br /&gt;Meski dengan semua keberhasilan yang telah kucapai&lt;br /&gt;Tak pernah lengkap bahagiaku&lt;br /&gt;Tanpamu merestuiku dengan senyum bahagiamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak,&lt;br /&gt;Saat pertama kali melihatmu&lt;br /&gt;Kau lah anugerah terindah dalam hidupku&lt;br /&gt;Tak ada emas permata yang akan kutukarkan dengan dirimu&lt;br /&gt;Namun cinta yang ingin memilikimu selamanya&lt;br /&gt;Membuat diri terkadang begitu egois&lt;br /&gt;Tak pernah rela melepaskanmu untuk memiliki diri dan hidupmu sendiri&lt;br /&gt;Saat aku menggunakan segala daya atas nama cinta&lt;br /&gt;Kau pun semakin menjauh &lt;br /&gt;Dan ketika aku menggunakan kuasaku akan dirimu&lt;br /&gt;Dengan mengungkit segala budi dan jerih payahku&lt;br /&gt;Kau menatapku dengan sorot kebencian&lt;br /&gt;Damai tak pernah lagi jadi milik kita&lt;br /&gt;Aku selalu bertanya, Mengapa?&lt;br /&gt;Tak pernah mau mengakui salah, hanya ingin dibenarkan dalam penghormatan&lt;br /&gt;Tak pernah mau mengakui&lt;br /&gt;Bahwa ini bukan hanya prosesmu untuk belajar&lt;br /&gt;Ini juga prosesku untuk belajar&lt;br /&gt;Namun sejalan waktu aku merasa telah kehilanganmu&lt;br /&gt;Sejalan waktu aku merasa kau tak lagi membutuhkanku&lt;br /&gt;Sejalan waktu aku merasa kau tak lagi mencintaiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak dan Bunda,&lt;br /&gt;Cinta adalah anugerah&lt;br /&gt;Hadiah terbesar dari Ilahi&lt;br /&gt;Anak dan Bunda ditakdirkan untuk bersama dalam sebuah kehidupan&lt;br /&gt;Takdir ini adalah janji&lt;br /&gt;Janji yang telah disepakati bersama&lt;br /&gt;Sebelum masa kehidupan dimulai &lt;br /&gt;Anak berjanji akan mencintai dan mengikuti sang Bunda&lt;br /&gt;Bunda berjanji akan menjadi pelindung dan pembimbing &lt;br /&gt;Dan mereka telah berjanji &lt;br /&gt;Bila pada suatu masa kemudian &lt;br /&gt;Mereka tak sepaham dan tak sekata lagi &lt;br /&gt;Mereka tetap mereka akan mencinta hingga akhir napas&lt;br /&gt;Dan bila salah satu dari mereka lupa akan janji itu&lt;br /&gt;Mereka akan saling mengingatkan &lt;br /&gt;Namun sayang...&lt;br /&gt;Janji itu telah hilang ditelan waktu&lt;br /&gt;Tak ada lagi yang mengingatnya&lt;br /&gt;Tak ada lagi yang menganggapnya penting&lt;br /&gt;Tak ada lagi yang mengagungkannya&lt;br /&gt;Masing-masing terpaku pada ego dan kepentingan sendiri&lt;br /&gt;Masing-masing berkeras pada kebenaran sendiri&lt;br /&gt;Dan sejalan waktu&lt;br /&gt;Dua sosok yang harusnya selalu menjadi satu bagian yang utuh &lt;br /&gt;Akhirnya memutuskan untuk memilih jalan yang berbeda&lt;br /&gt;Yang kemudian mengutuk takdir yang telah mempertemukan mereka&lt;br /&gt;Dan membiarkan diri larut dalam luka yang tak pernah sembuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya mereka tahu&lt;br /&gt;Hanya cinta yang bisa menyembuhkan&lt;br /&gt;Cinta yang selalu ada&lt;br /&gt;Di kedalaman hati yang terdalam&lt;br /&gt;Seandainya saja mereka mau melihat ke dalam&lt;br /&gt;Ke dalam hati masing-masing&lt;br /&gt;Selalu ada cinta di sana&lt;br /&gt;Untuk menyatukan mereka kembali&lt;br /&gt;Anak dan Bunda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://farm1.static.flickr.com/164/401181839_4535122145.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-5393074827599292582?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/5393074827599292582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/anak-dan-bunda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5393074827599292582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5393074827599292582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/anak-dan-bunda.html' title='Anak dan Bunda...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SzA-S3D2i6I/AAAAAAAAAJc/lMgJHcLPNhg/s72-c/401181839_4535122145.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-500800846963540584</id><published>2009-12-20T13:22:00.000+07:00</published><updated>2009-12-20T14:28:19.214+07:00</updated><title type='text'>Sepiring Nasi Ayam...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sy3QRBaHdfI/AAAAAAAAAJU/UqU7jbZiri4/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 107px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sy3QRBaHdfI/AAAAAAAAAJU/UqU7jbZiri4/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417214917650904562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu menaruh sepiring nasi ayam di hadapan William. Ada enam butir nasi berbentuk bola dan ayam rebus yang telah dipotong-potong. William tak langsung menyantapnya. Lama ia hanya memandangi hidangan itu. Teringat olehnya kisah belasan tahun yang lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu umurnya masih sangat muda. Siang itu ia berjalan berkeliling, tanpa uang sepeser pun di sakunya. Nasibnya buruk. Ia sudah tidak bekerja beberapa bulan. Dan uang simpanannya, hasil tabungannya dari pekerjaannya yang terakhir sudah dihabiskannya kemarin malam. Tak ada sisa sepeser pun di kantongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun beberapa bulan ini ia telah berusaha mengirit keperluan sehari-harinya, tetap saja uangnya terus mengalir keluar. Pemasukan kecil-kecilan yang diperolehnya dengan bekerja part time ke sana kemari tak juga mampu menambah simpanan uangnya. Biaya hidup di kota itu terlalu besar. Ia harus membayar sewa kamarnya yang sempit, belum lagi mengisi perutnya dua kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia belum juga menemukan pekerjaan tetap, meski ia terus mencari. Terkadang ia merasa begitu putus asa, berpikir untuk membeli tiket bus dan kembali ke kota asalnya. Pikirnya, paling tidak di kampung halamannya, masih ada rumah orangtuanya untuknya bernaung gratis. Dan juga makanan untuk mengisi perutnya setiap hari. Namun teringat akan sikap ayahnya yang keras dan keadaan keluarganya yang juga miskin, membuat William tetap bertahan di kota itu. Tak ingin mendengar celaan ayahnya atas usahanya yang tak berhasil. Juga tak ingin membuat ibunya khawatir. Karena itu William bertekad tak akan pulang sebelum ia berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seakan langit pun tak merestui langkahnya. Tak ada pintu yang terbuka yang terlihat olehnya. Meski ia tak juga berhenti mencari, kakinya mulai terasa letih melangkah. Begitu pun dengan hatinya yang mulai goyah. Semangatnya mulai hilang dan rasa putus asa mulai merangkulnya. Apalagi dari pagi hingga siang itu ia tak juga menemukan satu pekerjaan pun. Padahal sudah berjam-jam ia berkeliling. Perutnya mulai terasa perih. Kerongkongannya terasa kering, bak padang pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berhenti di sebuah kedai nasi ayam. Kedai itu kedai kecil namun sangat ramai. Pastilah nasi ayam kedai itu enak, sehingga pengunjungnya banyak. Lama William berdiri memandangi orang-orang yang sedang makan. Ia menelan ludah beberapa kali. Perutnya mulai berteriak-teriak tak mau lagi berkompromi. Lama ia terlihat bimbang sampai akhirnya kakinya melangkah, menghampiri meja di sudut, dekat sebuah jalan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia duduk di sana, menatap ke sekeliling dengan gugup. Tangannya yang basah, disembunyikannya di bawah meja, tak sadar meremas celana panjang lusuh yang dikenakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bapak mendekat dan bertanya padanya. William memesan nasi ayam sepiring tanpa ayam. Hanya nasi saja, tekannya. Bapak itu kemudian bertanya lagi, ia ingin minum apa? William menggeleng cepat. Akhirnya bapak tua itu pun berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian bapak itu kembali dengan sepiring nasi ayam berbentuk bola. Sesaat William masih memandangi nasi ayam itu, masih tampak ragu. Tapi kemudian tangannya terulur, meraih sumpit di meja. Tangannya bergetar, berusaha menahan sumpit agar tak jatuh. Lalu ia mulai makan dengan tergesa. Ia bahkan tak bisa menikmati kelezatan nasi ayam tersebut. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Dan pikirannya terlalu kacau saat itu. Hanya sekejap saja, keenam nasi ayam itu telah lenyap, pindah ke dalam perutnya. William mengangkat wajahnya dengan takut-takut, mencuri pandang ke sekeliling. Dan ketika ia melihat pemilik kedai sibuk melayani orang lain dalam posisi membelakangi dirinya, ia cepat-cepat berdiri dan kemudian berlari sekencang-kencangnya. Ia bahkan tak sadar sudah berlari berapa lama, berapa jauh. Yang ia tahu ia hanya terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Ia takut bila ada suara yang memanggilnya atau ada langkah yang mengejarnya di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sebuah jalan kecil, William menikung masuk dan berhenti dengan napas yang hampir putus. Ketika ia mengintip ke arah jalan di belakangnya dan tak menemukan siapa-siapa di sana, barulah ia bisa menarik napas lega. Kakinya tiba-tiba langsung terasa lemah, membuatnya terjatuh di aspal. Ia terduduk lunglai di sana, dengan keringat yang membasahi seluruh pakaiannya. Kepalanya bersandar pada dinding samping sebuah rumah, menatap ke langit. Tiba-tiba ia menangis. Ia menangis terisak-isak seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah suara membangunkannya dan membawanya kembali dari kisah belasan tahun yang lalu ke masa kini. Seorang wanita berdiri di hadapannya bertanya ia ingin minum apa. William segera menjawab dan pandangannya kembali ke sepiring nasi ayam di hadapannya. Matanya terasa panas dan mulai berkaca-kaca. Semua penyesalannya kini menghambur keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belasan tahun telah berlalu, namun sepotong kisah di hari itu tetap melekat kuat di ingatannya. Hari di mana ia harus menipu seorang bapak pemilik kedai atas sepiring nasi ayam untuk mengisi perutnya yang kosong. Hari di mana ia sudah begitu putus asa, tak memiliki sebuah harapan pun dan akhirnya kalah atas tuntutan perutnya yang minta diisi. Untuk sepiring nasi ayam yang tidak dibayarnya, telah merampas sisa harga dirinya. Juga telah merampas sebuah kata kejujuran yang selalu dipegangnya teguh. Dan sepotong nasi ayam itu harus dibayarnya mahal dengan rasa bersalah dan penyesalan tak berujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ia kembali mencari kedai bapak tua yang dulu ditinggalkannya dengan diam-diam itu. Namun kedai itu sudah tak ada di sana lagi. William bermaksud datang membayar sepiring nasi ayam itu untuk menebus rasa bersalah yang selalu mengikutinya. Namun kesempatan itu tak pernah datang. Bapak tua itu telah hilang entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, William telah menjadi seorang pengusaha sukses di kota itu. Bahkan kini ia telah mampu pulang menemui Ayah dan ibunya dengan kepala tegak. Ia kini terlihat begitu percaya diri dan mapan. Namun tak seorang pun tahu di balik kisah suksesnya ada sepotong kisah pahit yang selamanya tak mampu dilupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;William menyuap sebutir nasi ayam ke mulutnya, mengunyahnya pelan. Tak ada lagi debaran jantung yang terlalu cepat. Tak ada lagi tangan yang gemetar. Yang ada kini hanya sebuah harap di hatinya. Semoga suatu hari nanti ia dapat menemukan bapak pemilik kedai nasi ayam itu. Semoga suatu hari nanti ia masih diberi kesempatan untuk menuturkan pengakuannya dan meminta sepotong maaf untuk menenangkan hatinya yang tak pernah lagi bisa damai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*penuturan seorang teman baik akan sepotong kisah hidupnya, di tengah makan malam...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://foodiedoodie.files.wordpress.com/2008/11/melaka-cafe-chicken-rice-ball.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-500800846963540584?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/500800846963540584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/sepiring-nasi-ayam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/500800846963540584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/500800846963540584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/sepiring-nasi-ayam.html' title='Sepiring Nasi Ayam...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sy3QRBaHdfI/AAAAAAAAAJU/UqU7jbZiri4/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-1714632198561906890</id><published>2009-12-17T10:18:00.000+07:00</published><updated>2009-12-17T11:55:07.586+07:00</updated><title type='text'>Rearrange Items on Your Hard Disk to Make Programs Run Faster</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sym5XXYqQFI/AAAAAAAAAJM/JC5tVsEiFMI/s1600-h/xp-perfmaint.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sym5XXYqQFI/AAAAAAAAAJM/JC5tVsEiFMI/s320/xp-perfmaint.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416063837955309650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Klik start, pilih setting lalu control panel, kemudian pilih performance and maintenance dan akhirnya klik 'rearrange items on your hard disk to make programs run faster'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, proses itu kulakukan. Mengapa? Seperti yang telah dijelaskan kalimat panjang itu, mengatur kembali semua yang ada di hard disk agar program berjalan lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini ketika aku akan melakukan hal itu lagi tiba-tiba terlintas di benakku. Ini seperti proses kehidupan juga. Harusnya dalam diri kita juga ada sistem 'rearrange items' untuk mengatur kembali semua file-file yang ada dalam diri kita. File-file yang jumlahnya sangat banyak dan menumpuk, yang sering kita ambil dan buka kembali lalu kita tutup lagi. Yang terkadang kita letakkan dengan asal-asalan saja, sehingga semuanya menjadi tak beraturan. Dan terkadang semua itu menjadi begitu berantakan yang akhirnya membuat kita sendiri menjadi merasa ada kekacauan di dalam diri, yang menghadirkan stress berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali juga kita mungkin perlu meng-klik 'Free up space on your hard disk'. Pasti banyak file-file tidak berguna, yang selama ini kita biarkan tetap ada di dalam diri. Masalah-masalah lama yang tak berguna, yang tidak kita sempatkan untuk buang. Yang hanya memberatkan diri selama ini. Yang tanpa kita sadari, menjadi penghambat kebahagiaan diri. Juga ada perasaan-perasaan negatif, rasa sakit, rasa marah, rasa benci, rasa malu, rasa tidak percaya diri, dan masih banyak rasa-rasa lain, yang juga sebenarnya memperlambat diri untuk terus bergerak maju dalam kehidupan ini. Bila saja kita mau memilah-milah mana file-file yang tidak baik dan baik untuk diri. Dan kemudian membuang file-file yang tidak kita perlukan lagi dan mengaturnya kembali dalam susunan yang teratur...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari cara kerja komputer, kita bisa setiap hari melakukan dua pekerjaan itu, menghapus dan mengatur kembali. Dan dengan begitu mungkin seperti komputer, diri kita dan hidup kita akan berjalan dengan lebih ringan dan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://csg.trinhall.cam.ac.uk/tips/smb/img/xp-perfmaint.png&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-1714632198561906890?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/1714632198561906890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/rearrange-items-on-your-hard-disk-to.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1714632198561906890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1714632198561906890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/rearrange-items-on-your-hard-disk-to.html' title='Rearrange Items on Your Hard Disk to Make Programs Run Faster'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sym5XXYqQFI/AAAAAAAAAJM/JC5tVsEiFMI/s72-c/xp-perfmaint.png' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-2599292512730501910</id><published>2009-12-16T14:18:00.001+07:00</published><updated>2009-12-16T14:28:54.567+07:00</updated><title type='text'>Goyah...</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:130%;"  &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SyiJ8IWWW8I/AAAAAAAAAJE/Dh_HEF8NRDE/s1600-h/508715784_b6124f74dc.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SyiJ8IWWW8I/AAAAAAAAAJE/Dh_HEF8NRDE/s320/508715784_b6124f74dc.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415730218039401410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Trebuchet MS"; 	panose-1:2 11 6 3 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;/span&gt;Perjalanan ini terasa semakin berat. Langkah kakiku semakin tersendat. Semakin sering kuseret kakiku, memaksanya untuk terus melangkah maju. Terseok-seok, bak seorang pincang yang gemetar, tak punya kepercayaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu semangat? Aku kini tak mengerti arti kata sederhana itu. Adakah semangat itu tertinggal di diriku ini? Inikah bukti semangat dalam diriku dengan langkah yang terseok-seok berusaha untuk tetap maju? Ataukah ini bukti dari pupusnya semangat, dan sebentar lagi mungkin akan sirna selamanya? Dan saat itu mungkin aku hanya bisa terpuruk, tak mampu lagi melangkah, bahkan tak mampu lagi berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini saat mataku membuka kembali, menyambut mentari, mengapa dunia terlihat begitu gelap? Mengapa hidupku terlihat suram, tak berwarna? Mengapa sinar mentari itu tak juga menyinari hidupku ini? Apa gunanya dirinya di atas sana? Bila hanya jadi hiasan indah tak berarti? Ataukah aku yang telah buta? Hatiku yang telah buta tak bisa melihat sinar indahnya? Ataukah sinar itu sebenarnya ada di sana, hanya saja aku telah menutup pintu hatiku, sehingga mataku pun tak berfungsi lagi? Hatiku gelap, hidupku juga ikut menjadi gelap. Mungkinkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang kali kudengar kalimat ini, buka pikiran, buka hati. Berulang kali kudengar mereka bilang, pikiran mau seluas samudera, hati mau sebesar langit di atas sana. Bagaimana mungkin aku bisa meluaskan pikiran dan membesarkan hatiku? Dengan cara apa? Dengan alat apa? Lagipula bagaimana aku tahu seluas apa samudera itu? Sebesar apa langit itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa aku yang terlalu bodoh, tak mengerti apa yang mereka katakan? Benarkah aku ini bodoh? Kadang aku merasa seperti seorang idiot. Kadang aku merasa seperti orang dusun yang dihadapkan pada tempat dan situasi yang terlalu rumit untuk bisa kuhadapi. Tapi aku tak rela dikatakan bodoh. Aku tak rela dipandang rendah. Tapi semakin aku tak rela, semakin aku merasa orang-orang meremehkanku. Seakan aku ini tak punya apa-apa untuk kubanggakan. Seakan aku ini begitu miskin. Miskin segalanya. Bahkan miskin cinta...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku benci melihat mereka tersenyum dan bahagia. Sebenarnya aku iri pada mereka. Aku tak tahu bagaimana bisa tersenyum dan bahagia. Aku juga ingin. Tapi aku berlagak seakan aku tak tertarik pada hal itu. Berlagak seakan hal itu tidak penting bagiku. Berlagak seakan aku tak kurang suatu apapun. Padahal aku selalu terpuruk di sudut duniaku, selalu kembali meratap sendiri. Meratapi hidupku. Meratapi diriku. Meratapi orang-orang yang seakan tak pernah peduli. Ya, kesombongan diri ini begitu menjerat diriku, mungkin suatu hari nanti akan membunuhku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku butuh mereka. Aku butuh cinta dari mereka semua. Aku butuh ditolong. Aku butuh seseorang memegang tanganku untuk menguatkan kaki dan langkahku yang goyah ini. Hanya saja aku tak tahu bagaimana harus meminta. Bukan. Aku terlalu sombong untuk meminta. Tidak... Sebenarnya bukan karena kesombongan semata, tapi lebih karena aku tak punya kepercayaan diri. Aku tak punya cukup kepercayaan bahwa diriku ini berharga di mata mereka. Juga tak punya cukup kepercayaan pada mereka. Aku takut mereka akan menolakku. Aku takut mereka akan mengecewakanku. Terlalu banyak luka hatiku yang tak sanggup kurawat dan belum mampu kurelakan untuk sembuh. Karena aku tak berani untuk percaya bahwa ada bahagia di depan sana untukku. Bahwa aku ini pantas untuk dicintai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://farm1.static.flickr.com/213/508715784_b6124f74dc.jpg&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link style="font-family: verdana;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link style="font-family: verdana;" rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link style="font-family: verdana;" rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-2599292512730501910?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/2599292512730501910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/goyah_15.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2599292512730501910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2599292512730501910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/goyah_15.html' title='Goyah...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SyiJ8IWWW8I/AAAAAAAAAJE/Dh_HEF8NRDE/s72-c/508715784_b6124f74dc.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-7278715740062124182</id><published>2009-12-14T11:16:00.000+07:00</published><updated>2009-12-14T12:26:27.045+07:00</updated><title type='text'>Dear My Friend (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SyXH_kif4TI/AAAAAAAAAI0/s0EtUGeEPP4/s1600-h/spe429-C.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SyXH_kif4TI/AAAAAAAAAI0/s0EtUGeEPP4/s320/spe429-C.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414954021936947506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berapa tahun telah berlalu? Dua belas? Sepertinya... Sejak terakhir pertemuan kita yang tak indah itu. Aku masih ingat hari itu ketika kita menghabiskan waktu berdua dengan berbagi cerita. Tak pernah menyangka itu hari terakhir aku melihatmu. Bila seandainya saja aku tahu, mungkin tak akan rela aku membiarkanmu melangkah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tak selalu ada, tak selalu hadir. Tapi kau selalu kembali. Aku ingat tak peduli berapa lama jeda waktu yang tercipta di antara kita, kau pasti kembali lagi. Dan aku tak pernah menunggumu pulang karena aku begitu yakin kau pasti akan selalu pulang. Di sini, di sampingku, menjadi seorang sahabat yang sangat berarti bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita selalu punya cerita untuk dibagi. Bukan cerita yang istimewa, juga bukan rahasia diri yang tak terucapkan pada orang lain. Hanya cerita-cerita sederhana, tentang keseharianku dan keseharianmu. Namun rasanya, dirimu bak seorang karib yang telah jutaan tahun bersama. Selalu ada tawa dan canda kau bagi, membuat hidupku yang gersang sedikit berwarna. Di sanalah letak keindahan persahabatan kita, dalam kesederhaan kebersamaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku tersadar bahwa waktu telah berlalu terlalu lama dan kau tak juga kembali... Seakan dibangunkan dari mimpi indah dan harus melihat kenyataan yang menyakitkan. Di mana dirimu kini? Sedang apa? Bagaimana kabarmu? Baik-baik sajakah? Aku ingin tahu. Aku ingin melihatmu lagi. Aku ingin mendengar suaramu berbagi cerita lagi. Dan juga begitu banyak cerita hidupku yang ingin kusampaikan padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kau tahu, aku telah banyak berubah. Diriku dan hidupku ini. Aku kini lebih banyak tersenyum dan tertawa. Hidupku kini dikelilingi banyak orang-orang yang menyayangiku. Sahabat-sahabat yang menemani langkahku yang terkadang masih goyah. Seperti yang dulu sering kau lakukan untukku. Mungkin kau sendiri tak menyadarinya. Namun meskipun kini banyak yang menggantikan tempatmu, namun sosokmu sendiri tak pernah sirna dari kenangan masa silam. Selalu ada di sana. Selalu hidup, tak pernah lekang dimakan waktu atau jarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan hidup yang berliku ini, kerap kali di saat aku sendiri, aku teringat akan dirimu. Kerap kali ada kesedihan menyusup, bertanya pada diri mengapa bisa kehilangan jejakmu. Dan selalu ada seuntai doa, menitip pesan kepada yang Di Atas sana, meminta-Nya untuk mempertemukan kita kembali. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu kini. Dan bila akhirnya aku tahu kau baik-baik saja, semua beban kekhawatiranku akan lepas dari diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini menemukanmu kembali. Tak bisa kutahan senyumku, bahagiaku... Melihat dirimu dan kehidupanmu kini dari mataku yang buram karena menahan airmata yang muncul karena hatiku yang dipenuhi rasa syukur. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terima kasih Tuhan...&lt;/span&gt; Setelah begitu lama penantianku yang serasa tak berujung ini. Kau kini begitu berbeda. Tapi aku tetap menemukan mata yang sama itu. Mata yang dulu sering bersinar jenaka. Kau kelihatan baik-baik saja. Bukan, harusnya kau lebih dari sekedar baik-baik saja. Kau sepertinya telah punya kehidupan bahagia di sana. Teman, aku ikut bahagia untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, hidup ini tak pernah menjadi terlalu panjang. Membuatku mensyukuri setiap langkah yang kuayun. Juga orang-orang yang pernah datang menemaniku. Dirimu, jejak langkahmu, tak pernah aku lupakan. Selalu membekas, terkadang menjadi sebuah semangat ketika aku tengah jatuh. Terkadang menjadi sebuah penghiburan ketika aku tengah berduka. Tak ada kata yang bisa kuucapkan untuk melukiskan rasa hatiku ini. Sebelum waktu berlalu lagi dan mungkin membawamu pergi lagi, aku ingin mengucapkan terima kasihku padamu.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terima kasih, Teman... Terima kasih telah menjadi sahabatku dulu kala... Terima kasih telah membagikan senyum, tawa dan waktumu untukku...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman,&lt;br /&gt;Kau bagai lantunan nada penghibur lara&lt;br /&gt;Kau bagai sebuah tonggak yang kuat tempat kubersandar dan bangkit kembali&lt;br /&gt;Kau bagai sepasang sepatu yang menemani langkah hidupku&lt;br /&gt;Kau bagai matahari yang membagikan cahaya dalam kegelapan&lt;br /&gt;Dan kadang kala di gelapnya malam, kau menjadi bintang kecil, yang begitu jauh di sana, kadang terlupakan olehku,  namun kau selalu berkelip, mengirimkan pesan harapan bagiku...&lt;br /&gt;Terima kasih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.crystalfloridaonline.com/images/spe429-C.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-7278715740062124182?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/7278715740062124182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/dear-my-friend-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/7278715740062124182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/7278715740062124182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/dear-my-friend-2.html' title='Dear My Friend (2)'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SyXH_kif4TI/AAAAAAAAAI0/s0EtUGeEPP4/s72-c/spe429-C.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-9039720697200311126</id><published>2009-12-09T10:59:00.001+07:00</published><updated>2009-12-09T11:36:46.723+07:00</updated><title type='text'>Pengasingan Diri...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sx8nZ-WhNWI/AAAAAAAAAIs/JAggkuEf5Fo/s1600-h/mirror-door-closed-large.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sx8nZ-WhNWI/AAAAAAAAAIs/JAggkuEf5Fo/s320/mirror-door-closed-large.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413088604310287714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Jangan marah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu belakangan kerap kudengar. Ditujukan buat diriku. Biasanya aku akan tersenyum, meski itu adalah senyum yang dipaksakan. Dan kemudian akan kujawab dengan kata-kata klise, "Aku tidak marah." Klise, bukan karena aku berbohong, tapi klise karena sudah terlalu sering aku ucapkan akhir-akhir ini. Bukan jawaban yang menyenangkan buatku, karena setiap kali aku harus mengatakannya di saat suasana hatiku sedang tidak menentu. Tapi sekali lagi, aku tidak berbohong. Aku tidak sedang marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan stress..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu adalah kata-kata kedua yang selalu kudengar juga belakangan ini. Biasanya kujawab dengan dua cara. Cara pertama aku tertawa pendek, cara kedua aku diam saja. Diam juga adalah sebuah jawaban. Bukan mengiyakan, juga bukan membantah, juga sebenarnya tidak bermaksud menertawakan. Hanya saja, lagi-lagi aku sebenarnya tidak ingin menjawab. Tapi bila aku tidak menjawab, akan diartikan sebagai kemarahan yang terpendam. Atau diartikan sebagai masalah yang tak terucapkan. Dan kemudian akan timbul usaha untuk mengorek dan mengorek... Semakin merasa bahwa ada sesuatu yang salah, yang harus dibenarkan. Bahwa ada sesuatu yang tidak baik yang butuh bantuan untuk membuatnya menjadi baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Stop!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebenarnya satu kata yang ingin kuucapkan setiap kali pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan klise di atas muncul. Tapi bila kata itu kuucapkan, akankah kalian mengerti? Mengerti bahwa arti sesungguhnya dari kata itu adalah berhenti? Berhenti bertanya. Berhenti menilai. Berhenti menebak. Berhenti ingin tahu. Berhenti berpikir bahwa aku membutuhkan nasehat ataupun hiburan. Hanya berhenti. Berhenti di sana. Biarkan aku di sini. Aku baik-baik saja. Hanya saja aku perlu untuk berdiri di sini, sendiri dengan diriku dan jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sebaliknya terjadi malah akan muncul kesalahpahaman. Kata stop akan membuat kalian mengira aku ini menolak cinta yang kalian berikan. Kata stop membuat rasa kecewa akan maksud baik hati kalian yang tak kumengerti. Tidak, bukan itu maksudku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kukatakan bahwa saat ini aku sedang tak ingin berbicara, tak ingin mendengar suara apapun, tak ingin melihat siapapun atau apapun, mengertikah kalian? Aku bahkan tak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada. Tak ingin memasang senyum keterpaksaan, atau ekspresi sandiwara. Tapi aku juga tidak punya kemarahan atau sakit yang ingin kulampiaskan keluar. Tidak ada. Aku hanya ingin menyendiri, menarik diriku dari dunia ini. Sejenak bersama diriku saja. Dalam hening. Bahkan aku tidak berniat berbicara pada diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila biasanya bicara adalah sesuatu yang menyenangkan bagiku, sekarang tidak. Hanya karena unsur kesopanan makanya aku masih bicara. Juga sebenarnya unsur keterpaksaan, menjawab pertanyaan-pertanyaan dan keingintahuan orang-orang. Bila biasanya mendengar adalah sesuatu yang juga sangat menyenangkan buatku, sekarang tidak. Aku sedang tak ingin mendengar apapun. Maaf, bukan karena aku tak peduli lagi. Juga bukan karena aku menjadi angkuh atau egois. Tidak. Jangan menilai diriku dari sikapku ini. Aku hanya sedang tak ingin menggunakan semua indera yang ada. Bukan karena ada yang salah pada dirimu, kalian atau orang-orang sekitar. Bukan. Ini karena diriku sendiri. Diriku yang sedang tak ingin menjadi seperti diriku yang kalian kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan diriku? Aku tak tahu. Aku pun tak ingin menjelaskannya. Aku sedang tak ingin. Maaf... Mungkin bisa kita bicarakan lain kali, tapi tidak saat ini. Yang aku tahu, aku harus pergi, mengasingkan diri dan jiwa untuk sejenak. Hanya itu yang kubutuhkan saat ini. Menutup pintu hati, pikiran dan jiwa untuk sesaat. Sesaat itu berapa lama? Aku tak tahu. Aku tak ingin membuat sebuah perencanaan atau perkiraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kalian memang mau mengerti, jangan ketuk pintu itu. Jangan gedor bila tak ada jawaban dari ketukanmu. Jangan dobrak, memaksakan diri untuk masuk menemuiku. Aku butuh jarak ini. Bila kalian mengerti, biarkan aku memasang jarak ini. Tunggulah di sana, suatu saat aku akan kembali. Suatu hari pintu itu akan kembali kubuka. Dan ketika pintu itu telah siap aku buka, aku akan keluar bersama senyum, cinta dan bahagia seperti yang dulu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.trustile.com/images/uploads/mirror-door-closed-large.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-9039720697200311126?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/9039720697200311126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/pengasingan-diri.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/9039720697200311126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/9039720697200311126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/pengasingan-diri.html' title='Pengasingan Diri...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sx8nZ-WhNWI/AAAAAAAAAIs/JAggkuEf5Fo/s72-c/mirror-door-closed-large.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-2070393935098919205</id><published>2009-12-03T00:01:00.001+07:00</published><updated>2009-12-03T00:02:34.435+07:00</updated><title type='text'>Semoga Kau Bahagia...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sxadkl7-LuI/AAAAAAAAAIk/fY9rMe63_tc/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 100px; height: 149px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sxadkl7-LuI/AAAAAAAAAIk/fY9rMe63_tc/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410685254316732130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan terakhir ini aku jarang bertemu dengan Anik, pegawaiku yang selama ini setia bekerja dengan rajin. Masalahnya beberapa bulan ini aku punya kesibukan di luar. Aku pergi beberapa minggu, pulang beberapa hari dan masuk kantor kemudian pergi lagi beberapa minggu. Begitu terus. Lagipula waktu yang sedikit di kantor itu, aku benar-benar sibuk, tak punya kesempatan berbicara lama-lama pada Anik. Dia pun mungkin merasakan kesibukanku sehingga tidak berani mengajakku berbicara tentang hal-hal yang tidak penting. Padahal dulu kami sering ngobrol layaknya seorang teman baik. Dan Anik adalah seseorang yang punya banyak cerita menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku memanggilnya untuk memberitahu kabar baik bahwa perusahaan akan menaikkan gajinya bulan ini. Dan saat itulah dia memberitahuku sebuah kabar yang benar-benar mengejutkanku. Anik bilang bulan depan mengundurkan diri karena akan menikah. Aku sempat protes, bukan apa-apa, kenapa kabar itu diberitahukan pada saat-saat terakhir? Lagipula setahuku beberapa bulan yang lalu Anik putus dengan pacarnya. Sekarang menikah? Dengan siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anik pun bilang bahwa dia melihatku begitu sibuk. Sebentar masuk kantor, sebentar menghilang dalam waktu lama. Sebenarnya dia ingin menyampaikan berita ini sudah lama, kira-kia dua bulan yang lalu. Hanya saja dia merasa tidak punya kesempatan untuk mengatakannya. Lagi pula dia tidak berani mengatakannya ketika melihat aku tenggelam dalam kesibukan kerjaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata setelah putus dari pacar lamanya, Anik yang umurnya sudah mendekati kepala tiga, mendapat pernyataan cinta dari sahabat dekatnya yang ternyata diam-diam sudah menyukainya sejak lama. Dan mungkin karena Anik itu seorang perempuan sederhana yang tidak banyak menimbang, atau mungkin juga karena desakan orangtuanya, Anik akhirnya memutuskan menerima lamaran sahabatnya itu. Sedikit tidak masuk akal buatku yang selalu berpikir dasar pernikahan harusnya cinta dari dua pihak. Tapi itulah keunikan Anik. Hidupnya simple, dijalaninya seperti air yang mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin dulu adalah hari terakhir Anik bekerja. Saat jam pulang akan melepasnya, rasanya begitu berat. Bukan apa-apa, aku sudah terbiasa melihat Anik setiap hari. Aku sudah telalu nyaman dengan kehadirannya. Aku juga sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Juga telah sangat percaya akan kejujuran dan sikapnya yang selalu bertanggungjawab atas pekerjaan yang dilakukannya. Dan yang terpenting, hal sederhana yang kelihatan tidak penting namun sebenarnya sangat aku sukai adalah senyuman Anik selalu membawa kehangatan dan keceriaan di kantorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anik menyalamiku dan tanpa melepaskan tanganku dia mengucapkan beribu-ribu maaf bila telah banyak melakukan kesalahan, juga sekaligus mengucapkan terima kasih karena selama ini telah menerimanya bekerja. Dia bahkan sangat berterima kasih atas pesangon yang aku berikan yang sebenarnya jumlahnya tidak terlalu besar. Satu lagi sebuah sikap yang sangat aku kagumi dari Anik, dia selalu bisa mensyukuri apa saja yang diterimanya. Dan saat melepasnya di depan pintu sekali lagi Anik menyalamiku dan menempelkan pipi kiri dan kanan ke pipiku. Membuatku terharu. Ingin rasanya memeluknya. Matanya berkaca-kaca. Aku bilang padanya bahwa aku tidak mau bersedih karena aku tidak menganggap ini sebagai sebuah perpisahan. Aku bilang bahwa aku yakin dia akan kembali lagi setelah menikah nanti, tentu saja bila suaminya menyetujui. Padahal sebenarnya aku sangat sedih. Aku juga khawatir bahwa dia tak akan kembali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi sore, Anik tiba-tiba muncul di depan pintu. Aku sempat terkejut. Ternyata dia ingin mengembalikan buku yang dipinjamnya dariku. Lalu yang lebih mengejutkan, dia membawa sebuah kado untukku. Aku tanya mengapa dia memberiku sebuah kado? Dia hanya tersenyum malu dan bilang dia ingin memberikan sesuatu untukku. Aku terharu menatap sebuah kado yang dibungkus cantik dengan kertas kado ungu dan pita ungu (langsung teringat pada Ibu Kost-ku yang suka warna ungu....). Tak peduli apapun isinya, niatnya itu telah membuatku tersentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba hidup ini terasa begitu singkat. Teringat olehku pertemuan pertamaku dengan Anik beberapa tahun yang lalu. Aku tidak terkesan atas senyumannya. Sepertinya baru kemarin terjadi. Dan kini tiba-tiba ia harus pergi meninggalkanku. Saat ada pertemuan, selalu ada perpisahan. Perpisahan sering membawa kesedihan, saat kita tak rela melepas orang yang kita sayangi. Tapi aku mengingatkan diri untuk ikut bahagia atas kebahagiaan Anik. Untuk merestui jalan yang telah dipilihnya. Dan tak lupa untuk memanjatkan sebuah doa untuk hidup barunya. Semoga Tuhan memberinya sebuah kehidupan baru yang bahagia dan seorang suami yang mampu melihat keindahan Anik seperti aku selalu melihatnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://stamping.thefuntimesguide.com/images/blogs/handmade-farewell-card.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-2070393935098919205?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/2070393935098919205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/semoga-kau-bahagia.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2070393935098919205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2070393935098919205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/12/semoga-kau-bahagia.html' title='Semoga Kau Bahagia...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sxadkl7-LuI/AAAAAAAAAIk/fY9rMe63_tc/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-6899621537395997927</id><published>2009-11-26T15:10:00.000+07:00</published><updated>2009-11-26T15:34:56.214+07:00</updated><title type='text'>Mencari Wajah Ibu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sw45Ke6ZIFI/AAAAAAAAAIQ/4VJvLLCJ1pg/s1600/cover+first+book.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sw45Ke6ZIFI/AAAAAAAAAIQ/4VJvLLCJ1pg/s320/cover+first+book.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5408323054777999442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berjalan di bawah panas terik matahari sudah menjadi hal biasa bagi Tono. Setiap hari menghirup udara Jakarta yang selalu bercampur debu tebal dan asap knalpot adalah salah satu ciri kemiskinan hidupnya. Tono adalah seorang peminta-minta di sudut sebuah jalan di ibukota ini . Bersama dengan beberapa orang yang lain dari berbagai tingkat umur, mereka menghabiskan sepanjang hari di sana, di dekat lampu merah. Terkadang mereka berteduh di bawah pohon atau sekedar duduk di samping trotoar. Tapi tetap saja, lampu merah terlalu penting untuk ditinggalkan jauh-jauh, karena benda itu selalu memberikan tanda kapan mereka harus beraksi atau pergi. Merah artinya jalan dan hijau artinya mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini bocah itu sering meneliti wajah-wajah yang lewat di hadapannya. Orang-orang yang berjalan kaki melewatinya atau pun yang duduk di dalam mobil-mobil yang ia ketuk kaca jendelanya. Tono sedang mencari ibunya. Wanita yang melahirkannya. Entah ada di mana dirinya sekarang. Tono berharap bisa mengenalinya di antara wajah-wajah wanita yang ditemuinya setiap hari. Mungkin suatu hari nanti ia akan benar-benar bisa menemukannya. Mungkin… Bila ia berusaha keras.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut cerita orang-orang di tempat tinggalnya, Tono dibuang saat masih bayi, sembilan tahun yang lalu. Tak ada yang pernah melihat wajah ibunya. Tak ada yang tahu. Mbah Upik yang membesarkannya dan Mang Asep yang menanggung seluruh biaya hidupnya selama ini. Kalau bisa dikatakan seperti itu. Soalnya sejak masih bayi hingga sekarang Tono telah ikut Mbah Upik mengemis di mana-mana. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak pikiran tentang Ibu mengganggunya, dia terus berusaha mencari informasi dari orang-orang sekitarnya tentang wanita itu. Namun tak banyak yang bisa dikoreknya. Pernah ia memberanikan diri bertanya pada Mang Asep. Lelaki itu menatapnya dengan alis yang tertaut sedemikian rupa, yang menambah kesangaran wajahnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ibumu sudah mati!” katanya dengan suara menggelegar seraya berlalu meninggalkan Tono.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semalamam Tono menangis dan kata-kata Mang Asep terus terngiang-ngiang di kepalanya. Esok paginya Tono bangun dengan mata sembab dan wajah pucat. Tak ada yang menanyakan mengapa. Tak ada yang prihatin dengan awan kesedihan di wajahnya. Mang Asep malah tampak puas ketika melihatnya. Karena semakin menyedihkan rupa Tono, semakin besar kesempatannya memperoleh penghasilan yang tinggi hari itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suatu hari Tono duduk di samping Mbah Upik dan menanyakan hal yang sama dengan yang pernah dia tanyakan pada Mang Asep. Mbah Upik mengelus-elus kepala Tono dan berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nang…Nang Nasibmu memang malang. Terima saja.”Ia memanggil Tono dengan panggilan 'Nang'- panggilan kesayangan untuk anak laki-laki Jawa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukan itu jawaban yang diinginkannya. Karena itu akhirnya Tono bertekad mencari ibunya sendiri. Dia tak percaya bahwa ibunya sudah mati seperti kata Mang Asep. Tono yakin dia masih hidup, hanya entah di mana. Sebenarnya sempat terpikir oleh Tono untuk melapor ke pos polisi di seberang sana. Seperti yang sering dia lihat di siaran televisi yang biasa ditontonnya di warung di ujung lorong. Katanya polisi bisa membantu menemukan anak yang hilang. Tapi ini ibu yang hilang. Apakah mereka akan menolongnya mencari? Lagipula, Tono tak tahu bagaimana ciri-ciri ibunya itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi pencarian ibunya tak akan dihentikan Tono, meski tidak bisa mendapatkan bantuan polisi. Dia akan mencari sendiri. Toh, dia punya tangan, kaki, mata dan mulut. Dia yakin akan menemukan Ibunya suatu hari nanti. Dia hanya harus lebih teliti memperhatikan orang-orang yang lewat setiap hari. Suatu hari nanti ibunya pasti akan lewat. Tono percaya akan hal itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lampu merah menyala.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedan putih itu berhenti pelan. Tono mendekat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bu…”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono mengetuk kaca jendela dan memandang ke arah wanita muda di dalam. Wanita itu menoleh, melihat Tono sekejap dan kemudian melambaikan tangannya. Tanda untuk pergi. Tono mengetuk sekali lagi dan memasang wajah yang lebih memelas. Ini yang diajarkan Mang Asep, jangan cepat menyerah. Selalu minta sekali lagi, bila kau tidak dberi uang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mang Asep adalah pimpinan gerombolan mereka. Tono sendiri tidak tahu siapa sebenarnya laki-laki itu. Yang dia tahu hanyalah, setiap petang menjelang gelap, mereka semua pulang ke tempat yang mereka sebut rumah dan harus menyetorkan uang hasil mengemis sepanjang hari itu kepada Mang Asep. Rumahnya, sebenarnya hanya berupa kotak kayu yang berlubang dan penuh tambalan, yang berada di sebuah lorong sempit di belakangan kawasan pembuangan sampah. Dan setelah penyetoran selesai, Mang Asep akan memberikan makian atau pukulan untuk beberapa orang yang membuatnya tak puas dan kemudian diakhiri dengan ceramah singkat agar hasil yang mereka peroleh esok hari bisa lebih banyak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wanita bermata belo itu menoleh lagi, tampak sedikit jengkel. Namun kali ini tangannya bergerak ke bawah jendela. Dari lubang jendela yang terbuka sedikit, ia menjatuhkan sebuah uang logam. Tono menadahnya cepat dan mengucapkan terima kasih. Wanita itu tampaknya tak mendengarnya, karena secepat tangan Tono terulur, secepat itu pula kaca mobilnya tertutup kembali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelum menghampiri mobil belakang, Tono sempat memperhatikan wajah Ibu itu sekali lagi. Harusnya dia bukan ibuku, pikir Tono. Kulit wanita itu kuning langsat, alisnya tebal dan matanya belo. Sementara Tono hampir tak beralis dan matanya tak sebesar mata wanita itu. Kulitnya? Jauh dari kuning langsat. Walau Tono sendiri tidak yakin apa warna kulitnya itu. Coklat kehitaman? Sepertinya. Tapi rasanya, mereka yang mengemis di sana, rata-rata memiliki warna kulit yang sama. Entah karena rusak terbakar matahari atau karena debu yang menempel setiap hari sudah melekat, tak bisa dicuci lagi. Tono bahkan sering tidak mandi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mandi adalah sebuah kemewahan di kawasan tempat tinggalnya. Butuh dua ribu perak untuk sekali mandi di WC umum. Kalau dua kali sehari berarti empat ribu perak. Kalau tiap hari dia mengurangi jatah setorannya hanya untuk mandi dua kali, Tono harus mau merelakan telapak tangan Mang Asep yang besar singgah di wajahnya. Rasanya pedas dan panas. Bahkan bisa membuatnya pusing selama berjam-jam. Tono lebih suka dengan bau menyengat tubuhnya daripada merasakan penderitaan itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mobil berikutnya. Seorang wanita lebih berumur dari wanita yang tadi duduk di belakang setir. Wajahnya cantik, dandanannya tebal. Mobilnya bagus. Tono tidak tahu apa namanya. Merk-nya Toyota, tapi bentuknya seperti van hanya saja tampak lebih mewah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Belum sempat ia mengetuk, kaca mobil telah turun. Harusnya dia kasihan melihat wajah sendu Tono. Atau tubuh ringkihnya. Selembar uang lima ribuan disodorkannya pada Tono. Tak sadar Tono tersenyum lebar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Terima kasih, Bu!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia mengangguk dan balas tersenyum. Wangi parfumnya lewat, singgah di hidung Tono. Tono menatapnya lagi. Ah, seandainya dia ibuku… Cantik, kaya, baik… Aku pasti sangat beruntung, bisa ke mana-mana naik mobil mewah. Lagi aku pasti sangat disayang dan dimanjakan olehnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suara klakson bersahutan membuat Tono tersentak. Lampu hijau. Mobil mewah itu perlahan melaju pergi, meninggalkanTono yang masih tertegun di tepi jalan. Sebuah tarikan di sikunya membuat Tono sedikit oleng ke belakang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mau mati lo!” teriak Nuno di telinga Tono.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono tak sadar dengan kendaraan-kendaraan yang melaju di depannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mata Nuno membelalak. “Wah, gila lo! Dapat duit lima ribuan! Masih pagi uda dapat banyak!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono segera menyusupkan uang lima ribu tadi di saku celana rombengnya. Takut suara Nuno terdengar oleh yang lain. Bisa-bisa uangnya dirampas. Apalagi oleh Ibu Nuno, yang duduk mengemis di samping pohon itu. Tono tak pernah suka pada Ibu Nuno, walau kadang dia tak mampu menahan iri melihat Nuno memiliki Ibu kandung. Ibu Nuno itu adalah seorang wanita bertumbuh gemuk dengan rambut awut-awutan dan mulut yang senantiasa mencibir. Matanya selalu menatap siapa saja dengan tatapan mencela dan tak suka. Dia punya kebiasaan meludah setiap beberapa menit. Dan Nuno, sahabatnya itu sering menjadi bulan-bulanan makian kasarnya. Tono tak bisa membayangkan seandainya dia punya seorang Ibu seperti itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Nanti aku traktir jajan ya, No,” kata Tono yang disambut Nuno dengan cengiran lebar dan jingkrakan sebelum ia berlalu pergi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika Tono mundur, dia menabrak seseorang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hati-hati, Dik…”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono mengangkat wajah pada suara lembut itu. Dia terpana. Wajah seorang wanita muda yang terlihat begitu sabar dan lembut. Wanita itu tersenyum padanya dan tetap berdiri di tempatnya seraya memperhatikan lalu lalang kendaraan di depannya. Tampaknya dia akan menyeberang. Tono masih menatapnya, tak mampu berkata apa-apa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia menoleh, melihat Tono lagi. Kali ini dia merogoh tasnya dan menyodorkan selembar ribuan pada bocah itu. Mengira Tono tengah menunggu pemberiannya. Tono bahkan tak mampu berkata-kata. Pesona wanita muda itu membuatnya lumpuh. Tapi wanita itu tak mempedulikan Tono lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono menguatkan diri. Kalau tidak sekarang, mungkin tak ada kesempatan lain lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bu…”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wanita itu menoleh dengan alis naik sedikit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ngg… Boleh saya bertanya?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia mengangguk dengan senyum lembutnya. Mungkin tersentuh oleh kesopanan Tono.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ibu ini Ibu saya bukan?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Senyuman itu hilang. Ia tampak bingung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya sedang mencari Ibu saya. Dia meninggalkan saya waktu masih bayi. Saya tidak tahu wajahnya seperti apa.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semenit berlalu. Tono berharap dia mengangguk dan mendengarnya berkata, Oh, kebetulan sekali sembilan tahun yang lalu saya membuang anak saya di dekat sini. Kamu pastilah anak itu. Ayo, Nak ikut Ibu pulang…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi perempuan itu menggeleng. “Bukan, Dik. Saya belum menikah dan belum pernah melahirkan anak.” Sekali lagi dia tersenyum sebelum berbalik dan menyeberang. Lampu merah lagi.&lt;br /&gt;                                      *   *   *&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pencarian Tono rasanya tak akan pernah berujung. Hari demi hari lewat tanpa pernah menemukan dirinya, ibunya itu. Oh, Ibu di manakah dirimu berada? Rasanya begitu banyak orang yang lalu lalang setiap hari, bagaimana dia mampu menemukan wanita itu di antara mereka?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sampai hari itu ketika Tono berjalan tak tentu arah, meninggalkan tempat bertugasnya sehari-hari jauh di belakang. Ia menemukan banyak lukisan yang tergantung di sepanjang jalan. Tempat para pelukis jalanan mangkal. Tono terpesona akan wajah-wajah yang dilukiskan mereka. Ada wajah-wajah yang dikenalnya. Wajah-wajah yang biasa dilihatnya di layar kaca. Begitu mirip.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat itulah terbit ide di kepalanya. Bila saja lukisan wajahnya bisa digantung di sana dan mungkin suatu hari nanti ketika ibunya lewat tempat itu dan mengenali kemiripan wajah mereka, wanita itu akan dapat menemukannya. Bukan lagi cuma dia yang bisa menemukan wanita itu. Itu pikiran Tono. Dia sama sekali tak pernah meragukan kalau ibunya masih menginginkannya. Dan dia masih yakin ibunya membuangnya dulu karena terpaksa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia mendekati seorang lelaki tua yang tengah asyik melukis sebuah wajah yang mirip dengan foto kecil di samping kanvas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Pak…”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lelaki itu menoleh dan matanya langsung menyipit ketika melihat Tono. Kulitnya hitam kasar, begitupun dengan jemarinya yang berbonggol-bonggol. Rambutnya panjang terurai berantakan, sementara sebuah kacamata dengan kaca kekuning-kuningan karena dimakan waktu, bertengger di atas hidungnya yang pesek.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya mau dilukis, Pak,” kata Tono menatap lurus ke mata lelaki itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kamu punya uang gak?!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono merogoh sakunya dan mengeluarkan semua uang yang dimilikinya. Sebagian uang lembaran seribuan yang lecek dan beberapa uang logam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lelaki tua itu menoleh. Matanya membesar. “Edan!!! Pergi sana! Mengganggu kerjaan orang saja!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono setengah terbirit, kaget akan suara lelaki itu yang menggelegar tiba-tiba. Ditinggalkannya tempat itu. Dari sana ia berjalan perlahan, masih mengamati lukisan-lukisan sepanjang jalan. Masih dengan keinginan menggebu untuk bisa memajang foto dirinya di sana. Tapi lelaki tua tadi telah mengagetkannya. Ia tak berani lagi sembarang bertanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tiba di kios terakhir, langkah kaki Tono terhenti. Enggan meninggalkan tempat itu tanpa hasil. Namun dia juga tak tahu harus bagaimana. Seorang lelaki tua, berambut putih menengok ke arahnya. Lelaki itu sedang duduk menghisap sebatang rokok. Tampak menikmati setiap kepulan yang dihembuskannya. Ia menatap Tono. Tatapan Tono dari lukisan beralih ke wajah tua itu. Lelaki tua itu tersenyum. Tono tertegun. Sedetik kemudian ia balas tersenyum sementara kakinya melangkah masuk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Permisi, Pak,” sapanya sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Oh iya, masuk saja. Kamu cari siapa?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono ragu sejenak. Cari Ibu saya, Pak. Bapak bisa bantu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Nggg…. Begini, Pak. Nama saya Tono. Saya sedang mencari Ibu saya.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Oh… Memangnya ibumu ke mana, Nak?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya juga tidak tahu, Pak. Kata orang-orang Ibu saya ninggalin saya di pinggir rumah Mang Asep sejak saya masih bayi. Sampai sekarang Ibu tidak pernah kembali.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lelaki tua itu berhenti menghisap rokoknya. Ia bangkit sedikit, meluruskan punggungnya tanpa berkedip sedikitpun dari wajah Tono.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bocah itu kemudian menceritakan usahanya belakangan ini untuk menemukan ibunya. Suara kecilnya atau mungkin ekspresi wajahnya yang polos yang membuat lelaki yang bernama Pak Ghali itu tersentuh. Kepalanya mengangguk-angguk di antara cerita yang dituturkan Tono.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jadi maksud kamu mau Bapak melukis wajahmu dan menggantungnya di sini?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono mengangguk cepat. “Boleh, Pak?” tanyanya penuh harap. “Saya punya, tapi memang tidak banyak,” sambungnya lagi seraya merogoh sakunya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bapak tua itu tertawa seraya bangkit dari kursinya. “Kamu yakin Ibu kamu akan mengenali wajah kamu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono mengangguk cepat. “Wajah anak pasti mirip wajah ibunya. Ya kan, Pak?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pak Ghali mengangkat bahunya, tak mengiyakan. “Lalu, kalau sampai kamu besar nanti kamu tidak bisa menemukan Ibu kamu, bagaimana?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya akan terus mencari, Pak. Saya hanya ingin tahu bagaimana wajah Ibu saya.” Ada kesedihan dalam suara Tono. Kepala tertunduk. Pak Ghali menepuk pundaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini saja anak muda,” katanya seraya menatap lurus ke wajah Tono. “Bagaimana kalau Bapak Bantu kamu melukiskan wajah Ibu kamu?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bapak tahu wajah Ibu saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ghali tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tono tercengang. Jantungnya berdetak kencang. “Bapak kenal Ibu saya?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tentu saja tidak. Tapi kan kamu bilang wajah anak pasti mirip wajah ibunya. Berarti wajah kamu mirip wajah ibumu. Mudah untuk melukis wajah ibumu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tono tertegun, masih mencoba mencerna kata-kata Pak Ghali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini saja,” kata Pak Ghali seraya menggeser sebuah bangku kecil ke arah Tono. “Kamu duduk di sini, Bapak akan lukis wajah ibumu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tono menurut tanpa mampu berkata-kata. Dan lelaki tua itu mengambil kuasnya dan kanvas baru. Beberapa saat kemudian ia mulai melakukan pekerjaannya. Matanya berpindah-pindah dari kanvas dan wajah Tono. Tono menahan napas, takut untuk bergerak. Dia takut merusak karya besar Bapak itu. Wajah ibunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kamu mau rambut ibumu panjang atau pendek, Nak?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono tersentak, terkejut akan pertanyaan itu. Panjang atau pendek? Bayangan ibunya di kepalanya adalah seorang wanita lembut berambut panjang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Panjang, Pak,” jawabnya pelan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Rambutnya terurai atau disanggul?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kali ini senyum di wajah Tono merekah. “Sanggul, Pak,” jawabnya riang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kepala si Bapak terangguk-angguk, kemudian ia kembali larut dalam pekerjaannya. Hening menyelimuti tempat itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Entah berapa lama kemudian, yang Tono tahu hanyalah tubuhnya mulai terasa keram karena tidak digerakkan dalam waktu lama, ketika si Bapak berdiri dan berkata, “Sudah selesai.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lelaki itu melambai pada Tono. “Mari sini, Nak. Lihat wajah ibumu.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dada Tono seakan dipukul palu berat, bertalu-talu. Ia bangkit dengan kaki yang mati rasa dan sedikit gemetar. Akhirnya, untuk pertama kalinya ia akan melihat wajah ibunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono terpaku melihat lukisan sederhana itu. Wajah wanita di kanvas benar sungguh mirip wajahnya. Hanya saja wajah itu terlihat lebih halus dan tatapan matanya begitu lembut. Wanita itu tengah tersenyum ke arahnya. Tak sadar, airmatanya menitik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jangan nangis, Nak. Nanti Bapak pajang lukisan ini di luar. Setiap hari kamu bisa lewat sini, memandangi wajah ibumu kalau kamu rindu. Dan semoga kalau ibumu lewat sini, dia bisa mengenali wajahnya dan singgah untuk menanyakanmu.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Si lelaki tua menepuk-nepuk pundak Tono.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono berusaha tersenyum di antara tangisnya. “Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak…”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dirogohnya kantong celananya dan dikeluarkannya semua uang hasil mengemis hari ini. Dia bermaksud memberikan semua uang itu pada Bapak tua yang baik hati itu. Dia tak peduli lagi bila nanti sore mesti mendapat pukulan Mang Asep. Sakit itu tak akan ada artinya dibandingkan bahagia hatinya saat ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pak Ghali tertawa melihat uang yang disodorkan Tono.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Simpan saja, Nak. Bapak mau melukis wajah ibumu karena Bapak tahu sedih hatimu. Bapak ingin membantumu.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono terperangah. Tak percaya ada seseorang yang tak menginginkan uang. Tak percaya ada orang yang ikhlas dalam dunia ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Tapi, Pak…”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pak Ghali mengambil lukisan yang telah jadi itu dan menggantungnya di sudut depan kios tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bagaimana? Kamu suka?”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono mengangguk cepat, seraya menyeka sisa airmatanya. Hatinya penuh dengan rasa bahagia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sudah sore, pulanglah,” kata Pak Ghali seraya menepuk kedua tangannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tono mengangguk. Sekali lagi mengucapkan terima kasih dan sekali lagi memandangi wajah ibunya dengan senyum terlebar yang dimilikinya. Kini, ia tak perlu mencari-cari wajah ibunya di antara orang-orang yang lewat. Kini ia telah tahu wajah ibunya. Wajah Ibu yang selama ini dicari-carinya.&lt;br /&gt;                                        &lt;br /&gt;* Naskah Pemenang Utama Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR 2009) Tingkat Nasional Kategori C (Umum/ Guru/ Mahasiswa) yang diselenggarakan PT. ROHTO LABORATORIES INDONESIA &amp; RAYA KULTURA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Terima kasih saya ucapkan khusus untuk G.Lini Hanafiah (Guru, Kakak dan Sahabat saya) dengan rumah Yuk Nulis yang selama ini telah banyak men-support saya hingga bisa menulis kembali. Juga kepada Mbak Henny Listyowati yang telah memberi info LMCR 2009, juga pada teman-teman yuk nulis dengan jempolnya. Dan tak lupa teman-teman di facebook yang juga telah memberikan banyak dukungan. Tanpa kalian semua, prestasi ini tak akan pernah ada...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-6899621537395997927?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/6899621537395997927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/11/mencari-wajah-ibu.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/6899621537395997927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/6899621537395997927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/11/mencari-wajah-ibu.html' title='Mencari Wajah Ibu'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sw45Ke6ZIFI/AAAAAAAAAIQ/4VJvLLCJ1pg/s72-c/cover+first+book.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-1221466012408880813</id><published>2009-11-21T15:39:00.000+07:00</published><updated>2009-11-24T09:03:17.612+07:00</updated><title type='text'>Ketika Aku Ingat Padamu...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sws6ZpG1vOI/AAAAAAAAAHo/-0SdzPKWQSY/s1600/29775.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 307px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sws6ZpG1vOI/AAAAAAAAAHo/-0SdzPKWQSY/s320/29775.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407479989794094306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini aku bangun dan mengingat dirimu. Tiba-tiba ada rasa rindu yang tak bisa kuenyahkan. Lalu kuputuskan untuk menulis sebuah surat untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hai, apa kabar? Lama tak ada berita darimu. Baik-baik saja? Semoga. Aku di sini baik-baik saja. Hanya saja aku tiba-tiba ingat padamu. Entah mengapa, aku tak tahu. Mungkin aku rindu padamu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar jariku menekan tombol delete, menghapus semua kalimat yang telah kutulis. Terlalu jujur... Bukan. Terlalu murah? Bukan... Sebenarnya aku tiba-tiba merasa takut memikirkan apa reaksimu ketika kau membaca kalimat-kalimatku itu. Takut bila kau tak senang akan kerinduanku. Takut bila ternyata kau salah mengartikan kalimat-kalimat jujurku. Dan kemudian kau akan salah paham, menghindariku dan akhirnya bukan kerinduanku yang akan terbalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hey! Aneh... Padahal biasanya aku menyuratimu langsung tanpa pernah berpikir apa-apa. Biasanya kalimat-kalimatku mengalir begitu saja tanpa pernah aku pertanyakan sendiri. Lalu, mengapa hari ini berbeda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sebaiknya aku meneleponmu langsung. Bisa langsung mendengar suaramu dan juga bisa bercanda denganmu. Bukankah kita sering saling bercanda lewat telepon? Bukan sesuatu yang luar biasa, bukan? Tidak ada yang aneh bila saat ini aku meneleponmu, bukan? Ya, ide yang bagus. Kuraih telepon dan menekan nomor teleponmu yang sudah kuhapal di luar kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tut.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kira-kira kau sedang apa, ya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tut....&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira kau akan senang tidak mendapat telepon dariku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tut....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tunggu! Apa yang harus kukatakan padamu? Hai, apa kabar? Baik. Ada apa? Ngg... tidak apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar kutekan tombol off, mematikan sambungan telepon. Belum apa-apa aku sudah paranoid sendiri. Belum apa-apa keringat dingin sudah membasahi keningku. Dan jariku gemetar. Dan dadaku, di dalam sana seperti ada ribuan drum, terdengar pukulan bertalu-talu...&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya ampun, ada apa ini? Aku tiba-tiba bukan diriku lagi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lihat!&lt;/span&gt; Semua rasaku tak dapat kuatur lagi. Bahkan gerakan dari tubuhku juga tak dapat kukendalikan lagi.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;  &lt;/span&gt;Seakan tubuhku juga bukan lagi milikku. Hanya karena sebuah ingatan padamu... Begitu hebatkah dirimu padaku? Seakan aku ini sebuah robot yang bisa kau kendalikan dari tempat yang jauh. Ataukah karena aku sendiri yang merelakan alat pengendali diriku padamu? Begitu bodohkah diriku? Tidak. Aku tidak bodoh, tapi mengapa aku merasa menjadi bodoh hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah... Aku tak tahu. Aku sendiri tak mengerti. Aku hanya ingin rasa ini cepat-cepat berlalu. Aku hanya ingin bisa mengenyahkan semua bayanganmu yang terus menguntit langkahku.  Rindu ini bukan sesuatu yang manis lagi, yang bisa kunikmati pelan-pelan. Rindu ini mulai mematikan semua akal sehatku dan menjadikanku lumpuh tak berdaya. Aku ingin bebas menjadi diriku lagi. Diriku yang kemarin  bahagia dan damai tanpa rasa ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://i.mynicespace.com/297/29775.jpg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-1221466012408880813?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/1221466012408880813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/11/ketika-aku-ingat-padamu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1221466012408880813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1221466012408880813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/11/ketika-aku-ingat-padamu.html' title='Ketika Aku Ingat Padamu...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sws6ZpG1vOI/AAAAAAAAAHo/-0SdzPKWQSY/s72-c/29775.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-548601348711515973</id><published>2009-11-16T16:23:00.000+07:00</published><updated>2009-11-19T17:41:12.320+07:00</updated><title type='text'>If Tomorrow Never Comes...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SwUd8CaeZRI/AAAAAAAAAHg/OT6_lrIiv_8/s1600/kepergiaan-dan-perpisahan-pic.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 291px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SwUd8CaeZRI/AAAAAAAAAHg/OT6_lrIiv_8/s320/kepergiaan-dan-perpisahan-pic.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405759845005419794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dulu, if tomorrow never comes, hanya sebuah judul lagu bagiku. Lagu yang indah, sendu dan romantis. Pernah seorang teman bertanya padaku, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;if tomorrow never comes, what you will do today?&lt;/span&gt; Aku terdiam sejenak, berpikir dan berpikir. Tapi tak menemukan jawaban yang meyakinkan diriku sendiri. Akhirnya kujawab, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jangan dulu, masih banyak yang belum sempat aku lakukan.&lt;/span&gt; Sebenarnya itu adalah jawaban yang bukan jawaban untuk pertanyaan tersebut. Hanya sebuah kalimat untuk berkelit, tak ingin memikirkan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa malam yang lalu seorang teman di China City menyanyikan lagu Ronan Keating tersebut. Masih, seperti dulu selalu terdengar sendu di telingaku. Tap kali ini kalimat-kalimat lagu tersebut mengalir lebih perlahan, menyusup ke dalam jiwaku. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana jika esok tak pernah datang?&lt;/span&gt; Menghadirkan resah yang tak mampu kuusir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah terpikir olehmu tentang hal ini? Bila baru sekarang terpikir, ketika kau membaca tulisanku ini, lalu apa jawabanmu? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana bila esok tak pernah datang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam aku tak bisa memejamkan mata. Tiba-tiba kalimat itu terus terngiang-ngiang, menuntut sebuah jawaban. Tak mampu bersembunyi lagi, menghindar, atau berkata, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nanti saja, aku belum memikirkannya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini aku belum pernah memikirkan pertanyaan ini dengan serius, karena kata kematian selalu merupakan kata asing, yang hanya kadang-kadang terdengar namun begitu jauh tak terlihat olehku. Tapi kini aku seakan dipaksa duduk menatap lurus pada kenyataan yang telah mempunyai bentuk yang tak bisa diubah lagi. Kenyataan bahwa seseorang ditakdirkan harus menjawab pertanyaan itu. Dan kini ia mesti mulai menghitung langkah yang tersisa di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;esok&lt;/span&gt; kini bukan lagi sebuah kata yang pasti. Esok, seakan sebuah mimpi dan janji yang tak pernah berwujud nyata. Begitu dekat terasa, tapi kadang aku tak yakin kita dapat menggapainya. Karena ia tak pernah bisa menjadi milik diri. Ketika ia masih datang menghampiri ada rasa syukur terucap. Namun jika ia benar-benar tak datang lagi, haruskah aku mengutuknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah takut akan kematian. Bagiku hidup dan mati adalah sebuah proses alami. Bila pun kini aku harus melepas hidup, mungkin aku akan menutup mata dengan rela. Namun aku takut ketika mendengar kata kematian bagi orang-orang di sekelilingku. Aku tak pernah bisa melepas rasa khawatir tak dapat menemukan mereka lagi di sampingku. Aku tak pernah berani kehilangan orang-orang yang kucintai. Dunia ini tak akan pernah memberi bahagia yang sama lagi ketika langkahku harus sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, aku merasa terpuruk di sini, memikirkanmu. Maaf, bukan kata-kata penghiburanku selama ini hanya kata-kata kosong belaka. Tidak. Itu setulus hatiku, berharap yang terbaik bagimu. Aku tersenyum, mengirimkan semangat hidup bagimu dalam kata maupun tatapan mataku. Aku bahkan mengajakmu menertawakan kematian. Kita bahkan merencanakan akhir yang indah. Tapi di sini sendiri, aku tak mampu menutup pintu hatiku bagi sedih yang telah lama menyelinap masuk. Ya, sejak aku mendengar kabar tentangmu, hatiku hancur. Malam itu aku menangis tanpa suara. Tangis yang kusimpan lama, tak ingin kau melihatnya. Tidak. Aku harus selalu tegar dan bahagia di matamu, karena aku akan menjadi sumber semangat dan sisa cahayamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah tahu bagaimana rasamu menghadapi semua ini. Terlalu angkuh diriku bila kukatakan aku mengerti. Tidak. Aku tak pernah mengerti berapa besar ketakutan dan bebanmu saat ini. Itu yang membuatku merasa tak berarti dan tak berguna. Bila saja mampu kuangkat sebagian beban itu, biar kita pikul bersama di jalan ini... Andai Tuhan memberi kita kesempatan untuk tawar-menawar, bahkan untuk sebuah kata kematian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan memang tak pernah sebijaksana kata. Meski aku tahu di sana, di ujung kehidupan ini akan kau temukan damai dan bahagia, meski aku tahu kematian adalah pelepasan jiwa dari segala beban, masih saja lara ini tak mau pergi. Aku bahkan berharap langkah kakiku yang pertama sampai pada ujung kehidupan sebelum orang-orang di sekitarku. Ya, ini egois-nya diriku. Yang tak pernah ingin ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini, kucoba untuk menikmati setiap detik yang aku punya dengan semua orang di sekitarku. Ketika kau tertawa, aku berhenti sejenak, memperhatikan tawa itu. Ingin menangkap dengan jelas semua ekspresi, suara dan rasa hati yang ada. Dan setiap detik itu kucoba menghadirkan syukur di hati. Terima kasih Tuhan untuk saat ini... Tak pernah lagi ingin membiarkan waktu berlalu begitu saja dengan cepat tanpa pernah teramati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu aku tahu, bila esok akhirnya aku harus kehilanganmu, tetap airmataku akan kembali menetes. Dan hatiku akan kembali berduka. Setegar apapun diri ini, sebaik apapun pengertianku akan hidup dan mati, tetap bahagiaku tak akan menjadi sama dengan kosongnya hadirmu di sini. Namun, tak peduli tinggal berapa esok lagi yang tersisa, tak peduli sependek apa jalan di depan sana, aku akan berjalan menemani langkahmu dengan semua semangat yang kupunya. Dan tak akan kubiarkan kau melihat dan merasakan sedihku. Aku akan selalu tersenyum bahagia dan ceria. Sepanjang sisa jalan ini bersamamu, aku berjanji tak akan pernah lagi memikirkan pertanyaan itu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bagaimana bila esok tak pernah tiba? &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Biarlah, seandainya esok tak akan tiba untukmu atau pun untukku, akan kunikmati hari ini, sisa waktu yang ada ini,  dengan seluruh rasa dan bahagia yang masih ada...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Photo Link:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; http://rullyeist.files.wordpress.com/2009/09/kepergiaan-dan-perpisahan-pic.jpg&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-548601348711515973?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/548601348711515973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/11/if-tomorrow-never-comes.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/548601348711515973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/548601348711515973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/11/if-tomorrow-never-comes.html' title='If Tomorrow Never Comes...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SwUd8CaeZRI/AAAAAAAAAHg/OT6_lrIiv_8/s72-c/kepergiaan-dan-perpisahan-pic.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-1636707783731640661</id><published>2009-11-14T17:11:00.000+07:00</published><updated>2009-11-14T20:17:43.151+07:00</updated><title type='text'>Saat Aku Pulang...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sv6r8C1KoDI/AAAAAAAAAHQ/xAjT2PMJUfs/s1600-h/highgate-cemetery-4362.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sv6r8C1KoDI/AAAAAAAAAHQ/xAjT2PMJUfs/s320/highgate-cemetery-4362.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403945650931540018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri di belakang pintu yang baru kututup. Lama, memandangi seisi ruangan itu. Ada rasa bahagia yang pelan-pelan menyusup. Berapa lama aku tak berada di sini? Rasanya sudah begitu lama. Dan saat ini ketika rasa rindu membawaku pulang kembali, tak dapat kuceritakan dengan kata-kata. Rumah. Ini rumahku. Tempat yang selalu aku cintai. Tempat aku selalu merasa nyaman. Dan kini aku telah pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunaiki tangga menuju lantai dua dengan perlahan. Ingin kuresapi semua momen ini. Semua gerakan langkahku, sentuhan tanganku pada dinding rumah. Juga pijakan kakiku pada lantai yang terasa dingin. Melayang kembali ingatanku ke tempat jauh di mana beberapa waktu yang lalu aku berada. Ketika aku tak mampu untuk pulang dan begitu merindukan tempat ini. Mencoba membayangkan detil setiap bagian dari rumah ini. Dan saat aku di sana berharap dengan memejamkan mata, separuh diriku dapat menghilang dan hadir dalam rumah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai dua sepi. Tak ada suara sama sekali. Kosong. Hanya ada benda-benda yang sudah begitu akrab dengan diriku. Rak buku di sudut yang penuh dengan buku-buku bacaanku. Aku meraih sebuah buku, merasakan kertas itu di tanganku. Berapa lama sudah waktu kulalui tanpa bacaan? Aku tak ingat dengan pasti. Hanya rasanya sudah lama sekali. Kuhampiri meja kerjaku. Duduk di sana, menyandarkan punggungku sejenak dan memutar kursiku. Rasanya begitu menyenangkan. Meja itu masih tertata rapi dan bersih. Seakan siap menungguku pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulanjutkan tour singkat ini. Ya, rasanya seperti melakukan sebuah tour dalam sebuah gedung bersejarah. Pelan-pelan mengamati semua yang ada di dalam tempat ini. Dan mencoba merekam semuanya dengan lebih jelas, seakan-akan ada rasa takut bila kali berikut aku pergi lagi, aku tak mampu menghadirkan lagi bayangan tempat ini dalam angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka pintu ke lantai tiga. Senyumku terkembang, memikirkan seseorang yang akan segera kutemui. Dia, yang selama ini kurindukan. Ini pasti sebuah kejutan menyenangkan baginya. Kali ini langkahku lebih bergegas. Sebelum kubuka kamar tidurku, aku masih sempat menengok dapur dan ruang makan yang juga tertata rapi dan bersih. Seakan tak ada jejak ketidakhadiranku selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar ini kosong. Tapi terang benderang. Aku melihat dia di luar sana, di balkon sedang menikmati hisapan rokoknya. Ya, aku telah menetapkan sebuah peraturan bahwa semua ruangan di lantai tiga ini harus bebas dari asap rokok. Karena itu, dia mesti keluar dan menikmati rokoknya di balkon. Aku tak dapat menahan senyum. Ternyata dia mematuhi aturan tersebut walaupun aku tak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranjang di kamar tertata rapi dengan semua bantal tersusun di tengah. Kuraih guling kesayanganku. Kupeluk dan kucium dalam-dalam. Betapa menyenangkannya rasa ini. Tapi kemudian mataku tertumbuk pada mawar ungu di meja riasku. Aku lepaskan guling itu dan mendekati meja itu. Mawar ungu? Indah sekali. Untuk siapa? Untuk aku? Dia tahu kepulanganku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku mendekat ingin mencium mawar-mawar indah itu ketika terdengar pintu balkon membuka dan menutup. Aku menoleh, melihatnya dalam sosok yang jelas. Senyumku terkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masuk, meletakkan bungkusan rokoknya, tapi kemudian langkahnya terhenti. Matanya tertumbuk pada guling yang kutaruh sembarang di atas ranjang yang tak lagi rapi. Ia tertegun lama dan kemudian mengangkat wajahnya. Matanya mengitari seluruh ruangan, melewati diriku tapi tak singgah pada diriku. Ekspresi wajahnya terlihat aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Li, kau di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa. Pertanyaan macam apa itu. Tentu saja aku di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pulang," kataku seraya melupakan mawar-mawar di meja. Tapi kemudian senyumku menghilang melihatnya duduk di tepi ranjang dan meraih guling yang tadi kupeluk. Dia memeluk guling itu dengan begitu erat, sementara matanya menutup. Ekspresi wajahnya terlihat begitu sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, ada apa denganmu?" tanyaku heran seraya mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu dia membuka matanya yang telah basah dengan airmata. Dia menangis. Bahunya terguncang pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlutut di hadapannya, baru saja bermaksud membelai tangannya ketika...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Li, aku kangen... Kangen sekali padamu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah pulang, Sayang," kataku seraya mendekati wajahnya. Ingin dia melihatku. Tapi aneh dia seakan tak melihatku juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Li, bagaimana aku bisa hidup tanpamu?" Suaranya terdengar begitu pilu menyayat hatiku. Mengapa dia begitu sedih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak. Dia tidak melihatku. Dia berbicara pada guling. Bahkan airmatanya terus mengalir. Dia harusnya memelukku bukan guling itu. Ada yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meraih tangannya, "Aku di sini, Sayang. Aku pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih terus menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sam! Sam!" Aku mengguncang-guncang tangannya. "Lihat aku. Aku di sini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih tenggelam dalam tangisnya. Seakan suaraku tak pernah singgah di telinganya. Seakan aku berada di dunia lain yang tak terjangkau olehnya. Dunia lain? Sebuah kesadaran menghantamku seketika. Aku merasakan ketegangan memenuhi diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sam," panggilku lagi, kali ini dengan rasa takut dan kekhawatiran. Kuharap ia akan menoleh dan tersenyum mengakhiri tangisannya. Aku berharap dia hanya bersandiwara. Aku berharap apa yang kupikirkan tadi tidak benar sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sam..." panggilku sekali lagi dengan rasa putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak bereaksi sama sekali pada suaraku. Dia lalu bangkit dan merebahkan dirinya di ranjang. Di sana, memeluk gulingku dia memejamkan matanya. Begitu kesepian. Begitu menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar airmataku menetes. Ya, Tuhan! Apa yang terjadi padaku? Di mana aku? Di mana tubuhku? Mengapa aku pulang tanpa membawa tubuhku? Apa yang harus aku lakukan? Kupandangi dirinya di sana, tenggelam dalam kesedihannya. Hatiku hancur berkeping-keping. Aku bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal padanya. Aku bahkan tak bisa menghiburnya lagi. Tak bisa menemani langkahnya lagi. Oh, Tuhan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan aku naik di ranjang, berbaring di belakangnya, dengan mata basah memeluk tubuhnya yang hangat. Aku takut. Aku sungguh takut. Entah sampai kapan aku masih bisa memeluknya seperti ini. Entah sampai kapan roh-ku ini masih bisa berada di sini menemaninya. Bila tubuhku bukan milikku lagi, roh-ku ini mungkin juga akan segera bukan menjadi milikku lagi. Aku tak tahu. Aku hanya bisa menghabiskan sisa waktu yang kupunya dengan memeluknya, merasakan sekali lagi kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sam, aku di sini," bisikku, berharap dia bisa mendengar suaraku untuk yang terakhir kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://static.royalacademy.org.uk/images/width550/highgate-cemetery-4362.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-1636707783731640661?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/1636707783731640661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/11/saat-aku-pulang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1636707783731640661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1636707783731640661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/11/saat-aku-pulang.html' title='Saat Aku Pulang...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Sv6r8C1KoDI/AAAAAAAAAHQ/xAjT2PMJUfs/s72-c/highgate-cemetery-4362.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-1670579157598629360</id><published>2009-10-14T17:20:00.000+07:00</published><updated>2009-11-24T16:05:01.405+07:00</updated><title type='text'>Sepenggal Kisah di Suatu Masa...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SwublNp6vDI/AAAAAAAAAHw/PGaEeTrWPF0/s1600/2718410.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SwublNp6vDI/AAAAAAAAAHw/PGaEeTrWPF0/s320/2718410.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407586841211354162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bocah berusia empat tahun itu terpaku menatap tubuh neneknya yang diangkat orang-orang. Dia tak mengerti mengapa sang Nenek tak bangun dari tidurnya. Dan ketika orang-orang telah meninggalkan rumah itu, tinggallah ia sendirian. Tiba-tiba seorang lelaki tua muncul, menepuk bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, Nak, ikut Kakek pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menengadah menatap wajah yang penuh kerutan itu. Wajah yang telah dikenalnya. Lelaki itu tinggal di ujung jalan ini, dulu neneknya pernah membawanya berkunjung ke rumah lelaki itu. Tangan kecilnya menyambut uluran tangan lelaki itu. Dan mereka pun melangkah keluar. Bocah itu masih sempat berbalik, melihat rumahnya yang kini dalam keadaan kosong, sekali lagi. Tatapan matanya terlihat murung meski tak ada airmata di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua baik hati itu membawanya pulang ke rumahnya. Di sana ada sang Istri yang juga sudah tua dan seorang anak perempuan, cucunya. Mereka semua memperlakukannya dengan baik. Wanita yang juga sudah tua yang dipanggilnya nenek itu, selalu menyiapkan makan dan air mandinya. Seperti yang dilakukan neneknya dulu. Anak perempuan itu juga sering mengajaknya bermain. Namun bocah laki-laki itu tak pernah tersenyum dan bicara. Ia selalu terlihat murung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari lelaki tua itu pulang dari perjalanannya yang panjang menjual kain di kampung tetangga, ia tak menemukan bocah laki-laki itu. Istrinya tak tahu bocah itu pergi ke mana. Setelah lama mencari akhirnya ia menemukan bocah itu tengah berdiri di depan rumahnya dulu, hanya berdiri diam, menatap ke arah pintu yang telah tertutup. Lelaki itu menjadi iba. Pastilah bocah itu merindukan neneknya yang telah tiada. Dia pasti tak mengerti mengapa dirinya tak bisa lagi pulang ke tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirangkulnya bocah itu dan diajaknya pulang. Ia membuat sebuah mainan dari kayu untuk bocah itu, namun lelaki tua itu sedih melihat bocah itu tak juga bergembira. Ia dan istrinya yang sudah tua itu tak dapat membahagiakan bocah tersebut. Bocah malang yang telah kehilangan kedua orangtuanya dan neneknya dalam waktu yang dekat. Ayahnya telah pergi entah ke mana sementara ibunya meninggal beberapa bulan yang lalu. Dan kini neneknya yang selama ini membesarkannya ikut pula meninggal. Bocah itu pastilah sangat kebingungan menghadapi kepergian ketiga orang yang sangat dekat dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya sang Kakek pulang dengan membawa seorang wanita muda yang berwajah lembut. Wanita itu ditemani oleh seorang anak laki-laki lainnya yang kira-kira berumur dua belas tahun. Dikenalkannya wanita itu pada bocah tersebut. Kemudian anak wanita itu mengajak bocah itu bersepeda. Mereka pergi beberapa lama, sementara wanita itu bercakap-cakap dengan kakek tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka kembali, wajah bocah itu terlihat cerah. Tak pernah kakek itu melihat ekspresi wajahnya seperti itu. Seakan antara kedua anak lelaki itu telah terjalin hubungan yang kuat. Bocah itu bahkan bisa tersenyum. Sang Kakek merasa lega, semua kekhawatirannya kalau rencananya ini tidak berjalan dengan baik sirna sudah. Ia pun memberitahu maksud kedatangan wanita itu untuk menjemput sang bocah, mengajaknya tinggal bersama. Wanita itu mengatakan kalau bocah itu boleh memanggilnya dengan sebutan ibu. Bocah itu mengangguk. Di matanya ada binar bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun pergi, meninggalkan rumah si Kakek tua yang baik hati itu. Namun ketika sampai di ujung jalan, bocah tersebut berbalik, berlari kembali ke rumah kakek tersebut. Lelaki tua yang masih berdiri terpaku di depan pintu rumahnya dengan wajah sedih itu tersentak kaget. Bocah itu kini berdiri diam di hadapannya, menatapnya lama. Ia kemudian tersenyum dan memeluk kakek itu tiba-tiba. Mengucapkan sepotong kata terima kasih. Setelah itu ia pun melepaskan pelukannya dan kembali mengejar dua orang baru yang kini menjadi keluarganya. Tubuh kakek itu gemetar, tak dapat menahan airmatanya yang menetes di pipinya yang keriput. Airmata sedih dan bahagia. Ia sedih karena esok tak akan melihat bocah itu lagi. Bocah yang diam-diam mulai disayanginya. Namun di saat yang sama ia juga bahagia akhirnya bisa mencarikan sebuah keluarga baru bagi bocah itu, sehingga bocah itu bisa kembali tersenyum bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sepenggal kisah sederhana yang selalu tersimpan di ingatan...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://www.glogster.com/media/2/2/71/84/2718410.jpg&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-1670579157598629360?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/1670579157598629360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/10/sepenggal-kisah-di-suatu-masa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1670579157598629360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/1670579157598629360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/10/sepenggal-kisah-di-suatu-masa.html' title='Sepenggal Kisah di Suatu Masa...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/SwublNp6vDI/AAAAAAAAAHw/PGaEeTrWPF0/s72-c/2718410.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-2417324376028660927</id><published>2009-10-12T18:04:00.000+07:00</published><updated>2009-10-12T19:30:49.337+07:00</updated><title type='text'>Tuhan, tolong damaikan mereka...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/StMdSjluEUI/AAAAAAAAAHI/7jZ8yFjHdp0/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 106px; height: 138px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/StMdSjluEUI/AAAAAAAAAHI/7jZ8yFjHdp0/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391685383520915778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sore itu...&lt;br /&gt;Terdengar suara azan maghrib, Ina berlari cepat masuk ke kamar. Di dalam kamar yang gelap itu, ia meringkuk di sudut ranjang. Menutup kepalanya dengan bantal dengan sekuat tenaga. Berharap dunia menjadi sunyi senyap. Namun sayup-sayup azan maghrib masih juga terdengar, menembus bantal yang tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, suara-suara nyaring yang bersahutan terdengar. Tangan kecil Ina menekan bantal semakin kuat. Jantungnya berdetak lebih cepat. Suhu tubuhnya terasa naik. Suara-suara itu tak berhenti malah semakin keras. Beberapa kata makian tertangkap oleh telinga Ina. Entah berapa lamanya sampai suara-suara itu pun menghilang diakhiri dengan suara deruman motor menjauh. Ayahnya telah pergi. Kemudian disusul suara bantingan pintu. Barulah Ina melepaskan bantal di kepalanya. Rambutnya kuyup, lengket pada kulit wajahnya. Ia membuka matanya yang kecil dan basah. Lekas dihapusnya airmatanya sebelum ia bangkit, meninggalkan kamar itu. Sudah aman. Harus cepat-cepat keluar sebelum ibunya mengomelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu...&lt;br /&gt;Ina terbangun dari mimpinya. Sejenak ia terdiam menatap gelap, tak sadar sedang ada di mana. Semenit kemudian kesadarannya pulih. Ia tengah di kamarnya, menjalani tidur malam. Lalu mengapa dia terbangun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik tembok terdengar suara orang-orang bertengkar. Suara-suara yang dipenuhi amarah dan makian. Kembali jantung Ina berdetak cepat. Ayahnya pulang. Ia melirik jam di samping ranjangnya, pukul setengah dua belas. Pantas saja! Ina menggoyang-goyangkan tubuh sang Kakak yang tertidur pulas di sampingnya. Tapi kakaknya tak bangun juga. Tinggallah ia sendirian dengan tubuh gemetar. Baru saja Ina berniat kembali menutup kepalanya dengan bantal ketika pintu kamarnya terbuka.  Dan sosok Ibu muncul di sana. Ina cepat-cepat menutup matanya, pura-pura tidur kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu memanggilnya berulang-ulang. Ina tetap diam. Panggilan Ibu semakin keras. Separuh takut separuh tak tega, Ina kecil membuka matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Panggil ayahmu tidur di kamar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina bangkit, berusaha tidak menatap wajah ibunya yang tampak begitu marah. Ia melewati ibunya dan pergi ke dapur, menebak ayahnya pasti ada di sana. Ini bukan kejadian pertama, juga tidak akan menjadi kejadian terakhir. Dan di akhir pertengkaran yang tidak berujung ini, ia selalu harus menjadi pembawa pesan damai. Meski damai itu tak pernah benar-benar terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina menyentuh pelan tangan ayahnya. Rasa takut selalu menghantuinya bila berhadapan pada sosok yang tak pernah ramah itu. "Yah, tidur di kamar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tidak menggubrisnya. Ia duduk di kursi dengan kepala tertunduk dan wajah tersembunyi di balik tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah... Tidur di kamar," ulang Ina kembali seperti menyanyikan lagu yang sudah sangat dihapalnya. Bagaimana tidak, kalimat itu, kata-kata itu setiap malam harus diucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena kasihan padanya atau karena memang sudah tahu mesti menjalani akhir yang seperti ini, ayahnya bangkit, berjalan masuk ke kamar. Begitupun Ina, kembali ke kamarnya. Begitupun ibunya tak lama kemudian menyusul ke kamar, tidur dalam senyap dengan sang Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama Ina tak bisa tidur, berbaring di kamarnya yang sempit dan gelap itu. Suara-suara Ayah ibunya terdengar kembali, terngiang-ngiang begitu jelas di telinganya, tak mau pergi. Dan teror ketakutan kembali memeluknya. Ia tak mengerti mengapa Ibu setiap sore dan malam harus siap dengan begitu banyak pertanyaan pada Ayah. Ia tak mengerti mengapa Ayah tak pernah mau pulang lebih awal agar rumah ini bisa damai. Dan ia tak mengerti mengapa dua orang yang katanya saling mengasihi bisa saling memaki dan membenci. Jiwa kecilnya memberontak, menangis, tak tahu harus berbuat apa. Tak tahu bagaimana mengusir ketakutan yang selalu mengikuti langkahnya setiap hari. Membuatnya membenci sore dan malam hari. Sore hari ketika ayahnya mesti berangkat kerja ke sebuah restoran, dan malam hari ketika ayahnya terlambat pulang. Karena sore dan malam hari adalah saat-saat yang begitu mencekam jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah dilihatnya Ayah dan ibunya saling memeluk atau bersentuhan. Ia bahkan tak pernah disentuh mereka. Hanya ada kemarahan dan kebencian di wajah mereka berdua. Dan kebencian itu mulai terasa membakar rumah ini. Membuat Ina kecil panik, ingin bisa bersembunyi di tempat yang tak terjangkau. Seandainya saja mereka punya lorong rahasia di bawah tanah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia takut. Takut bila ayahnya menjadi kalap dan memukul ibunya. Ia takut mendengar jeritan kemarahan Ibu yang menggetarkan jiwanya. Ia ingin berlari, tapi ke mana? Ia ingin meminta mereka untuk berhenti, tapi bagaimana? Mereka tak pernah mempedulikannya. Mereka tak menggubrisnya. Mereka hanya sibuk dengan emosi masing-masing. Apakah memang seperti itu menjadi orang dewasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering Ina berkhayal seandainya Ayah ibunya saling bergandengan tangan dan menyapanya dengan lembut. Dan mereka berempat menjadi sebuah keluarga yang bahagia. Seperti halnya ia sering melihat Ayah dan Ibu Cece, teman baiknya, yang selalu akur di manapun mereka berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina kecil menangis tersedu-sedu di balik bantal yang menutup kepalanya. Tak sadar terucap doa dari bibir mungilnya. Meminta pada Tuhan untuk mendamaikan kedua orangtuanya.  Meminta Tuhan untuk menghilangkan sore dan malam hari dari hidupnya. Ia masih terus menangis hingga ia jatuh tertidur. Sejenak terlepas dari semua beban jiwa dan deritanya. Namun entah apa yang akan menantinya esok hari. Akankah ada episode yang sama, juga ketakutan yang sama menunggunya kembali???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo link: http://www.desicomments.com/user/2008/04/10257/bkbvgokgkl.JPG&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-2417324376028660927?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/2417324376028660927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/10/terdengar-suara-azan-maghrib-ina.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2417324376028660927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2417324376028660927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/10/terdengar-suara-azan-maghrib-ina.html' title='Tuhan, tolong damaikan mereka...'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/StMdSjluEUI/AAAAAAAAAHI/7jZ8yFjHdp0/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-2682281465011624125</id><published>2009-10-12T09:34:00.000+07:00</published><updated>2009-10-12T19:40:32.600+07:00</updated><title type='text'>Jeritan kekasih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/StKp0davPRI/AAAAAAAAAHA/IRjVM0pIQpE/s1600-h/29805.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 266px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/StKp0davPRI/AAAAAAAAAHA/IRjVM0pIQpE/s320/29805.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391558422630972690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hidup macam apakah ini? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leisa menatap pantulan wajahnya di cermin. Pantulan itu tak lagi terlihat indah. Menghadirkan getir di hatinya. Tangannya meraba lebam di pipinya. Tangan itu gemetar. Ingin rasanya dirobeknya lebam itu dari wajahnya. Matanya kemudian tertumbuk pada bercak merah di sana, yang menodai putih matanya. Mata itu kini terlihat menyeramkan. Tidak. Lebih tepatnya menyedihkan. Mengingatkannya pada peristiwa semalam. Menyebarkan berita kemalangannya pada dunia. Ya, semua akan tahu bila ia muncul dengan wajah seperti itu. Tapi mereka semua hanya akan berbisik-bisik di belakangnya. Turut prihatin dengan nasibnya? Mungkin. Mungkin juga hanya senang bisa mendapatkan bahan gosip yang baru. Bukankah penderitaan seseorang sering menjadi kebahagiaan yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadar airmatanya menetes. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuhan...&lt;/span&gt;. Entah sudah berapa ratus kali nama itu selalu disebutnya. Dalam tangis, dalam derita, dalam putus asa, bahkan dalam kemarahan. Tapi rasanya Tuhan tengah sibuk atau pergi entah ke mana. Buktinya Jim masih saja terus pulang dengan amarah yang sama dan memberinya pukulan yang sama. Meski Leisa sudah berusaha menjadi istri yang baik, sebaik yang dia mampu. Meski terkadang ia merasa semua itu kini dikerjakan bukan atas dasar ketulusan hati lagi. Rasa takutnya lah yang kini mengontrol semua tindakannya di rumah ini.  Ya, Jim, suaminya sejak dua tahun yang lalu itu, kekasihnya sejak lima tahun yang lalu itu, telah menjadi sosok yang begitu menakutkan baginya. Sosok yang penuh cinta dan tempatnya berlindung itu kini telah hilang entah di mana. Kini Leisa malah harus selalu khawatir bagaimana melindungi dirinya dari laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ia jatuh cinta pada Jim. Lelaki gagah yang selalu murah senyum dan memiliki pribadi yang hangat.  Selama masa pacaran mereka, Jim selalu hadir sebagai kekasih yang baik hati, lembut, sabar dan bertanggungjawab. Semua kualifikasi seorang kekasih yang sempurna ada dalam diri Jim. Dan melewati tiga tahun masa-masa indah bersama Jim membuat Leisa yakin akan lelaki pilihan hidupnya itu. Ketika Jim meminangnya, Leisa tak pernah ragu untuk menganggukkan kepala. Tak ada kebahagiaan sebesar kebahagiaan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa manis masih berlanjut minggu demi minggu awal pernikahan mereka. Namun ketika bulan berganti, Leisa merasa Jim tak lagi sesabar yang dulu. Awalnya Leisa berusaha menerima hal tersebut. Bukankah banyak yang telah mengingatkan dirinya bahwa pernikahan tidak akan selamanya manis? Leisa terlalu mencintai Jim, karena itu dia berusaha untuk menerima segala kekurangan suaminya itu. Namun ketika bulan berganti bulan, suara Jim mulai berubah kasar. Demikian pula dengan sikapnya. Leisa mulai merenung, apa salah dirinya yang telah memicu kemarahan lelaki itu? Dia mencoba mengubah diri, membuang segala tuntutan diri dan memberi lebih banyak sabar dan maaf untuk kekasih hidupnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Leisa semakin tak mengenali Jim. Saat pertama kali tamparan Jim mengenai wajahnya, Leisa merasa dibangunkan dengan paksa dari mimpi indahnya. Judul pernikahan bahagia yang menjadi judul kehidupan barunya tiba-tiba terhapus begitu saja. Berganti dengan judul lain yang Leisa sama sekali tak suka. Membuat Leisa panik, tiba-tiba mempertanyakan kebenaran keputusannya menerima pinangan Jim. Inikah lelaki yang diimpikannya untuk menjadi pendamping hidupnya? Lalu mengapa kini ia tak mengenali lelaki itu lagi? Apa dia dulu telah salah merasa? Tapi bagaimana mungkin tiga tahun yang dilewatinya dulu itu hanya sebuah sandiwara semata? Tidak mungkin. Tapi, di mana cinta itu? Cinta yang dulu pernah ada untuknya? Dulu Leisa merasa begitu hidup dalam tiga tahun itu. Begitu hidup oleh cinta Jim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini ketika tamparan, pukulan dan makian menjadi makanan sehari-harinya, Leisa merasa seperti kehilangan dirinya sendiri. Ia tak mengenali lagi wajah dalam cermin itu. Di mana senyum manis wajah itu? Di mana wajah cantik yang dulu menjadi bunga kampus? Di mana binar bahagia dalam mata yang dulu indah itu? Tak ada sisa keindahan di sana. Hanya ada gelap dan kepahitan di sana. Dan masa depan itu bahkan tak lagi berani menunjukkan wajahnya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hidup macam apakah ini?&lt;/span&gt; Pertanyaan itu selalu terngiang di kepalanya saat ia membuka mata, saat pukulan Jim mengiris hatinya, saat airmatanya jatuh melihat lebam wajahnya yang menakutkan, saat ia berusaha menutup matanya di larut malam menjelang pagi. Bahkan dalam mimpi-mimpi buruknya, pertanyaan itu pun hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sekali ia mengepak seluruh pakaiannya, bertekad meninggalkan Jim saat itu juga. Meninggalkan lelaki itu selamanya, takkan membiarkan lelaki itu menganiaya tubuh dan batinnya lagi. Namun wajah sang Ibu yang telah tua dan lemah terbayang olehnya. Karena cintanya yang begitu besar, ia tak mampu menghancurkan bahagia sang Ibu. Bagaimana mungkin ia akan tega membiarkan sang Ibu hidup dalam penyesalan dan kesedihan dalam sisa hidupnya yang tak panjang lagi? Sanggupkah ibunya tetap tersenyum mengetahui kenyataan bahwa puteri semata wayangnya kini menjadi korban jajahan lelaki yang telah dipilihnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh Tuhan, ke mana aku harus mengadu&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leisa lelah menangis&lt;span style="font-style: italic;"&gt;. &lt;/span&gt;Lelah batinnya menghibur hatinya yang tak pernah damai lagi. Lelah mencoba mengobati luka-luka hatinya yang semakin mengiris, membuatnya semakin tak punya keinginan untuk hidup. Lelah menunggu lebam biru di wajahnya berganti warna, yang kemudian hanya akan digantikan dengan lebam baru yang seakan tak pernah ada habisnya. Inikah nasibnya sebagai perempuan? Benarkah perempuan itu harus sabar menjadi korban hidup? Tapi apa arti hidup ini lagi bila hanya untuk berkorban tanpa ada bahagia menanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mendengar kawan-kawannya berbagi cerita indah mengenai pernikahan mereka, Leila hanya dapat menggigit bibir. Sakit terasa. Cerita bahagia mereka tak mampu menjadi bahagianya. Inikah yang dinamakan takdir? Dan ketika mereka bertanya, Leisa rasanya ingin bisa melenyapkan dirinya saat itu juga. Dia merasa begitu tak berarti, mengecil di antara wajah-wajah bahagia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa. Leisa juga mulai lelah berdoa. Namun tak ada hal lain yang mampu dilakukannya selain berdoa. Dulu, doa-doanya merupakan sumber kekuatannya. Kini, tiap kali ia memejamkan matanya, berdoa, putus asa semakin mendekapnya. Dan diakhir doanya yang penuh dengan ketidakpercayaan diri, ia hanya mampu menangis, terpuruk sendirian semakin dalam. Dan hanya airmata yang seakan-akan mau menjadi sahabatnya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, dalam sisa harapnya, ia berharap suatu hari Tuhan menyadarkan Jim, sebelum sisa cintanya pada lelaki itu pudar. Sebelum maaf dalam dirinya habis. Bila tidak, ia berharap Tuhan membawanya pergi dari rumah itu. Membawanya pergi jauh ke tempat baru di mana masih ada cinta dan bahagia, sebelum ia tak mampu lagi mengenali bahagia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mungkinkah... &lt;/span&gt;Leisa tak tahu. Tak pernah yakin lagi. Rasanya hidup kini hanya sebuah mimpi buruk panjang yang tak akan berakhir. Sering jiwanya tergoda untuk mengakhiri semuanya. Ketika gelap telah membungkus jiwanya. Ketika hidup seakan tak memberikan pilihan apapun lagi baginya. Hanya saja hingga kini pergulatan batinnya belum berakhir. Dan bila suatu hari nanti berakhir, Leisa tak tahu apakah keputusan yang akan diambilnya akan menjadi benar atau salah. Tak pernah yakin lagi. Karena kini salah benar telah mengabur, tak pernah menjadi sejelas dulu ketika kepercayaan dan harga diri masih menjadi miliknya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo Link: http://s.mynicespace.com/myspacepic/298/29805.gif&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-2682281465011624125?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/2682281465011624125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/10/jeritan-kekasih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2682281465011624125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/2682281465011624125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/10/jeritan-kekasih.html' title='Jeritan kekasih'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/StKp0davPRI/AAAAAAAAAHA/IRjVM0pIQpE/s72-c/29805.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-5160287168431395098</id><published>2009-10-09T10:30:00.000+07:00</published><updated>2009-10-09T15:26:00.203+07:00</updated><title type='text'>Anik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Ss7ylTLpt7I/AAAAAAAAAGw/8dRAYWcG2dg/s1600-h/IMG_0563.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Ss7ylTLpt7I/AAAAAAAAAGw/8dRAYWcG2dg/s320/IMG_0563.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390512526627289010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anik adalah salah seorang karyawan di kantorku. Tahun ini dia udah berumur dua puluh lima tahun, ya gak beda-beda jauh dari aku. Maksudku gak  sampai beda sepuluh tahun...hehehe. Dia aslinya dari Jogyakarta, datang merantau ke Jakarta berharap bisa hidup lebih maju. Itu katanya ketika aku menyuruhnya menulis sebuah karangan dengan tema: Impianku. Maklumlah, kalo bosnya penulis,  paling tidak orang-orangnya harus bisa juga sedikit dalam bidang karang mengarang... :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anik itu selalu tampil sederhana. Rambutnya panjang selalu dikuncir, kulitnya coklat, matanya besar. Untuk ukuran wajah, sebenarnya menurutku Anik itu cantik, walau kata karyawanku, Anik itu bukan tipe yang akan dilirik pria. Masalahnya Anik itu gak pernah berdandan. Jangankan pake lipstik, bedakan pun jarang. Lagian setiap hari Anik memakai celana jeans. Dulu dia sering duduk seenaknya dengan kaki terbuka, sampai aku tegur, "Nik, kamu itu perempuan, bukan? Kok duduknya kayak gitu?" Lalu dengan cengengesan  kakinya dirapatkan, sementara yang lain tertawa, sudah terlalu biasa dengan gaya Anik. Pernah suatu kali salah satu temannya menyuruh Anik memakai celana legging (celana ketat selutut), karyawan laki-laki yang lain langsung protes, "Gak pantes kamu.." Si Anik langsung kebingungan. Aku cepat-cepat membantah hal itu, "Jangan dengerin. Pantes kok, bagus..." Dan ketika aku membuka sebuah butik dan menugaskan Anik untuk menjaganya, aku memaksa Anik harus berdandan, alasanku karena kita bermain di dunia fashion harus terlihat keren. Kubelikan eye shadow warna warni dan kuajarkan bagaimana memakainya. Awalnya dia tertawa dan merasa kikuk. Sebulan kemudian, dia telah terbiasa. Tiga bulan kemudian, dia udah lebih jago dariku, bisa sendirian mengoleskan eye liner cair pada matanya. Dan ketika karyawan-karyawan kantor mengunjunginya di kantor, mereka takjub. Kata mereka, "Nik, kok sekarang beda, ya? Cantik..." Gak percuma kan usahaku itu... hahahaha....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan siapa saja, Anik selalu mampu membawa diri. Mau ditaruh di kantor, di toko atau di mana saja, dia dengan cepat menyesuaikan diri. Mungkin karena pribadinya yang hangat dan sikapnya yang selalu terbuka dengan siapa saja, membuat siapa saja nyaman berada di sampingnya. Beda dengan karyawati yang lainnya. Ada yang moody, tiap hari berganti-ganti sikap, sesuai dengan suasana hatinya. Ada yang pendiam, jarang berbicara. Ada lagi yang manis, berkulit putih, namun pelit senyum. Makanya Anik cepat tenar di toko, di kantor maupun di telinga para customer. Walaupun kadang anak-anak yang lain suka iri padanya. Soalnya mereka bilang aku lebih sayang pada Anik dibanding yang lain. Lebih sayang? Lebih percaya tepatnya. Dan lebih tenang kalo Anik yang bekerja. Pasti beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku paling suka dari Anik adalah senyumnya. Tak pernah hilang seharipun dari wajahnya. Dulu, pertama kali bertemu dengannya, aku balas senyum itu dengan tampang sangarku. Begini ceritanya, waktu itu Anik tiba-tiba muncul di toko, menjadi salah satu team penjual sementara aku bingung dia datang darimana. Usut punya usut ternyata dia direkomendasi oleh sang pacar yang bekerja di samping tokoku, pada suamiku. Terus terang aku sedikit gak suka dengan cara terima karyawan pake  sistem relasi. Aku lebih suka menerima seseorang atas dasar hasil interview dan penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu pertama bekerja itu benar-benar mimpi buruk buat Anik. Setiap hari aku gak menyapanya, hanya mengangguk ketika dia memberi salam, selebihnya yang ada hanyalah tatapan tajamku yang mengamati gerak-geriknya, membuatnya lebih banyak salah tingkah. Dan dia stress, hampir saja menyerah dengan tekanan yang begitu besar itu. Itu pengakuannya setahun kemudian tentang bos barunya yang galak...hehehe... Untung waktu itu dia gak benar-benar berhenti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo aku bilang, gak mungkin bisa gak menyukai Anik. Dia gadis yang ramah, hangat, polos dan rajin. Dia juga rajin menunaikan sholat lima waktunya, yang memang gak pernah menjadi keberatanku untuk dilakukan di kantor. Selain itu dia juga  sangat sabar menghadapi bos seperti aku yang perfeksionis dan tegas ini. Bayangin aja, meski aku omelin lama, dia selalu tetap berusaha mendengarkan tanpa sedikitpun terlihat kesal. Selalu siap mengangguk dan berjanji untuk bekerja dengan lebih baik. Dan memang Anik selalu bekerja dengan nilai extra di mataku. Dia bisa bekerja tanpa harus kuperintah atau dikte. Sering aku menemukannya melakukan sebuah pekerjaan extra yang sebenarnya bukan kewajibannya. Tapi tetap saja dilakukannya dengan sungguh-sungguh dan senang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan lalu ketika aku ulangtahun, dia menyalamiku lama dengan senyum lebar. Tanpa mau melepaskan tanganku, dia mengucapkan selamat ulangtahun beserta doa yang panjang untuk kesuksesan dan kebahagiaanku. Bikin aku gelagapan sendiri. Tapi itulah Anik. Dia bisa berceloteh riang tentang keluarga dan teman-temannya tanpa pernah segan padaku. Memang aku selalu tanamkan sikap kekeluargaan dalam kantor kami, sehingga kami ini sudah seperti keluarga atau teman baik, gak  dipisahkan oleh status. Tapi tetap saja kuingatkan dalam pekerjaan harus ada profesionalisme, gak boleh seenaknya tanpa aturan. Akupun kadang-kadang bercerita tentang duniaku pada Anik. Dia suka mendengar ceritaku. Matanya selalu bersinar dan dia selalu siap dengan berbagai pertanyaan polosnya. Maklumlah Anik itu gak mengenyam sekolah yang tinggi, juga punya pergaulan yang terbatas. Tapi aku selalu mengingatkannya untuk selalu mau belajar apa saja, agar wawasannya menjadi luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku menunjukkan layar facebook padanya dan aku ceritakan tentang dunia facebook itu. Dia terkagum-kagum. Di kantor aku punya banyak koleksi buku yang selalu aku bebaskan untuk dia baca saat jam kosong di kantor. Dan dia menuruti kata-kataku. Belakangan buku-bukuku selalu berada di meja kerjanya. Kadang dia meminta ijin untuk membawa pulang. Yang ajaibnya kemarin aku menemukannya membaca buku Paulo Coelho, yang membuatku wondering, dia ngerti gak yah isinya...hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itulah Anik. Sebuah sosok yang kadang mengingatkan diriku sendiri akan pentingnya keramahan dan ketulusan. Sosok yang tidak istimewa dari rupa dan penampilannya tapi memiliki pribadi yang cantik. Melihatnya membuatku selalu berusaha menjaga kerendahan hati dan belajar bagaimana membawa diri bersamanya, gak menjadi bossy dan gak melihatnya dengan sebelah mata. Selalu ingat bahwa Anik adalah manusia biasa sama seperti diriku ini.  Dan aku selalu bersyukur pada Tuhan yang telah mengirimkan langkah Anik memasuki tokoku di suatu pagi tiga tahun yang lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Di dalam foto di atas, Anik berdiri tepat di sebelahku dalam celana legging-nya ;-p (Memori Ancol 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2251139371586674981-5160287168431395098?l=angelli-05.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://angelli-05.blogspot.com/feeds/5160287168431395098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/10/anik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5160287168431395098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2251139371586674981/posts/default/5160287168431395098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://angelli-05.blogspot.com/2009/10/anik.html' title='Anik'/><author><name>angel li</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10992872232657484025</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/TBJbERRXFPI/AAAAAAAAARg/g5Q8sIJiFNg/S220/angel.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Ss7ylTLpt7I/AAAAAAAAAGw/8dRAYWcG2dg/s72-c/IMG_0563.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2251139371586674981.post-2846273619898427130</id><published>2009-10-08T22:47:00.001+07:00</published><updated>2009-10-08T22:53:32.750+07:00</updated><title type='text'>Penantian Ini..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Ss4J1TZWN4I/AAAAAAAAAGI/6_dIDRkJdTs/s1600-h/heartbreak010.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 223px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aZC9dqcV4zY/Ss4J1TZWN4I/AAAAAAAAAGI/6_dIDRkJdTs/s320/heartbreak010.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390256615353366402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light 
