Senin, 29 Februari 2016

Biarlah Pergi



Rokok itu dihisapnya dalam-dalam, berharap asap yang masuk dapat memenuhi paru-parunya dan melegakan hatinya. Menggelikan, bukan? Ya, sama seperti hidupnya saat ini, ia berharap racun yang ditelannya setiap hari mampu membuat dirinya menjadi wanita yang utuh, hebat dan luar biasa. Sementara ia sendiri tahu persis racun itu semakin menggerogoti jiwanya. Menggoyahkan rasa percaya dirinya dan membuatnya mulai membenci dirinya sendiri.
            Teleponnya berdering. Ia menatap nama di layar telepon, tanpa bergeming. Bram. Laki-laki itu lagi. Entah kapan laki-laki itu akan menyerah mencari dirinya. Penolakannya, bahkan diamnya, seakan tak menggoyahkan tekad laki-laki itu. Ia menghela napas, mengapa hidup ini begitu rumit? Seandainya saja ia bisa menjadi wanita sederhana, seperti yang lain. Yang memiliki kehidupan yang begitu mudah ditebak.
            Ia teringat seorang sahabat baiknya yang kini sudah memiliki tiga orang anak remaja. Cerita hidupnya begitu sederhana, berjalan bak air mengalir tanpa ada bebatuan yang menghalangi. Bahkan seperti tanpa riak sedikitpun. Selesai es-em-a,  menemukan seorang lelaki baik hati, tidak tampan, menerima pinangan lelaki itu, melahirkan anak-anak untuk lelaki itu dan berbahagia dengan peran sederhananya sebagai Ibu serta Istri yang baik. Sesederhana itu.
            Dulu, saat masih duduk di bangku sekolah seperti itu pulalah impian dan imajinasinya. Menemukan seorang lelaki yang dicintai dan mencintainya, kemudian hidup akan memberikannya kebahagiaan hingga mata tertutup selama-lamanya.
            Tapi ternyata tidak seperti itu yang terjadi. Tidak ada yang sederhana, terutama pikiran-pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Dan hatinya yang begitu mudah berganti warna dan rasa. Mungkin ia yang tak mampu menjadi sederhana. Mungkin ia sendiri yang mengundang dan menginginkan kerumitan ini di dalam hidupnya.
            Ia melirik layar laptopnya yang hampir kosong, hanya berisi beberapa kalimat yang tak menarik sama sekali. Sudah seminggu ini, semua imajinasi dan kreativitasnya hilang lenyap. Cinta ini lama-lama membunuhnya. Cinta? Ia merasa terganggu dengan kata itu. Kata sakral yang dulu baginya merupakan kata tertinggi dari semua kosakata yang dipunyainya. Kini? Kata itu tak lagi terlihat murni baginya. Ataukah ia yang telah salah mengartikan rasanya ini? Mungkin ini bukan cinta. Mungkin ini hanya nafsu berkedok cinta.
            Jeane mengetuk pintu, membuatnya Gina tersentak dari lamunannya.
            “What’s up babe?”
            Gina menggeleng pelan menjawab pertanyaan perempuan cantik dengan wajah lembut itu.
            “Kehabisan ide?”
            Gina terkekeh. “Mungkin kebanyakan ide.”
            “Kau sering melamun akhir-akhir ini.”
            Tak sadar Gina menghela napas.
            “Aku berharap bisa mempermudah semuanya dengan kata-kata mutiara dariku. Tapi kau sendiri pun sebenarnya tahu apa yang harus kau lakukan.”
            Ya, ya, ya... sahut Gina dalam hati. Ia tahu. Ia hanya tak mau melakukannya. Ia tak ingin membuat keputusan apa pun dan asyik berkubang dalam rasa merananya.
            “Wake up, girl...”
            Gina mengalihkan matanya dari laptopnya. Menatap Jeane lurus dengan raut serius.
            “Bagaimana kalau kita pergi?”
            “Ke mana?”
            “Ke mana saja.”
            Jeane duduk di hadapannya. Mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.
            “Aku tak suka merokok,” katanya seraya menghembuskan asap rokok pelan-pelan. Matanya yang indah menatap kepulan asap tipis yang terbang sampai menghilang.
            “Berarti kau dan aku berada dalam dilema yang sama,” kata Gina dengan senyum meringis, seakan menertawakan dirinya sendiri.
            “Maybe... Aku hanya suka menemanimu merokok.”
            Kalimat itu menohok hati Gina. Ya, kalimat yang tepat. Sangat tepat.
            “Mungkin ini bukan cinta.”
            Jeane menggeleng. “Itu cinta,” bantahnya lembut namun tegas.
            Gina memandangi Jeane, berpikir betapa beruntungnya dirinya menemukan seorang sahabat seperti perempuan itu. Seseorang yang selalu mencoba mengerti tentang dirinya dan hidupnya yang rumit. Tak pernah berusaha mengubahnya atau menghakiminya.
            “Hanya saja aku merasa kau berhak mendapatkan cinta yang lebih baik dari itu,” lanjut Jeane dengan mimik wajah serius.
            Entah ingin tertawa atau menangis mendengar kalimat itu, kepala Gina tergeleng perlahan.
            “Lalu mengapa aku begitu bodoh, Jeane?”
            “Kau hanya perempuan biasa.”
            Jeane meluruskan punggungnya, diraihnya jemari Gina dengan tangan kirinya yang bebas.
            “Kau yang mengajariku, apa pun keputusan yang ingin aku ambil, jangan pedulikan apa kata orang. Tapi pastikan, aku mampu menerima keputusan itu dengan bulat. Pahit, manisnya. Karena hanya aku sendiri yang akan menjalani konsekuensi dari keputusan itu. Apapun itu yang terbaik untukmu, kau sendiri yang tahu.”
            “Ya, aku merasa seperti orang tolol, yang kehilangan kebijaksanaanku di tengah perjalananku sendiri.”
            Jeane tertawa. “Bukankah kita semua sering seperti itu? Menjadi tolol sesekali dalam hidup yang rumit ini?”
            Gina ikut tertawa.
            “Kau ingat ketika aku kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri hanya karena perlakuan seorang lelaki yang aku panggil suami?”
            “Aku sedang merasakan hal yang sama saat ini. Hanya saja bukan dari seorang lelaki yang aku panggil suami,” balas Gina, tersenyum merasa ingin menertawakan dirinya sendiri.
            “Cinta itu seharusnya membuat kita merasa bahagia dan berkembang. Bukan menyusutkan kepercayaan diri dan harga diri kita.”
            “Dan bila itu menjadi beban, seharusnya kau pertanyakan apakah itu benar-benar cinta yang kau inginkan,” ujar Gina melanjutkan kata-kata Jeane, teringat pada kalimat-kalimat yang pernah ditulisnya sendiri di dalam bukunya.
            “Hey, aku tidak akan pernah menyalahkanmu. Aku pun akan jatuh cinta pada lelaki seperti Hendra. Terlalu sempurna. Tidak ada satupun cela dalam kategori lelaki impian. Tampan, baik, care, sukses. Tidak mudah menemukan lelaki seperti itu.”
            Gina mendesah. “Kau tidak mempermudahku, Jeane... Dengan kata-katamu itu, hanya akan membuat hatiku semakin galau.”
            “Ibaratnya batu berharga, Hendra itu seperti berlian,” lanjut Jeane seakan tak menghiraukan kata-kata Gina barusan.
            Bayangan lelaki tampan itu muncul di hadapan Gina. Lelaki yang telah menempati dan menawan hatinya selama setahun ini. Hatinya bergejolak, begitu banyak rasa yang tak mampu diartikannya sendiri.
            “Hanya saja, aku sedih melihatmu tak bahagia meski kau memiliki berlian itu.”
            Gina menghela napas kembali.
            “Aku merasa berlian itu bukan milikku,” akunya lirih. “Rasanya seperti seorang koruptor yang berusaha menyembunyikan berlian yang diberikan padaku. Berlian yang bukan hakku tapi ingin terus kusimpan. Sementara hatiku mencela, melihat diriku sendiri begitu rendah, memiliki keinginan yang seharusnya tak boleh ada. Bagaimana mungkin bisa kukatakan keinginanku ini tulus, bila pada akhirnya akan merebut kebahagiaan orang lain? Bagaimana mungkin aku bisa berdoa agar Tuhan merestui cintaku ini, bila cinta ini hanya akan melukai banyak orang?”
            Jeane mengangguk.
            “Sudah kukatakan, kau tahu persis apa yang harus kau lakukan.”
            Setetes airmata Gina jatuh mengalir di pipinya.
            “Dia terlalu sempurna. Terlalu indah. Hingga aku pun mau berada dalam kubangan dosa dan rasa bersalah ini.”
            “Bukan sesuatu yang harus kau sesali, bukan? Semua konsekuensi dari keindahan itu juga telah kau bayar dalam penderitaanmu selama ini. Meragukan dirimu sendiri, membenci dirimu sendiri, bahkan hampir lupa bahwa kau berhak untuk berbahagia kembali.”
            Telepon di meja berdering kembali. Dua pasang mata menatap ke nama yang muncul di layar telepon. Bram lagi.
            “Dia masih mencarimu,” kata Jeane.
            “Ya. Sepertinya dia tak pernah lelah.”
            “Bagus.”
            Gina tersenyum kecut. “Mungkin...”
            “Seorang lelaki yang mau memperjuangkan cintanya. Seorang pejuang cinta.”
            Mereka tertawa bersama.
            “Hidup ini lucu,” kata Gina terdengar getir.
            “Tidak,” bantah Jeane. “Kita ini yang lucu.”
            Mereka saling bertatapan. Jeane mengangguk dengan senyum terkulum di bibirnya yang merah.
            “Terkadang kita tidak melihat sesuatu yang ada tepat di hadapan kita. Membiarkan roh kita terpisah, berada di tempat lain. Dan kemudian kita merasa kosong. Seandainya saja kita mau memusatkan diri kita berada di satu tempat saja, di masa ini. Sekarang.”
            Lama Gina terdiam, mencoba mencerna kalimat-kalimat sahabatnya itu.
            “Hey, he’s not bad looking too... I will happy to have him, if you don’t want,” kelakar Jeane memecah lamunan Gina.
            “Go ahead, dear,” balas Gina cepat.
            Jeane menggeleng. “Aku tak mau menderita, hatinya sudah dimiliki orang lain. Meskipun orang tersebut belum sadar sepenuhnya.”
            Kata-kata Jeane seperti tamparan keras bagi Gina.
            “Tapi aku tak yakin bisa memberikan hatiku ini, Jeane.”
            Jeane mengangguk. “Ya. Tapi kau bahkan sama sekali belum mencobanya. Bagaimana mungkin kau tahu kau tak bisa?”
“Sama seperti seseorang yang ingin berhasil dan bertanya kepada gurunya, bagaimana jika aku gagal?” lanjut Jeane. “Pertanyaan yang tidak memiliki jawaban, bukan? Pertanyaan yang timbul karena rasa takut dan ragu.”
            “Kau terlalu banyak bergaul denganku,” kata Gina mendengar kalimat Jeane itu yang dulu juga pernah diucapkannya.
            Jeane tertawa. “Aku murid yang baik.”
            Gina terhenyak.
            “Dan kau guru yang baik,” lanjut Jeane sebelum Gina sempat membuka mulut.
            “Kau tahu, aku perempuan yang sangat beruntung memiliki sahabat seperti dirimu,” ungkap Gina.
            “Well,” Jeane tersenyum. “Berarti kita punya rasa yang sama.”
            Gina tersenyum juga. Ia menarik napas panjang seraya memandangi laptopnya yang masih menyala.
            “Mungkin sudah saatnya mengganti tema cerita. Aku sudah cukup frustasi memikirkan cerita yang tak mampu kutulis ini.”
            Gina menekan tombol delete dan membiarkan satu persatu huruf yang ada di layar terhapus hingga hanya menyisakan layar kosong.
            “Well done,” ucapnya seraya menutup laptopnya. “Pesan dua tiket ke Bali untuk lusa. Kita pergi mencari ide dan kreativitas yang hilang itu.”
            Senyum Jeane terkembang lebar. Dipeluknya sahabatnya itu.
            “I love you, Sis...”
*   *   *
            Laki-laki itu menatapnya begitu dalam. Gina berusaha tersenyum, meski ia merasa tekadnya sebentar lagi akan runtuh.
            “Aku tidak mampu,” kata Gina lirih. “Tidak mampu menghadapi diriku sendiri dan Tuhan.”
            Tak ada balasan dari mulut laki-laki itu. Seakan ia kehabisan kata-kata. Ia mengerti setiap patah kata yang diucapkan perempuan di hadapannya itu. Perempuan yang sangat dicintainya.
            “Sudah setahun aku berusaha membungkam nuraniku ini.”
            Jemari lelaki itu bergerak menyeka airmata yang mengalir perlahan di pipi Gina. Hatinya terasa begitu sakit. Bagaimana mungkin ia bepura-pura tidak tahu perasaan perempuan itu?
            “Maafkan aku, Na...”
            Gina menggeleng. “Bukan salahmu. Keinginanku sendiri untuk merasakan cinta ini. Dan keinginanku pula untuk melepasnya.”
            Hendra menarik Gina dalam pelukannya. Memeluknya erat-erat seakan ingin berkata ia belum rela melepaskan Gina. Lama ketika akhirnya ia melepaskan pelukan itu.
            Dan Gina merasa tekadnya luruh melihat mata lelaki itu basah.
            “Next life, dear...” ucap Hendra lirih. “Aku berharap kita punya kesempatan itu.”
            Gina tersenyum dalam tangisnya. Ia mengangguk, meskipun ia merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Jemarinya bergerak perlahan, menyeka mata lelaki itu. Dirasakannya kulitnya bersentuhan untuk terakhir kalinya dengan wajah yang begitu dicintainya itu.
            Hendra mengambil jemari Gina dan menempelkannya lama di pipinya. Mata mereka bertemu, mengutarakan banyak rasa yang tak mampu lagi mereka ucapkan, karena mereka sama-sama tahu seribu kata pun tak lagi berguna saat itu. Lalu ia mengecup jemari itu perlahan. Matanya tertutup.
            “You know i love you,” ucap Hendra lirih.
            “Ya. Aku tahu,” balas Gina serak. “I know that...”
            Lalu tangan mereka terlepas. Gina tersenyum, seraya menyeka airmatanya.
            “I have to go now.”
            “Take care...”
            “You too.”
            Gina membalikkan badannya, merasa separuh jiwanya tertinggal di sana. Namun ia tetap melangkahkan kakinya. Keputusannya sudah bulat, ini jalan yang dipilihnya untuk membebaskan hati dan jiwanya.
            Ini memang cinta, bisik hatinya. Tapi bukan untukku...
*   *   *

Jumat, 12 Februari 2016

Mommy, xie-xie Ni...

Berapa lama aku tak menghubunginya? Setahun? Lebih? Yang aku ingat sudah dua tahun berlalu sejak terakhir aku menemuinya. Ya, ketika akhirnya aku berhasil mengumpulkan seluruh keberanianku untuk datang menemuinya. Untuk membayar semua hutang maafku selama ini.

Pertama kali aku mengenalnya, keberanianku menciut. Harga diriku hilang separuh. Bagaimana tidak? Tatapan matanya yang tajam dan ekspresi wajahnya yang keras dan tanpa ekspresi, membuatku merasa tak diterima. Saat itu aku hanya diam, tak bersuara. Tak punya sesuatu untuk membela gambaran diriku di matanya. Hanya separuh harga.

Kesan pertama itu membuatku menilai dirinya sebagai seseorang yang tak cukup baik. Apalagi ditambah dengan cerita-cerita yang kudengar mengenai dirinya. Wanita yang bertangan baja, otoriter, pemarah, susah untuk dimengerti.

Beberapa kali pertemuan dalam tahun pertama, tidak banyak yang berubah. Aku belum mampu menjalin komunikasi dengannya. Berhubung terbatasnya kosakataku mengenai bahasa asing yang dipergunakannya, aku hanya mampu mengerti sepotong-sepotong yang diucapkannya. Tapi aku tak pernah menyerah untuk belajar, dengan keyakinan suatu hari nanti aku mampu berkomunikasi dengan baik dengan dirinya. Saat itu mungkin, dia akan bisa mengenal siapa diriku sebenarnya.

Tahun-tahun berlalu, dengan kesibukan yang luar biasa, membuatku sering lupa memikirkannya. Sampai suatu hari aku tersadar, dia bukan lagi wanita yang sama dengan wanita yang pertama kali bertemu denganku. Atau mungkin penilaianku saat itu salah mengenai dirinya. Penilaian yang muncul karena sikap dinginnya kepadaku.

Dia memang seorang wanita yang benar-benar perkasa. Cerita hidupnya yang sering dituturkannya sepotong-sepotong padaku bila kami punya kesempatan bersama, membuatku sering merasa iba sekaligus bangga padanya.

Dia lahir di keluarga yang bahagia. Dan dia menikah dengan lelaki tampan yang kemudian menjadi ayah dari keempat anaknya yang kini semua berhasil dalam hidup baik sebagai pribadi yang mandiri maupun sebagai anak-anak yang berbakti pada orangtua.

Kehidupan pernikahannya tidak mulus. Dia harus berbagi atap dengan ibu mertuanya yang merupakan wanita keras, penuh dengan aturan dan selalu harus dilayani. Setiap hari dia harus menyiapkan air hangat untuk ibu mertuanya mandi. Juga masakan yang sesuai dengan selera. Sering dia mendapatkan teguran dan kritikan, meskipun segala sesuatu telah coba dilakukannya dengan baik. Sejak menikah, kebebasannya sebagai pribadi lenyap. Dia bahkan tak bisa sering-sering mengunjungi orangtuanya, karena akan menimbulkan ketidaksenangan dari ibu mertuanya itu. Bahkan untuk pergi bersama suaminya tercinta, dia jarang mendapatkan ijin. Dia dituntut untuk selalu berada di rumah, mengerjakan semua pekerjaan rumah dan mengurus anak-anaknya, suaminya serta mertuanya.

Saat anak bayinya sakit dan akhirnya meninggal, dia bahkan tak tahu ke mana bayinya tersebut dikuburkan. Yang dia tahu hanyalah ibu mertuanya memanggil orang untuk membawa bayi tersebut dan dia tak diperbolehkan ikut. Sejak saat itu, hingga kini, dia tak pernah tahu di mana bayinya berada. Dan itu membuatnya selalu meneteskan airmata ketika bercerita, meskipun telah berkali-kali cerita itu kudengar dari dirinya.

Satu hal yang selalu dikatakannya menutup ceritanya mengenai masa lalunya yang berat, aku tak mau menjadi mertua yang sama, yang membuat hidup menantuku susah. Biarlah pengalaman itu hanya terjadi pada diriku ini. Cukup.

Dengan tangan bajanya dia membesarkan keempat anaknya, tanpa bantuan siapa pun. Dan ketika perekonomian suaminya memburuk, dengan tangan bajanya pula dia berusaha berdagang. Dan dari hasil investasinya, dia mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga berhasil. Bahkan hingga hari ini ketika umurnya telah senja, dia masih mampu menghasilkan uang, tak ingin bergantung sepenuhnya pada anak-anaknya.

Meskipun dia adalah wanita yang keras dan juga sangat suka mengatur, namun dia sangat menyayangi semua anaknya. Dari kecil hingga dewasa, mereka tak pernah kehilangan perhatian dari wanita itu. Dia tak pernah lupa mencari anak-anaknya, meskipun mereka pergi jauh untuk berdagang. Dan dia selalu menyambut kepulangan mereka dengan gembira.

Suatu hari aku tersadar. Aku yang tak punya hubungan darah dengan wanita itu, telah masuk di hatinya. Ketika berkali-kali aku datang dan menemukan masakan kesukaanku telah terhidang di atas meja. Ketika aku baru turun dari mobil dan menemukannya berdiri di depan pintu dengan wajah gembira dan sapaan yang begitu hangat menyambutku. Dan ketika aku akan pulang, aku selalu menemukan sedih di wajahnya.

Aku tak menyangka sama sekali. Aku ini, perempuan biasa ini, mampu menjadi seseorang yang berarti baginya. Mungkin dia tersentuh dengan ketulusanku. Mungkin dia tergerak melihat kejujuranku. Tak pernah mencoba berpura-pura di depannya. Bersikap adanya aku dan berusaha menerima apa adanya dirinya.

Lima tahun yang lalu ketika akhirnya aku memutuskan untuk pergi selamanya, satu penyesalanku yang terbesar adalah dirinya. Bagaimana mungkin aku bisa memutuskan hubungan dengan seseorang yang sudah begitu luar biasa menerima dan menyayangi diriku? Dia tak pernah tahu betapa hatiku hancur ketika telepon darinya berdering dan aku menahan diriku sekuat tenaga untuk tidak menjawab. Dia tak pernah benar-benar tahu betapa merasa bersalahnya diriku ketika aku mengingat dirinya, tahu bahwa aku telah menyakiti dan mengecewakannya.

Tapi ini jalan yang telah kupilih. Tak mampu kujelaskan dengan kata-kata mengapa harus kupilih. Aku telah mengadu pada Tuhan. Aku telah meminta-Nya untuk menunjukkan jalan yang terbaik. Dan dengan pertolongan-Nya lah aku mampu melewati jalan panjang yang sulit ini.

Dan tahun-tahun kulalui dalam diamku, berusaha menata kembali hidupku yang terjungkir balik. Dalam sunyi hidupku, selalu kupanjatkan doaku untuknya. Dalam malam-malam sepiku ketika kerinduan itu memanggil, kuucapkan permintaan maafku. Berharap suatu hari nanti aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya, meminta maafnya dan melihatnya baik-baik saja.

Tuhan memang Maha Besar. Tidak ada yang tidak mungkin bila Dia menginginkan itu terjadi. Dan hari itu tiba. Dua tahun lalu, Tuhan akhirnya memberikanku kesempatan itu. Bertemu kembali dengan wanita itu. Wanita luar biasa yang telah merebut rasa sayangku.

Kakiku gemetar ketika aku turun dari mobil. Teringat kembali masa-masa lalu ketika dia menyambutku di depan pintu dengan wajahnya yang gembira. Akankah kutemui kegembiraan yang sama? Sempat kusesali keberanianku untuk datang kembali. Aku takut. Takut bila ternyata, selama ini, aku hanya terlalu berbesar kepala, berpikir aku cukup berarti untuk dirinya.

Dan dia di sana, muncul dari dapur, bergegas dengan senyum lebar menyebut namaku. Aku hampir menangis. Menangis di tengah orang banyak yang berada di rumah itu. Ini memang sesuatu yang luar biasa. Bagaimana mungkin orang-orang ini, wanita ini, bukan sedarah denganku, yang telah kutinggalkan, seakan-akan aku tak menginginkan mereka lagi, masih menyambutku seperti ini? Seperti tidak ada yang berubah. Seperti aku masih menjadi bagian dari mereka. Tuhan memang Maha Besar. Dan cinta ini, benar-benar ada. Benar-benar nyata.

Kami berbagi cerita. Cerita tentang tahun-tahun di mana kami tidak bersama. Dia masih seperti dulu, masih sibuk mengkhawatirkanku. Masih sibuk mendoakanku.

Saat kami hanya berdua, dia mengungkapkan kesedihan hatinya. Dia berkata, seandainya saat itu aku mengangkat telepon darinya, seandainya, semua ini tak perlu terjadi. Tapi sudahlah. Jodoh memang tak bisa dipaksa. Kami tak berjodoh sebagai mertua dan menantu. Biarlah aku menjadi anaknya saja...

Dan kulihat genangan airmata di sana. Aku tak mampu menahan tangisku. Kusentuh tangannya yang semakin kurus dan keriput. Dan kuucapkan permintaan maafku, meski aku tahu itu tak akan pernah cukup...

Aku tak pernah mengangkat telepon darinya saat dulu aku memutuskan untuk pergi, karena aku tahu bila aku melakukan itu, aku tak akan pernah bisa benar-benar pergi. Aku tak akan mampu mendengar tangisnya dan permohonannya untuk memintaku tetap tinggal. Aku tahu, dia akan melakukan apa saja untuk bisa tetap menahanku pergi. Dan selamanya aku tak akan mampu menjelaskan mengapa aku harus pergi. Bahwa ini bukan sebuah keputusan yang mudah. Tak ada yang tahu selain Tuhan, bahwa telah ribuan kali kupertanyakan pada diriku sendiri sebelum akhirnya aku melangkah pergi. Dan tak ada yang tahu, seperti apa kelamnya hatiku melewati semua ini. Sampai aku kehilangan diriku sendiri. Kebahagiaanku. Perlu waktu yang begitu panjang untukku menemukan kembali rasa percaya diri dan kebahagiaanku kembali.

Kemarin, aku meneleponnya lagi. Masih, ada keresahan di hatiku. Akankah dia senang mendengar suaraku? Ataukah dia telah berubah? Tapi wajahnya terus terbayang, karena itu kukuatkan hatiku. Keberanikan diriku untuk mencarinya lagi. Dan suara yang sama, kegembiraan yang sama yang menyambutku. Dan pertanyaan itu, membuatku merasa begitu diberkati oleh Tuhan. Kenapa tidak datang? Kapan mau datang?

Jarak memisahkan kami. Begitupun dengan waktu. Meskipun bertahun-tahun tak bersama, tak ada yang berubah. Begitu sulit untuk dimengerti. Bagaimana cinta ini bisa ada. Begitu banyak yang tak percaya cerita di antara kami ini benar ada. Tak ada kebencian atau dendam di sini. Tak pernah ada. Meskipun langkah kaki tak pernah sama lagi, tapi hati kami seperti tak terpisahkan. Dan dia di sana, masih selalu menantiku untuk datang.

Ini kisahku tentang wanita itu. Wanita yang pernah menjadi ibu mertuaku.

Mommy, xie-xie Ni...

Sabtu, 15 September 2012

Tanpa Cahaya...

Rasa...

Kembali lagi tentang rasa. Entah bagaimana harus mengontrol rasa ini. Seandainya aku mengerti, mungkin tidak akan sesulit ini melaluinya. Tapi aku sendiri tak paham, bahkan aku mulai putus asa. Mungkin selamanya aku tak akan pernah paham...

Kadang aku takut pada diriku sendiri. Diriku yang seperti saat ini. Ketika dia tak mau patuh dan bahagia. Ketika dia menjadi keras kepala dan hanya menuruti rasa itu. Meskipun hampir sepanjang waktu dia mau menjadi anak manis dan mendengarkanku memintanya untuk selalu punya harapan di setiap detik hidup. Tapi tidak di detik ini. Tidak di masa ini. Dia menutup telinganya rapat-rapat. Dan aku tak dapat berbuat apa-apa, selain mengikutinya menerima rasa itu. Rasa tidak dicintai siapapun...

Aku selalu ingin menjadi cahaya. Bila mampu seterang mentari. Bila pun tidak, setidaknya aku bisa menjadi lilin. Tapi bila sumbuku telah terbakar habis, dan tubuhku telah meleleh tak bersisa, bagaimana aku dapat tetap bercahaya? Di mana akan kuambil cahaya baru? Bukankah lilin pun tak abadi? Tapi begitu sulit untuk bisa menjadi mentari. Hhhh....

Selalu kucoba untuk meniupkan harapan di setiap kataku. Mengekspresikan kegembiraan di gerak dan langkahku. Mencintai hidup. Mencoba mengerti segalanya. Mencoba belajar memahami segalanya. Melihat semuanya dari sudut berbeda. Tersenyum pada siapa dan apa saja. Mencoba melihat wajah Tuhan di mana pun...

Tapi sungguh hari ini aku tak mampu. Maafkan aku Tuhan... Bukan aku tak berusaha, bukan aku tak bersyukur. Aku benar tak mampu. Aku tak mengerti. Mengapa hidup seperti ini?

Cahayaku padam. Hanya ada gelap gulita. Hanya ada sunyi dan kekosongan. Dan di sini aku sendiri, merasa sendirian. Hanya ada gaung isakku. Hanya ada dingin airmataku. Akankah ada yang datang membawakan cahaya untuk menolong?

Tuhan, tolong...

Rabu, 18 Mei 2011

Masih...

Saat kekosongan itu menjadi kebisuan yang panjang, tiba-tiba aku seakan dibangunkan dari mimpi yang tak berjudul. Dan terduduk aku di sana, di ranjangku yang dingin. Menatap ke sekeliling dengan rasa asing, tak bisa mengingat di manakah aku sekarang ini? Apa yang terjadi padaku? Apa yang terjadi pada hidupku?

Bak kilatan petir yang menghilang dalam satu kedipan mata. Ketika kubuka kembali mataku semua telah lenyap tak bersisa. Hanya tinggal bayang yang semakin menipis dan menjauh. Dan ketika ingin kugapai dengan tangan ini, mengapa tak mampu kuulurkan tangan ini?

Kukatakan ingin kutinggalkan pintu yang tertutup itu. Kutiupkan asa ke hatiku, akan selalu ada pintu lain yang terbuka dengan cahaya terang menerangi. Kukuatkan langkah yang gemetar dengan berjalan lebih cepat dan tak menoleh ke belakang lagi. Kutulikan telingaku, mencoba membisukan duniaku ini. Sesulit inikah Tuhan hidup untukku?

Dan ketika kekosongan itu kembali datang, setelah membawa lari semua, aku terbaring diam masih di ranjang yang sama, ranjangku yang dingin. Aku hanya ingin menangis...

Http://www.google.co.id

Kamis, 24 Februari 2011

Senandung Sunyi....


Bibirnya terkatup rapat. Telah habis kata. Bahkan rasa pun enggan berbicara lagi. Keberaniannya telah terkoyak, keyakinannya telah sirna. Hilang entah ke mana... Mungkin dia lelah. Mungkin dia telah patah asa, terus menerus hanya mendengar gaung suaranya sendiri. Memantul sia-sia kembali padanya.

Apa lagi yang penting untuk dikatakan? Apa lagi yang perlu untuk diucapkan? Bukankah kata-kata telah kehilangan makna? Bahkan rasa pun kini malu, menyembunyikan wajahnya. Tak mampu lagi ia bersorak dan menari-nari dengan wajah gembira. Ia merasa bak seorang aktor tanpa penonton. Di atas panggung megah berlawan dengan kursi kosong yang tak pernah terisi.

Lalu satu persatu pintu dikuncinya dengan rapat. Dikuburnya kunci-kunci itu jauh ke dalam. Berharap dengan tak melihatnya, ia akan lupa. Berharap pintu-pintu yang tertutup itu akan memutuskan semua ingatannya akan mimpi-mimpinya yang patah.

Dipejamkannya matanya. Tubuhnya menggigil, terangkul erat oleh sepi. Dibisikkannya sebuah pinta. Seandainya saja bisa, semua menghilang begitu saja saat mata kembali terbuka. Dan ada wajah dunia yang baru muncul di hadapannya. Yang punya warna, bukan hanya kelam. Yang hangat, tanpa dingin sepi...

Dan saat dibukanya kembali matanya, napasnya tertahan... Terdengar olehnya sebuah senandung lirih yang menyayat hatinya. Wajah sunyi tersenyum padanya, bersenandung dengan bahagia. Perlahan airmatanya menetes. Di sana, sendiri dalam kegelapan ia menikmati senandung sunyinya...


Photo Link: www.google.com

Selasa, 08 Februari 2011

Jerat Rindu...


Aku rindu... Kerinduan ini telah menyusup dan menyebar dengan cepat ke seluruh diriku. Bukan hanya hatiku yang telah tercemari kerinduan itu, tapi juga seluruh sudut pikiranku. Ia telah mengusir semua hal lain dengan garangnya, dan bertahta menjadi raja di sana. Menggantikan wajah dunia hanya dengan sebuah wajah. Wajahnya...

Dan ketika dunia berbicara, yang kulihat hanyalah bibir-bibir bisu yang bergerak. Ruang kepalaku telah dipenuhi gaung suara yang lain. Yang tak pernah mau diam atau hilang. Suara yang selalu mempesonaku di setiap nada yang terdengar. Suaranya...

Bahkan malam-malam lelap dan panjang kini pun bukan milikku lagi. Di sana, ada bayangnya, bergerak, berkata, tertawa... Dan ketika aku terbangun dengan tak rela untuk melepaskan mimpi tentangnya, aku masih tetap belum terjaga juga dari kerinduanku. Terperangkap di sini, dalam bayangnya yang telah menjadi tembok yang memisahkan jiwa dan ragaku dari sang hari. Bahkan kini wajah mentari dan rembulan pun terlihat sama di mataku...

Lalu kumohon pada hati, tolong lepaskan kerinduan ini. Buang jauh dariku. Tak ingin lagi ku dibelenggu olehnya. Jeratnya mulai membuatku sesak dan kehilangan napas hidup. Telah lelah diri ini bermimpi tanpa henti di terang dan gelapnya hari.

Hatiku yang merana berbisik, Mimpi adalah mimpi, Sayang... Selamanya bukan nyata...

Photo Link: www.google.co.id

Rabu, 12 Januari 2011

Sometimes I Forget...


Sebatang rokok di tangannya masih menyala. Dihisapnya perlahan. Entah ini sudah batang yang ke berapa. Matanya dari tadi terus menatap lelaki di hadapannya. Lelaki yang sedari tadi terus berbicara tentang hal-hal yang sama sekali tak ingin didengarnya saat itu. Namun ia tetap tinggal dalam diamnya, tak menyanggah atau menghentikannya. Ia hanya menghisap rokoknya, tanpa bisa menikmati setiap hisapan yang ada.

Ia mendengar hatinya mencoba membujuknya. Merayunya untuk membuka mulut dan menumpahkan semua isi hatinya itu. Ia tergoda, ingin sekali menyela lelaki itu. Namun bibirnya tetap terkatup rapat. Ditelannya kembali semua kata yang telah berada di ujung bibirnya, yang telah lama menunggu kesempatan untuk berlari keluar dengan bebas. Tidak. Kebebasan itu bukan miliknya...

Lelaki itu menatapnya, masih berbicara. Sesekali lelaki itu berhenti, bertanya padanya, meminta persetujuan lewat anggukan atau sekedar gumaman. Dan saat mata mereka bertemu, ia mencoba mencari sesuatu di sana. Tapi entahlah, ia tak pernah yakin akan apa yang ditemukannya di sana. Ia takut salah mengartikannya. Ia takut terlalu percaya diri atau terlalu putus asa untuk mengartikan tatapan itu.

Dihisapnya lagi rokok di tangannya yang telah memendek. Dihembuskannya asapnya perlahan. Masih ditatapnya wajah lelaki itu lewat asap tipis di hadapannya. Ditelusurinya perlahan wajah itu. Mata itu. Hidung itu. Dan bibir itu... Tak sadar ia mendesah perlahan. Mengapa begitu sulit untuk menanggalkan keraguan dan membiarkan kejujuran menunjukkan wajahnya?

Jarinya menekan sisa rokok di permukaan asbak. Diputarnya perlahan, hingga semua bara yang ada mati dan lenyap. Berharap seandainya ia pun dapat mematikan bara yang ada di dalam dadanya dan melenyapkannya selamanya. Dan saat itulah ia mendengar hatinya berbisik pelan pada lelaki itu: Sometimes i forget i'm not supposed to love you...

Photo Link: http://www.google.com

Selasa, 21 Desember 2010

Sepotong Rindu Untukmu...


Belakangan ini aku sering tertinggal dengan sang waktu. Tak lagi melihat wajahnya dengan jelas. Seperti hari ini, ketika aku tiba-tiba teringat padamu. Dan saat aku menoleh pada sang waktu, aku tersadar. Besok...

Selama ini aku telah meninggalkan semua ingatan tentangmu di belakang sana. Dan kudirikan sebuah tembok yang tinggi, agar aku tak bisa melihatmu lagi. Bila sepotong ingatanku masih juga berkeras menoleh, aku katakan padanya, sudah tak perlu kau pikirkan lagi...

Ya, waktu dan jarak telah membawa dirimu jauh. Tak terjangkau lagi olehku. Meski terkadang rasanya tak pernah ingin diri ini menjangkaumu lagi. Bukan karena aku telah kehilangan rasa itu. Tidak. Hanya saja terlalu banyak rasa sakit di sini. Rasa sakit yang tak ingin kuulang lagi, menyayat dan merobekkan hati. Karena kau tak pernah bisa kugapai meski jarak hanya setipis benang...

Menyedihkan memang... Yah, setelah tahun berganti tahun, aku masih juga menangis ketika memikirkanmu. Memikirkan semua yang terjadi di antara kita. Masih terus bertanya pada diri sendiri, apa yang salah? Mengapa niat hati tak pernah cukup? Mengapa kata cinta itu sendiri tak pernah bisa menunjukkan wajahnya saat kita bersama? Bahkan masih ada sepotong rasa bersalah yang tertanam di sini, tak pernah bisa kucabut dan kubuang. Mungkin aku tak pernah cukup baik untukmu...

Tapi saat itu aku sendiri tak tahu bagaimana caranya agar bisa membuatmu mencintaiku. Mungkin aku terlalu bodoh. Tapi hingga kini pun, aku masih tetap tak juga mampu menyibak misteri tentangmu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berjalan meninggalkanmu dan membawa pergi hatiku yang compang-camping ini.

Aku sering mencoba membayangkan bagaimana rasanya bila tangan kita menyatu dalam genggaman erat. Mungkin akan ada rasa hangat mengalir darimu, menghangatkan hatiku yang terkadang rapuh ini. Atau mungkin genggaman itu akan menguatkan langkahku yang masih sering terseok-seok ini. Tapi sayang, bayangan itu tak pernah mampu menjadi utuh di sini.

Tahukah kau, ada banyak malam ketika aku meringkuk sedih, berharap kau datang, bertanya padaku, ada apa? Atau sekedar mengusap kepalaku dan berbisik, semua akan baik-baik saja. Tahukah kau, ada banyak saat di mana aku begitu berharap kau memelukku dengan erat dan membuatku merasa dicintai olehmu? Seandainya kau tahu...

Aku selalu merasa tak pernah menjadi sempurna di matamu, di antara mereka. Dan seringkali aku berharap melihat kilat bangga di matamu untukku, seperti saat kau melihat mereka. Dan ketika hanya keluhan dan kritikan yang kau hadiahkan padaku, terpuruk aku dalam rasa diri yang tak pernah cukup pantas untuk ada di sisimu.

Dan di sini aku kini, berdiri sendiri pada kakiku yang telah cukup kuat. Namun tak pernah hilang jejak dirimu dari setiap inci tubuhku. Juga dari setiap detik hidupku. Masih ada rasa sedih dan penyesalan yang sama. Juga masih ada kerinduan yang sama. Tak pernah pudar. Tak pernah bisa hilang. Meski terkadang aku ingin mengingkarinya, memalingkan wajahku darinya dan darimu, tetap, kau tak akan pernah bisa tergantikan.

Esok adalah harimu. Ingin kuucapkan selamat untukmu. Kutiupkan kerinduan dan doaku untukmu di sana, dari hatiku yang terdalam. Semoga kau selalu diberkati oleh-Nya di sepanjang hidupmu...

Photo Link: http://www.google.co.id

Jumat, 17 Desember 2010

Abu-abu...


Putih...
Sebersih salju
Selembut kapas
Secantik merpati

Hitam...
Seanggun malam
Sepekat tinta
Sekelam gagak

Ketika putih dan hitam saling merangkul, memagut dan melebur menjadi satu
Ketika tak jelas lagi wajah siapa yang terlihat
Ketika semua garis memudar, lalu terhapus, hilang tak kentara
Ketika hakikat terburai, luruh tak bersisa

Yang ada kini hanya...

Abu-abu

Photo Link: http://www.google.com

Jumat, 24 September 2010

Hilang...


Aku tahu dia masih ada. Tapi di mana? Kucari dan kucari. Harusnya ada di sini. Bersembunyikah dia? Mungkin dia tengah memeluk sepi di sudut gelap itu, seperti yang kadang-kadang dilakukannya ketika dia tengah bersedih. Kusingkap tirai hati, berharap menemukannya di sana. Tapi sudut itu kosong. Bahkan sepi juga sedang pergi, seakan tak ingin memeluk hampa sendirian.

Dinding putih di hadapanku ikut bungkam. Polos, kosong. Seakan ikut mengacuhkanku. Hanya hening yang tinggal. Tapi hening ini bukan hening damai. Hening ini kebisuan yang membosankan. Kutajamkan telinga, coba menangkap suara. Biasanya dia sering berdendang kecil. Atau mungkin aku bisa mendengar isakannya. Apapun itu, aku berharap bisa mendengar suara darinya. Tapi meski semua suara lain di sini telah berlari pergi, aku tak mampu menemukan suaranya. Membuat kerinduanku semakin menggila. Apakah dia tengah membisu? Tapi mengapa?

Mungkin dia sedang meragukan keseriusanku untuk bertemu dengannya. Kupejamkan mata, membaur dengan hening. Kulapangkan hati dan kutenangkan pikiran. Kupusatkan tarikan napasku, menyebut namanya tanpa suara. Kubayangkan sosoknya, utuh dan jelas. Seindah tampaknya, berpendar dalam cahaya yang dulu selalu menyelimutiku dengan kehangatan. Biar aku melihatmu. Biar aku mendengarmu. Datanglah dan duduk di sini bersamaku. Aku membutuhkanmu...

Tapi semua sia-sia saja. Di mana dia? Mungkinkah dia tengah tertidur lelap? Namun mengapa tarikan napasnya pun tak bisa kudengar? Ataukah dia telah pergi selamanya? Tidak. Dia masih ada. Aku tahu itu. Hanya saja aku tak bisa menemukannya. Ataukah dia sedang tak ingin ditemukan? Tapi mengapa? Apakah dia telah begitu membenciku? Tak ingin lagi melihatku? Tapi apa yang telah kulakukan padanya?

Kupanggil dia lagi. Kali ini dengan suaraku. Bukan hanya dengan hatiku saja. Berharap kali ini kesungguhanku akan membawa hasil. Namun hanya udara kosong yang memantul kembali. Kukeraskan suaraku. Mungkin tadi dia tak mendengar. Tapi masih, tak ada balasan. Kuteriakkan namanya dalam kekesalan dan putus asa. Ayolah! Aku sedang menunggumu di sini. Harusnya kau tahu. Harusnya kau bisa mendengarku. Tapi tetap... Detik demi detik berlalu begitu saja. Tak ada sahutan. Kutarik napas dengan sisa asa. Kuhembuskan bersama tetesan airmata. Kubiarkan sedih akhirnya masuk menyusupi hatiku. Sesulit inikah untuk menemukanmu?

Kau ke mana? Apa yang tengah kau lakukan? Mengapa tak juga kembali? Aku perlu untuk berbicara denganmu. Karena aku mulai panik dengan kekosongan ini. Dan selamanya diri ini tak pernah lengkap tanpa dirimu. Aku adalah kau. Dan kau adalah aku. Selamanya kita harus bersama, kecuali takdir dan maut telah bertitah dan kita harus memisahkan diri. Namun kini di dunia fana ini, aku di sini sendiri, tanpa dirimu. Hanya sebagai raga tak bernyawa. Bagaimana mungkin mampu hidup lagi dengan sempurna? Di manakah kau, wahai Aku?

Photo Link: http://www.google.co.id

Rabu, 22 September 2010

Tarian Kumbang


Mengerjap silau kemilau
Tebaran warna warni
Hamparan luas menggoda
Goyah terayu rasa

Imajinasi terbang terbebas
Meluncur singgahkan hati
Mabuk wangi semerbak
Hasrat manis tercicip

Nikmati anugerah dunia
Manis tertelan tawar
Sayap terkepak pasti
Manis lain menanti


Photo Link: http://www.google.co.id

Senin, 06 September 2010

Sangkar Emas...


Kilau emas silaukan mata
Buai hati bahagia semu
Sangka berdunia istana megah
Tak kurang segala apa

Janji memukau tidurkan mimpi
Terlena lupa siapa diri
Ribuan masa mati suri
Isakan jiwa terbungkam sunyi

Terbangun sayap terkepak kuat
Terbentur jatuh terpuruk bingung
Tak beratap langit luas
Pintu istana terkunci rapat

Terhimpit sesak berbatas jeruji
Kilau tahta meredup gelap
Rindu peluk cakrawala bebas
Tuan, sudikah buka pintu?

Photo link: http://www.google.co.id

Rabu, 01 September 2010

Belenggu...



Sesak menghantam himpit bahagia
Dinding-dinding kian mendekat
Tak sisakan banyak udara
Panik menyergap cepat

Sisa asa dan doa
Berangkulan dorong kuat
Tetap diam angkuh membatu
Bisakah airmata pecahkan?

Jatuh dalam pasrah terpaksa
Payah habis segala
Teriakan jiwa bergaung sunyi
Memantul dinding terkutuk

Terkapar meski mata nyalang
Gelap gamang melayang
Celah tak lagi bersisa
Cahaya di mana?


Photo Link: http://www.google.co.id

Minggu, 22 Agustus 2010

Bingkisan Yang Bernama Hidup...


Hidup ini mungkin bisa diibaratkan sebagai bingkisan-bingkisan yang dikirimkan untukmu. Ada bingkisan yang berisi tetesan airmata dan ada bingkisan yang berisi senyum dan tawa. Terkadang ketika kau membukanya, kau akan menemukan indahnya bahagia di sana untukmu. Tapi terkadang pula kau hanya menemukan airmatamu di sana. Lalu seringkali kau berpikir untuk menyimpan bingkisan itu, karena rasa sayangmu padanya. Akan manis rasanya. Tapi terkadang pula kau ingin membuangnya, karena tak ingin mengingat tetesan airmata yang telah kau jatuhkan. Tapi selamanya bingkisan-bingkisan itu akan selalu menjadi bagian dari dirimu. Yang tak akan pernah bisa kau lenyapkan atau hadirkan nyata selamanya. Karena waktu terus bergulir, tak pernah mengijinkanmu untuk menghentikannya. Tak peduli betapa besar cintamu padanya atau berapa besar kebencianmu untuknya.

Di sini, aku telah membuka sebagian dari bingkisan-bingkisanku. Dan di sini aku tengah mengenang semua waktu yang telah berlalu. Yang sebagian ingin kubuang dan sebagian lagi ingin kusimpan selamanya. Tapi bukankah tak ada yang abadi? Bukankah kita harus belajar untuk tidak memeluk terlalu erat dan tidak meronta melepaskan sesuatu sebelum waktunya tiba? Bukankah ada masa untuk segalanya?

Ada yang berkata, tertawalah ketika kau menangis. Tertawakan tangisanmu. Mungkin dengan begitu, tawa itu akan membuat tangisanmu menjauh pergi, bukan merajai hatimu. Dan ketika kau bahagia, menangislah. Mungkin dengan begitu, tangisan itu akan membuatmu merasakan syukur yang dalam karena kau masih bisa rasakan bahagia sekali lagi.

Masih banyak bingkisan yang menungguku, yang harus kubuka. Tapi, biarkanlah aku tertawa saat ini, karena aku baru saja membuka bingkisan yang berisi airmata. Biarkan tetesan-tetesan airmataku ini menguap dalam tawaku...


Photo Link: http://www.google.co.id

Jumat, 20 Agustus 2010

Melepasmu Pergi...


Perahu mengayun sendu
Selendang putih terlepas perlahan
Berat guci seberat rasa
Ikhlas masih terikat kenangan
Di mana simpul untuk dilepas?

Kusentuh lembut dirimu
Jemari gemetar terbuka perlahan
Angin datang merangkulmu pergi
Tertelan ombak tak berbekas
Hati berteriak dalam harap bisu

Laut masih biru
Hatiku merah berdarah lagi
Airmata menetes seiring cinta
Menyatu dalam laut bersamamu
Separuh jiwa telah kau bawa pergi

Binar ceria matamu
Celoteh riang indah suaramu
Lembut sentuhan tangan kecilmu
Hangat napasmu di kulitku
Menggetarkan sukma dan jiwa hampa

Hilang sudah semua
Tinggal kenangan bukan nyata
Mata terpejam hati berserah
Lirih melantun doa untukmu
Nak, selamanya aku cinta padamu...

(17 Agustus 2010, Bandengan Jepara, In Memoriam Baby Emma...)

Photo: Angel Li

Kamis, 12 Agustus 2010

Selamat Jalan, Baby...


Aku mendapat kabar kepergiannya saat aku baru membuka mata pagi itu. Membaca sms yang sudah masuk pada pukul dua dini hari, aku serasa lumpuh. Sudah pukul delapan lewat. Sudah hampir enam jam berlalu. Sesaat duniaku menjadi kosong. Senyap.

Dia sudah pergi... Seperti ada sebuah bisikan singgah di telingaku. Aku duduk, masih menatap layar telepon, tak tahu mesti melakukan apa. Kubaca kembali dengan lebih perlahan huruf-huruf di layar. Baby sudah pulang... Pulang? Pulang ke mana? Pulang ke rumah? Atau pulang kembali ke atas sana? Tapi kemarin Baby masih di ICU, mungkinkah bisa secepat itu dia pulang ke rumah? Bukankah mestinya dilanjutkan perawatan ke kamar biasa? Seketika itu juga harap yang tadi sempat memunculkan wajahnya padaku, langsung lenyap tak berbekas. Jantungku berdegup kencang ketika akhirnya kubalas sms itu...

Hampir pukul sembilan ketika aku meluncur menuju ke Krematorium Nirwana. Ya, Baby telah pulang. Berpulang tepatnya. Aku menerima sms yang mengabarkan bahwa dia akan dikremasi pagi itu juga. Harapanku untuk melihatnya sekali lagi musnah sudah. Petinya sudah ditutup. Ingat saja saat dia masih lucu ya... Itu sms yang kuterima tadi, membuat aku terbayang kembali pada saat aku mengunjunginya pertama kali di rumah sakit, saat ia menjalani kemoterapi untuk pertama kalinya. Baby masih bisa tertawa, masih bisa bermain denganku, bahkan masih berceloteh riang dengan bahasanya sendiri. Meskipun selang obat dan selang makanan melekat di tubuh dan wajahnya. Dia sangat manis. Sangat cantik. Seperti tidak merasakan penderitaan apapun atas sakitnya.

Semuanya begitu cepat. Terlalu cepat. Baru kemarin rasanya ketika aku dipenuhi sukacita mendengar berita kelahiran Baby. Empat belas September tahun lalu. Lalu detik demi detik berlalu, menjadi menit, jam dan hari. Bulan demi bulan berlalu. Aku masih ingat pertama kali melihatnya tertawa dan mulai belajar mengenal dunia. Tapi belum lagi perkenalan itu berjalan lama, aku telah mendapat kabar tentang dirinya yang sakit. Tapi ia masih tersenyum dan tampak seperti layaknya bayi-bayi lucu lainnya, meskipun menjalani proses pengobatan yang panjang dan berat. Dan tiba-tiba tampak secercah cahaya menyinari ketika mendengar berita bahwa Baby memasuki masa remisi, di mana sel kankernya telah berada di bawah batas normal. Dan harapan kami pun tumbuh dengan lebih cepat. Baby pasti bisa sembuh! Tapi sayang seperti secepat munculnya harapan itu, kini harapan itu telah meredup, layu dan mati...

Ketika Baby menjalani pengobatan lanjutan, ia kembali terserang demam. Dan kali ini tubuhnya sempat membiru, yang kemudian diketahui bahwa paru-parunya meradang. Karena itu Baby terpaksa dimasukkan ke ICU. Dan ketika aku mengunjunginya, ia telah berpindah kamar, ke kamar ICU utama, dengan alasan agar bisa lebih mendapat perhatian perawat. Yang artinya, keadaannya mulai mengkhawatirkan.

Saat aku melihatnya di balik kaca, dari jarak yang cukup jauh, aku hanya bisa memandangi tubuhnya yang tergolek pasrah. Dengan bantuan mesin di kiri dan kanan serta selang-selang yang entah untuk apa. Dia tertidur pulas dalam pengaruh obat bius. Dan begitu juga ketika aku kembali lagi menjenguknya minggu lalu. Padahal ingin sekali aku mendekatinya. Menyentuh tangan mungilnya dan berbisik di telinganya, "Nak, kamu pasti bisa sembuh. Yang kuat ya... Kami semua mencintaimu. Menunggumu kembali..."

Aku khawatir. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bahkan tidak punya kata-kata penghiburan untuk sahabatku, sang Ibu yang selalu menemani Baby dengan tabahnya. Ya, aku tahu sebenarnya dirinya pun sangat sedih dan khawatir. Namun tak pernah ada ekspresi cemas dan takut di wajahnya. Juga tak pernah terlontar keluh kesahnya. Semuanya hilang dalam diam dan doanya.

Aku tak pernah suka ke tempat pemakaman atau tempat-tempat seperti itu. Begitupun dengan krematorium ini. Suasananya membuatku ingin berlari jauh. Aku tak pernah suka akan perpisahan. Apalagi perpisahan yang terjadi tiba-tiba dan tidak diinginkan. Tapi di sinilah aku, berdiri di pintu, tak berani beranjak masuk. Dan ketika ia muncul, dengan selendang putih di bahunya, aku kembali merasa lumpuh. Selendang itu pernah digunakannya untuk membalut tubuh Baby. Dan senyum Baby kembali muncul di hadapanku, membuat tempat itu menjadi terlihat tak sungguh-sungguh nyata.

Matanya sembab. Pasti ia telah banyak menangis sejak jam dua tadi. Namun tak ada sisa airmata di sana. Mata itu bicara padaku, tentang kepasrahannya. Dan aku hanya bisa merangkulnya, tanpa sepatah kata pun.

Tak ada peti. Hanya ada pintu besi yang telah tertutup rapat. Baby telah masuk ke sana lima belas menit yang lalu. Tak ada ucapan selamat tinggal lagi yang bisa kuucapkan. Aku hanya bisa menunggu dalam diam. Masih merasa semua ini tak nyata. Terlalu cepat. Benar-benar terlalu cepat semuanya ini terjadi...

Semua yang ada di sana menunggu proses kremasi selesai. Dan ketika petugas yang berpakaian biru itu datang dan mengumumkan bahwa pintu sudah bisa dibuka, aku bangkit, mendekat. Pintu terbuka perlahan. Dan sebuah meja yang sepertinya terbuat dari marmer, terdorong keluar dengan perlahan. Tak ada peti. Hanya ada puing-puing di atas meja. Aku mendekat lagi, ingin melihat lebih jelas. Tulang-tulang kecil berserakan di sana, bercampur dengan abu. Aku menoleh padanya. Dia mendekap mulutnya dengan tangan, menahan tangis dan sedihnya.

Bayi itu tak ada lagi. Yang tersisa hanya tulang-tulang putih dan abu. Habis sudah. Hilang selamanya... Seperti itulah adanya kita semua, dari abu kembali menjadi abu. Begitu sederhana. Lalu apa yang selama ini begitu kita sombongkan? Apa yang membuat kita begitu yakin bahwa kita ini berbeda dengan yang lain? Bahwa kita lebih hebat, lebih tinggi dan lebih terhormat dari yang lain? Pada akhirnya kita semua akan kembali menjadi abu. Abu yang sama...

Aku belum menangis. Aku tak bisa menangis. Hatiku berduka, tapi airmataku tak juga mau menetes. Aku kehilangan, tapi apa yang bisa aku lakukan? Masa-masa sulit itu telah dijalaninya dengan berat. Dia telah berjuang dengan kekuatan yang sangat besar meskipun tubuhnya begitu kecil dan lemah. Tapi bila pada akhirnya napasnya terhenti, apakah itu sebuah kekalahan? Tidak. Bagiku dia tetap seorang pemenang yang hebat. Bagiku dia tetap sosok yang sangat-sangat mengagumkan. Sosok yang telah datang dan pergi dengan begitu cepat namun telah menyentuh banyak hati dan sisi hidup. Sosok yang telah mengajarkanku begitu banyak tentang hidup. Hidup ini hanya sebentar. Hidup ini rapuh. Kita hanya seorang manusia yang pada akhirnya juga tak bisa lari dan mengelak dari kematian dan kehendak Yang Di Atas. Juga bahwa, hidup ini sangat berharga. Begitu banyak yang berjuang demi sebuah napas, sementara kita sering menghabiskan detik demi detik dengan penyesalan diri dan semua omong kosong tak berguna...

Belum setahun waktu berlalu. Dia bahkan tak sempat meniup lilin ulang tahun di atas kue tart pertamanya. Tak sempat membuka kado ulang tahunnya yang pertama. Bahkan tak sempat mengenakan sepatu perak cantik yang kubelikan untuknya minggu lalu. Tapi bila memang ini adalah akhir dari perjalanannya yang singkat, biarlah dia pergi dengan damai. Biarlah dia melepaskan semua sakit dan derita yang ada. Dan semoga dia beristirahat dengan tenang di atas sana. Dan tersenyum serta tertawa kembali merangkul bahagianya yang abadi...

Selamat jalan, Baby... We love you...

(*finally my tears going down...)

Photo Link: http://www.google.co.id

B'day Gift From My Buddy

Conversation With God (Book I Page 59-60)

Apakah rasa takut adalah yg kamu butuhkan utk menjadi, melakukan dan memiliki apa yg pd hakikatnya benar? Haruskah kamu diancam utk "menjadi baik?" Siapa yg berkuasa ttg itu? Siapa yg menentukan pedomannya? Siapa yg membuat aturannya?
Kukatakan hal ini kpdmu: Kamu adalah pembuat aturanmu sendiri. Kamu menentukan pedomannya. Dan kamu memutuskan seberapa baik telah kamu lakukan; seberapa baik sedang kamu lakukan. Karena kamu lah yg memutuskan Siapa & Apa Dirimu Sebenarnya-dan Diri Yg Kamu Cita-citakan. Dan kamu lah satu-satunya yg dapat menilai seberapa baik sedang kamu lakukan.
Tak ada org lain yg akan menghakimimu selamanya, karena mengapa, dan bagaimana Tuhan dapat menghakimi ciptaanNya sendiri dan menyebutnya buruk? Seandainya Aku ingin kamu menjadi dan melakukan segala sesuatu dengan sempurna, Aku pasti telah meninggalkanmu dalam keadaan benar-benar sempurna dari mana kamu datang. Seluruh maksud proses ini adalah agar kamu menemukan dirimu sendiri, menciptakan Dirimu, sebagaimana kamu sebenarnya - dan sebagaimana kamu inginkan sebenarnya. Namun, kamu tak dapat menjadi itu kalau kamu juga tidak memiliki pilihan untuk menjadi sesuatu yg lain.
Karena itu, apakah Aku seharusnya menghukummu karena membuat pilihan yang Aku sendiri telah letakkan di depanmu? Seandainya Aku tak menginginkanmu membuat pilihan kedua, mengapa Aku menciptakan pilihan yg lain daripada yg pertama?
Ini adalah pertanyaan yg harus kamu tanyakan kepada dirimu sendiri sebelum kamu memberi Aku peran sebagai Tuhan yg menghukum.
Jawaban langsung dr pertanyaanmu adalah ya, kamu boleh bertindak semaumu tanpa takut akan pembalasan. Namun, adalah berguna bagimu untuk menyadari konsekuensinya.
Konsekuensi adalah hasil. Akibat alamiah. Ini benar-benar tidak sama dengan pembalasan, atau hukuman. Akibat, sederhana saja. Akibat adalah apa yg berasal dari penerapan alamiah dari hukum alam. Akibat adalah apa yg terjadi, dengan dapat sungguh diprediksi, sebagai konsekuensi dari apa yg telah terjadi.
Semua kehidupan fisik berfungsi menurut hukum alam. Sekali kamu mengingat hukum ini, dan menerapkannya, kamu telah menguasai kehidupan pd tingkat fisik.
Apa yg tampak seperti hukuman bagimu - atau apa yg kamu sebut kejahatan, atau nasib buruk - tak lebih daripada hukum alam yg menyatakan dirinya