Selasa, 22 Desember 2009

Anak dan Bunda...


Sejak kapan sebutan itu menjadi begitu kabur di ingatannya? Dia pun tak tahu. Sampai kemudian dia tersadar dan merasa begitu jauh darimu. Dia pernah mencoba untuk berbalik kembali dan menggapaimu lagi, tapi... akh.... Mengapa tak juga tergapai? Mengapa seakan ada dinding penghalang yang tak tampak di antara kalian?

Bila bisa dia teriakkan sesalnya, dia akan menahan hidup untuk tak berubah dan tetap membiarkannya ada di sampingmu selamanya. Tetap menjadi seorang kanak-kanak yang lugu dan polos, yang selamanya tak mempermasalahkan apa itu kebenaran. Yang terpenting baginya, masih dapat dia rasakan hangatnya tubuhmu memeluk dirinya, juga suaramu yang pernah menjadi petikan dawai yang indah memenuhi isi dunianya.

Perjalanan ini tak pernah menjadi mudah untuknya. Dia pun tahu tak pernah menjadi mudah untukmu juga. Melihat sosok yang dulu kau timang bertumbuh besar dan mulai berusaha melepaskan ikatan dan belenggu yang kau pasang. Mendengar dia mulai mempertanyakan tindakan dan sikapmu. Dan ketika dia mulai menyatakan ketidaksetujuannya, ada luka di matamu. Dan ketika dia tidak lagi merasa aman bersamamu dan berusaha berlari menjauh, kau mulai mencercanya meski sebenarnya hatimu terasa perih. Meski sebenarnya kau harapkan dia dapat menunjukkan cintanya yang menurutmu pantas kau terima.

Seandainya kau juga tahu, bahwa dibalik semua pemberontakan dan ketidaksetujuannya padamu, di balik semua ekspresi wajahnya yang seakan penuh kemarahan dan kebencian padamu, ada sebuah hati yang haus akan cinta. Hati yang menunggu dirimu untuk mengerti dan melepaskan semua ego dan memeluknya dengan cinta tanpa syarat. Dia hanya seorang kanak-kanak yang berproses menjadi dewasa, dengan begitu banyak pertanyaan dan kebingungan yang harus dihadapinya. Dia butuh bimbingan dan kasihmu untuk menjadi pelita dalam kegelapannya.

Hidup terkadang menjadi begitu rumit untuk dimengerti. Ketika setiap pribadi tak mau berhenti sejenak, merenung dan melepaskan semua keinginan dan ego atas nama cinta. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa sebenarnya yang terpenting dari semua keributan dan perselisihan itu? Pada akhirnya tak ada yang terlalu penting untuk diributkan. Pada akhirnya bahagia dan damai lah yang ingin dicapai, bukan? Tapi semua itu hanya bisa dimenangkan dalam cinta. Hanya cinta. Cinta yang tak bersyarat...

Bunda,
Andaikan aku dapat melepas semua kesombongan diri
Akan kupeluk dirimu yang telah begitu asing di diriku
Akan kubayar masa yang telah berlalu tanpamu
Aku ingin belajar kembali mencintaimu
Dengan segenap hati dan jiwaku
Dengan segenap kesabaran dan kebesaran hatiku
Mengerti bahwa kebenaranku tidaklah menjadi begitu penting
Yang terpenting cintaku padamu tak akan pernah berakhir
Dan aku akan berlutut memohon maafmu
Untuk semua kata dan tindakanku yang tak pernah menjadi hebat
Telah melukai hatimu dalam prosesku menemukan diri sendiri
Proses yang begitu sulit dan menyiksa
Namun kini, ketika aku telah tegar berdiri
Dan menemukanmu telah hilang dari hidupku
Ada sesal yang tak pernah terbayarkan
Meski dengan semua keberhasilan yang telah kucapai
Tak pernah lengkap bahagiaku
Tanpamu merestuiku dengan senyum bahagiamu

Anak,
Saat pertama kali melihatmu
Kau lah anugerah terindah dalam hidupku
Tak ada emas permata yang akan kutukarkan dengan dirimu
Namun cinta yang ingin memilikimu selamanya
Membuat diri terkadang begitu egois
Tak pernah rela melepaskanmu untuk memiliki diri dan hidupmu sendiri
Saat aku menggunakan segala daya atas nama cinta
Kau pun semakin menjauh
Dan ketika aku menggunakan kuasaku akan dirimu
Dengan mengungkit segala budi dan jerih payahku
Kau menatapku dengan sorot kebencian
Damai tak pernah lagi jadi milik kita
Aku selalu bertanya, Mengapa?
Tak pernah mau mengakui salah, hanya ingin dibenarkan dalam penghormatan
Tak pernah mau mengakui
Bahwa ini bukan hanya prosesmu untuk belajar
Ini juga prosesku untuk belajar
Namun sejalan waktu aku merasa telah kehilanganmu
Sejalan waktu aku merasa kau tak lagi membutuhkanku
Sejalan waktu aku merasa kau tak lagi mencintaiku...

Anak dan Bunda,
Cinta adalah anugerah
Hadiah terbesar dari Ilahi
Anak dan Bunda ditakdirkan untuk bersama dalam sebuah kehidupan
Takdir ini adalah janji
Janji yang telah disepakati bersama
Sebelum masa kehidupan dimulai
Anak berjanji akan mencintai dan mengikuti sang Bunda
Bunda berjanji akan menjadi pelindung dan pembimbing
Dan mereka telah berjanji
Bila pada suatu masa kemudian
Mereka tak sepaham dan tak sekata lagi
Mereka tetap mereka akan mencinta hingga akhir napas
Dan bila salah satu dari mereka lupa akan janji itu
Mereka akan saling mengingatkan
Namun sayang...
Janji itu telah hilang ditelan waktu
Tak ada lagi yang mengingatnya
Tak ada lagi yang menganggapnya penting
Tak ada lagi yang mengagungkannya
Masing-masing terpaku pada ego dan kepentingan sendiri
Masing-masing berkeras pada kebenaran sendiri
Dan sejalan waktu
Dua sosok yang harusnya selalu menjadi satu bagian yang utuh
Akhirnya memutuskan untuk memilih jalan yang berbeda
Yang kemudian mengutuk takdir yang telah mempertemukan mereka
Dan membiarkan diri larut dalam luka yang tak pernah sembuh

Seandainya mereka tahu
Hanya cinta yang bisa menyembuhkan
Cinta yang selalu ada
Di kedalaman hati yang terdalam
Seandainya saja mereka mau melihat ke dalam
Ke dalam hati masing-masing
Selalu ada cinta di sana
Untuk menyatukan mereka kembali
Anak dan Bunda...

Photo Link: http://farm1.static.flickr.com/164/401181839_4535122145.jpg

Minggu, 20 Desember 2009

Sepiring Nasi Ayam...


Wanita itu menaruh sepiring nasi ayam di hadapan William. Ada enam butir nasi berbentuk bola dan ayam rebus yang telah dipotong-potong. William tak langsung menyantapnya. Lama ia hanya memandangi hidangan itu. Teringat olehnya kisah belasan tahun yang lalu...

Saat itu umurnya masih sangat muda. Siang itu ia berjalan berkeliling, tanpa uang sepeser pun di sakunya. Nasibnya buruk. Ia sudah tidak bekerja beberapa bulan. Dan uang simpanannya, hasil tabungannya dari pekerjaannya yang terakhir sudah dihabiskannya kemarin malam. Tak ada sisa sepeser pun di kantongnya.

Meskipun beberapa bulan ini ia telah berusaha mengirit keperluan sehari-harinya, tetap saja uangnya terus mengalir keluar. Pemasukan kecil-kecilan yang diperolehnya dengan bekerja part time ke sana kemari tak juga mampu menambah simpanan uangnya. Biaya hidup di kota itu terlalu besar. Ia harus membayar sewa kamarnya yang sempit, belum lagi mengisi perutnya dua kali sehari.

Ia belum juga menemukan pekerjaan tetap, meski ia terus mencari. Terkadang ia merasa begitu putus asa, berpikir untuk membeli tiket bus dan kembali ke kota asalnya. Pikirnya, paling tidak di kampung halamannya, masih ada rumah orangtuanya untuknya bernaung gratis. Dan juga makanan untuk mengisi perutnya setiap hari. Namun teringat akan sikap ayahnya yang keras dan keadaan keluarganya yang juga miskin, membuat William tetap bertahan di kota itu. Tak ingin mendengar celaan ayahnya atas usahanya yang tak berhasil. Juga tak ingin membuat ibunya khawatir. Karena itu William bertekad tak akan pulang sebelum ia berhasil.

Namun, seakan langit pun tak merestui langkahnya. Tak ada pintu yang terbuka yang terlihat olehnya. Meski ia tak juga berhenti mencari, kakinya mulai terasa letih melangkah. Begitu pun dengan hatinya yang mulai goyah. Semangatnya mulai hilang dan rasa putus asa mulai merangkulnya. Apalagi dari pagi hingga siang itu ia tak juga menemukan satu pekerjaan pun. Padahal sudah berjam-jam ia berkeliling. Perutnya mulai terasa perih. Kerongkongannya terasa kering, bak padang pasir.

Ia berhenti di sebuah kedai nasi ayam. Kedai itu kedai kecil namun sangat ramai. Pastilah nasi ayam kedai itu enak, sehingga pengunjungnya banyak. Lama William berdiri memandangi orang-orang yang sedang makan. Ia menelan ludah beberapa kali. Perutnya mulai berteriak-teriak tak mau lagi berkompromi. Lama ia terlihat bimbang sampai akhirnya kakinya melangkah, menghampiri meja di sudut, dekat sebuah jalan kecil.

Ia duduk di sana, menatap ke sekeliling dengan gugup. Tangannya yang basah, disembunyikannya di bawah meja, tak sadar meremas celana panjang lusuh yang dikenakannya.

Seorang bapak mendekat dan bertanya padanya. William memesan nasi ayam sepiring tanpa ayam. Hanya nasi saja, tekannya. Bapak itu kemudian bertanya lagi, ia ingin minum apa? William menggeleng cepat. Akhirnya bapak tua itu pun berlalu.

Tak lama kemudian bapak itu kembali dengan sepiring nasi ayam berbentuk bola. Sesaat William masih memandangi nasi ayam itu, masih tampak ragu. Tapi kemudian tangannya terulur, meraih sumpit di meja. Tangannya bergetar, berusaha menahan sumpit agar tak jatuh. Lalu ia mulai makan dengan tergesa. Ia bahkan tak bisa menikmati kelezatan nasi ayam tersebut. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Dan pikirannya terlalu kacau saat itu. Hanya sekejap saja, keenam nasi ayam itu telah lenyap, pindah ke dalam perutnya. William mengangkat wajahnya dengan takut-takut, mencuri pandang ke sekeliling. Dan ketika ia melihat pemilik kedai sibuk melayani orang lain dalam posisi membelakangi dirinya, ia cepat-cepat berdiri dan kemudian berlari sekencang-kencangnya. Ia bahkan tak sadar sudah berlari berapa lama, berapa jauh. Yang ia tahu ia hanya terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Ia takut bila ada suara yang memanggilnya atau ada langkah yang mengejarnya di belakang.

Sampai di sebuah jalan kecil, William menikung masuk dan berhenti dengan napas yang hampir putus. Ketika ia mengintip ke arah jalan di belakangnya dan tak menemukan siapa-siapa di sana, barulah ia bisa menarik napas lega. Kakinya tiba-tiba langsung terasa lemah, membuatnya terjatuh di aspal. Ia terduduk lunglai di sana, dengan keringat yang membasahi seluruh pakaiannya. Kepalanya bersandar pada dinding samping sebuah rumah, menatap ke langit. Tiba-tiba ia menangis. Ia menangis terisak-isak seorang diri.

Sebuah suara membangunkannya dan membawanya kembali dari kisah belasan tahun yang lalu ke masa kini. Seorang wanita berdiri di hadapannya bertanya ia ingin minum apa. William segera menjawab dan pandangannya kembali ke sepiring nasi ayam di hadapannya. Matanya terasa panas dan mulai berkaca-kaca. Semua penyesalannya kini menghambur keluar.

Belasan tahun telah berlalu, namun sepotong kisah di hari itu tetap melekat kuat di ingatannya. Hari di mana ia harus menipu seorang bapak pemilik kedai atas sepiring nasi ayam untuk mengisi perutnya yang kosong. Hari di mana ia sudah begitu putus asa, tak memiliki sebuah harapan pun dan akhirnya kalah atas tuntutan perutnya yang minta diisi. Untuk sepiring nasi ayam yang tidak dibayarnya, telah merampas sisa harga dirinya. Juga telah merampas sebuah kata kejujuran yang selalu dipegangnya teguh. Dan sepotong nasi ayam itu harus dibayarnya mahal dengan rasa bersalah dan penyesalan tak berujung.

Pernah ia kembali mencari kedai bapak tua yang dulu ditinggalkannya dengan diam-diam itu. Namun kedai itu sudah tak ada di sana lagi. William bermaksud datang membayar sepiring nasi ayam itu untuk menebus rasa bersalah yang selalu mengikutinya. Namun kesempatan itu tak pernah datang. Bapak tua itu telah hilang entah ke mana.

Kini, William telah menjadi seorang pengusaha sukses di kota itu. Bahkan kini ia telah mampu pulang menemui Ayah dan ibunya dengan kepala tegak. Ia kini terlihat begitu percaya diri dan mapan. Namun tak seorang pun tahu di balik kisah suksesnya ada sepotong kisah pahit yang selamanya tak mampu dilupakannya.

William menyuap sebutir nasi ayam ke mulutnya, mengunyahnya pelan. Tak ada lagi debaran jantung yang terlalu cepat. Tak ada lagi tangan yang gemetar. Yang ada kini hanya sebuah harap di hatinya. Semoga suatu hari nanti ia dapat menemukan bapak pemilik kedai nasi ayam itu. Semoga suatu hari nanti ia masih diberi kesempatan untuk menuturkan pengakuannya dan meminta sepotong maaf untuk menenangkan hatinya yang tak pernah lagi bisa damai...

(*penuturan seorang teman baik akan sepotong kisah hidupnya, di tengah makan malam...)

Photo Link: http://foodiedoodie.files.wordpress.com/2008/11/melaka-cafe-chicken-rice-ball.jpg

Kamis, 17 Desember 2009

Rearrange Items on Your Hard Disk to Make Programs Run Faster


Klik start, pilih setting lalu control panel, kemudian pilih performance and maintenance dan akhirnya klik 'rearrange items on your hard disk to make programs run faster'.

Setiap hari, proses itu kulakukan. Mengapa? Seperti yang telah dijelaskan kalimat panjang itu, mengatur kembali semua yang ada di hard disk agar program berjalan lebih cepat.

Pagi ini ketika aku akan melakukan hal itu lagi tiba-tiba terlintas di benakku. Ini seperti proses kehidupan juga. Harusnya dalam diri kita juga ada sistem 'rearrange items' untuk mengatur kembali semua file-file yang ada dalam diri kita. File-file yang jumlahnya sangat banyak dan menumpuk, yang sering kita ambil dan buka kembali lalu kita tutup lagi. Yang terkadang kita letakkan dengan asal-asalan saja, sehingga semuanya menjadi tak beraturan. Dan terkadang semua itu menjadi begitu berantakan yang akhirnya membuat kita sendiri menjadi merasa ada kekacauan di dalam diri, yang menghadirkan stress berkepanjangan.

Sesekali juga kita mungkin perlu meng-klik 'Free up space on your hard disk'. Pasti banyak file-file tidak berguna, yang selama ini kita biarkan tetap ada di dalam diri. Masalah-masalah lama yang tak berguna, yang tidak kita sempatkan untuk buang. Yang hanya memberatkan diri selama ini. Yang tanpa kita sadari, menjadi penghambat kebahagiaan diri. Juga ada perasaan-perasaan negatif, rasa sakit, rasa marah, rasa benci, rasa malu, rasa tidak percaya diri, dan masih banyak rasa-rasa lain, yang juga sebenarnya memperlambat diri untuk terus bergerak maju dalam kehidupan ini. Bila saja kita mau memilah-milah mana file-file yang tidak baik dan baik untuk diri. Dan kemudian membuang file-file yang tidak kita perlukan lagi dan mengaturnya kembali dalam susunan yang teratur...

Belajar dari cara kerja komputer, kita bisa setiap hari melakukan dua pekerjaan itu, menghapus dan mengatur kembali. Dan dengan begitu mungkin seperti komputer, diri kita dan hidup kita akan berjalan dengan lebih ringan dan cepat.

Photo Link: http://csg.trinhall.cam.ac.uk/tips/smb/img/xp-perfmaint.png

Rabu, 16 Desember 2009

Goyah...

Perjalanan ini terasa semakin berat. Langkah kakiku semakin tersendat. Semakin sering kuseret kakiku, memaksanya untuk terus melangkah maju. Terseok-seok, bak seorang pincang yang gemetar, tak punya kepercayaan diri.

Apa itu semangat? Aku kini tak mengerti arti kata sederhana itu. Adakah semangat itu tertinggal di diriku ini? Inikah bukti semangat dalam diriku dengan langkah yang terseok-seok berusaha untuk tetap maju? Ataukah ini bukti dari pupusnya semangat, dan sebentar lagi mungkin akan sirna selamanya? Dan saat itu mungkin aku hanya bisa terpuruk, tak mampu lagi melangkah, bahkan tak mampu lagi berdiri.

Belakangan ini saat mataku membuka kembali, menyambut mentari, mengapa dunia terlihat begitu gelap? Mengapa hidupku terlihat suram, tak berwarna? Mengapa sinar mentari itu tak juga menyinari hidupku ini? Apa gunanya dirinya di atas sana? Bila hanya jadi hiasan indah tak berarti? Ataukah aku yang telah buta? Hatiku yang telah buta tak bisa melihat sinar indahnya? Ataukah sinar itu sebenarnya ada di sana, hanya saja aku telah menutup pintu hatiku, sehingga mataku pun tak berfungsi lagi? Hatiku gelap, hidupku juga ikut menjadi gelap. Mungkinkah?

Berulang kali kudengar kalimat ini, buka pikiran, buka hati. Berulang kali kudengar mereka bilang, pikiran mau seluas samudera, hati mau sebesar langit di atas sana. Bagaimana mungkin aku bisa meluaskan pikiran dan membesarkan hatiku? Dengan cara apa? Dengan alat apa? Lagipula bagaimana aku tahu seluas apa samudera itu? Sebesar apa langit itu?

Apa aku yang terlalu bodoh, tak mengerti apa yang mereka katakan? Benarkah aku ini bodoh? Kadang aku merasa seperti seorang idiot. Kadang aku merasa seperti orang dusun yang dihadapkan pada tempat dan situasi yang terlalu rumit untuk bisa kuhadapi. Tapi aku tak rela dikatakan bodoh. Aku tak rela dipandang rendah. Tapi semakin aku tak rela, semakin aku merasa orang-orang meremehkanku. Seakan aku ini tak punya apa-apa untuk kubanggakan. Seakan aku ini begitu miskin. Miskin segalanya. Bahkan miskin cinta...

Terkadang aku benci melihat mereka tersenyum dan bahagia. Sebenarnya aku iri pada mereka. Aku tak tahu bagaimana bisa tersenyum dan bahagia. Aku juga ingin. Tapi aku berlagak seakan aku tak tertarik pada hal itu. Berlagak seakan hal itu tidak penting bagiku. Berlagak seakan aku tak kurang suatu apapun. Padahal aku selalu terpuruk di sudut duniaku, selalu kembali meratap sendiri. Meratapi hidupku. Meratapi diriku. Meratapi orang-orang yang seakan tak pernah peduli. Ya, kesombongan diri ini begitu menjerat diriku, mungkin suatu hari nanti akan membunuhku...

Sebenarnya aku butuh mereka. Aku butuh cinta dari mereka semua. Aku butuh ditolong. Aku butuh seseorang memegang tanganku untuk menguatkan kaki dan langkahku yang goyah ini. Hanya saja aku tak tahu bagaimana harus meminta. Bukan. Aku terlalu sombong untuk meminta. Tidak... Sebenarnya bukan karena kesombongan semata, tapi lebih karena aku tak punya kepercayaan diri. Aku tak punya cukup kepercayaan bahwa diriku ini berharga di mata mereka. Juga tak punya cukup kepercayaan pada mereka. Aku takut mereka akan menolakku. Aku takut mereka akan mengecewakanku. Terlalu banyak luka hatiku yang tak sanggup kurawat dan belum mampu kurelakan untuk sembuh. Karena aku tak berani untuk percaya bahwa ada bahagia di depan sana untukku. Bahwa aku ini pantas untuk dicintai...

Photo Link: http://farm1.static.flickr.com/213/508715784_b6124f74dc.jpg

Senin, 14 Desember 2009

Dear My Friend (2)


Berapa tahun telah berlalu? Dua belas? Sepertinya... Sejak terakhir pertemuan kita yang tak indah itu. Aku masih ingat hari itu ketika kita menghabiskan waktu berdua dengan berbagi cerita. Tak pernah menyangka itu hari terakhir aku melihatmu. Bila seandainya saja aku tahu, mungkin tak akan rela aku membiarkanmu melangkah pergi.

Kau tak selalu ada, tak selalu hadir. Tapi kau selalu kembali. Aku ingat tak peduli berapa lama jeda waktu yang tercipta di antara kita, kau pasti kembali lagi. Dan aku tak pernah menunggumu pulang karena aku begitu yakin kau pasti akan selalu pulang. Di sini, di sampingku, menjadi seorang sahabat yang sangat berarti bagiku.

Kita selalu punya cerita untuk dibagi. Bukan cerita yang istimewa, juga bukan rahasia diri yang tak terucapkan pada orang lain. Hanya cerita-cerita sederhana, tentang keseharianku dan keseharianmu. Namun rasanya, dirimu bak seorang karib yang telah jutaan tahun bersama. Selalu ada tawa dan canda kau bagi, membuat hidupku yang gersang sedikit berwarna. Di sanalah letak keindahan persahabatan kita, dalam kesederhaan kebersamaan kita.

Suatu hari aku tersadar bahwa waktu telah berlalu terlalu lama dan kau tak juga kembali... Seakan dibangunkan dari mimpi indah dan harus melihat kenyataan yang menyakitkan. Di mana dirimu kini? Sedang apa? Bagaimana kabarmu? Baik-baik sajakah? Aku ingin tahu. Aku ingin melihatmu lagi. Aku ingin mendengar suaramu berbagi cerita lagi. Dan juga begitu banyak cerita hidupku yang ingin kusampaikan padamu.

Seandainya kau tahu, aku telah banyak berubah. Diriku dan hidupku ini. Aku kini lebih banyak tersenyum dan tertawa. Hidupku kini dikelilingi banyak orang-orang yang menyayangiku. Sahabat-sahabat yang menemani langkahku yang terkadang masih goyah. Seperti yang dulu sering kau lakukan untukku. Mungkin kau sendiri tak menyadarinya. Namun meskipun kini banyak yang menggantikan tempatmu, namun sosokmu sendiri tak pernah sirna dari kenangan masa silam. Selalu ada di sana. Selalu hidup, tak pernah lekang dimakan waktu atau jarak.

Sepanjang perjalanan hidup yang berliku ini, kerap kali di saat aku sendiri, aku teringat akan dirimu. Kerap kali ada kesedihan menyusup, bertanya pada diri mengapa bisa kehilangan jejakmu. Dan selalu ada seuntai doa, menitip pesan kepada yang Di Atas sana, meminta-Nya untuk mempertemukan kita kembali. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu kini. Dan bila akhirnya aku tahu kau baik-baik saja, semua beban kekhawatiranku akan lepas dari diri ini.

Hari ini menemukanmu kembali. Tak bisa kutahan senyumku, bahagiaku... Melihat dirimu dan kehidupanmu kini dari mataku yang buram karena menahan airmata yang muncul karena hatiku yang dipenuhi rasa syukur. Terima kasih Tuhan... Setelah begitu lama penantianku yang serasa tak berujung ini. Kau kini begitu berbeda. Tapi aku tetap menemukan mata yang sama itu. Mata yang dulu sering bersinar jenaka. Kau kelihatan baik-baik saja. Bukan, harusnya kau lebih dari sekedar baik-baik saja. Kau sepertinya telah punya kehidupan bahagia di sana. Teman, aku ikut bahagia untukmu.

Teman, hidup ini tak pernah menjadi terlalu panjang. Membuatku mensyukuri setiap langkah yang kuayun. Juga orang-orang yang pernah datang menemaniku. Dirimu, jejak langkahmu, tak pernah aku lupakan. Selalu membekas, terkadang menjadi sebuah semangat ketika aku tengah jatuh. Terkadang menjadi sebuah penghiburan ketika aku tengah berduka. Tak ada kata yang bisa kuucapkan untuk melukiskan rasa hatiku ini. Sebelum waktu berlalu lagi dan mungkin membawamu pergi lagi, aku ingin mengucapkan terima kasihku padamu. Terima kasih, Teman... Terima kasih telah menjadi sahabatku dulu kala... Terima kasih telah membagikan senyum, tawa dan waktumu untukku...

Teman,
Kau bagai lantunan nada penghibur lara
Kau bagai sebuah tonggak yang kuat tempat kubersandar dan bangkit kembali
Kau bagai sepasang sepatu yang menemani langkah hidupku
Kau bagai matahari yang membagikan cahaya dalam kegelapan
Dan kadang kala di gelapnya malam, kau menjadi bintang kecil, yang begitu jauh di sana, kadang terlupakan olehku, namun kau selalu berkelip, mengirimkan pesan harapan bagiku...
Terima kasih...

Photo Link: http://www.crystalfloridaonline.com/images/spe429-C.jpg

B'day Gift From My Buddy

Conversation With God (Book I Page 59-60)

Apakah rasa takut adalah yg kamu butuhkan utk menjadi, melakukan dan memiliki apa yg pd hakikatnya benar? Haruskah kamu diancam utk "menjadi baik?" Siapa yg berkuasa ttg itu? Siapa yg menentukan pedomannya? Siapa yg membuat aturannya?
Kukatakan hal ini kpdmu: Kamu adalah pembuat aturanmu sendiri. Kamu menentukan pedomannya. Dan kamu memutuskan seberapa baik telah kamu lakukan; seberapa baik sedang kamu lakukan. Karena kamu lah yg memutuskan Siapa & Apa Dirimu Sebenarnya-dan Diri Yg Kamu Cita-citakan. Dan kamu lah satu-satunya yg dapat menilai seberapa baik sedang kamu lakukan.
Tak ada org lain yg akan menghakimimu selamanya, karena mengapa, dan bagaimana Tuhan dapat menghakimi ciptaanNya sendiri dan menyebutnya buruk? Seandainya Aku ingin kamu menjadi dan melakukan segala sesuatu dengan sempurna, Aku pasti telah meninggalkanmu dalam keadaan benar-benar sempurna dari mana kamu datang. Seluruh maksud proses ini adalah agar kamu menemukan dirimu sendiri, menciptakan Dirimu, sebagaimana kamu sebenarnya - dan sebagaimana kamu inginkan sebenarnya. Namun, kamu tak dapat menjadi itu kalau kamu juga tidak memiliki pilihan untuk menjadi sesuatu yg lain.
Karena itu, apakah Aku seharusnya menghukummu karena membuat pilihan yang Aku sendiri telah letakkan di depanmu? Seandainya Aku tak menginginkanmu membuat pilihan kedua, mengapa Aku menciptakan pilihan yg lain daripada yg pertama?
Ini adalah pertanyaan yg harus kamu tanyakan kepada dirimu sendiri sebelum kamu memberi Aku peran sebagai Tuhan yg menghukum.
Jawaban langsung dr pertanyaanmu adalah ya, kamu boleh bertindak semaumu tanpa takut akan pembalasan. Namun, adalah berguna bagimu untuk menyadari konsekuensinya.
Konsekuensi adalah hasil. Akibat alamiah. Ini benar-benar tidak sama dengan pembalasan, atau hukuman. Akibat, sederhana saja. Akibat adalah apa yg berasal dari penerapan alamiah dari hukum alam. Akibat adalah apa yg terjadi, dengan dapat sungguh diprediksi, sebagai konsekuensi dari apa yg telah terjadi.
Semua kehidupan fisik berfungsi menurut hukum alam. Sekali kamu mengingat hukum ini, dan menerapkannya, kamu telah menguasai kehidupan pd tingkat fisik.
Apa yg tampak seperti hukuman bagimu - atau apa yg kamu sebut kejahatan, atau nasib buruk - tak lebih daripada hukum alam yg menyatakan dirinya