Minggu, 09 Mei 2010

Bila Kubisa Hidup Sekali Lagi...


Mungkin kau tak akan pernah tahu rasa yang ada di hati ini. Atau mungkin kau sebenarnya pun tahu, hanya saja kau tahu akan batas yang tak seharusnya kau lewati. Aku tak tahu... Aku tak pernah yakin... Saat kau datang dan berbagi padaku tentang duniamu, sering aku bertanya-tanya sendiri dalam hati. Mengapa kau ceritakan begitu banyak padaku? Aku yang bukan siapa-siapa untukmu ini. Aku merasa kau meletakkan begitu banyak kepercayaan di diriku. Kepercayaan yang kini membuat hatiku lebih sering gundah.

Hidupku ini bak sebuah cerita sederhana yang tertulis dengan rapi dan indah. Itu sebelum kau datang dan menjadi bagian dalam cerita hidupku. Kini cerita itu tak lagi rapi tertulis. Semuanya menjadi tak beraturan. Bahagiaku tidak lagi menjadi sederhana, seperti kala aku membuka mata pada pagi hari menyambut mentari. Kini bahagiaku menyeruak hanya ketika kau datang. Seakan-akan kau telah menyingkirkan pesona sang mentari dan menjadi mentari itu sendiri bagi diriku.

Kau membuatku tersenyum dan tertawa, di saat awan muram merangkul hari-hariku. Bahkan kau kerap menjadi seperti malaikat penjaga jiwaku. Melakukan begitu banyak hal yang membuatku merasa begitu penting sebagai seseorang. Begitu beruntung. Begitu berharga. Meski sampai detik ini aku tak menemukan satu alasanpun yang sungguh-sungguh bisa menghapus raguku, untuk semua kebaikan yang telah kau lakukan.

Kau sering terdiam dengan sabar mendengarkan semua keluh kesahku, yang terkadang mengalir begitu lancar tanpa kusadari. Dan saat aku tersadar, aku tertegun. Cerita hidupku ini harusnya bukan cerita yang menarik untuk dirimu yang memiliki hidup yang penuh warna. Tapi kau bukan hanya mendengarkan saja. Kau sungguh-sungguh mendengarkan dan menyimak. Dari semua kesulitan dan ketidakbahagiaanku, kau mencoba melakukan banyak hal untuk mengubah hari-hariku. Tanpa menjelaskan padaku mengapa dirimu begitu peduli. Tanpa kumengerti mengapa kau bersikap seperti ini. Dan aku tak pernah punya keberanian untuk bertanya padamu. Aku takut, takut jawaban darimu akan menghancurkan seluruh cerita yang tak pernah kuinginkan berakhir ini.

Aku tak pandai bersandiwara. Aku bukan seorang aktor. Tapi aku kini pun bukan seorang bocah kecil yang bebas berlari dan mengekspresikan diri. Aku kini hidup dalam duniaku yang penuh dengan ikatan aturan dan tanggungjawab. Yang tak pernah bisa aku persetankan begitu saja hanya demi sebuah rasa dan hasrat diri. Karena inilah diriku, yang lahir dan terbentuk dari begitu banyak tangan-tangan kebaikan yang selamanya ini selalu mejagaku dengan baik. Yang tak bisa kulupakan atau kutinggalkan begitu saja tanpa rasa sesal yang tertinggal.

Hidup tak pernah menjadi mudah, bukan? Ketika kau berpikir bahwa bahagiamu telah utuh kau genggam erat dan tiba-tiba bahagia lain datang menggoda. Dengan wajah yang lebih bersinar indah, mengajakmu untuk pergi bersamanya. Bila kukatakan itu adalah bisikan hati, dari lubuk hati yang terdalam, lalu apakah semua ini akan bisa menjadi pembenaran diri? Ataukah selamanya, tak akan menjadi jelas antara kebenaran dan yang bukan kebenaran itu sendiri?

Aku kini bak seekor burung camar yang telah terkurung di pulau sunyi ini, pulau yang telah menjadi darah dan dagingku. Ketika dirimu datang, menyapaku, bermain denganku, baru kusadari ada indah dunia lain di luar sana. Dunia yang tak mungkin kujamah lagi. Namun, bila kapal yang akan membawa dirimu pergi telah siap berlayar suatu hari nanti, aku hanya bisa bersedih dalam diam, menatapmu pergi dari pulau ini. Tanpa bisa mengepakkan sayapku lagi, meski hasrat ingin terbang bebas mengikuti ke mana kau pergi.

Bila saja kubisa hidup sekali lagi, tak perlu kupertanyakan semua ini. Akan kupaparkan kejujuran hati dan pikiranku padamu. Sepolos lontaran kata seorang bocah kecil. Dan bila saja kubisa hidup sekali lagi, akan kuabdikan hidupku padamu, untuk membalas semua yang telah kau lakukan tanpa banyak kata padaku. Karena jujur, semua ini sungguh berarti dan menyentuh jiwaku. Namun hanya bila kubisa hidup sekali lagi, karena kini hidupku telah kuabdikan pada yang lain...

Sabtu, 17 April 2010

Di Balik Kisah Mencari Wajah Ibu (LMCR 2009)


Awalnya dapat email dari milis Yuk Nulis, kelompok menulis-nya Lini (julukan kehormatannya: Ibu Kos). Email-nya dari Mbak Henny yang berisi info lomba LMCR dari Raya Kultura bekerjasama dengan PT. ROHTO. Sehabis baca email itu jadi kepikiran, mau coba-coba ikut gak? Dulu, jaman masih es-em-a memang suka ikut-ikut lomba nulis antar sekolah. Tapi itu juga bukan lomba nulis cerpen. Tapi kalo nulis cerpen dulu juga sering ngirim-ngirim ke majalah remaja. Cuman ya itu dia, DULUUU....

Terus terang sejak putus kuliah n mulai kerja, uda gak pernah nulis lagi. Jadi gak pede sendiri. Hampir sepuluh taon kali berhenti nulis. Baru mulai nulis lagi taon 2009, diajak Ibu Kos Yuk Nulis. Awal-awalnya takut juga, tapi setelah beberapa kali nulis n dikasi jempol ama temen-temen Yuk Nulis, akhirnya jadi sedikit pede kembali. Makasih ya teman-teman tercintaaa :D Efek jempolnya besar banget. Itu juga salah satu metode pelatihan Ibu Kos yang selalu siap memberi support pada kita-kita yang pemula ini.

Email-nya Mbak Henny itu akhirnya di-print keluar. Syarat-syarat lombanya ditempelin ke 'vision board'. Sekedar info, di samping meja kerja, ada vision board, buat nempelin apa aja yang pengen diraih, baik dalam kerjaan maupun dalam hidup. Setelah tempel, udah deh... Maksud hati supaya inget, malah lupa ama lomba itu n sibuk dengan kerjaan...hahaha. Masih gak mulai-mulai juga nulisnya. Biasa, udah jadi penyakit menahun. Selalu menunda apa saja yang bisa ditunda...

Trus suatu malam, mungkin karena soal lomba itu nyangkut terus dipikiran, jadinya gak bisa tidur. Mikir-mikir, kalo mau bikin cerpen, bagusnya cerita apa ya? Bagusnya cerita kehidupan kali. Tentang apa? Mikir lagi... Hmmm... Kalo tentang anak jalanan, pengemis gimana? Terbayang deh wajah seorang anak kecil, kumal dengan baju compang-camping. Trus matanya bersinar polos... Duh, jadi kasian... Trus, mau dibikin cerita apa soal anak ini? Eh, kasi nama dulu deh... Namanya Tono aja kali ya? Nama sederhana tapi enak didengar. Ntar... Liatin si Tono dulu jalan di jalanan, ngemis sana-sini. Tono, si bocah yatim piatu, yang jadi pengemis karena takdir hidup. Tapi inti ceritanya apa? Oh, mungkin si Tono nyari ibunya. Ibunya yang gak dia kenal sama sekali. Dia pengen tahu gimana wajah si Ibu yang sangat dirindukannya itu. Karena itu dia selalu memperhatikan wajah-wajah wanita yang lewat di pinggiran lampu merah tempatnya mengemis... Hmmm... Tapi gimana dia bisa ketemu ibunya? Wah, bisa jadi cerita bersambung nih,kalo mau pake acara ketemu segala. Ini, kan cuman mau bikin cerita pendek.

Setelah hampir dua jam ngebayangin Tono n kesehariannya (kayak nonton film, tapi layarnya itu cuman pikiran sendiri), tiba-tiba keluar ide. Gimana kalo si Tono nyari ibunya dengan majang wajah dia dipinggir jalan? Tiba-tiba sebuah lokasi muncul di pikiran. Itu, kalo gak salah dekat Pasar Baru ada sebuah tempat di mana pelukis-pelukis jalanan mangkal. Kios-kios mereka kan berderet sepanjang jalan. Nah, kalo wajah si Tono digantung di sana, mungkin wanita yang menjadi ibunya bisa menyadari kesamaan wajah mereka n mikir kalo gambar itu gambar anaknya yang dia buang. Mungkin gak sih??

Wah, malah jadi gak bisa tidur setelah banyak berimajinasi. Bangun ah! Bangun, keluar kamar, nyalain laptop. Mending mulai nulis aja, mumpung lagi semangat. Sambil nulis, nyalain DVD yang tadi baru beli kali. Belum nonton. Harusnya DVD-nya bagus. The Music of David Foster and Friends. Belinya bela-belain karena mau liat Charice Pempengco, si gadis muda dari Philipina yang kereeen banget nyanyinya. Ternyata emang keren! Nonton para penyanyi-penyanyi kaliber dunia, kayak Andrea Bocelli, Michael Buble, Josh Gorban, Katharine McPhee, dkk. Apalagi waktu melihat Charice nyanyi, wah! Jadi mau nangis. Terharu liat gadis enam belas tahun yang mungil itu bisa nyanyi di concert-nya David Foster. Pernah nonton di Oprah perjalanan karir si Charice yang asalnya cuman dari keluarga biasa. Dari Philipina ke Amerika. Benar-benar membuktikan bahwa 'Miracle' itu ada. Selama kita punya impian dan mau percaya serta berusaha, jalan pasti ada. Jadi semangat! Ayo, nulis lagi! Semangat! Kan cita-citanya mau jadi penulis dunia, jangan mau kalah ama Charice....hehehe.

Nulis sampe jam tiga lebih, DVD-nya pun udah habis. Tapi belom kelar, nih. Mata udah mulai ngantuk. Ya, udahlah, di-save aja dulu. Besok dilanjutin. Tidur dulu. Besok pagi-pagi mesti kerja lagi. Tapi besoknya dan besoknya serta besoknya lagi, saking sibuknya, malah gak inget buat lanjutin nulis. Ntar aja, masih banyak waktu. Dan tanpa sadar, ternyata waktu cepat banget berjalan. Pas nyadar, ya ampun, lusa udah mau ke Malaysia selama dua minggu. Nah, loh! Sementara dead-line lombanya tinggal seminggu. Waduh! Berarti paling lambat besok udah mesti kelar. Kalo gak, gak bisa ikut lomba lagi. Soalnya di rumah mertua di Malaysia gak ada printer, juga kalo ngirim dari sana ke Indonesia, kapan nyampenya? Waaaaaaaa.... Panik!

Di hari terakhir sebelum ke Malaysia, sekitar jam dua belas siang setelah kerjaan dipaksain beres, cepat-cepat buka tulisan kemarin. Harus selesai nih! Bukan apa-apa, kalo gak ngirim pasti ada rasa bersalah ama diri sendiri. Persoalan menang atau gak, itu gak penting. Yang penting, kan uda janji ama diri sendiri mau ikut lomba ini. Harus ikut! Soalnya dulu-dulu uda sering kayak gini, rencana mau ikut lomba selalu gak jadi gara-gara tulisan gak selesai. Kenapa gak selesai? Ya itu, penyakit lama, tunda terus... Akibatnya, nyesal sendiri, ngerasa seperti udah mengecewakan diri sendiri.

Jadi, cepat-cepat nulis. Untung lagi lancar. Abis itu ngedit. Lagi ngedit-ngedit, tiba-tiba suami muncul, udah siap mau ketemu orang makan siang. Oh, no! Nanyain ke dia, bisa gak kalo gak ikut? Wah, tampangnya langsung berubah masam. Gimana, dong? Tunggu deh, bentar lagi. Dia malah nanya, bikin apa? Ngedit tulisan, mau ikut lomba. Gak bisa nanti aja? Yah, gak bisa lah! Kan besok mau pergi Malaysia. Harus hari ini. Mukanya masih masam, soalnya si suami ini emang gak ngerti soal nulis menulis ini. Kalo menurut dia gak penting banget... Hiks...

Akhirnya kerja dengan buru-buru dijagain suami yang sebentar-sebentar liat jam. Pas selesai n mau di-print, ya amplop! Tinta printer-nya abis. Gimana dong? Ada-ada aja. Apa nyerah aja? Tapi mikir lagi, kalo nyerah bakal nyesal seumur hidup loh. Ayo dong, berjuang. Ah, ke toko aja, beli tinta. Akhirnya minta suami nganter ke toko. Meski mukanya masih masam, dianterin juga. Makasih ya.... (_ _)"

Gila bener! Harga tintanya mahal amat! Ya, sutralah. Apa boleh buat. Investasi! Hehehehe... Pulang ke kantor, cepat-cepat nge-print. Gak tau deh kalo ada banyak yang salah. Habis ngedit-nya buru-buru. Abis itu ngecek kelengkapan syarat kayak foto, cd, bla bla bla... Udah lengkap semua, masukin amplop. Panggil anak buah, kirim ke Tiki yang ekspress! Hfffffffffff.... Legaaaaaa! Akhirnya bisa bernapas lagi.

Singkat cerita, pulang dari Malaysia, masih ngantor beberapa hari. Abis itu ada jadwal meditasi sepuluh hari. Jadi inget lomba cerpen itu kan pengumumannya pas lagi pergi meditasi. Wah, jadi gak bisa tahu hasil pengumumannya. Soalnya pas meditasi kan kita mesti mutusin semua kontak dengan dunia luar. Menyepi di Bogor sana. Gak boleh nelpon, gak boleh ada komunikasi apapun, pokoknya meditasi aja deh. Ya, udahlah, pulang dari sana baru ngecek. Lagian GR amat, belum tentu juga menang! Iya, sih.... ><

Sepuluh hari di tempat meditasi ternyata berat banget! Jadi kangen ama rumah n orang-orang semua. Jadi mellow. Tapi kudu sabar, gak boleh kabur. Kan kemaren katanya mau tau gimana rasanya meditasi. Ya udahlah, nyabar-nyabarin diri aja. Pas malam kesepuluh, kita dibebasin bicara dan boleh nelpon. Asiiiiiiiiik! Cepat-cepat nelpon suami, nanya kabar dia n nanya gimana kerjaan yang ditinggalin. Soalnya khawatir juga, selama ini kan gak pernah pergi selama itu tanpa kontak sama sekali. Tiba-tiba si suami nanya, apa ada ikut lomba menulis? Katanya ada yang nelpon dua kali, nyari n bilang kalo menang. Hah??? Beneran? Eh, suami malah bilang, gak tau ah, gak jelas itu ngomongnya (padahal dia yang gak ngerti). Nanti dia nelpon balik lagi katanya. Waaaaaa... Gimana sih suami ini? Suami bilang lagi, tapi katanya juara satu. Beneran ada ikut lomba? Yaaaaaaah... Masa sih gak inget? Ada kan, tapi cuma lomba satu itu aja. Tapi, masa sih juara satu? Padahal itu kan ngikutnya maksa banget.

Pulang dari meditasi, cepet-cepet buka internet. Wah, jadi hampir lupa betapa menyenangkannya bisa online. Nyari di website Raya Kultura. Nyari nama pemenang, dan ternyata.... horeeeeeeeeeeeeeee! Bener-bener menang! Wuih, senengnya! Uda lamaaaaaa banget gak pernah ngerasain rasa seperti ini....hahahaha... Si suami muncul dan comment, kok bisa ya menang? Mungkin yang ikutan cuma beberapa orang aja! Wah, maksudnya??? Grrrr.... Ngecek lagi ke web-nya, ternyata yang masuk enam ribu naskah lebih! Pas dikasitahu, suami malah bengong ngeliatin (tampang gak percaya) dan akhirnya nanya, emang nulis cerita apa? (Bayangin aja, baru nanya sekarang dia....). Akhirnya ceritain ke dia kisah si Tono. Tau comment-nya setelah diceritain? Dia nanya, begitu aja ceritanya??? (Langsung speechless...hiks). Nasib... Nasib...

Yah, itulah cerita dibalik proses pembuatan cerita Mencari Wajah Ibu (judul aslinya Wajah Ibu, tapi di-edit ama Ibu Naning Pranoto). Ceritanya panjang ya? Hehehe... Intinya, sebenarnya masih gak percaya bisa menang. Soalnya masih suka gak pede ama tulisan sendiri. Tapi bangga juga sih bisa terpilih...hehehe... Tapi yang terutama, ngerasa bersyukur banget akhirnya bisa ngikut lomba, meski dengan terburu-buru. Juga merasa bersyukur banget dapat email info lomba dari Mbak Henny. Dan yang pasti, bersyukur banget bisa join di Yuk Nulis, yang menjadi tempat nyaman buat menulis lagi. Padahal dulu impian untuk jadi penulis uda terbang jauh banget, kirain uda gak bisa balik lagi.

So, buat semua teman-teman di Yuk Nulis yang lagi belajar menulis, ayo lebih giat lagi latihan nulisnya! Lagian kan LMCR 2010 udah buka tuh! Ayo pada ikutan! Syukur-syukur ada yang menang dari Yuk Nulis, wah pasti bangga itu Ibu Kos kita (Bu Kos, smileeeeeeeee....hehehe). Tapi kalo gak menang juga gak pa-pa. Yang penting kita semua punya semangat juang n mau berusaha. Semangat juang itu yang penting!

Trus, buat teman-teman yang punya impian laen, ayo kejar impiannya! Jangan takut! Jangan menyerah! Selama napas masih ada, berarti masih ada kesempatan buat mengejar impian kita. Hidup itu hadiah dari Tuhan, kita harus pergunakan sebaik-baiknya. Yes? YEEEESSS! (Jadi ikut-ikutan gaya Ibu Kos) ;-p

Cerita Mencari Wajah Ibu ada di sini:http://lmcr.rayakultura.net/2009/11/mencari-wajah-ibu/

Sabtu, 10 April 2010

Rasa Yang Terpenjara...


Bila nurani membisu dan rasa meraja, aku akan bisa menemukanmu di sini. Di sisi menjadi milik diri, bukan angan semata. Akankah ada akhir dari perjuangan batin ini, dengan diri sendiri sebagai lawan? Babak belur diri ini. Berdarah-darah. Pukulanku menjadi sakit dan lukaku sendiri. Hanya demi sebuah rasa. Hanya demi seseorang. Dirimu...

Tak pernah menjadi yakin apakah rasa ini begitu pantas aku perjuangkan. Hanya ketika kau ada di sini, tersentuh oleh jiwa dan raga, akalku menjadi lemah. Tak lagi mampu meneriakkan banyak tanya. Inikah kekuatan cinta? Cintakah ini?

Terkadang seperti seorang diri di dunia ini. Tak berteman. Bahkan dengan diri sendiri. Adakah yang bisa mengerti? Adakah yang akan mengerti? Adakah yang mau mencoba untuk mengerti? Sementara diri pun terkadang masih keras menyangkal. Seakan tak pernah rela melepaskan sedikit iba untuk rasaku.

Berharap kau punya jawab yang pasti. Yang bisa kupegang erat untuk jadi pelita jalan ini. Tak peduli pelita itu tak pernah menjadi seterang adanya pelita. Sungguh, aku tak peduli. Meski sinarnya redup, namun harapku ia tak akan pernah padam. Cukup untukku. Cukup untuk menerangi jalan sempit tak mudah ini. Jalan kecil milikku bersamamu. Karena hanya di jalan ini aku bisa menemukanmu. Dirimu menjadi milikku.

Salahkah aku? Salahkan aku. Tak akan kubela diri. Akan kududuki kursi dakwaan itu dengan kepasrahan. Bila memang ini yang harus kulakukan sebagai penebusan rasa. Rasaku ini yang terpenjara di hati. Yang mungkin selamanya tak akan pernah mendapatkan sayapnya untuk bisa terbang bebas.

Photo Link: http://images.google.co.id/imglanding?q=heart in jail photo&imgurl

Senin, 05 April 2010

Tentang Djuna

Namanya Djunaedi. Aku sempat bingung harus memanggilnya apa. Waktu aku bertanya, dia menyuruhku memanggilnya dengan nama Edi. Edi? Hmmm... Kayaknya tidak sesuai dengan tampang. Teman-temannya malah memanggilnya dengan panggilan Suneo (temannya Nobita dalam cerita Doraemon). Alasannya? Mungkin karena wajahnya yang mirip Suneo. Mirip? Sedikit, cuma ini Suneo versi Jawa, bukan Jepang.

Pertama kali bertemu dia, jujur aku tidak terkesan sama sekali. Malah aku sempat berpikir, benar mau diterima bekerja orang ini? Masalahnya, tampangnya itu tidak meyakinkan. Rambutnya kriwil, lebih ke arah acak-acakan. Matanya besar, tapi tidak berani menatap ke arah orang yang mengajaknya bicara. Suaranya? Serak dan tidak jelas. Saat wawancara saja, aku merasa agak kesal dengan sahutannya yang terdengar buru-buru, sebelum mendengar habis apa yang aku katakan. Satu lagi, tampangnya lesu, seperti orang yang tidak cukup gizi dan semangat hidup. Maaf...

By the way, akhirnya Djuna diterima juga bekerja (akhirnya aku memanggilnya Djuna, karena memang rasanya lebih cocok!). Hari pertama dia naik ke lantai dua, mau ke toilet. Ia membungkuk dengan tangan di depan, sikap minta permisi. Dia melihatku lalu menunduk, mengeluarkan suara tak jelas. Aku menatapnya bingung. Begitupun dengan yang lain. Dia mengeluarkan suara tak jelas lagi dengan kikuk (ini pengaruh gugup), membuatku bertanya: apa??? Akhirnya dia menunjuk ke belakang, yang membuat kami semua bergumam: ooooh... Dan meledaklah tawa kami setelah itu. Benar-benar manusia aneh bagiku. Membuat aku semakin ragu dengan keputusan menerima dirinya, karena aku tipe orang yang suka pada orang yang percaya diri.

Aku tidak terlalu memperhatikan cara dia bekerja, soalnya dia bekerja di lantai satu, sementara aku sibuk di lantai dua. Cuma sesekali ketika aku turun, aku selalu menemukan dia sedang mengerjakan ini dan itu dengan serius. Tapi pikirku, biasalah anak baru masih fresh jadi selalu rajin...

Sampai satu hari aku mesti turun langsung ke bawah, mengawasi pekerjaan di lantai satu. Aku melihat Djuna bekerja dengan cepat, lebih cepat dari teman-temannya yang lain. Dan ketika aku mencari sesuatu dan bertanya tanpa menujukan pertanyaanku pada satu orang, si Djuna yang langsung berdiri dan mencari sesuatu itu dan memberikannya padaku. Hmmm... Not bad! Sangat bertolak belakang dengan kesan lesu dari wajah dan tubuhnya yang kurus. Dan seharian itu aku mengamati keseriusannya bekerja. Dia malah mengingatkan teman-teman lainnya untuk bekerja lebih cepat. Bahkan ketika ada yang bermalas-malasan, si Djuna langsung mengambil sekarton barang baru dan meletakkan karton itu di depan si pemalas. Dan ternyata tampang Suneo-nya (galak) bisa keluar juga. Aku sempat mendengar dia mengomeli temannya yang melakukan kesalahan. Padahal saat berhadapan denganku, si Djuna selalu tampak gugup dan pasrah pada nasib, alias tidak punya ketegasan sama sekali.

Suatu hari saat pulang kerja, aku berada di luar, melihat Djuna menyalakan motornya. Suara motornya ampuuuun! Bisa membuat orang-orang se-erte bangun. Ada yang salah di motornya, mengeluarkan suara seperti sapi sedang disembelih. Si Djuna terlihat gelagapan dengan wajah merah padam. Lama dia hanya duduk berjongkok di samping motornya dan memegang motor itu, tampak prihatin seperti tengah menjagai orang sakit. Aku akhirnya bertanya dan mendengarkan cerita motor yang mengalami kecelakaan dan kemudian baru keluar dari bengkel itu dengan keadaan yang tak baik juga. Akhirnya karena iba, aku memberi si Djuna kasbon untuk membawa motornya ke bengkel esok hari. Wajahnya langsung cerah bak langit biru.

Kemarin saat menerima gaji pertamanya, dia tersenyum lebar. Tetap terlihat jelek...hahaha... Maaf... Aku pesan padanya, kerja yang rajin. Dan dia mengiyakan dengan cepat (khas Djuna, yang tidak bisa basa-basi). Tapi kesan pertamaku kini berubah terhadap Djuna. Yang aku lihat kini adalah seseorang yang rajin, jujur dan punya semangat kerja yang tinggi. Walaupun tampangnya masih lesu, juga tubuh kurusnya masih selalu terlihat melengkung, namun bila aku butuh sesuatu, aku yakin dia akan tergopoh-gopoh datang untuk segera membantuku. Membuatku jadi bersyukur akan satu lagi orang baik yang dikirimkan Tuhan untuk membantuku. Terima kasih Tuhan. Dan terima kasih Djuna... ^0^

Palsu

Kau tak seindah kau yang terlihat. Kau juga tak sebaik kau yang terucap. Wajahmu, senyummu itu... Semua palsu. Kau tutupi bopeng dan parut di sana dengan sebuah topeng malaikat polos tak berdosa. Dan seringai kejammu, kau gantikan dengan senyum manis bersahabat.

Kau selalu ingin terlihat sempurna. Baik raga maupun jiwamu. Selalu memberi. Selalu berbagi. Selalu memiliki hati yang besar. Namun dibalik semua yang terlihat itu, hatimu lebih kecil dari pasir di pantai. Dan pemberianmu hanya wujud pemenuhan kesombongan diri. Dan sikap berbagimu selalu disertai sebuah alasan tersembunyi. Alasan yang selalu ada hanya untuk kepentingan diri dan egomu sendiri.

Kau terlalu palsu. Selalu palsu. Tak punya ketulusan dan kejujuran. Namun dalam katamu selalu kau ucapkan kata kejujuran. Dan dalam tindakan serta sikapmu kau pamerkan ketulusan. Agar orang-orang memuja dan memujimu. Agar orang-orang terpesona akan dirimu. Dan memang banyak yang akhirnya cinta padamu.

Tapi aku tidak. Dulu iya. Dulu aku begitu lugu mengira itulah dirimu yang sejatinya. Sebelum akhirnya kutemukan topeng wajah malaikatmu terlepas dari buruk wajahmu. Sebelum akhirnya aku terjerat dalam keserakahan hatimu. Sebelum akhirnya aku terpuruk jatuh dalam kecewa akan kepalsuan dirimu.

Tidakkah kau lelah berpura-pura? Tidakkah kau ingin lepaskan topengmu? Biarkan dunia melihat wajahmu yang sesungguhnya. Meski tak seindah yang kau inginkan namun tetap saja parut di wajahmu itu lebih indah karena mengandung kejujuran.

Kau tersenyum padaku dan bilang bahwa dirimu padaku selalu akan menjadi sahabat selamanya. Aku tak setuju. Maaf. Aku tak suka kepalsuan. Dan dirimu hanya pernah menjadi sahabat dalam lembar cerita hidupku yang telah kututup dengan paksa. Ya, telalu banyak kecewa dan sakit di sini, di hatiku. Yang kau hadiahkan tanpa ada rasa kasihan sedikitpun. Dan bagiku itu bukan perbuatan seorang sahabat.

Kau masih begitu palsu di hadapanku. Berbicara mengenai ketulusan dirimu. Mengira aku akan sekali lagi terperdaya. Mengira aku akan sekali lagi terbuai. Tidak. Aku tak sebodoh itu. Cukup sudah sekali salah langkahku. Cukup sudah asaku untukmu. Cukup sekali saja kau porak porandakan hati dan hidupku.

Aku tak punya maaf untukmu. Percuma kau katakan maaf berkali-kali. Karena tak kutemukan ketulusan dalam katamu itu. Hanya kosong tak bermakna. Hanya sebuah kata yang tak punya martabat lagi ketika kau ucapkan. Sumbang. Hampa. Kelam.

Pergilah. Jangan dekati aku lagi. Obralan kata dan senyum palsumu tak lagi akan kubeli. Juga tak akan kuterima meski kau berikan gratis. Kecuali bila telah datang kesadaran dirimu yang murni dengan semua parut dan borokmu. Kecuali bila kerendahan hatimu telah berhasil mengalahkan kesombongan dan ego kesempurnaan dirimu. Bila saja kau yang sebenarnya menawarkan kata persahabatan itu, mungkin, mungkin akan kubuka hatiku sekali lagi untukmu...

B'day Gift From My Buddy

Conversation With God (Book I Page 59-60)

Apakah rasa takut adalah yg kamu butuhkan utk menjadi, melakukan dan memiliki apa yg pd hakikatnya benar? Haruskah kamu diancam utk "menjadi baik?" Siapa yg berkuasa ttg itu? Siapa yg menentukan pedomannya? Siapa yg membuat aturannya?
Kukatakan hal ini kpdmu: Kamu adalah pembuat aturanmu sendiri. Kamu menentukan pedomannya. Dan kamu memutuskan seberapa baik telah kamu lakukan; seberapa baik sedang kamu lakukan. Karena kamu lah yg memutuskan Siapa & Apa Dirimu Sebenarnya-dan Diri Yg Kamu Cita-citakan. Dan kamu lah satu-satunya yg dapat menilai seberapa baik sedang kamu lakukan.
Tak ada org lain yg akan menghakimimu selamanya, karena mengapa, dan bagaimana Tuhan dapat menghakimi ciptaanNya sendiri dan menyebutnya buruk? Seandainya Aku ingin kamu menjadi dan melakukan segala sesuatu dengan sempurna, Aku pasti telah meninggalkanmu dalam keadaan benar-benar sempurna dari mana kamu datang. Seluruh maksud proses ini adalah agar kamu menemukan dirimu sendiri, menciptakan Dirimu, sebagaimana kamu sebenarnya - dan sebagaimana kamu inginkan sebenarnya. Namun, kamu tak dapat menjadi itu kalau kamu juga tidak memiliki pilihan untuk menjadi sesuatu yg lain.
Karena itu, apakah Aku seharusnya menghukummu karena membuat pilihan yang Aku sendiri telah letakkan di depanmu? Seandainya Aku tak menginginkanmu membuat pilihan kedua, mengapa Aku menciptakan pilihan yg lain daripada yg pertama?
Ini adalah pertanyaan yg harus kamu tanyakan kepada dirimu sendiri sebelum kamu memberi Aku peran sebagai Tuhan yg menghukum.
Jawaban langsung dr pertanyaanmu adalah ya, kamu boleh bertindak semaumu tanpa takut akan pembalasan. Namun, adalah berguna bagimu untuk menyadari konsekuensinya.
Konsekuensi adalah hasil. Akibat alamiah. Ini benar-benar tidak sama dengan pembalasan, atau hukuman. Akibat, sederhana saja. Akibat adalah apa yg berasal dari penerapan alamiah dari hukum alam. Akibat adalah apa yg terjadi, dengan dapat sungguh diprediksi, sebagai konsekuensi dari apa yg telah terjadi.
Semua kehidupan fisik berfungsi menurut hukum alam. Sekali kamu mengingat hukum ini, dan menerapkannya, kamu telah menguasai kehidupan pd tingkat fisik.
Apa yg tampak seperti hukuman bagimu - atau apa yg kamu sebut kejahatan, atau nasib buruk - tak lebih daripada hukum alam yg menyatakan dirinya