Kamis, 03 Desember 2009

Semoga Kau Bahagia...


Beberapa bulan terakhir ini aku jarang bertemu dengan Anik, pegawaiku yang selama ini setia bekerja dengan rajin. Masalahnya beberapa bulan ini aku punya kesibukan di luar. Aku pergi beberapa minggu, pulang beberapa hari dan masuk kantor kemudian pergi lagi beberapa minggu. Begitu terus. Lagipula waktu yang sedikit di kantor itu, aku benar-benar sibuk, tak punya kesempatan berbicara lama-lama pada Anik. Dia pun mungkin merasakan kesibukanku sehingga tidak berani mengajakku berbicara tentang hal-hal yang tidak penting. Padahal dulu kami sering ngobrol layaknya seorang teman baik. Dan Anik adalah seseorang yang punya banyak cerita menarik.

Suatu hari aku memanggilnya untuk memberitahu kabar baik bahwa perusahaan akan menaikkan gajinya bulan ini. Dan saat itulah dia memberitahuku sebuah kabar yang benar-benar mengejutkanku. Anik bilang bulan depan mengundurkan diri karena akan menikah. Aku sempat protes, bukan apa-apa, kenapa kabar itu diberitahukan pada saat-saat terakhir? Lagipula setahuku beberapa bulan yang lalu Anik putus dengan pacarnya. Sekarang menikah? Dengan siapa?

Anik pun bilang bahwa dia melihatku begitu sibuk. Sebentar masuk kantor, sebentar menghilang dalam waktu lama. Sebenarnya dia ingin menyampaikan berita ini sudah lama, kira-kia dua bulan yang lalu. Hanya saja dia merasa tidak punya kesempatan untuk mengatakannya. Lagi pula dia tidak berani mengatakannya ketika melihat aku tenggelam dalam kesibukan kerjaku.

Ternyata setelah putus dari pacar lamanya, Anik yang umurnya sudah mendekati kepala tiga, mendapat pernyataan cinta dari sahabat dekatnya yang ternyata diam-diam sudah menyukainya sejak lama. Dan mungkin karena Anik itu seorang perempuan sederhana yang tidak banyak menimbang, atau mungkin juga karena desakan orangtuanya, Anik akhirnya memutuskan menerima lamaran sahabatnya itu. Sedikit tidak masuk akal buatku yang selalu berpikir dasar pernikahan harusnya cinta dari dua pihak. Tapi itulah keunikan Anik. Hidupnya simple, dijalaninya seperti air yang mengalir.

Kemarin dulu adalah hari terakhir Anik bekerja. Saat jam pulang akan melepasnya, rasanya begitu berat. Bukan apa-apa, aku sudah terbiasa melihat Anik setiap hari. Aku sudah telalu nyaman dengan kehadirannya. Aku juga sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Juga telah sangat percaya akan kejujuran dan sikapnya yang selalu bertanggungjawab atas pekerjaan yang dilakukannya. Dan yang terpenting, hal sederhana yang kelihatan tidak penting namun sebenarnya sangat aku sukai adalah senyuman Anik selalu membawa kehangatan dan keceriaan di kantorku.

Anik menyalamiku dan tanpa melepaskan tanganku dia mengucapkan beribu-ribu maaf bila telah banyak melakukan kesalahan, juga sekaligus mengucapkan terima kasih karena selama ini telah menerimanya bekerja. Dia bahkan sangat berterima kasih atas pesangon yang aku berikan yang sebenarnya jumlahnya tidak terlalu besar. Satu lagi sebuah sikap yang sangat aku kagumi dari Anik, dia selalu bisa mensyukuri apa saja yang diterimanya. Dan saat melepasnya di depan pintu sekali lagi Anik menyalamiku dan menempelkan pipi kiri dan kanan ke pipiku. Membuatku terharu. Ingin rasanya memeluknya. Matanya berkaca-kaca. Aku bilang padanya bahwa aku tidak mau bersedih karena aku tidak menganggap ini sebagai sebuah perpisahan. Aku bilang bahwa aku yakin dia akan kembali lagi setelah menikah nanti, tentu saja bila suaminya menyetujui. Padahal sebenarnya aku sangat sedih. Aku juga khawatir bahwa dia tak akan kembali lagi.

Tadi sore, Anik tiba-tiba muncul di depan pintu. Aku sempat terkejut. Ternyata dia ingin mengembalikan buku yang dipinjamnya dariku. Lalu yang lebih mengejutkan, dia membawa sebuah kado untukku. Aku tanya mengapa dia memberiku sebuah kado? Dia hanya tersenyum malu dan bilang dia ingin memberikan sesuatu untukku. Aku terharu menatap sebuah kado yang dibungkus cantik dengan kertas kado ungu dan pita ungu (langsung teringat pada Ibu Kost-ku yang suka warna ungu....). Tak peduli apapun isinya, niatnya itu telah membuatku tersentuh.

Tiba-tiba hidup ini terasa begitu singkat. Teringat olehku pertemuan pertamaku dengan Anik beberapa tahun yang lalu. Aku tidak terkesan atas senyumannya. Sepertinya baru kemarin terjadi. Dan kini tiba-tiba ia harus pergi meninggalkanku. Saat ada pertemuan, selalu ada perpisahan. Perpisahan sering membawa kesedihan, saat kita tak rela melepas orang yang kita sayangi. Tapi aku mengingatkan diri untuk ikut bahagia atas kebahagiaan Anik. Untuk merestui jalan yang telah dipilihnya. Dan tak lupa untuk memanjatkan sebuah doa untuk hidup barunya. Semoga Tuhan memberinya sebuah kehidupan baru yang bahagia dan seorang suami yang mampu melihat keindahan Anik seperti aku selalu melihatnya...

Photo Link: http://stamping.thefuntimesguide.com/images/blogs/handmade-farewell-card.jpg

Kamis, 26 November 2009

Mencari Wajah Ibu


Berjalan di bawah panas terik matahari sudah menjadi hal biasa bagi Tono. Setiap hari menghirup udara Jakarta yang selalu bercampur debu tebal dan asap knalpot adalah salah satu ciri kemiskinan hidupnya. Tono adalah seorang peminta-minta di sudut sebuah jalan di ibukota ini . Bersama dengan beberapa orang yang lain dari berbagai tingkat umur, mereka menghabiskan sepanjang hari di sana, di dekat lampu merah. Terkadang mereka berteduh di bawah pohon atau sekedar duduk di samping trotoar. Tapi tetap saja, lampu merah terlalu penting untuk ditinggalkan jauh-jauh, karena benda itu selalu memberikan tanda kapan mereka harus beraksi atau pergi. Merah artinya jalan dan hijau artinya mundur.

Belakangan ini bocah itu sering meneliti wajah-wajah yang lewat di hadapannya. Orang-orang yang berjalan kaki melewatinya atau pun yang duduk di dalam mobil-mobil yang ia ketuk kaca jendelanya. Tono sedang mencari ibunya. Wanita yang melahirkannya. Entah ada di mana dirinya sekarang. Tono berharap bisa mengenalinya di antara wajah-wajah wanita yang ditemuinya setiap hari. Mungkin suatu hari nanti ia akan benar-benar bisa menemukannya. Mungkin… Bila ia berusaha keras.

Menurut cerita orang-orang di tempat tinggalnya, Tono dibuang saat masih bayi, sembilan tahun yang lalu. Tak ada yang pernah melihat wajah ibunya. Tak ada yang tahu. Mbah Upik yang membesarkannya dan Mang Asep yang menanggung seluruh biaya hidupnya selama ini. Kalau bisa dikatakan seperti itu. Soalnya sejak masih bayi hingga sekarang Tono telah ikut Mbah Upik mengemis di mana-mana.

Sejak pikiran tentang Ibu mengganggunya, dia terus berusaha mencari informasi dari orang-orang sekitarnya tentang wanita itu. Namun tak banyak yang bisa dikoreknya. Pernah ia memberanikan diri bertanya pada Mang Asep. Lelaki itu menatapnya dengan alis yang tertaut sedemikian rupa, yang menambah kesangaran wajahnya.

“Ibumu sudah mati!” katanya dengan suara menggelegar seraya berlalu meninggalkan Tono.

Semalamam Tono menangis dan kata-kata Mang Asep terus terngiang-ngiang di kepalanya. Esok paginya Tono bangun dengan mata sembab dan wajah pucat. Tak ada yang menanyakan mengapa. Tak ada yang prihatin dengan awan kesedihan di wajahnya. Mang Asep malah tampak puas ketika melihatnya. Karena semakin menyedihkan rupa Tono, semakin besar kesempatannya memperoleh penghasilan yang tinggi hari itu.

Suatu hari Tono duduk di samping Mbah Upik dan menanyakan hal yang sama dengan yang pernah dia tanyakan pada Mang Asep. Mbah Upik mengelus-elus kepala Tono dan berkata:

“Nang…Nang Nasibmu memang malang. Terima saja.”Ia memanggil Tono dengan panggilan 'Nang'- panggilan kesayangan untuk anak laki-laki Jawa.

Bukan itu jawaban yang diinginkannya. Karena itu akhirnya Tono bertekad mencari ibunya sendiri. Dia tak percaya bahwa ibunya sudah mati seperti kata Mang Asep. Tono yakin dia masih hidup, hanya entah di mana. Sebenarnya sempat terpikir oleh Tono untuk melapor ke pos polisi di seberang sana. Seperti yang sering dia lihat di siaran televisi yang biasa ditontonnya di warung di ujung lorong. Katanya polisi bisa membantu menemukan anak yang hilang. Tapi ini ibu yang hilang. Apakah mereka akan menolongnya mencari? Lagipula, Tono tak tahu bagaimana ciri-ciri ibunya itu.

Tapi pencarian ibunya tak akan dihentikan Tono, meski tidak bisa mendapatkan bantuan polisi. Dia akan mencari sendiri. Toh, dia punya tangan, kaki, mata dan mulut. Dia yakin akan menemukan Ibunya suatu hari nanti. Dia hanya harus lebih teliti memperhatikan orang-orang yang lewat setiap hari. Suatu hari nanti ibunya pasti akan lewat. Tono percaya akan hal itu.

Lampu merah menyala.

Sedan putih itu berhenti pelan. Tono mendekat.

“Bu…”

Tono mengetuk kaca jendela dan memandang ke arah wanita muda di dalam. Wanita itu menoleh, melihat Tono sekejap dan kemudian melambaikan tangannya. Tanda untuk pergi. Tono mengetuk sekali lagi dan memasang wajah yang lebih memelas. Ini yang diajarkan Mang Asep, jangan cepat menyerah. Selalu minta sekali lagi, bila kau tidak dberi uang.

Mang Asep adalah pimpinan gerombolan mereka. Tono sendiri tidak tahu siapa sebenarnya laki-laki itu. Yang dia tahu hanyalah, setiap petang menjelang gelap, mereka semua pulang ke tempat yang mereka sebut rumah dan harus menyetorkan uang hasil mengemis sepanjang hari itu kepada Mang Asep. Rumahnya, sebenarnya hanya berupa kotak kayu yang berlubang dan penuh tambalan, yang berada di sebuah lorong sempit di belakangan kawasan pembuangan sampah. Dan setelah penyetoran selesai, Mang Asep akan memberikan makian atau pukulan untuk beberapa orang yang membuatnya tak puas dan kemudian diakhiri dengan ceramah singkat agar hasil yang mereka peroleh esok hari bisa lebih banyak.

Wanita bermata belo itu menoleh lagi, tampak sedikit jengkel. Namun kali ini tangannya bergerak ke bawah jendela. Dari lubang jendela yang terbuka sedikit, ia menjatuhkan sebuah uang logam. Tono menadahnya cepat dan mengucapkan terima kasih. Wanita itu tampaknya tak mendengarnya, karena secepat tangan Tono terulur, secepat itu pula kaca mobilnya tertutup kembali.

Sebelum menghampiri mobil belakang, Tono sempat memperhatikan wajah Ibu itu sekali lagi. Harusnya dia bukan ibuku, pikir Tono. Kulit wanita itu kuning langsat, alisnya tebal dan matanya belo. Sementara Tono hampir tak beralis dan matanya tak sebesar mata wanita itu. Kulitnya? Jauh dari kuning langsat. Walau Tono sendiri tidak yakin apa warna kulitnya itu. Coklat kehitaman? Sepertinya. Tapi rasanya, mereka yang mengemis di sana, rata-rata memiliki warna kulit yang sama. Entah karena rusak terbakar matahari atau karena debu yang menempel setiap hari sudah melekat, tak bisa dicuci lagi. Tono bahkan sering tidak mandi.

Mandi adalah sebuah kemewahan di kawasan tempat tinggalnya. Butuh dua ribu perak untuk sekali mandi di WC umum. Kalau dua kali sehari berarti empat ribu perak. Kalau tiap hari dia mengurangi jatah setorannya hanya untuk mandi dua kali, Tono harus mau merelakan telapak tangan Mang Asep yang besar singgah di wajahnya. Rasanya pedas dan panas. Bahkan bisa membuatnya pusing selama berjam-jam. Tono lebih suka dengan bau menyengat tubuhnya daripada merasakan penderitaan itu.

Mobil berikutnya. Seorang wanita lebih berumur dari wanita yang tadi duduk di belakang setir. Wajahnya cantik, dandanannya tebal. Mobilnya bagus. Tono tidak tahu apa namanya. Merk-nya Toyota, tapi bentuknya seperti van hanya saja tampak lebih mewah.

Belum sempat ia mengetuk, kaca mobil telah turun. Harusnya dia kasihan melihat wajah sendu Tono. Atau tubuh ringkihnya. Selembar uang lima ribuan disodorkannya pada Tono. Tak sadar Tono tersenyum lebar.

“Terima kasih, Bu!”

Ia mengangguk dan balas tersenyum. Wangi parfumnya lewat, singgah di hidung Tono. Tono menatapnya lagi. Ah, seandainya dia ibuku… Cantik, kaya, baik… Aku pasti sangat beruntung, bisa ke mana-mana naik mobil mewah. Lagi aku pasti sangat disayang dan dimanjakan olehnya.

Suara klakson bersahutan membuat Tono tersentak. Lampu hijau. Mobil mewah itu perlahan melaju pergi, meninggalkanTono yang masih tertegun di tepi jalan. Sebuah tarikan di sikunya membuat Tono sedikit oleng ke belakang.

“Mau mati lo!” teriak Nuno di telinga Tono.

Tono tak sadar dengan kendaraan-kendaraan yang melaju di depannya.

Mata Nuno membelalak. “Wah, gila lo! Dapat duit lima ribuan! Masih pagi uda dapat banyak!”

Tono segera menyusupkan uang lima ribu tadi di saku celana rombengnya. Takut suara Nuno terdengar oleh yang lain. Bisa-bisa uangnya dirampas. Apalagi oleh Ibu Nuno, yang duduk mengemis di samping pohon itu. Tono tak pernah suka pada Ibu Nuno, walau kadang dia tak mampu menahan iri melihat Nuno memiliki Ibu kandung. Ibu Nuno itu adalah seorang wanita bertumbuh gemuk dengan rambut awut-awutan dan mulut yang senantiasa mencibir. Matanya selalu menatap siapa saja dengan tatapan mencela dan tak suka. Dia punya kebiasaan meludah setiap beberapa menit. Dan Nuno, sahabatnya itu sering menjadi bulan-bulanan makian kasarnya. Tono tak bisa membayangkan seandainya dia punya seorang Ibu seperti itu.

“Nanti aku traktir jajan ya, No,” kata Tono yang disambut Nuno dengan cengiran lebar dan jingkrakan sebelum ia berlalu pergi.

Ketika Tono mundur, dia menabrak seseorang.

“Hati-hati, Dik…”

Tono mengangkat wajah pada suara lembut itu. Dia terpana. Wajah seorang wanita muda yang terlihat begitu sabar dan lembut. Wanita itu tersenyum padanya dan tetap berdiri di tempatnya seraya memperhatikan lalu lalang kendaraan di depannya. Tampaknya dia akan menyeberang. Tono masih menatapnya, tak mampu berkata apa-apa.

Dia menoleh, melihat Tono lagi. Kali ini dia merogoh tasnya dan menyodorkan selembar ribuan pada bocah itu. Mengira Tono tengah menunggu pemberiannya. Tono bahkan tak mampu berkata-kata. Pesona wanita muda itu membuatnya lumpuh. Tapi wanita itu tak mempedulikan Tono lagi.

Tono menguatkan diri. Kalau tidak sekarang, mungkin tak ada kesempatan lain lagi.

“Bu…”

Wanita itu menoleh dengan alis naik sedikit.

“Ngg… Boleh saya bertanya?”

Ia mengangguk dengan senyum lembutnya. Mungkin tersentuh oleh kesopanan Tono.

“Ibu ini Ibu saya bukan?”

Senyuman itu hilang. Ia tampak bingung.

“Saya sedang mencari Ibu saya. Dia meninggalkan saya waktu masih bayi. Saya tidak tahu wajahnya seperti apa.”

Semenit berlalu. Tono berharap dia mengangguk dan mendengarnya berkata, Oh, kebetulan sekali sembilan tahun yang lalu saya membuang anak saya di dekat sini. Kamu pastilah anak itu. Ayo, Nak ikut Ibu pulang…

Tapi perempuan itu menggeleng. “Bukan, Dik. Saya belum menikah dan belum pernah melahirkan anak.” Sekali lagi dia tersenyum sebelum berbalik dan menyeberang. Lampu merah lagi.
* * *

Pencarian Tono rasanya tak akan pernah berujung. Hari demi hari lewat tanpa pernah menemukan dirinya, ibunya itu. Oh, Ibu di manakah dirimu berada? Rasanya begitu banyak orang yang lalu lalang setiap hari, bagaimana dia mampu menemukan wanita itu di antara mereka?

Sampai hari itu ketika Tono berjalan tak tentu arah, meninggalkan tempat bertugasnya sehari-hari jauh di belakang. Ia menemukan banyak lukisan yang tergantung di sepanjang jalan. Tempat para pelukis jalanan mangkal. Tono terpesona akan wajah-wajah yang dilukiskan mereka. Ada wajah-wajah yang dikenalnya. Wajah-wajah yang biasa dilihatnya di layar kaca. Begitu mirip.

Saat itulah terbit ide di kepalanya. Bila saja lukisan wajahnya bisa digantung di sana dan mungkin suatu hari nanti ketika ibunya lewat tempat itu dan mengenali kemiripan wajah mereka, wanita itu akan dapat menemukannya. Bukan lagi cuma dia yang bisa menemukan wanita itu. Itu pikiran Tono. Dia sama sekali tak pernah meragukan kalau ibunya masih menginginkannya. Dan dia masih yakin ibunya membuangnya dulu karena terpaksa.

Dia mendekati seorang lelaki tua yang tengah asyik melukis sebuah wajah yang mirip dengan foto kecil di samping kanvas.

“Pak…”

Lelaki itu menoleh dan matanya langsung menyipit ketika melihat Tono. Kulitnya hitam kasar, begitupun dengan jemarinya yang berbonggol-bonggol. Rambutnya panjang terurai berantakan, sementara sebuah kacamata dengan kaca kekuning-kuningan karena dimakan waktu, bertengger di atas hidungnya yang pesek.

“Saya mau dilukis, Pak,” kata Tono menatap lurus ke mata lelaki itu.

“Kamu punya uang gak?!”

Tono merogoh sakunya dan mengeluarkan semua uang yang dimilikinya. Sebagian uang lembaran seribuan yang lecek dan beberapa uang logam.

Lelaki tua itu menoleh. Matanya membesar. “Edan!!! Pergi sana! Mengganggu kerjaan orang saja!”

Tono setengah terbirit, kaget akan suara lelaki itu yang menggelegar tiba-tiba. Ditinggalkannya tempat itu. Dari sana ia berjalan perlahan, masih mengamati lukisan-lukisan sepanjang jalan. Masih dengan keinginan menggebu untuk bisa memajang foto dirinya di sana. Tapi lelaki tua tadi telah mengagetkannya. Ia tak berani lagi sembarang bertanya.

Tiba di kios terakhir, langkah kaki Tono terhenti. Enggan meninggalkan tempat itu tanpa hasil. Namun dia juga tak tahu harus bagaimana. Seorang lelaki tua, berambut putih menengok ke arahnya. Lelaki itu sedang duduk menghisap sebatang rokok. Tampak menikmati setiap kepulan yang dihembuskannya. Ia menatap Tono. Tatapan Tono dari lukisan beralih ke wajah tua itu. Lelaki tua itu tersenyum. Tono tertegun. Sedetik kemudian ia balas tersenyum sementara kakinya melangkah masuk.

“Permisi, Pak,” sapanya sopan.

“Oh iya, masuk saja. Kamu cari siapa?”

Tono ragu sejenak. Cari Ibu saya, Pak. Bapak bisa bantu?

“Nggg…. Begini, Pak. Nama saya Tono. Saya sedang mencari Ibu saya.”

“Oh… Memangnya ibumu ke mana, Nak?”

“Saya juga tidak tahu, Pak. Kata orang-orang Ibu saya ninggalin saya di pinggir rumah Mang Asep sejak saya masih bayi. Sampai sekarang Ibu tidak pernah kembali.”

Lelaki tua itu berhenti menghisap rokoknya. Ia bangkit sedikit, meluruskan punggungnya tanpa berkedip sedikitpun dari wajah Tono.

Bocah itu kemudian menceritakan usahanya belakangan ini untuk menemukan ibunya. Suara kecilnya atau mungkin ekspresi wajahnya yang polos yang membuat lelaki yang bernama Pak Ghali itu tersentuh. Kepalanya mengangguk-angguk di antara cerita yang dituturkan Tono.

“Jadi maksud kamu mau Bapak melukis wajahmu dan menggantungnya di sini?”

Tono mengangguk cepat. “Boleh, Pak?” tanyanya penuh harap. “Saya punya, tapi memang tidak banyak,” sambungnya lagi seraya merogoh sakunya kembali.

Bapak tua itu tertawa seraya bangkit dari kursinya. “Kamu yakin Ibu kamu akan mengenali wajah kamu?”

Tono mengangguk cepat. “Wajah anak pasti mirip wajah ibunya. Ya kan, Pak?”

Pak Ghali mengangkat bahunya, tak mengiyakan. “Lalu, kalau sampai kamu besar nanti kamu tidak bisa menemukan Ibu kamu, bagaimana?”

“Saya akan terus mencari, Pak. Saya hanya ingin tahu bagaimana wajah Ibu saya.” Ada kesedihan dalam suara Tono. Kepala tertunduk. Pak Ghali menepuk pundaknya.

“Begini saja anak muda,” katanya seraya menatap lurus ke wajah Tono. “Bagaimana kalau Bapak Bantu kamu melukiskan wajah Ibu kamu?”

“Bapak tahu wajah Ibu saya?”

Pak Ghali tertawa.

Tono tercengang. Jantungnya berdetak kencang. “Bapak kenal Ibu saya?”

“Tentu saja tidak. Tapi kan kamu bilang wajah anak pasti mirip wajah ibunya. Berarti wajah kamu mirip wajah ibumu. Mudah untuk melukis wajah ibumu.”

Tono tertegun, masih mencoba mencerna kata-kata Pak Ghali.

“Begini saja,” kata Pak Ghali seraya menggeser sebuah bangku kecil ke arah Tono. “Kamu duduk di sini, Bapak akan lukis wajah ibumu.”

Tono menurut tanpa mampu berkata-kata. Dan lelaki tua itu mengambil kuasnya dan kanvas baru. Beberapa saat kemudian ia mulai melakukan pekerjaannya. Matanya berpindah-pindah dari kanvas dan wajah Tono. Tono menahan napas, takut untuk bergerak. Dia takut merusak karya besar Bapak itu. Wajah ibunya.

“Kamu mau rambut ibumu panjang atau pendek, Nak?”

Tono tersentak, terkejut akan pertanyaan itu. Panjang atau pendek? Bayangan ibunya di kepalanya adalah seorang wanita lembut berambut panjang.

“Panjang, Pak,” jawabnya pelan.

“Rambutnya terurai atau disanggul?”

Kali ini senyum di wajah Tono merekah. “Sanggul, Pak,” jawabnya riang.

Kepala si Bapak terangguk-angguk, kemudian ia kembali larut dalam pekerjaannya. Hening menyelimuti tempat itu.

Entah berapa lama kemudian, yang Tono tahu hanyalah tubuhnya mulai terasa keram karena tidak digerakkan dalam waktu lama, ketika si Bapak berdiri dan berkata, “Sudah selesai.”

Lelaki itu melambai pada Tono. “Mari sini, Nak. Lihat wajah ibumu.”

Dada Tono seakan dipukul palu berat, bertalu-talu. Ia bangkit dengan kaki yang mati rasa dan sedikit gemetar. Akhirnya, untuk pertama kalinya ia akan melihat wajah ibunya.

Tono terpaku melihat lukisan sederhana itu. Wajah wanita di kanvas benar sungguh mirip wajahnya. Hanya saja wajah itu terlihat lebih halus dan tatapan matanya begitu lembut. Wanita itu tengah tersenyum ke arahnya. Tak sadar, airmatanya menitik.

“Jangan nangis, Nak. Nanti Bapak pajang lukisan ini di luar. Setiap hari kamu bisa lewat sini, memandangi wajah ibumu kalau kamu rindu. Dan semoga kalau ibumu lewat sini, dia bisa mengenali wajahnya dan singgah untuk menanyakanmu.”

Si lelaki tua menepuk-nepuk pundak Tono.

Tono berusaha tersenyum di antara tangisnya. “Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak…”

Dirogohnya kantong celananya dan dikeluarkannya semua uang hasil mengemis hari ini. Dia bermaksud memberikan semua uang itu pada Bapak tua yang baik hati itu. Dia tak peduli lagi bila nanti sore mesti mendapat pukulan Mang Asep. Sakit itu tak akan ada artinya dibandingkan bahagia hatinya saat ini.

Pak Ghali tertawa melihat uang yang disodorkan Tono.

“Simpan saja, Nak. Bapak mau melukis wajah ibumu karena Bapak tahu sedih hatimu. Bapak ingin membantumu.”

Tono terperangah. Tak percaya ada seseorang yang tak menginginkan uang. Tak percaya ada orang yang ikhlas dalam dunia ini.

“Tapi, Pak…”

Pak Ghali mengambil lukisan yang telah jadi itu dan menggantungnya di sudut depan kios tersebut.

“Bagaimana? Kamu suka?”

Tono mengangguk cepat, seraya menyeka sisa airmatanya. Hatinya penuh dengan rasa bahagia.

“Sudah sore, pulanglah,” kata Pak Ghali seraya menepuk kedua tangannya.

Tono mengangguk. Sekali lagi mengucapkan terima kasih dan sekali lagi memandangi wajah ibunya dengan senyum terlebar yang dimilikinya. Kini, ia tak perlu mencari-cari wajah ibunya di antara orang-orang yang lewat. Kini ia telah tahu wajah ibunya. Wajah Ibu yang selama ini dicari-carinya.

* Naskah Pemenang Utama Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR 2009) Tingkat Nasional Kategori C (Umum/ Guru/ Mahasiswa) yang diselenggarakan PT. ROHTO LABORATORIES INDONESIA & RAYA KULTURA.

* Terima kasih saya ucapkan khusus untuk G.Lini Hanafiah (Guru, Kakak dan Sahabat saya) dengan rumah Yuk Nulis yang selama ini telah banyak men-support saya hingga bisa menulis kembali. Juga kepada Mbak Henny Listyowati yang telah memberi info LMCR 2009, juga pada teman-teman yuk nulis dengan jempolnya. Dan tak lupa teman-teman di facebook yang juga telah memberikan banyak dukungan. Tanpa kalian semua, prestasi ini tak akan pernah ada...

Sabtu, 21 November 2009

Ketika Aku Ingat Padamu...


Pagi ini aku bangun dan mengingat dirimu. Tiba-tiba ada rasa rindu yang tak bisa kuenyahkan. Lalu kuputuskan untuk menulis sebuah surat untukmu.

Hai, apa kabar? Lama tak ada berita darimu. Baik-baik saja? Semoga. Aku di sini baik-baik saja. Hanya saja aku tiba-tiba ingat padamu. Entah mengapa, aku tak tahu. Mungkin aku rindu padamu...

Tak sadar jariku menekan tombol delete, menghapus semua kalimat yang telah kutulis. Terlalu jujur... Bukan. Terlalu murah? Bukan... Sebenarnya aku tiba-tiba merasa takut memikirkan apa reaksimu ketika kau membaca kalimat-kalimatku itu. Takut bila kau tak senang akan kerinduanku. Takut bila ternyata kau salah mengartikan kalimat-kalimat jujurku. Dan kemudian kau akan salah paham, menghindariku dan akhirnya bukan kerinduanku yang akan terbalas.

Hey! Aneh... Padahal biasanya aku menyuratimu langsung tanpa pernah berpikir apa-apa. Biasanya kalimat-kalimatku mengalir begitu saja tanpa pernah aku pertanyakan sendiri. Lalu, mengapa hari ini berbeda?

Mungkin sebaiknya aku meneleponmu langsung. Bisa langsung mendengar suaramu dan juga bisa bercanda denganmu. Bukankah kita sering saling bercanda lewat telepon? Bukan sesuatu yang luar biasa, bukan? Tidak ada yang aneh bila saat ini aku meneleponmu, bukan? Ya, ide yang bagus. Kuraih telepon dan menekan nomor teleponmu yang sudah kuhapal di luar kepala.

Tut.....

Kira-kira kau sedang apa, ya?

Tut....

Kira-kira kau akan senang tidak mendapat telepon dariku?

Tut....

Tunggu! Apa yang harus kukatakan padamu? Hai, apa kabar? Baik. Ada apa? Ngg... tidak apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu....

Tak sadar kutekan tombol off, mematikan sambungan telepon. Belum apa-apa aku sudah paranoid sendiri. Belum apa-apa keringat dingin sudah membasahi keningku. Dan jariku gemetar. Dan dadaku, di dalam sana seperti ada ribuan drum, terdengar pukulan bertalu-talu...

Ya ampun, ada apa ini? Aku tiba-tiba bukan diriku lagi. Lihat! Semua rasaku tak dapat kuatur lagi. Bahkan gerakan dari tubuhku juga tak dapat kukendalikan lagi. Seakan tubuhku juga bukan lagi milikku. Hanya karena sebuah ingatan padamu... Begitu hebatkah dirimu padaku? Seakan aku ini sebuah robot yang bisa kau kendalikan dari tempat yang jauh. Ataukah karena aku sendiri yang merelakan alat pengendali diriku padamu? Begitu bodohkah diriku? Tidak. Aku tidak bodoh, tapi mengapa aku merasa menjadi bodoh hari ini?

Entahlah... Aku tak tahu. Aku sendiri tak mengerti. Aku hanya ingin rasa ini cepat-cepat berlalu. Aku hanya ingin bisa mengenyahkan semua bayanganmu yang terus menguntit langkahku. Rindu ini bukan sesuatu yang manis lagi, yang bisa kunikmati pelan-pelan. Rindu ini mulai mematikan semua akal sehatku dan menjadikanku lumpuh tak berdaya. Aku ingin bebas menjadi diriku lagi. Diriku yang kemarin bahagia dan damai tanpa rasa ini...

Photo Link: http://i.mynicespace.com/297/29775.jpg

Senin, 16 November 2009

If Tomorrow Never Comes...

Dulu, if tomorrow never comes, hanya sebuah judul lagu bagiku. Lagu yang indah, sendu dan romantis. Pernah seorang teman bertanya padaku, if tomorrow never comes, what you will do today? Aku terdiam sejenak, berpikir dan berpikir. Tapi tak menemukan jawaban yang meyakinkan diriku sendiri. Akhirnya kujawab, jangan dulu, masih banyak yang belum sempat aku lakukan. Sebenarnya itu adalah jawaban yang bukan jawaban untuk pertanyaan tersebut. Hanya sebuah kalimat untuk berkelit, tak ingin memikirkan hal tersebut.

Beberapa malam yang lalu seorang teman di China City menyanyikan lagu Ronan Keating tersebut. Masih, seperti dulu selalu terdengar sendu di telingaku. Tap kali ini kalimat-kalimat lagu tersebut mengalir lebih perlahan, menyusup ke dalam jiwaku. Bagaimana jika esok tak pernah datang? Menghadirkan resah yang tak mampu kuusir.

Pernahkah terpikir olehmu tentang hal ini? Bila baru sekarang terpikir, ketika kau membaca tulisanku ini, lalu apa jawabanmu? Bagaimana bila esok tak pernah datang?

Semalam aku tak bisa memejamkan mata. Tiba-tiba kalimat itu terus terngiang-ngiang, menuntut sebuah jawaban. Tak mampu bersembunyi lagi, menghindar, atau berkata, nanti saja, aku belum memikirkannya...

Selama ini aku belum pernah memikirkan pertanyaan ini dengan serius, karena kata kematian selalu merupakan kata asing, yang hanya kadang-kadang terdengar namun begitu jauh tak terlihat olehku. Tapi kini aku seakan dipaksa duduk menatap lurus pada kenyataan yang telah mempunyai bentuk yang tak bisa diubah lagi. Kenyataan bahwa seseorang ditakdirkan harus menjawab pertanyaan itu. Dan kini ia mesti mulai menghitung langkah yang tersisa di dunia ini.

Kata esok kini bukan lagi sebuah kata yang pasti. Esok, seakan sebuah mimpi dan janji yang tak pernah berwujud nyata. Begitu dekat terasa, tapi kadang aku tak yakin kita dapat menggapainya. Karena ia tak pernah bisa menjadi milik diri. Ketika ia masih datang menghampiri ada rasa syukur terucap. Namun jika ia benar-benar tak datang lagi, haruskah aku mengutuknya?

Aku tak pernah takut akan kematian. Bagiku hidup dan mati adalah sebuah proses alami. Bila pun kini aku harus melepas hidup, mungkin aku akan menutup mata dengan rela. Namun aku takut ketika mendengar kata kematian bagi orang-orang di sekelilingku. Aku tak pernah bisa melepas rasa khawatir tak dapat menemukan mereka lagi di sampingku. Aku tak pernah berani kehilangan orang-orang yang kucintai. Dunia ini tak akan pernah memberi bahagia yang sama lagi ketika langkahku harus sendiri.

Dan kini, aku merasa terpuruk di sini, memikirkanmu. Maaf, bukan kata-kata penghiburanku selama ini hanya kata-kata kosong belaka. Tidak. Itu setulus hatiku, berharap yang terbaik bagimu. Aku tersenyum, mengirimkan semangat hidup bagimu dalam kata maupun tatapan mataku. Aku bahkan mengajakmu menertawakan kematian. Kita bahkan merencanakan akhir yang indah. Tapi di sini sendiri, aku tak mampu menutup pintu hatiku bagi sedih yang telah lama menyelinap masuk. Ya, sejak aku mendengar kabar tentangmu, hatiku hancur. Malam itu aku menangis tanpa suara. Tangis yang kusimpan lama, tak ingin kau melihatnya. Tidak. Aku harus selalu tegar dan bahagia di matamu, karena aku akan menjadi sumber semangat dan sisa cahayamu.

Aku tak pernah tahu bagaimana rasamu menghadapi semua ini. Terlalu angkuh diriku bila kukatakan aku mengerti. Tidak. Aku tak pernah mengerti berapa besar ketakutan dan bebanmu saat ini. Itu yang membuatku merasa tak berarti dan tak berguna. Bila saja mampu kuangkat sebagian beban itu, biar kita pikul bersama di jalan ini... Andai Tuhan memberi kita kesempatan untuk tawar-menawar, bahkan untuk sebuah kata kematian...

Perbuatan memang tak pernah sebijaksana kata. Meski aku tahu di sana, di ujung kehidupan ini akan kau temukan damai dan bahagia, meski aku tahu kematian adalah pelepasan jiwa dari segala beban, masih saja lara ini tak mau pergi. Aku bahkan berharap langkah kakiku yang pertama sampai pada ujung kehidupan sebelum orang-orang di sekitarku. Ya, ini egois-nya diriku. Yang tak pernah ingin ditinggalkan.

Belakangan ini, kucoba untuk menikmati setiap detik yang aku punya dengan semua orang di sekitarku. Ketika kau tertawa, aku berhenti sejenak, memperhatikan tawa itu. Ingin menangkap dengan jelas semua ekspresi, suara dan rasa hati yang ada. Dan setiap detik itu kucoba menghadirkan syukur di hati. Terima kasih Tuhan untuk saat ini... Tak pernah lagi ingin membiarkan waktu berlalu begitu saja dengan cepat tanpa pernah teramati.

Meski begitu aku tahu, bila esok akhirnya aku harus kehilanganmu, tetap airmataku akan kembali menetes. Dan hatiku akan kembali berduka. Setegar apapun diri ini, sebaik apapun pengertianku akan hidup dan mati, tetap bahagiaku tak akan menjadi sama dengan kosongnya hadirmu di sini. Namun, tak peduli tinggal berapa esok lagi yang tersisa, tak peduli sependek apa jalan di depan sana, aku akan berjalan menemani langkahmu dengan semua semangat yang kupunya. Dan tak akan kubiarkan kau melihat dan merasakan sedihku. Aku akan selalu tersenyum bahagia dan ceria. Sepanjang sisa jalan ini bersamamu, aku berjanji tak akan pernah lagi memikirkan pertanyaan itu, bagaimana bila esok tak pernah tiba? Biarlah, seandainya esok tak akan tiba untukmu atau pun untukku, akan kunikmati hari ini, sisa waktu yang ada ini, dengan seluruh rasa dan bahagia yang masih ada...

Photo Link: http://rullyeist.files.wordpress.com/2009/09/kepergiaan-dan-perpisahan-pic.jpg

Sabtu, 14 November 2009

Saat Aku Pulang...


Aku berdiri di belakang pintu yang baru kututup. Lama, memandangi seisi ruangan itu. Ada rasa bahagia yang pelan-pelan menyusup. Berapa lama aku tak berada di sini? Rasanya sudah begitu lama. Dan saat ini ketika rasa rindu membawaku pulang kembali, tak dapat kuceritakan dengan kata-kata. Rumah. Ini rumahku. Tempat yang selalu aku cintai. Tempat aku selalu merasa nyaman. Dan kini aku telah pulang.

Kunaiki tangga menuju lantai dua dengan perlahan. Ingin kuresapi semua momen ini. Semua gerakan langkahku, sentuhan tanganku pada dinding rumah. Juga pijakan kakiku pada lantai yang terasa dingin. Melayang kembali ingatanku ke tempat jauh di mana beberapa waktu yang lalu aku berada. Ketika aku tak mampu untuk pulang dan begitu merindukan tempat ini. Mencoba membayangkan detil setiap bagian dari rumah ini. Dan saat aku di sana berharap dengan memejamkan mata, separuh diriku dapat menghilang dan hadir dalam rumah ini.

Lantai dua sepi. Tak ada suara sama sekali. Kosong. Hanya ada benda-benda yang sudah begitu akrab dengan diriku. Rak buku di sudut yang penuh dengan buku-buku bacaanku. Aku meraih sebuah buku, merasakan kertas itu di tanganku. Berapa lama sudah waktu kulalui tanpa bacaan? Aku tak ingat dengan pasti. Hanya rasanya sudah lama sekali. Kuhampiri meja kerjaku. Duduk di sana, menyandarkan punggungku sejenak dan memutar kursiku. Rasanya begitu menyenangkan. Meja itu masih tertata rapi dan bersih. Seakan siap menungguku pulang.

Kulanjutkan tour singkat ini. Ya, rasanya seperti melakukan sebuah tour dalam sebuah gedung bersejarah. Pelan-pelan mengamati semua yang ada di dalam tempat ini. Dan mencoba merekam semuanya dengan lebih jelas, seakan-akan ada rasa takut bila kali berikut aku pergi lagi, aku tak mampu menghadirkan lagi bayangan tempat ini dalam angan.

Kubuka pintu ke lantai tiga. Senyumku terkembang, memikirkan seseorang yang akan segera kutemui. Dia, yang selama ini kurindukan. Ini pasti sebuah kejutan menyenangkan baginya. Kali ini langkahku lebih bergegas. Sebelum kubuka kamar tidurku, aku masih sempat menengok dapur dan ruang makan yang juga tertata rapi dan bersih. Seakan tak ada jejak ketidakhadiranku selama ini.

Kamar ini kosong. Tapi terang benderang. Aku melihat dia di luar sana, di balkon sedang menikmati hisapan rokoknya. Ya, aku telah menetapkan sebuah peraturan bahwa semua ruangan di lantai tiga ini harus bebas dari asap rokok. Karena itu, dia mesti keluar dan menikmati rokoknya di balkon. Aku tak dapat menahan senyum. Ternyata dia mematuhi aturan tersebut walaupun aku tak ada.

Ranjang di kamar tertata rapi dengan semua bantal tersusun di tengah. Kuraih guling kesayanganku. Kupeluk dan kucium dalam-dalam. Betapa menyenangkannya rasa ini. Tapi kemudian mataku tertumbuk pada mawar ungu di meja riasku. Aku lepaskan guling itu dan mendekati meja itu. Mawar ungu? Indah sekali. Untuk siapa? Untuk aku? Dia tahu kepulanganku?

Baru saja aku mendekat ingin mencium mawar-mawar indah itu ketika terdengar pintu balkon membuka dan menutup. Aku menoleh, melihatnya dalam sosok yang jelas. Senyumku terkembang.

Dia masuk, meletakkan bungkusan rokoknya, tapi kemudian langkahnya terhenti. Matanya tertumbuk pada guling yang kutaruh sembarang di atas ranjang yang tak lagi rapi. Ia tertegun lama dan kemudian mengangkat wajahnya. Matanya mengitari seluruh ruangan, melewati diriku tapi tak singgah pada diriku. Ekspresi wajahnya terlihat aneh.

"Li, kau di sini?"

Aku tertawa. Pertanyaan macam apa itu. Tentu saja aku di sini.

"Aku pulang," kataku seraya melupakan mawar-mawar di meja. Tapi kemudian senyumku menghilang melihatnya duduk di tepi ranjang dan meraih guling yang tadi kupeluk. Dia memeluk guling itu dengan begitu erat, sementara matanya menutup. Ekspresi wajahnya terlihat begitu sedih.

"Hey, ada apa denganmu?" tanyaku heran seraya mendekat.

Saat itu dia membuka matanya yang telah basah dengan airmata. Dia menangis. Bahunya terguncang pelan.

"Hey..."

Aku berlutut di hadapannya, baru saja bermaksud membelai tangannya ketika...

"Li, aku kangen... Kangen sekali padamu..."

"Aku sudah pulang, Sayang," kataku seraya mendekati wajahnya. Ingin dia melihatku. Tapi aneh dia seakan tak melihatku juga.

"Li, bagaimana aku bisa hidup tanpamu?" Suaranya terdengar begitu pilu menyayat hatiku. Mengapa dia begitu sedih?

Aku terhenyak. Dia tidak melihatku. Dia berbicara pada guling. Bahkan airmatanya terus mengalir. Dia harusnya memelukku bukan guling itu. Ada yang salah.

Aku meraih tangannya, "Aku di sini, Sayang. Aku pulang."

Dia masih terus menangis.

"Sam! Sam!" Aku mengguncang-guncang tangannya. "Lihat aku. Aku di sini!"

Dia masih tenggelam dalam tangisnya. Seakan suaraku tak pernah singgah di telinganya. Seakan aku berada di dunia lain yang tak terjangkau olehnya. Dunia lain? Sebuah kesadaran menghantamku seketika. Aku merasakan ketegangan memenuhi diriku.

"Sam," panggilku lagi, kali ini dengan rasa takut dan kekhawatiran. Kuharap ia akan menoleh dan tersenyum mengakhiri tangisannya. Aku berharap dia hanya bersandiwara. Aku berharap apa yang kupikirkan tadi tidak benar sama sekali.

"Sam..." panggilku sekali lagi dengan rasa putus asa.

Dia tak bereaksi sama sekali pada suaraku. Dia lalu bangkit dan merebahkan dirinya di ranjang. Di sana, memeluk gulingku dia memejamkan matanya. Begitu kesepian. Begitu menyedihkan.

Tak sadar airmataku menetes. Ya, Tuhan! Apa yang terjadi padaku? Di mana aku? Di mana tubuhku? Mengapa aku pulang tanpa membawa tubuhku? Apa yang harus aku lakukan? Kupandangi dirinya di sana, tenggelam dalam kesedihannya. Hatiku hancur berkeping-keping. Aku bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal padanya. Aku bahkan tak bisa menghiburnya lagi. Tak bisa menemani langkahnya lagi. Oh, Tuhan....

Perlahan aku naik di ranjang, berbaring di belakangnya, dengan mata basah memeluk tubuhnya yang hangat. Aku takut. Aku sungguh takut. Entah sampai kapan aku masih bisa memeluknya seperti ini. Entah sampai kapan roh-ku ini masih bisa berada di sini menemaninya. Bila tubuhku bukan milikku lagi, roh-ku ini mungkin juga akan segera bukan menjadi milikku lagi. Aku tak tahu. Aku hanya bisa menghabiskan sisa waktu yang kupunya dengan memeluknya, merasakan sekali lagi kehadirannya.

"Sam, aku di sini," bisikku, berharap dia bisa mendengar suaraku untuk yang terakhir kalinya.


Photo Link: http://static.royalacademy.org.uk/images/width550/highgate-cemetery-4362.jpg

B'day Gift From My Buddy

Conversation With God (Book I Page 59-60)

Apakah rasa takut adalah yg kamu butuhkan utk menjadi, melakukan dan memiliki apa yg pd hakikatnya benar? Haruskah kamu diancam utk "menjadi baik?" Siapa yg berkuasa ttg itu? Siapa yg menentukan pedomannya? Siapa yg membuat aturannya?
Kukatakan hal ini kpdmu: Kamu adalah pembuat aturanmu sendiri. Kamu menentukan pedomannya. Dan kamu memutuskan seberapa baik telah kamu lakukan; seberapa baik sedang kamu lakukan. Karena kamu lah yg memutuskan Siapa & Apa Dirimu Sebenarnya-dan Diri Yg Kamu Cita-citakan. Dan kamu lah satu-satunya yg dapat menilai seberapa baik sedang kamu lakukan.
Tak ada org lain yg akan menghakimimu selamanya, karena mengapa, dan bagaimana Tuhan dapat menghakimi ciptaanNya sendiri dan menyebutnya buruk? Seandainya Aku ingin kamu menjadi dan melakukan segala sesuatu dengan sempurna, Aku pasti telah meninggalkanmu dalam keadaan benar-benar sempurna dari mana kamu datang. Seluruh maksud proses ini adalah agar kamu menemukan dirimu sendiri, menciptakan Dirimu, sebagaimana kamu sebenarnya - dan sebagaimana kamu inginkan sebenarnya. Namun, kamu tak dapat menjadi itu kalau kamu juga tidak memiliki pilihan untuk menjadi sesuatu yg lain.
Karena itu, apakah Aku seharusnya menghukummu karena membuat pilihan yang Aku sendiri telah letakkan di depanmu? Seandainya Aku tak menginginkanmu membuat pilihan kedua, mengapa Aku menciptakan pilihan yg lain daripada yg pertama?
Ini adalah pertanyaan yg harus kamu tanyakan kepada dirimu sendiri sebelum kamu memberi Aku peran sebagai Tuhan yg menghukum.
Jawaban langsung dr pertanyaanmu adalah ya, kamu boleh bertindak semaumu tanpa takut akan pembalasan. Namun, adalah berguna bagimu untuk menyadari konsekuensinya.
Konsekuensi adalah hasil. Akibat alamiah. Ini benar-benar tidak sama dengan pembalasan, atau hukuman. Akibat, sederhana saja. Akibat adalah apa yg berasal dari penerapan alamiah dari hukum alam. Akibat adalah apa yg terjadi, dengan dapat sungguh diprediksi, sebagai konsekuensi dari apa yg telah terjadi.
Semua kehidupan fisik berfungsi menurut hukum alam. Sekali kamu mengingat hukum ini, dan menerapkannya, kamu telah menguasai kehidupan pd tingkat fisik.
Apa yg tampak seperti hukuman bagimu - atau apa yg kamu sebut kejahatan, atau nasib buruk - tak lebih daripada hukum alam yg menyatakan dirinya