Seperti mentari yang selalu bersinar, memberi cahaya keemasan yang terang, seperti itu juga aku melihat dirimu. Dan aku mengira cahaya itu akan selalu ada, sama, tak pernah berubah. Aku berharap. Harapan yang kini memukul batinku dengan rasa kecewa dan sakit. Dan rasanya tak bisa kuterima kenyataan ini dengan akal sehat. Kini cahayamu itu tak lagi terlihat kuning keemasan. Cahayamu telah berubah warna. Dan aku tak mengenali warna itu. Jiwaku ingin menolaknya. Bagaimana mungkin mentari dapat berubah warna?
Harusnya cahaya mentari hanya memiliki satu warna. Tak pernah berubah dan tak pernah lelah bersinar. Tak pernah menghilang seenaknya. Selalu ada masa yang sama untuk kedatangan dan kepulangannya. Tapi yang pasti, dia tak pernah berubah. Esok akan sama lagi. Bahkan meskipun ribuan tahun telah lewat. Dia tak pernah ingkari janjinya untuk selalu bersinar dan memberikan keindahan cahayanya pada dunia. Keindahan abadi.
Aku telah menempatkanmu pada posisi sebagai mentari. Karena itulah rasa yang kumiliki ketika aku menemukanmu. Bukan hanya sebagai mentariku, tapi mentari untuk semuanya. Tahukah kau betapa terhormatnya tempat itu? Hanya ada satu. Tunggal. Seperti halnya mentari di dunia ini. Aku tak yakin bila kau memahami betapa besarnya pengakuanku ini untuk dirimu.
Bagai mentari, kau bersinar, memberikan cahaya pada orang-orang di sekelilingmu. Kau-lah Dewi, kau-lah Dewa, kau-lah pusat dari semua ini. Cinta yang kau bagikan bagai cinta sang mentari pada dunia. Aku merasakan ketulusan dan kebesaran yang maha besar di sana. Dan aku terpana, terpukau, dan merasa begitu terbekati. Aku merasa memuja dan mencintaimu, bak manusia memuja sang mentari. Dan aku ingin selalu berada di sisimu, selalu merasakan cahaya yang sama, kehangatan yang sama. Inikah yang membuat harap dan asaku terbang terlalu tinggi untukmu?
Namun, hari ini kutemukan cahayamu berubah. Tak seperti kemarin dan hari-hari yang lalu. Tak seperti saat pertama kali kutemukan cahaya itu. Aku tak mengenali warna baru itu. Aku merasa asing padanya. Warna yang tak selaras dengan warna yang selalu kutemukan sebelumnya. Dan tak sehangat rasa yang kemarin. Tak bersahabat lagi padaku. Kemanakah mentari-ku?
Mungkin aku yang salah. Mungkin kau memang mentari tapi bukan mentari. Kau mentari yang menyinari sekelilingmu, namun cahayamu tak sama dengan mentari di atas sana. Cahayamu dapat berubah warna dan rasa. Dan bila aku akhirnya memutuskan untuk tetap berada di sini, di sampingmu, mencintaimu apa adamu, aku harus bisa menanggalkan separuh rasa dan harapku padamu. Karena rasa dan harapku yang sekarang ini, membuatmu tak lagi indah di mataku. Memang, terkadang ketika terlalu banyak rasa dan harap yang berbicara, membuat realita menjadi tak logis dan tak indah lagi. Dan mungkin dengan lebih sedikit harapan, kecewa dan sakitku padamu bisa mengabur dan akhirnya menghilang...
Laman
▼
Tidak ada komentar:
Posting Komentar