Bertahun-tahun telah lewat. Rasanya waktu lebih kejam memisahkan kita daripada jarak.
Kadang ingin kupinta waktu untuk berhenti. Agar perpisahan ini tidak semakin panjang. Karena aku takut, semakin jauh kita terpisahkan, semakin kabur bayangku di dalam anganmu.
Aku masih ingat jelas, dulu, ketika kita masih bersama-sama. Saat langkah selalu seirama, dan tawa selalu menghiasi jalan kita. Kau masih ingat? Semoga. Karena aku selalu berharap cerita kita punya tempat di dalam hatimu. Karena bagaimanapun juga, kau pernah menjadi bahagiaku.
Dulu, kau selalu datang dengan senyum ceriamu. Aku masih ingat senyum itu. Juga mata itu. Mata yang selalu bersinar jenaka, menatapku dalam banyak kesempatan, selalu mampu berbicara banyak tanpa kata. Dan senyum itu, yang selalu kau beri, seperti sebuah oase di padang gurun. Memberi kesegaran dalam hari-hariku yang tandus dan terasa berat.
Aku jarang bercerita padamu tentang hidupku. Dan kau juga tak pernah mendongengkan kisah hidupmu. Kita selalu berbicara tentang hal-hal yang lain. Hal-hal yang tak pernah menjadi terlalu penting dan berat, yang terjadi dalam hidup kita. Hal-hal yang tak pernah menjadi terlalu sedih atau pahit untuk diceritakan. Seakan-akan kita telah setuju untuk tidak membicarakan hal-hal yang akan membuat kita sedih. Persetujuan yang juga terucap tanpa kata. Banyak, banyak sekali hal di antara kita yang tak pernah terungkap lewat kata. Seakan tanpa kata pun kita telah sehati. Tanpa kata pun kita telah saling memahami jiwa masing-masing.
Kau pergi beberapa kali dari hidupku, tapi kau selalu ingat untuk pulang. Dan selalu ingat untuk datang padaku. Seakan-akan kau tahu, aku selalu menunggu kehadiranmu. Dan tak peduli berapa pendek atau panjang waktu yang menjadi jeda pertemuan kita, tapi rasa itu tak pernah berubah. Rasa yang sama ketika bersamamu. Rasa nyaman yang tak pernah menuntut sesuatu pun untuk menjadikannya ada. Rasa itu, aku kini sungguh merindukannya...
Tapi kini kau hilang, entah di mana, entah ke mana... Sejak hari itu, kau tak pernah kembali lagi. Bagai ditelan dunia. Tak ada kabar sedikitpun. Bahkan dari orang-orang sekitarku. Aku terus menunggu dan menunggu. Kadang ada rasa marah yang mengetuk. Mengapa kau tak kembali? Mengapa meninggalkanku di sini dalam penantian tak berujung? Bukankah kau tak pernah mengatakan selamat tinggal padaku karena kau selalu pasti akan kembali lagi? Kau memang tak pernah berjanji padaku akan kembali lagi. Tapi kau selalu kembali lagi, pasti kembali lagi. Harus kembali lagi. Karena aku selalu menginginkan persahabatan ini ada sampai napasku terhenti. Dan aku tak merasa harus membuatmu berjanji untuk kembali lagi, karena kita tak butuh janji itu. Kita tak perlu kata untuk berjanji. Kita selalu saling mengerti tanpa butuh kata.
Di mana kau kini? Kapan kau akan datang lagi? Tahukah kau bahwa aku tak pernah berputus asa akan penantian panjang ini? Seandainya kau tahu, seandainya kau bisa mendengarku saat ini. Maukah kau datang lagi? Ingatkah kau untuk pulang?
Teman, begitu banyak kenangan yang aku simpan di sini, di dalam hatiku. Kenangan akan seseorang yang dulu begitu sering menemani langkah kecilku yang goyah. Aku tak mampu menghapus kenangan itu. Semua itu terlalu indah untuk kulupakan.
Bila kau ingat akan diriku suatu hari nanti, di sela-sela kesibukan dalam hidupmu yang baru, tanpa aku, semoga bayangku mampu menyampaikan rasa rinduku ini. Memintamu untuk kembali sekali lagi, karena hidup tak akan pernah sama tanpa dirimu.
Teman, apa kabarmu?
Dari aku yang menantikanmu untuk pulang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar