Aku mencoba mengenal jiwaku...
Seperti apakah dia? Aku terus bertanya-tanya. Pertanyaan yang terngiang-ngiang sepanjang hari ini. Di antara kesibukanku bersama orang-orang yang menemaniku, membicarakan macam-macam hal. Di antara kalimat-kalimat yang coba kupahami dari sebuah buku yang tengah kubaca berulang kali.
Yang pernah kudengar, kita manusia, terbagi dalam tiga bagian: tubuh, pikiran dan jiwa. Sering kita merasa tubuh lah yang terpenting. Banyak hal yang kita lakukan untuk kebaikan tubuh. Mungkin karena tubuhlah yang paling memiliki bentuk nyata daripada dua faktor lainnya. Juga mungkin karena tanpa tubuh, kita tak akan bisa eksis lagi di dunia ini.
Namun seringkali aku merasa bahwa tubuhku ini hanya seperti robot tanpa mesin atau remote bila pikiranku tak ada. Pikiran membuat tubuh melakukan banyak hal. Pikiran selalu mengendalikan tubuh, seperti seorang master yang mengendalikan hamba/budaknya. Bila pikiran kita baik, maka kita menjadi tubuh/sosok yang baik. Bila pikiran kita buruk, berubahlah kita menjadi sosok mengerikan.
Lalu di manakah peranan jiwa itu? Apakah jiwa bisa disamakan dengan hati/ perasaan? Yang kadang membuat kita tidak tenang saat kita telah memutuskan melalui pikiran untuk melakukan sesuatu? Yang membuat kita tetap ragu, padahal pikiran telah mencoba menjelaskan dengan rinci semua alasan terbaik untuk melakukan sesuatu? Kebingungan kita itu, apakah disebabkan oleh yang namanya 'jiwa?' Apakah itu caranya berkomunikasi dengan memberikan perasaan tidak nyaman mengenai sesuatu yang tidak disetujuinya?
Entahlah...
Yang aku tahu, banyak yang mengatakan jiwa tak pernah bisa mati. Jiwa selalu abadi. Jiwa tak pernah menjadi tua seperti halnya tubuh. Lalu apakah jiwa juga tak pernah menjadi negatif, seperti halnya pikiran? Ataukah jiwa kita pun bisa dinodai dengan sesuatu?
Kata orang-orang bila tubuh kehilangan kemampuannya atau berhenti, jiwa akan terlepas dan bebas, tapi tak pernah mati. Dalam artian, jiwa menghuni tubuh? Benarkah demikian adanya? Ataukah sebaliknya?
Beberapa orang menggunakan kata jiwa sebagai kata yang memiliki kedalaman tertentu. Pernahkah kau mendengar orang berkata,"Demi kepuasan jiwaku?" Atau kalimat yang kadang tragis terdengar, "Sakit jiwa." Mengapa tidak dikatakan, "Sakit pikiran?" Bukankah pikirannya yang terganggu? Apakah itu berarti jiwa tidak dapat mati, namun dapat menjadi sakit? Lalu mengapa jiwa bisa menjadi sakit? Ataukah sebenarnya penggunaan kata sakit jiwa, harusnya diubah menjadi sakit pikiran?
Kalau menilai dari fungsi dan kelebihan masing-masing, apakah kita dapat menyimpulkan bahwa jiwa memegang peranan terbesar dari semuanya? Karena jiwa yang sakit kemudian menyebabkan seseorang tak mempedulikan dirinya (tubuh) dan tak dapat lagi diajak komunikasi secara normal (pikiran)? Tapi tanpa tubuh dan pikiran, kemanakah jiwa itu akan pergi? Melayang-layang tak tentu arah, atau yang biasa disebut "Roh-roh penasaran?"
Seandainya dia tak memiliki bentuk pasti seperti tubuh dan tidak sebagai penggerak tubuh (pikiran), lalu di manakah fungsi sebenarnya? Membuat tubuh menjadi hidup?
Mungkin kalau diberikan pengandaian, tubuh adalah sebuah mobil, pikiran adalah orang mengendarainya dan jiwa adalah bensinnya. Bisakah digunakan perumpamaan itu? Tanpa bensin, walaupun memiliki pengendara, mobil tak dapat digerakkan. Lalu bila tanpa orang (pikiran), mobil dan bensin juga hanya dalam posisi 'parkir'. Konstan. Tak bergerak. Dan bila mobilnya rusak, tak dapat diperbaiki lagi, bensin dapat diambil dan dimasukkan ke dalam mobil lain, tetap bisa digunakan dengan orang sebagai pengendalinya? Seperti yang sering dikatakan dalam sebuah agama, 'Jiwa-jiwa akan terlahir kembali dalam tubuh yang berbeda...'
Aaaaaaaaaah..................
Semakin membingungkan.
Tadi aku bahkan berkata kepada diriku sendiri: "Hey jiwa, siapakah engkau sebenarnya. Tunjukkan dirimu, jelaskan padaku." Tapi tetap saja, terasa gamang, senyap.
Mungkin jiwa itu memang tak berbentuk, maka tak dapat kulihat. Mungkin juga dia berbicara dalam bahasa lain, tak seperti pikiran selalu menggunakan kata-kata yang jelas. Mungkin juga dia adalah sesuatu yang 'agung' dan 'sakral', yang hanya dapat dilukiskan dengan perasaan tanpa bisa diwakili lewat kata. Mungkin juga dia hanya dapat dimengerti dengan kebijaksanaan pikiran yang telah melewati batas tertinggi.
Aku pernah membaca buku yang mengatakan, "Jadilah seperti yang jiwamu inginkan..."
Tapi bagaimana kita tahu apa yang jiwa itu inginkan, bila kita tidak melihatnya dengan jelas. Apakah jiwa itu adalah penggantian dari kata, nurani atau lebih sederhana-nya 'hati'? Kalau iya, mengapa harus menggunakan kata jiwa? Mengapa membuatnya jadi sulit untuk dimengerti? Mengapa disebut 'soulmate?' Mengapa bukan 'heartmate?' Siapa yang menciptakan kata 'jiwa' itu?
Aku menunggu... Menunggu jiwa itu memperkenalkan dirinya padaku. Karena bila benar manusia terbagi atas tiga bagian: tubuh, pikiran dan jiwa, aku juga memilikinya. Aku ingin memiliki deskripsi yang jelas tentang jiwa itu. Tentang keberadaannya. Tentang keinginannya. Karena bila memang inilah tujuan dari kehidupan, aku juga ingin menjadi apa yang jiwaku inginkan.
Aku yakin, ketika aku menuliskan (mungkin) hal yang bodoh ini, dia di sana, di suatu tempat dalam diriku, mengetahuinya. Mungkin tengah menertawakanku karena tak mengenalinya. Mungkin juga tengah menangis kecewa. Atau mungkin dia malah memaafkan kebodohanku ini, karena dialah yang teragung. Dan mungkin juga, aku telah mengenalnya hanya saja saat ini tengah lupa akan dirinya. Lupa karena telah begitu lama, aku selalu disibukkan oleh tubuh dan pikiranku ini.
Wahai jiwa, bicaralah padaku... Tunjukkan wajahmu... Biarkan aku mengenalmu, seperti aku begitu mengenal pikiran dan tubuhku. Karena bila kalian semua adalah bagian-bagian yang membuatku menjadi 'utuh', aku juga ingin mencintaimu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar