Sahabat...
Apa arti kata itu bagimu?
Aku tak pernah tahu. Tak pernah yakin. Bahkan ketika aku duduk di sini, mencoba menuangkan rasaku tentangmu, aku masih tak menemukan sebuah jawaban yang pasti.
Banyak saat, ketika aku meragukan persahabatan ini. Seperti saat ini. Aku meragukan apa yang sebenarnya ada dalam hati dan pikiranmu mengenai kita. Begitu banyak yang kau lakukan yang membuat keraguan itu muncul, menghuni hatiku, mempertanyakanku dengan wajah ejekan. Seakan-akan aku ini tak pantas menyandang kata 'sahabat' itu sendiri di dirimu.
Bukankah sahabat itu selalu saling mengasihi? Menjadi tempat berbagi dalam suka dan duka? Menemani tiap langkah, walau berbeda pegangan? Meski kita berada di tempat yang berbeda, memiliki hidup yang berbeda dan juga arah yang tak sama, kita masih bisa berbagi tentang segalanya. Aku tak pernah memaksakan arahku padamu. Dan aku selalu berusaha mengingatkan diri untuk memberi dukunganku untuk semua yang terjadi padamu. Di kala kau jatuh ataupun berdiri tegak. Aku akan selalu berusaha untuk ada di sana, memberi senyuman dan ketulusan hatiku. Karena kau sahabatku.
Namun, aku tak merasakan hal yang sama darimu. Kau memberikan begitu banyak kesinisan untuk hal-hal yang tak kau setujui tentangku. Membuatku merasa tak berarti di hadapanmu. Bahkan terkadang dalam kalimat-kalimat menyakitkan itu, aku merasa kau hanya mengejar kepuasanmu akan pembenaran dirimu. Dan yang terpenting bagimu hanyalah mencapai tujuan dirimu sendiri. Kau akan bahagia meskipun seandainya apa yang kau lakukan itu membuatku terluka.
Bagiku, itu bukan sebuah ungkapan persahabatan. Ketika ada kedengkian di dalam, mencoba menunjukkan diri yang terbaik. Aku tak perlu pengakuan itu. Apalah artinya menjadi yang terbaik bila aku harus membunuh orang-orang terdekatku? Apalah artinya hidup ini lagi, bila mereka semua tak ada lagi mewarnai hidupku? Tak penting siapa yang terbaik. Itu benar-benar tak penting. Karena selalu, di atas langit masih ada langit. Lupakah kau akan itu?
Sahabat selalu mengasihi. Dan kasih itu murah hati, tidak membenci... Kebencian dalam katamu terasa begitu menusuk. Membuatku sekali lagi mempertanyakan diri sendiri, apa sebenarnya aku di hatimu? Seakan tak ada cinta di sana untukku. Namun kau tak pernah mau mengakuinya. Kata sahabat itu seakan menjadi kata biasa yang kau tebarkan untuk semua orang. Kau menggunakannya tanpa pernah peduli arti sebenarnya.
Apa yang kutemukan tentangmu dalam kenyataan tak sama. Kau tak pernah berusaha menjadi sahabat itu sendiri. Tak pernah ada ketika aku membutuhkanmu. Tak pernah peduli pada dunia dan diriku. Bahkan kau masih sempat mengirimkan celaan dan hinaan bila kau memiliki kesempatan itu. Celaan dan hinaan yang terkadang membangkitkan amarahku yang selalu berusaha kuredam. Amarah yang lahir dari rasa sakit dan kecewa karena menempatkanmu dalam kursi persahabatan. Kadang aku bertanya-tanya sendiri pada hatiku, apa yang telah kulakukan padamu hingga aku pantas mendapatkan celaan dan hinaan ini?
Aku sedih... Sedih yang tak mampu kuungkapkan padamu karena aku tak yakin kau mampu mengerti sedihku ini. Mungkin aku yang salah, salah menempatkanmu di dalam hatiku. Harusnya aku tak menaruh dirimu di tempat istimewa itu. Karena kini aku ingin menyalahkanmu karena tak mampu duduk dengan baik di sana. Mungkin memang selamanya kau tak pantas duduk di sana.
Namun sahabat, seandainya suatu hari nanti kau sadar betapa berartinya nilai persahabatan itu bagiku, aku berharap masih ada waktu untuk mengulang kembali semuanya dari awal. Merajut kembali cerita yang indah. Semoga...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar