Aku percaya bahwa takdir yang mengatur pertemuan antara diriku dengan orang-orang yang kujumpai dalam hidup ini. Takdir yang telah tertulis jelas dan tak mungkin kuubah. Begitu pun dengan pertemuan denganmu. Takdir-lah yang membawa kita pada hari itu, mempertemukan langkah kaki dan dua hati dalam sebuah awal rajutan kasih yang indah.
Duniaku menjadi begitu berbeda ketika kau menginjakkan kaki ke dalamnya. Lebih memiliki rasa. Lebih memiliki makna. Seakan-akan kau datang dan mendekor ulang setiap sudut dan space yang ada. Aku menyukainya, menyukai dekor baru duniaku, seperti aku juga menyukai dirimu.
Kau-lah rembulan yang menyinari gelap malam dalam hidupku dan menjadi mentari cerahkan pagiku dengan semangat baru dan menumbuhkan ranting-ranting harapan akan cinta dalam hidup ini. Cinta yang kemudian berbunga. Tahukah kau mengapa aku begitu menyukai mawar? Karena sewangi itulah bunga cinta kita. Dan sesempurna lekuk kelopaknya, begitu pulalah lekuk cinta kita. Indah tak terlukiskan.
Langkah kakiku menjadi tak sama ketika bersamamu. Lebih ringan. Lebih bersemangat. Lebih ceria. Senyum dan tawamu adalah bahan bakar kebahagiaanku.
Aku merasa seperti seekor itik kecil yang gembira berenang dalam kolam cinta buatanmu. Bermain di sana dengan riang, menemukan tempat yang begitu istimewa dan indah. Bahkan aku akan rela bila harus tenggelam di sana, asalkan aku bisa selamanya berada di sana, dalam pelukan cintamu.
Lalu, suatu hari tiba-tiba kutemukan kelopak cinta itu menguning dan melayu. Lalu jatuh perlahan-lahan, satu persatu. Begitu rapuh. Ada apa? Apakah kau lupa menyiramnya? Karena harusnya bukan aku yang lupa menyiramnya. Aku selalu ingat menyiramnya tepat pada waktunya, karena aku begitu menghargainya dan menginginkannya selalu hidup dan mekar. Mestinya kau yang lupa. Karena dia hanya bisa tumbuh ketika kita menyiramnya bersama-sama, dengan cukup cinta.
Apa yang terjadi? Aku tak tahu. Aku tak pernah yakin. Apakah kau tak lagi menginginkannya? Apakah kau telah menemukan bunga cinta yang lain, yang lebih wangi dan indah? Kau diam seribu bahasa, meski aku terus mengejarmu, mencoba menemukan jawab penghapus dahaga hatiku yang merana. Kaki ini terasa begitu lelah untuk terus mengejarmu, sementara langkah kakimu semakin bergegas dan semakin jauh. Meski aku memintamu untuk menungguku, kau tak menghiraukan suaraku. Kau semakin jauh dan akhirnya menghilang.
Kolam cinta itupun mulai mengering perlahan-lahan. Tak cukup lagi air cinta di dalamnya untukku berenang. Itik itu kehilangan kolamnya, kolam yang dicintainya, hingga kakinya mesti menyentuh dasar dan memaksanya kembali berjalan. Seperti memaksaku juga menyentuh dasar kenyataan. Kenyataan bahwa kau telah pergi meninggalkanku. Aku tak mampu berenang lagi di dalamnya, karena kau telah membawa seluruh air cintanya pergi. Hanya menyisakan kolam kosong di sini. Kolam yang tak memiliki makna lagi tanpa kehadiran air cintamu.
Kekasihku, aku tak pernah mengira cerita ini akan berakhir. Aku lupa akan sebuah kata perpisahan. Dan ketika kau pergi, kau membawa semua rasa yang pernah kau berikan padaku, meninggalkanku terpuruk, bak seorang anak jalanan yang ditelantarkan tanpa cinta. Dan aku hanya mampu meratapi rasa ini dalam tangisku. Tak pernah mengerti...
Namun, bila ini memang mau-mu, selalu ada restuku untukmu, rembulan-ku. Selalu ada keikhlasan di hatiku untukmu, mentari-ku. Meskipun bila kepergianmu itu untuk menyinari hati dan bunga yang lain.
Hanya satu pintaku...
Ingatlah diriku yang pernah ada di sampingmu, ada di waktumu, ada di hatimu.
Karena selalu kuingat dirimu yang pernah hadir di sampingku, temani waktuku, temani hatiku...
Gitu donk ... Nulis terus yah .. GBU
BalasHapusKadang kita harus mengasah kepekaan hati agar dapat memaknai setiap tapak kehidupan yang kita jalani, bijak adalah kunci kehidupan.
BalasHapus