Laman

Minggu, 16 Agustus 2009

Dunia Dongeng

Aku terpaku saat kau begitu sibuk membicarakan hal-hal yang belum terjadi yang menurutmu ada di depan sana. Dan ketika kau menuturkan dongeng itu, kau terlihat begitu percaya diri, seakan-akan semua itu sudah menjadi bagian dari dirimu sendiri. Terkadang aku sendiri merasa melambung jauh ke dunia yang asing, dunia ciptaanmu itu. Tapi dunia itu begitu tidak nyata bagiku. Semuanya goyah, bahkan kakiku tak dapat menemukan pijakan di sana.

Ini berbeda dengan bersikap positif pada masa depan. Saat seseorang bersikap positif pada masa depan dia menyimpan keyakinan akan hal-hal baik di depan sana. Namun dia tetap menjalani hidupnya yang sekarang dengan tenang, karena dia yakin akan jalan yang terbentang di hadapannya. Dia mampu mengalahkan semua ragu dan takut yang mengikuti langkahnya. Karena meski dia menyimpan asa untuk esok hari, dia tetap mencintai hari ini dan dirinya yang sekarang ini.

Namun kau berbeda. Kadang kau begitu ketakutan. Takut akan hari esok yang tak pasti. Lalu untuk mengalihkan rasa itu, kau coba ciptakan gambar yang indah tentang dunia di depan sana. Gambar yang terkadang menurutku terlalu indah. Lalu kau mulai hidup dalam imajinasi-mu sendiri, seakan membagi tubuh dan jiwamu dalam dunia yang berbeda. Seakan tubuhmu tergolek mati di dunia ini. Dan jiwamu kau titipkan di sana. Kadang kau coba pula untuk menarik dunia dongeng itu masuk ke dalam dunia nyatamu. Kau bagikan begitu banyak cerita-cerita tak nyata dari negeri antah berantah. Dan kau tersenyum bahagia. Bahkan sering tertawa dalam tuturmu.

Bisa melihatmu tersenyum, aku bahagia. Tapi aku tak bisa tak merasa khawatir. Karena senyum itu tercipta dari rasa yang lahir dari imajinasimu sendiri. Rasa dari sesuatu yang tidak nyata. Membuat rasa itu tak pernah benar-benar ada. Tapi kau seakan mengisap candu. Rasa itu begitu memabukkanmu, menyeretmu lebih dalam, jauh ke dalam dunia dongeng-mu...

Dulu, aku pun hidup dalam dunia dongeng-ku. Saat aku terpaksa bangun, aku seakan-akan baru dipaksa terjun dari tebing yang tinggi. Babak belur. Luka-lukaku itu, juga setumpuk kekecewaan dan penyesalan diri, begitu menyedihkan. Aku terpaksa membuka mataku dan menemukan dunia tempat kuberada ini jauh dari keindahan yang ditawarkan dunia dongeng-ku. Dan aku begitu kecewa akannya. Aku tak suka duniaku ini. Aku menginginkan dunia yang lain. Dunia yang tak nyata itu. Karena di sanalah aku-lah rajanya, aku-lah bintangnya. Sementara di dunia ini, aku tak merasa menjadi siapa-siapa...

Sebenarnya dunia ini juga indah. Bisa menjadi indah, bila saja kita mau menaruh hati dan asa kita di sini. Lihatlah ke sekeliling kita, pada orang-orang yang menemani langkah hidup kita. Banyak keindahan di sini. Walau tak sesempurna seperti pada cerita dongeng itu. Dan bila saja kita mau mengerti, bahwa tak ada bahagia yang abadi, mungkin kita akan berhenti hidup di dunia dongeng.

Memikirkan masa depan, itu harus. Untuk memberi semangat dan harapan menjalani hidup ini. Tapi bersikap realistis juga perlu. Merasakan saat ini. Sekarang. Di mana sebenarnya tubuh benar-benar berada. Karena mencoba memisahkan tubuh dan jiwa ke dua tempat yang berbeda, itu pasti sesuatu hal yang sulit.

Masa lalu adalah kemarin, tak dapat kembali lagi. Masa depan adalah esok yang belum bisa disentuh. Kita selalu berada pada masa ini, sekarang. Temukan kekuatan di masa ini. Coba lihat dirimu seutuhnya saat ini. Cintailah itu. Karena dengan kekuatan cinta itu, esok dapat kau sambut dengan ceria.

Teman, aku tak mau kau luka. Tak mau melihatmu tertatih dengan beban kecewamu. Bangunlah, kutunggu kau kembali di sini. Dan bersama-sama kita pasti dapat ciptakan keindahan dunia kita saat ini. Bukan nanti. Bukan di sana. Di sini. Sekarang.

(Inspired from: 'The Power of Now')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar