Rasa...
Kembali lagi tentang rasa. Entah bagaimana harus mengontrol rasa ini. Seandainya aku mengerti, mungkin tidak akan sesulit ini melaluinya. Tapi aku sendiri tak paham, bahkan aku mulai putus asa. Mungkin selamanya aku tak akan pernah paham...
Kadang aku takut pada diriku sendiri. Diriku yang seperti saat ini. Ketika dia tak mau patuh dan bahagia. Ketika dia menjadi keras kepala dan hanya menuruti rasa itu. Meskipun hampir sepanjang waktu dia mau menjadi anak manis dan mendengarkanku memintanya untuk selalu punya harapan di setiap detik hidup. Tapi tidak di detik ini. Tidak di masa ini. Dia menutup telinganya rapat-rapat. Dan aku tak dapat berbuat apa-apa, selain mengikutinya menerima rasa itu. Rasa tidak dicintai siapapun...
Aku selalu ingin menjadi cahaya. Bila mampu seterang mentari. Bila pun tidak, setidaknya aku bisa menjadi lilin. Tapi bila sumbuku telah terbakar habis, dan tubuhku telah meleleh tak bersisa, bagaimana aku dapat tetap bercahaya? Di mana akan kuambil cahaya baru? Bukankah lilin pun tak abadi? Tapi begitu sulit untuk bisa menjadi mentari. Hhhh....
Selalu kucoba untuk meniupkan harapan di setiap kataku. Mengekspresikan kegembiraan di gerak dan langkahku. Mencintai hidup. Mencoba mengerti segalanya. Mencoba belajar memahami segalanya. Melihat semuanya dari sudut berbeda. Tersenyum pada siapa dan apa saja. Mencoba melihat wajah Tuhan di mana pun...
Tapi sungguh hari ini aku tak mampu. Maafkan aku Tuhan... Bukan aku tak berusaha, bukan aku tak bersyukur. Aku benar tak mampu. Aku tak mengerti. Mengapa hidup seperti ini?
Cahayaku padam. Hanya ada gelap gulita. Hanya ada sunyi dan kekosongan. Dan di sini aku sendiri, merasa sendirian. Hanya ada gaung isakku. Hanya ada dingin airmataku. Akankah ada yang datang membawakan cahaya untuk menolong?
Tuhan, tolong...
Selamat pagi, Mba...
BalasHapusSaya Siti Nur Banin, saya sudah coba googling cari email Mba tapi gak nemu, jadi saya cuma mau ijin, saya sedang belajar membuat skenario, dan jika waktunya masih keburu hendak saya ikutkan lomba, nah bagaimana jika saya ingin mengangkat kisah yang Mba buat yaitu "Mencari Wajah Ibu" tentunya dengan menyebutkan bahwa skenarion itu adaptasi dari karya Anda. Bagaimana Mba? saya suka sekali dengan cerpen "Mencari Wajah Ibu" :)