Iri hati ya. Kecemburuan, tidak. Iri hati itu emosi wajar yg bahkan akan semakin mendesakmu utk berupaya lebih keras lagi. Itulah dambaan anak berusia 2 tahun yg sdg mendesak dirinya utk mencapai tombol pintu yg dpt dicapai abangnya. Tidak ada yg salah dlm hal itu. Tidak ada yg salah dgn rasa iri. Itu adalah sebuah motivator. Hasrat yg murni. Hal itu melahirkan kebesaran.
Kecemburuan, sebaliknya adalah emosi yg digerakkan oleh rasa takut, membuat seseorg ingin melihat agar sesamanya mendptkan lebih sedikit daripada dirinya. Itulah emosi yg didasari oleh kepahitan. Hal itu beranjak dr amarah dan menuntun ke amarah pula. Dan hal itu membunuh. Kecemburuan itu dpt membunuh. Siapa saja yg pernah berada dlm segitiga kecemburuan mengetahui hal itu.
Kecemburuan itu membunuh, iri hati itu memberi kehidupan.
Mereka yg memiliki iri hati akan diberi setiap peluang utk berhasil dgn cara mereka sendiri. Tak ada yg akan menghalangi dr segi ekonomi, politik, sosial. Bukan demi alasan ras, jenis kelamin atau orientasi seksual. Bukan demi alasan status kelahiran, kelas atau usia. Tidak demi alasan apapun. Diskriminasi demi alasan apa saja tidak akan ditoleransi.
Neale Donald Walsch CWG II (308-309)
Membaca penjelasan di atas di buku, mengenai perbedaan dari iri hati dan cemburu, saya baru disadarkan akan dilema yang selama ini terpikirkan. Terkadang iri hati dan kecemburuan itu dilihat sebagai sebuah reaksi atau sikap yang sama. Sikap yang negatif dan harus dibuang jauh-jauh. Tapi sejujurnya, siapa manusia yang tak pernah merasa iri atau cemburu?
Bagaimana bisa terus memiliki rasa ingin maju karena melihat kesuksesan orang-orang, tanpa merasa bersalah karena menyandang rasa iri/cemburu? Karena bila iri itu disamakan dengan cemburu, berarti kita telah bersikap negatif dan berbuat dosa. Tidak benar-benar berbahagia atas kesuksesan sesama karena terselip rasa iri/ cemburu. Karena dalam rasa cemburu, kita harus tak pernah menginginkan orang lain berbahagia/sukses lebih daripada kita. Jealous.
Seorang saudara pernah berkata seperti ini padaku, "I so envy you, with your life"
Kalimat itu diucapkannya tanpa ada nada negatif dan saya menerimanya sebagai suatu ungkapan yang kira-kira begini bunyinya, "Saya iri padamu, dengan kehidupanmu. Saya berharap bisa memiliki kehidupan yang seperti itu juga." That's all. Bahwa dia menginginkan bisa melakukan pencapaian yang telah saya capai, itu harapannya. Bukan menginginkan harus bisa 'melebihi' saya. Bukan posisi yang menjadi soal. Saya yakin itu, karena orang ini selalu menjadi salah seorang yang selalu memberikan dukungan cinta dalam hidup saya. Meskipun dia mengaku memiliki rasa iri terhadap saya. Dan dia mampu mengakui rasa iri itu tanpa merasa malu dan rendah. Satu sikap kejujuran yang sangat saya kagumi.
Karena itu mungkin kita harus mengecek kembali rasa yang ada dalam diri kita ketika melihat hidup dan kesuksesan orang lain. Apakah itu iri hati ataukah kecemburuan.
Saya sangat setuju dengan kalimat-kalimat Neale di atas bahwa kecemburuan bisa membunuh seseorang. Rasa cemburu lahir dari ketidakpuasan terhadap diri sendiri dan ketidakbahagiaan atas pengakuan diri terhadap keadaan orang lain yang lebih baik dari diri sendiri. Seseorang yang diliputi rasa cemburu, menjadi sosok yang negatif yang bukan mengejar/mementingkan arti sukses dan bahagia itu sendiri lagi pada dirinya, tapi lebih terfokuskan pada keinginan bisa menempati posisi lebih baik/ teratas dibandingkan dengan orang yang di-cemburuinya. Karena kecemburuan, seseorang bisa jadi terdorong melakukan hal-hal tercela, sikap-sikap yang menjatuhkan dan juga melontarkan kata-kata yang sarkastik hanya untuk membuat dirinya merasa lebih dari orang lain. Karena kecemburuan adalah pernyataan ketidakpercayaan akan diri sendiri sama berharganya/mampu dibandingkan dengan orang lain.
Saya ingat dulu ketika saya pernah mencemburui suami saya karena hal-hal negatif yang terpikirkan di kepala saya (biasalah seorang wanita...hehehe), dia tidak akan memberikan seribu alasan supaya saya berhenti cemburu. Dia hanya akan berkata: "Percayalah kepada dirimu sendiri."
Masalahnya sifat kecemburuan ini bila dipelihara, tak akan ada habisnya dan tak akan berujung. Karena diri yang tidak pernah yakin pada kemampuan diri sendiri, akan merasa tidak aman/takut dan selalu berusaha mengalahkan keberadaan org lain yg selalu dilihat sebagai ancaman. Karena suatu pencapaian lain dari seseorang yg dicemburui, akan melahirkan kecemburuan yang baru lagi. Berlanjut terus, menjadi rantai setan yang menjerat. Karena selamanya, hati yang dipenuhi rasa cemburu tak akan pernah menemukan kebahagiaan dan ketenangan. Kecuali bila semua orang menjadi lebih sial dan lebih bodoh daripada dirinya sendiri. Tapi masalahnya itu tak akan pernah terjadi, karena selalu masih ada langit di atas langit.
Sementara berbeda halnya dengan rasa iri, rasa itu membuat kita menjadi terpacu karena sukses seseorang, ingin bisa seperti orang itu. Tanpa perlu menjatuhkannya ataupun mengharapkan yang terburuk untuknya. Tanpa rasa negatif. Karena iri hati hanya sebatas dorongan semangat untuk bisa maju. Tidak mengecilkan keberadaan orang lain. Ketika kita hanya iri, tanpa cemburu kepada seseorang karena kesuksesannya, kita bahkan meluangkan lebih banyak waktu untuk mempelajari kesuksesan itu. Karena dari sanalah kita dapat belajar memperoleh rumus sukses yang sama. Kesuksesan orang lain menjadi pemacu, bukan mimpi buruk atau musuh/ancaman bagi kita. Kita bahkan bisa tertawa bersama bila sampai di garis kesuksesan yang sama. Dan mengangkat jempol untuk kesuksesan orang lain yang belum kita raih. Dan dalam sikap ini, kita tidak merasa kecil hati pada diri sendiri tapi selalu merasa percaya diri akan kemampuan yang kita miliki, bisa meraih kesuksesan yang sama tanpa perlu menjatuhkan orang lain dengan berbagai cara yang tidak benar. Mungkin saat ini kita belum berada di garis sukses itu, tapi itu tidak mengurangi nilai dan kebahagiaan diri sendiri. Yang juga berarti dengan semakin suksesnya orang lain, kita pun memiliki peluang sukses yang semakin besar. Ini mata rantai juga yang melahirkan sikap positif. Dengan demikian, kita selalu berharap menemukan banyak kesuksesan yang lain untuk bisa kita ikuti.
Ini hanya mengenai perbedaan cara pandang. Tapi perbedaan cara pandang itu penting karena membawa kita ke arah yang mana. Sikap kitalah yang menentukan menjadi seperti apakah diri kita sekarang dan nanti. Juga menentukan sukses atau bahagia tidaknya kita ini.
Selasa, 07 Juli 2009
Sabtu, 04 Juli 2009
Ingatlah Diriku...
Aku percaya bahwa takdir yang mengatur pertemuan antara diriku dengan orang-orang yang kujumpai dalam hidup ini. Takdir yang telah tertulis jelas dan tak mungkin kuubah. Begitu pun dengan pertemuan denganmu. Takdir-lah yang membawa kita pada hari itu, mempertemukan langkah kaki dan dua hati dalam sebuah awal rajutan kasih yang indah.
Duniaku menjadi begitu berbeda ketika kau menginjakkan kaki ke dalamnya. Lebih memiliki rasa. Lebih memiliki makna. Seakan-akan kau datang dan mendekor ulang setiap sudut dan space yang ada. Aku menyukainya, menyukai dekor baru duniaku, seperti aku juga menyukai dirimu.
Kau-lah rembulan yang menyinari gelap malam dalam hidupku dan menjadi mentari cerahkan pagiku dengan semangat baru dan menumbuhkan ranting-ranting harapan akan cinta dalam hidup ini. Cinta yang kemudian berbunga. Tahukah kau mengapa aku begitu menyukai mawar? Karena sewangi itulah bunga cinta kita. Dan sesempurna lekuk kelopaknya, begitu pulalah lekuk cinta kita. Indah tak terlukiskan.
Langkah kakiku menjadi tak sama ketika bersamamu. Lebih ringan. Lebih bersemangat. Lebih ceria. Senyum dan tawamu adalah bahan bakar kebahagiaanku.
Aku merasa seperti seekor itik kecil yang gembira berenang dalam kolam cinta buatanmu. Bermain di sana dengan riang, menemukan tempat yang begitu istimewa dan indah. Bahkan aku akan rela bila harus tenggelam di sana, asalkan aku bisa selamanya berada di sana, dalam pelukan cintamu.
Lalu, suatu hari tiba-tiba kutemukan kelopak cinta itu menguning dan melayu. Lalu jatuh perlahan-lahan, satu persatu. Begitu rapuh. Ada apa? Apakah kau lupa menyiramnya? Karena harusnya bukan aku yang lupa menyiramnya. Aku selalu ingat menyiramnya tepat pada waktunya, karena aku begitu menghargainya dan menginginkannya selalu hidup dan mekar. Mestinya kau yang lupa. Karena dia hanya bisa tumbuh ketika kita menyiramnya bersama-sama, dengan cukup cinta.
Apa yang terjadi? Aku tak tahu. Aku tak pernah yakin. Apakah kau tak lagi menginginkannya? Apakah kau telah menemukan bunga cinta yang lain, yang lebih wangi dan indah? Kau diam seribu bahasa, meski aku terus mengejarmu, mencoba menemukan jawab penghapus dahaga hatiku yang merana. Kaki ini terasa begitu lelah untuk terus mengejarmu, sementara langkah kakimu semakin bergegas dan semakin jauh. Meski aku memintamu untuk menungguku, kau tak menghiraukan suaraku. Kau semakin jauh dan akhirnya menghilang.
Kolam cinta itupun mulai mengering perlahan-lahan. Tak cukup lagi air cinta di dalamnya untukku berenang. Itik itu kehilangan kolamnya, kolam yang dicintainya, hingga kakinya mesti menyentuh dasar dan memaksanya kembali berjalan. Seperti memaksaku juga menyentuh dasar kenyataan. Kenyataan bahwa kau telah pergi meninggalkanku. Aku tak mampu berenang lagi di dalamnya, karena kau telah membawa seluruh air cintanya pergi. Hanya menyisakan kolam kosong di sini. Kolam yang tak memiliki makna lagi tanpa kehadiran air cintamu.
Kekasihku, aku tak pernah mengira cerita ini akan berakhir. Aku lupa akan sebuah kata perpisahan. Dan ketika kau pergi, kau membawa semua rasa yang pernah kau berikan padaku, meninggalkanku terpuruk, bak seorang anak jalanan yang ditelantarkan tanpa cinta. Dan aku hanya mampu meratapi rasa ini dalam tangisku. Tak pernah mengerti...
Namun, bila ini memang mau-mu, selalu ada restuku untukmu, rembulan-ku. Selalu ada keikhlasan di hatiku untukmu, mentari-ku. Meskipun bila kepergianmu itu untuk menyinari hati dan bunga yang lain.
Hanya satu pintaku...
Ingatlah diriku yang pernah ada di sampingmu, ada di waktumu, ada di hatimu.
Karena selalu kuingat dirimu yang pernah hadir di sampingku, temani waktuku, temani hatiku...
Duniaku menjadi begitu berbeda ketika kau menginjakkan kaki ke dalamnya. Lebih memiliki rasa. Lebih memiliki makna. Seakan-akan kau datang dan mendekor ulang setiap sudut dan space yang ada. Aku menyukainya, menyukai dekor baru duniaku, seperti aku juga menyukai dirimu.
Kau-lah rembulan yang menyinari gelap malam dalam hidupku dan menjadi mentari cerahkan pagiku dengan semangat baru dan menumbuhkan ranting-ranting harapan akan cinta dalam hidup ini. Cinta yang kemudian berbunga. Tahukah kau mengapa aku begitu menyukai mawar? Karena sewangi itulah bunga cinta kita. Dan sesempurna lekuk kelopaknya, begitu pulalah lekuk cinta kita. Indah tak terlukiskan.
Langkah kakiku menjadi tak sama ketika bersamamu. Lebih ringan. Lebih bersemangat. Lebih ceria. Senyum dan tawamu adalah bahan bakar kebahagiaanku.
Aku merasa seperti seekor itik kecil yang gembira berenang dalam kolam cinta buatanmu. Bermain di sana dengan riang, menemukan tempat yang begitu istimewa dan indah. Bahkan aku akan rela bila harus tenggelam di sana, asalkan aku bisa selamanya berada di sana, dalam pelukan cintamu.
Lalu, suatu hari tiba-tiba kutemukan kelopak cinta itu menguning dan melayu. Lalu jatuh perlahan-lahan, satu persatu. Begitu rapuh. Ada apa? Apakah kau lupa menyiramnya? Karena harusnya bukan aku yang lupa menyiramnya. Aku selalu ingat menyiramnya tepat pada waktunya, karena aku begitu menghargainya dan menginginkannya selalu hidup dan mekar. Mestinya kau yang lupa. Karena dia hanya bisa tumbuh ketika kita menyiramnya bersama-sama, dengan cukup cinta.
Apa yang terjadi? Aku tak tahu. Aku tak pernah yakin. Apakah kau tak lagi menginginkannya? Apakah kau telah menemukan bunga cinta yang lain, yang lebih wangi dan indah? Kau diam seribu bahasa, meski aku terus mengejarmu, mencoba menemukan jawab penghapus dahaga hatiku yang merana. Kaki ini terasa begitu lelah untuk terus mengejarmu, sementara langkah kakimu semakin bergegas dan semakin jauh. Meski aku memintamu untuk menungguku, kau tak menghiraukan suaraku. Kau semakin jauh dan akhirnya menghilang.
Kolam cinta itupun mulai mengering perlahan-lahan. Tak cukup lagi air cinta di dalamnya untukku berenang. Itik itu kehilangan kolamnya, kolam yang dicintainya, hingga kakinya mesti menyentuh dasar dan memaksanya kembali berjalan. Seperti memaksaku juga menyentuh dasar kenyataan. Kenyataan bahwa kau telah pergi meninggalkanku. Aku tak mampu berenang lagi di dalamnya, karena kau telah membawa seluruh air cintanya pergi. Hanya menyisakan kolam kosong di sini. Kolam yang tak memiliki makna lagi tanpa kehadiran air cintamu.
Kekasihku, aku tak pernah mengira cerita ini akan berakhir. Aku lupa akan sebuah kata perpisahan. Dan ketika kau pergi, kau membawa semua rasa yang pernah kau berikan padaku, meninggalkanku terpuruk, bak seorang anak jalanan yang ditelantarkan tanpa cinta. Dan aku hanya mampu meratapi rasa ini dalam tangisku. Tak pernah mengerti...
Namun, bila ini memang mau-mu, selalu ada restuku untukmu, rembulan-ku. Selalu ada keikhlasan di hatiku untukmu, mentari-ku. Meskipun bila kepergianmu itu untuk menyinari hati dan bunga yang lain.
Hanya satu pintaku...
Ingatlah diriku yang pernah ada di sampingmu, ada di waktumu, ada di hatimu.
Karena selalu kuingat dirimu yang pernah hadir di sampingku, temani waktuku, temani hatiku...
Langgan:
Entri (Atom)
Conversation With God (Book I Page 59-60)
Apakah rasa takut adalah yg kamu butuhkan utk menjadi, melakukan dan memiliki apa yg pd hakikatnya benar? Haruskah kamu diancam utk "menjadi baik?" Siapa yg berkuasa ttg itu? Siapa yg menentukan pedomannya? Siapa yg membuat aturannya?
Kukatakan hal ini kpdmu: Kamu adalah pembuat aturanmu sendiri. Kamu menentukan pedomannya. Dan kamu memutuskan seberapa baik telah kamu lakukan; seberapa baik sedang kamu lakukan. Karena kamu lah yg memutuskan Siapa & Apa Dirimu Sebenarnya-dan Diri Yg Kamu Cita-citakan. Dan kamu lah satu-satunya yg dapat menilai seberapa baik sedang kamu lakukan.
Tak ada org lain yg akan menghakimimu selamanya, karena mengapa, dan bagaimana Tuhan dapat menghakimi ciptaanNya sendiri dan menyebutnya buruk? Seandainya Aku ingin kamu menjadi dan melakukan segala sesuatu dengan sempurna, Aku pasti telah meninggalkanmu dalam keadaan benar-benar sempurna dari mana kamu datang. Seluruh maksud proses ini adalah agar kamu menemukan dirimu sendiri, menciptakan Dirimu, sebagaimana kamu sebenarnya - dan sebagaimana kamu inginkan sebenarnya. Namun, kamu tak dapat menjadi itu kalau kamu juga tidak memiliki pilihan untuk menjadi sesuatu yg lain.
Karena itu, apakah Aku seharusnya menghukummu karena membuat pilihan yang Aku sendiri telah letakkan di depanmu? Seandainya Aku tak menginginkanmu membuat pilihan kedua, mengapa Aku menciptakan pilihan yg lain daripada yg pertama?
Ini adalah pertanyaan yg harus kamu tanyakan kepada dirimu sendiri sebelum kamu memberi Aku peran sebagai Tuhan yg menghukum.
Jawaban langsung dr pertanyaanmu adalah ya, kamu boleh bertindak semaumu tanpa takut akan pembalasan. Namun, adalah berguna bagimu untuk menyadari konsekuensinya.
Konsekuensi adalah hasil. Akibat alamiah. Ini benar-benar tidak sama dengan pembalasan, atau hukuman. Akibat, sederhana saja. Akibat adalah apa yg berasal dari penerapan alamiah dari hukum alam. Akibat adalah apa yg terjadi, dengan dapat sungguh diprediksi, sebagai konsekuensi dari apa yg telah terjadi.
Semua kehidupan fisik berfungsi menurut hukum alam. Sekali kamu mengingat hukum ini, dan menerapkannya, kamu telah menguasai kehidupan pd tingkat fisik.
Apa yg tampak seperti hukuman bagimu - atau apa yg kamu sebut kejahatan, atau nasib buruk - tak lebih daripada hukum alam yg menyatakan dirinya
Kukatakan hal ini kpdmu: Kamu adalah pembuat aturanmu sendiri. Kamu menentukan pedomannya. Dan kamu memutuskan seberapa baik telah kamu lakukan; seberapa baik sedang kamu lakukan. Karena kamu lah yg memutuskan Siapa & Apa Dirimu Sebenarnya-dan Diri Yg Kamu Cita-citakan. Dan kamu lah satu-satunya yg dapat menilai seberapa baik sedang kamu lakukan.
Tak ada org lain yg akan menghakimimu selamanya, karena mengapa, dan bagaimana Tuhan dapat menghakimi ciptaanNya sendiri dan menyebutnya buruk? Seandainya Aku ingin kamu menjadi dan melakukan segala sesuatu dengan sempurna, Aku pasti telah meninggalkanmu dalam keadaan benar-benar sempurna dari mana kamu datang. Seluruh maksud proses ini adalah agar kamu menemukan dirimu sendiri, menciptakan Dirimu, sebagaimana kamu sebenarnya - dan sebagaimana kamu inginkan sebenarnya. Namun, kamu tak dapat menjadi itu kalau kamu juga tidak memiliki pilihan untuk menjadi sesuatu yg lain.
Karena itu, apakah Aku seharusnya menghukummu karena membuat pilihan yang Aku sendiri telah letakkan di depanmu? Seandainya Aku tak menginginkanmu membuat pilihan kedua, mengapa Aku menciptakan pilihan yg lain daripada yg pertama?
Ini adalah pertanyaan yg harus kamu tanyakan kepada dirimu sendiri sebelum kamu memberi Aku peran sebagai Tuhan yg menghukum.
Jawaban langsung dr pertanyaanmu adalah ya, kamu boleh bertindak semaumu tanpa takut akan pembalasan. Namun, adalah berguna bagimu untuk menyadari konsekuensinya.
Konsekuensi adalah hasil. Akibat alamiah. Ini benar-benar tidak sama dengan pembalasan, atau hukuman. Akibat, sederhana saja. Akibat adalah apa yg berasal dari penerapan alamiah dari hukum alam. Akibat adalah apa yg terjadi, dengan dapat sungguh diprediksi, sebagai konsekuensi dari apa yg telah terjadi.
Semua kehidupan fisik berfungsi menurut hukum alam. Sekali kamu mengingat hukum ini, dan menerapkannya, kamu telah menguasai kehidupan pd tingkat fisik.
Apa yg tampak seperti hukuman bagimu - atau apa yg kamu sebut kejahatan, atau nasib buruk - tak lebih daripada hukum alam yg menyatakan dirinya