Namanya Djunaedi. Aku sempat bingung harus memanggilnya apa. Waktu aku bertanya, dia menyuruhku memanggilnya dengan nama Edi. Edi? Hmmm... Kayaknya tidak sesuai dengan tampang. Teman-temannya malah memanggilnya dengan panggilan Suneo (temannya Nobita dalam cerita Doraemon). Alasannya? Mungkin karena wajahnya yang mirip Suneo. Mirip? Sedikit, cuma ini Suneo versi Jawa, bukan Jepang.
Pertama kali bertemu dia, jujur aku tidak terkesan sama sekali. Malah aku sempat berpikir, benar mau diterima bekerja orang ini? Masalahnya, tampangnya itu tidak meyakinkan. Rambutnya kriwil, lebih ke arah acak-acakan. Matanya besar, tapi tidak berani menatap ke arah orang yang mengajaknya bicara. Suaranya? Serak dan tidak jelas. Saat wawancara saja, aku merasa agak kesal dengan sahutannya yang terdengar buru-buru, sebelum mendengar habis apa yang aku katakan. Satu lagi, tampangnya lesu, seperti orang yang tidak cukup gizi dan semangat hidup. Maaf...
By the way, akhirnya Djuna diterima juga bekerja (akhirnya aku memanggilnya Djuna, karena memang rasanya lebih cocok!). Hari pertama dia naik ke lantai dua, mau ke toilet. Ia membungkuk dengan tangan di depan, sikap minta permisi. Dia melihatku lalu menunduk, mengeluarkan suara tak jelas. Aku menatapnya bingung. Begitupun dengan yang lain. Dia mengeluarkan suara tak jelas lagi dengan kikuk (ini pengaruh gugup), membuatku bertanya: apa??? Akhirnya dia menunjuk ke belakang, yang membuat kami semua bergumam: ooooh... Dan meledaklah tawa kami setelah itu. Benar-benar manusia aneh bagiku. Membuat aku semakin ragu dengan keputusan menerima dirinya, karena aku tipe orang yang suka pada orang yang percaya diri.
Aku tidak terlalu memperhatikan cara dia bekerja, soalnya dia bekerja di lantai satu, sementara aku sibuk di lantai dua. Cuma sesekali ketika aku turun, aku selalu menemukan dia sedang mengerjakan ini dan itu dengan serius. Tapi pikirku, biasalah anak baru masih fresh jadi selalu rajin...
Sampai satu hari aku mesti turun langsung ke bawah, mengawasi pekerjaan di lantai satu. Aku melihat Djuna bekerja dengan cepat, lebih cepat dari teman-temannya yang lain. Dan ketika aku mencari sesuatu dan bertanya tanpa menujukan pertanyaanku pada satu orang, si Djuna yang langsung berdiri dan mencari sesuatu itu dan memberikannya padaku. Hmmm... Not bad! Sangat bertolak belakang dengan kesan lesu dari wajah dan tubuhnya yang kurus. Dan seharian itu aku mengamati keseriusannya bekerja. Dia malah mengingatkan teman-teman lainnya untuk bekerja lebih cepat. Bahkan ketika ada yang bermalas-malasan, si Djuna langsung mengambil sekarton barang baru dan meletakkan karton itu di depan si pemalas. Dan ternyata tampang Suneo-nya (galak) bisa keluar juga. Aku sempat mendengar dia mengomeli temannya yang melakukan kesalahan. Padahal saat berhadapan denganku, si Djuna selalu tampak gugup dan pasrah pada nasib, alias tidak punya ketegasan sama sekali.
Suatu hari saat pulang kerja, aku berada di luar, melihat Djuna menyalakan motornya. Suara motornya ampuuuun! Bisa membuat orang-orang se-erte bangun. Ada yang salah di motornya, mengeluarkan suara seperti sapi sedang disembelih. Si Djuna terlihat gelagapan dengan wajah merah padam. Lama dia hanya duduk berjongkok di samping motornya dan memegang motor itu, tampak prihatin seperti tengah menjagai orang sakit. Aku akhirnya bertanya dan mendengarkan cerita motor yang mengalami kecelakaan dan kemudian baru keluar dari bengkel itu dengan keadaan yang tak baik juga. Akhirnya karena iba, aku memberi si Djuna kasbon untuk membawa motornya ke bengkel esok hari. Wajahnya langsung cerah bak langit biru.
Kemarin saat menerima gaji pertamanya, dia tersenyum lebar. Tetap terlihat jelek...hahaha... Maaf... Aku pesan padanya, kerja yang rajin. Dan dia mengiyakan dengan cepat (khas Djuna, yang tidak bisa basa-basi). Tapi kesan pertamaku kini berubah terhadap Djuna. Yang aku lihat kini adalah seseorang yang rajin, jujur dan punya semangat kerja yang tinggi. Walaupun tampangnya masih lesu, juga tubuh kurusnya masih selalu terlihat melengkung, namun bila aku butuh sesuatu, aku yakin dia akan tergopoh-gopoh datang untuk segera membantuku. Membuatku jadi bersyukur akan satu lagi orang baik yang dikirimkan Tuhan untuk membantuku. Terima kasih Tuhan. Dan terima kasih Djuna... ^0^
Senin, 05 April 2010
Palsu
Kau tak seindah kau yang terlihat. Kau juga tak sebaik kau yang terucap. Wajahmu, senyummu itu... Semua palsu. Kau tutupi bopeng dan parut di sana dengan sebuah topeng malaikat polos tak berdosa. Dan seringai kejammu, kau gantikan dengan senyum manis bersahabat.
Kau selalu ingin terlihat sempurna. Baik raga maupun jiwamu. Selalu memberi. Selalu berbagi. Selalu memiliki hati yang besar. Namun dibalik semua yang terlihat itu, hatimu lebih kecil dari pasir di pantai. Dan pemberianmu hanya wujud pemenuhan kesombongan diri. Dan sikap berbagimu selalu disertai sebuah alasan tersembunyi. Alasan yang selalu ada hanya untuk kepentingan diri dan egomu sendiri.
Kau terlalu palsu. Selalu palsu. Tak punya ketulusan dan kejujuran. Namun dalam katamu selalu kau ucapkan kata kejujuran. Dan dalam tindakan serta sikapmu kau pamerkan ketulusan. Agar orang-orang memuja dan memujimu. Agar orang-orang terpesona akan dirimu. Dan memang banyak yang akhirnya cinta padamu.
Tapi aku tidak. Dulu iya. Dulu aku begitu lugu mengira itulah dirimu yang sejatinya. Sebelum akhirnya kutemukan topeng wajah malaikatmu terlepas dari buruk wajahmu. Sebelum akhirnya aku terjerat dalam keserakahan hatimu. Sebelum akhirnya aku terpuruk jatuh dalam kecewa akan kepalsuan dirimu.
Tidakkah kau lelah berpura-pura? Tidakkah kau ingin lepaskan topengmu? Biarkan dunia melihat wajahmu yang sesungguhnya. Meski tak seindah yang kau inginkan namun tetap saja parut di wajahmu itu lebih indah karena mengandung kejujuran.
Kau tersenyum padaku dan bilang bahwa dirimu padaku selalu akan menjadi sahabat selamanya. Aku tak setuju. Maaf. Aku tak suka kepalsuan. Dan dirimu hanya pernah menjadi sahabat dalam lembar cerita hidupku yang telah kututup dengan paksa. Ya, telalu banyak kecewa dan sakit di sini, di hatiku. Yang kau hadiahkan tanpa ada rasa kasihan sedikitpun. Dan bagiku itu bukan perbuatan seorang sahabat.
Kau masih begitu palsu di hadapanku. Berbicara mengenai ketulusan dirimu. Mengira aku akan sekali lagi terperdaya. Mengira aku akan sekali lagi terbuai. Tidak. Aku tak sebodoh itu. Cukup sudah sekali salah langkahku. Cukup sudah asaku untukmu. Cukup sekali saja kau porak porandakan hati dan hidupku.
Aku tak punya maaf untukmu. Percuma kau katakan maaf berkali-kali. Karena tak kutemukan ketulusan dalam katamu itu. Hanya kosong tak bermakna. Hanya sebuah kata yang tak punya martabat lagi ketika kau ucapkan. Sumbang. Hampa. Kelam.
Pergilah. Jangan dekati aku lagi. Obralan kata dan senyum palsumu tak lagi akan kubeli. Juga tak akan kuterima meski kau berikan gratis. Kecuali bila telah datang kesadaran dirimu yang murni dengan semua parut dan borokmu. Kecuali bila kerendahan hatimu telah berhasil mengalahkan kesombongan dan ego kesempurnaan dirimu. Bila saja kau yang sebenarnya menawarkan kata persahabatan itu, mungkin, mungkin akan kubuka hatiku sekali lagi untukmu...
Kau selalu ingin terlihat sempurna. Baik raga maupun jiwamu. Selalu memberi. Selalu berbagi. Selalu memiliki hati yang besar. Namun dibalik semua yang terlihat itu, hatimu lebih kecil dari pasir di pantai. Dan pemberianmu hanya wujud pemenuhan kesombongan diri. Dan sikap berbagimu selalu disertai sebuah alasan tersembunyi. Alasan yang selalu ada hanya untuk kepentingan diri dan egomu sendiri.
Kau terlalu palsu. Selalu palsu. Tak punya ketulusan dan kejujuran. Namun dalam katamu selalu kau ucapkan kata kejujuran. Dan dalam tindakan serta sikapmu kau pamerkan ketulusan. Agar orang-orang memuja dan memujimu. Agar orang-orang terpesona akan dirimu. Dan memang banyak yang akhirnya cinta padamu.
Tapi aku tidak. Dulu iya. Dulu aku begitu lugu mengira itulah dirimu yang sejatinya. Sebelum akhirnya kutemukan topeng wajah malaikatmu terlepas dari buruk wajahmu. Sebelum akhirnya aku terjerat dalam keserakahan hatimu. Sebelum akhirnya aku terpuruk jatuh dalam kecewa akan kepalsuan dirimu.
Tidakkah kau lelah berpura-pura? Tidakkah kau ingin lepaskan topengmu? Biarkan dunia melihat wajahmu yang sesungguhnya. Meski tak seindah yang kau inginkan namun tetap saja parut di wajahmu itu lebih indah karena mengandung kejujuran.
Kau tersenyum padaku dan bilang bahwa dirimu padaku selalu akan menjadi sahabat selamanya. Aku tak setuju. Maaf. Aku tak suka kepalsuan. Dan dirimu hanya pernah menjadi sahabat dalam lembar cerita hidupku yang telah kututup dengan paksa. Ya, telalu banyak kecewa dan sakit di sini, di hatiku. Yang kau hadiahkan tanpa ada rasa kasihan sedikitpun. Dan bagiku itu bukan perbuatan seorang sahabat.
Kau masih begitu palsu di hadapanku. Berbicara mengenai ketulusan dirimu. Mengira aku akan sekali lagi terperdaya. Mengira aku akan sekali lagi terbuai. Tidak. Aku tak sebodoh itu. Cukup sudah sekali salah langkahku. Cukup sudah asaku untukmu. Cukup sekali saja kau porak porandakan hati dan hidupku.
Aku tak punya maaf untukmu. Percuma kau katakan maaf berkali-kali. Karena tak kutemukan ketulusan dalam katamu itu. Hanya kosong tak bermakna. Hanya sebuah kata yang tak punya martabat lagi ketika kau ucapkan. Sumbang. Hampa. Kelam.
Pergilah. Jangan dekati aku lagi. Obralan kata dan senyum palsumu tak lagi akan kubeli. Juga tak akan kuterima meski kau berikan gratis. Kecuali bila telah datang kesadaran dirimu yang murni dengan semua parut dan borokmu. Kecuali bila kerendahan hatimu telah berhasil mengalahkan kesombongan dan ego kesempurnaan dirimu. Bila saja kau yang sebenarnya menawarkan kata persahabatan itu, mungkin, mungkin akan kubuka hatiku sekali lagi untukmu...
Jumat, 02 April 2010
Kamu Bukan Anak Sial
"Mama bilang aku anak sial."
Aku menatap lurus ke arahnya, ke matanya yang bulat dan indah. Dia menunduk sejenak, kemudian ketika dia mengangkat kepalanya kembali, tatapan kami bertemu. Dia segera membuang tatapannya ke arah lain. Mata itu kini bergerak gelisah, dan senyum yang biasanya selalu menghias wajahnya menguap seketika.
Namanya Reza. Dia adalah satu dari promoter baru di perusahaan kami. Dia anak muda yang sangat percaya diri. Juga ceria. Itu salah satu alasan mengapa kami menerimanya. Tapi di balik keceriaan dan kepercayaan diri itu sebenarnya ada bagian kehidupan yang kelam yang berusaha disembunyikannya.
Belakangan ini menilai dari prestasi kerjanya yang naik dan turun tak menentu, aku mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya. Dan di pertemuan malam itu, seperti biasa dia hadir dengan penampilan memukau. Ya, Reza adalah seseorang yang sangat memperhatikan penampilan dirinya. Keinginan terbesarnya adalah menjadi seorang artis terkenal. Namun karena terlahir di keluarga miskin dengan bekal pendidikan yang rendah, dia hanya berharap suatu hari nanti jalan menuju impiannya bisa terbuka. Tanpa bisa mengikuti kursus atau sekolah-sekolah khusus untuk mengantarnya lebih dekat ke impiannya.
Bila kami bertemu, dia selalu menatapku langsung tepat di mata dengan senyuman lebar. Aku suka dengan tatapan penuh percaya dirinya itu. Karena bagiku mata adalah cermin jiwa. Dari mata kita bisa membaca banyak hal yang tak terucapkan.
Saat bertanya tentang prestasinya yang dinilai tidak bagus oleh perusahaan, dia masih tersenyum ceria, menjelaskan bahwa mungkin hanya karena faktor 'hoki' belum ada. Dan ketika aku menyinggung soal dirinya yang dilaporkan 'moody', dia sedikit terkejut. Dan akhirnya ketika aku menasehatinya untuk jangan membawa beban masalah sampai membuat diri sendiri stress, wajahnya yang ceria itu menghilang. Serta keluarlah dari mulutnya cerita mengenai ibunya.
"Tidak ada manusia yang sial di dunia ini. Meskipun orang itu terlahir tak punya kaki atau tangan."
Dia hanya diam.
"Kamu tahu proses manusia terlahir di dunia? Cara pembuahan terjadi? Kamu, saya dan semua orang yang terlahir di dunia ini adalah pemenang. Terlahir sebagai pemenang. Dari jutaan sperma, hanya satu yang berhasil membuahi sel telur. Dan satu itu adalah kamu, saya dan semua orang yang ada di dunia ini."
Dia kembali menatapku. Namun mata bulat itu kini berkaca.
"Jangan percaya apa yang dikatakan mamamu atau siapa saja yang menyebutmu anak sial. Tidak. Kamu bukan anak sial. Apa yang dikatakan orang-orang itu tidak selalu benar dan tidak penting. Yang terpenting adalah apa yang kamu yakini dan pikirkan tentang dirimu. Kalau kamu yakin kamu itu orang yang baik dan hebat, itulah dirimu."
Aku mendekatkan wajahku, merendahkan suaraku agar yang lain tidak bisa mendengarkan.
"Reza, ada sebagian orang yang terlahir di keluarga yang tidak mendukung mereka."
"Ya, saya seperti itu. Keluarga saya cuma tahu menuntut. Kemarin Mama datang minta uang dan saat saya bilang saya tidak punya uang, Mama marah dan bilang percuma dia datang menemui saya."
Aku menghela napas. Sesak rasanya membayangkan gajinya yang begitu kecil sebagai seorang promoter. Dia harus mengandalkan omzet penjualan untuk mendapatkan penghasilan bagus. Dan bila penjualannya menurun otomatis uang yang diterimanya juga menjadi sedikit. Sementara dia masih harus membayar cicilan motor yang dipakai kakaknya, menghidupi adiknya dan memberi uang pada ibunya bila ibunya datang meminta. Sementara dia sendiri harus membayar kos dan makan. Terkadang aku merasa dirinya begitu hebat masih bisa selalu tampil dengan percaya diri dan ceria menghadapi hidup yang begitu sulit unuk dijalani.
"Saat tidak ada yang mendukungmu, kau harus bisa lebih kuat. Berdiri di atas kakimu sendiri. Berusaha untuk masa depanmu. Dan jangan pernah putus asa atau membuang-buang waktumu. Buktikan pada orang-orang bahwa kamu ini tidak seperti yang mereka katakan. Saya yakin kamu bisa berhasil. Dan ketika kamu sudah berhasil, barulah kamu bisa mendukung penuh keluargamu. Mskipun mereka tak pernah berikan dukungan itu padamu."
Mata itu bergerak semakin gelisah. Ada air di sudut matanya. Airmata yang ditahannya agar jangan jatuh.
"Kamu itu selalu memakai topeng. Topeng keceriaan."
Dia tertawa, meski hambar. "Tidak."
"Ya."
"Tidak," sangkalnya meski terdengar lemah.
"Ya," kataku tegas. "Kamu selalu ceria, tapi sebenarnya dalam hati kamu banyak kesedihan yang tidak bisa kamu ucapkan."
"Ya," akunya lirih.
"Jangan pakai topeng itu. Buang. Jadilah dirimu yang benar-benar ceria. Semua orang punya masalah, semua orang punya kesedihan. Tapi jangan simpan di hati. Bagi keluar kesedihanmu itu. Namun, percayalah bahwa suatu saat keadaan akan menjadi lebih baik. Pasti akan lebih baik. Karena itu, hiduplah dengan benar-benar ceria. Saya yakin kamu bisa. Tapi kamu harus percaya bahwa dirimu bisa."
Dia kembali menatapku. Tak mampu berkata lagi.
"Saya tahu kamu punya impian yang besar. Saya percaya kamu bisa meraihnya. Tapi semua itu bukan datang dengan sendirinya. Kamu harus berusaha, berusaha mencari jalan ke arah sana. Kamu juga perlu uang untuk bisa mencapai impianmu. Karena itu kamu harus serius dan berusaha keras dalam bekerja. Fokuskan dirimu untuk mencapai target penjualan agar kamu punya uang lebih untuk bisa kamu gunakan untuk masa depanmu. Jadi, jangan biarkan lagi masalah apapun mempengaruhi dirimu dan prestasimu dalam bekerja. Karena ini penting. Penting untuk dirimu sendiri."
Aku tersenyum padanya. "Oke. Sekarang kita bicara soal gaji dan komisi kamu bulan ini."
Aku mengambil buku catatan di meja dan saat itu dia langsung cepat-cepat menyeka kedua ujung matanya. Aku pura-pura tidak melihat dan mulai menjelaskan padanya hitungan bulan ini.
Saat semua sudah selesai, dia tersenyum kembali dan mengulurkan tangannya dan mengucapkan terima kasih.
Aku mengangguk dan membalas senyumnya. "Semangat, ya..."
Malam itu aku melihat sebuah cerita kehidupan lagi. Cerita sederhana, biasa, berunsur kepahitan namun menyentuh jiwaku. Ada kesedihan yang terasa. Namun ada doa yang terucap. Semoga kau tetap kuat, Reza...
Aku menatap lurus ke arahnya, ke matanya yang bulat dan indah. Dia menunduk sejenak, kemudian ketika dia mengangkat kepalanya kembali, tatapan kami bertemu. Dia segera membuang tatapannya ke arah lain. Mata itu kini bergerak gelisah, dan senyum yang biasanya selalu menghias wajahnya menguap seketika.
Namanya Reza. Dia adalah satu dari promoter baru di perusahaan kami. Dia anak muda yang sangat percaya diri. Juga ceria. Itu salah satu alasan mengapa kami menerimanya. Tapi di balik keceriaan dan kepercayaan diri itu sebenarnya ada bagian kehidupan yang kelam yang berusaha disembunyikannya.
Belakangan ini menilai dari prestasi kerjanya yang naik dan turun tak menentu, aku mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya. Dan di pertemuan malam itu, seperti biasa dia hadir dengan penampilan memukau. Ya, Reza adalah seseorang yang sangat memperhatikan penampilan dirinya. Keinginan terbesarnya adalah menjadi seorang artis terkenal. Namun karena terlahir di keluarga miskin dengan bekal pendidikan yang rendah, dia hanya berharap suatu hari nanti jalan menuju impiannya bisa terbuka. Tanpa bisa mengikuti kursus atau sekolah-sekolah khusus untuk mengantarnya lebih dekat ke impiannya.
Bila kami bertemu, dia selalu menatapku langsung tepat di mata dengan senyuman lebar. Aku suka dengan tatapan penuh percaya dirinya itu. Karena bagiku mata adalah cermin jiwa. Dari mata kita bisa membaca banyak hal yang tak terucapkan.
Saat bertanya tentang prestasinya yang dinilai tidak bagus oleh perusahaan, dia masih tersenyum ceria, menjelaskan bahwa mungkin hanya karena faktor 'hoki' belum ada. Dan ketika aku menyinggung soal dirinya yang dilaporkan 'moody', dia sedikit terkejut. Dan akhirnya ketika aku menasehatinya untuk jangan membawa beban masalah sampai membuat diri sendiri stress, wajahnya yang ceria itu menghilang. Serta keluarlah dari mulutnya cerita mengenai ibunya.
"Tidak ada manusia yang sial di dunia ini. Meskipun orang itu terlahir tak punya kaki atau tangan."
Dia hanya diam.
"Kamu tahu proses manusia terlahir di dunia? Cara pembuahan terjadi? Kamu, saya dan semua orang yang terlahir di dunia ini adalah pemenang. Terlahir sebagai pemenang. Dari jutaan sperma, hanya satu yang berhasil membuahi sel telur. Dan satu itu adalah kamu, saya dan semua orang yang ada di dunia ini."
Dia kembali menatapku. Namun mata bulat itu kini berkaca.
"Jangan percaya apa yang dikatakan mamamu atau siapa saja yang menyebutmu anak sial. Tidak. Kamu bukan anak sial. Apa yang dikatakan orang-orang itu tidak selalu benar dan tidak penting. Yang terpenting adalah apa yang kamu yakini dan pikirkan tentang dirimu. Kalau kamu yakin kamu itu orang yang baik dan hebat, itulah dirimu."
Aku mendekatkan wajahku, merendahkan suaraku agar yang lain tidak bisa mendengarkan.
"Reza, ada sebagian orang yang terlahir di keluarga yang tidak mendukung mereka."
"Ya, saya seperti itu. Keluarga saya cuma tahu menuntut. Kemarin Mama datang minta uang dan saat saya bilang saya tidak punya uang, Mama marah dan bilang percuma dia datang menemui saya."
Aku menghela napas. Sesak rasanya membayangkan gajinya yang begitu kecil sebagai seorang promoter. Dia harus mengandalkan omzet penjualan untuk mendapatkan penghasilan bagus. Dan bila penjualannya menurun otomatis uang yang diterimanya juga menjadi sedikit. Sementara dia masih harus membayar cicilan motor yang dipakai kakaknya, menghidupi adiknya dan memberi uang pada ibunya bila ibunya datang meminta. Sementara dia sendiri harus membayar kos dan makan. Terkadang aku merasa dirinya begitu hebat masih bisa selalu tampil dengan percaya diri dan ceria menghadapi hidup yang begitu sulit unuk dijalani.
"Saat tidak ada yang mendukungmu, kau harus bisa lebih kuat. Berdiri di atas kakimu sendiri. Berusaha untuk masa depanmu. Dan jangan pernah putus asa atau membuang-buang waktumu. Buktikan pada orang-orang bahwa kamu ini tidak seperti yang mereka katakan. Saya yakin kamu bisa berhasil. Dan ketika kamu sudah berhasil, barulah kamu bisa mendukung penuh keluargamu. Mskipun mereka tak pernah berikan dukungan itu padamu."
Mata itu bergerak semakin gelisah. Ada air di sudut matanya. Airmata yang ditahannya agar jangan jatuh.
"Kamu itu selalu memakai topeng. Topeng keceriaan."
Dia tertawa, meski hambar. "Tidak."
"Ya."
"Tidak," sangkalnya meski terdengar lemah.
"Ya," kataku tegas. "Kamu selalu ceria, tapi sebenarnya dalam hati kamu banyak kesedihan yang tidak bisa kamu ucapkan."
"Ya," akunya lirih.
"Jangan pakai topeng itu. Buang. Jadilah dirimu yang benar-benar ceria. Semua orang punya masalah, semua orang punya kesedihan. Tapi jangan simpan di hati. Bagi keluar kesedihanmu itu. Namun, percayalah bahwa suatu saat keadaan akan menjadi lebih baik. Pasti akan lebih baik. Karena itu, hiduplah dengan benar-benar ceria. Saya yakin kamu bisa. Tapi kamu harus percaya bahwa dirimu bisa."
Dia kembali menatapku. Tak mampu berkata lagi.
"Saya tahu kamu punya impian yang besar. Saya percaya kamu bisa meraihnya. Tapi semua itu bukan datang dengan sendirinya. Kamu harus berusaha, berusaha mencari jalan ke arah sana. Kamu juga perlu uang untuk bisa mencapai impianmu. Karena itu kamu harus serius dan berusaha keras dalam bekerja. Fokuskan dirimu untuk mencapai target penjualan agar kamu punya uang lebih untuk bisa kamu gunakan untuk masa depanmu. Jadi, jangan biarkan lagi masalah apapun mempengaruhi dirimu dan prestasimu dalam bekerja. Karena ini penting. Penting untuk dirimu sendiri."
Aku tersenyum padanya. "Oke. Sekarang kita bicara soal gaji dan komisi kamu bulan ini."
Aku mengambil buku catatan di meja dan saat itu dia langsung cepat-cepat menyeka kedua ujung matanya. Aku pura-pura tidak melihat dan mulai menjelaskan padanya hitungan bulan ini.
Saat semua sudah selesai, dia tersenyum kembali dan mengulurkan tangannya dan mengucapkan terima kasih.
Aku mengangguk dan membalas senyumnya. "Semangat, ya..."
Malam itu aku melihat sebuah cerita kehidupan lagi. Cerita sederhana, biasa, berunsur kepahitan namun menyentuh jiwaku. Ada kesedihan yang terasa. Namun ada doa yang terucap. Semoga kau tetap kuat, Reza...
Cintakah Kau Padaku?

Seingatku, kau tak pernah bilang kau suka padaku. Apalagi cinta. Dan kau tak pernah menceritakan rasamu padaku. Atau menanyakan rasaku padamu. Seakan itu tidak penting. Tak pernah menjadi penting bagimu.
Tapi aku bingung. Bingung akan sikapmu yang selalu lain dari yang lainnya. Bingung akan kata-katamu yang selalu mencoba menggetarkan sukmaku. Bingung dengan semua yang ada pada dirimu, yang kau tujukan padaku. Tak pernah yakin diri ini mengartikan semuanya. Ataukah aku yang terlalu bodoh untuk menangkap pernyataan tanpa katamu?
Aku menunggu. Aku menanti. Dan saat waktu terus bergulir tanpa sebuah pernyataan pasti darimu, perlahan diri ini pun menyangkal semua harapan akan rasa yang sama. Dan aku pun mulai belajar melihat dirimu seperti mereka, sama, tak berbeda, tak harus kuberi rasa istimewa.
Tapi ketika aku telah mampu mengeluarkan bayangmu dari hatiku, kau kembali menebarkan pesona dirimu. Ketika aku berpaling, menganggap semuanya hanya sebuah intermezzo biasa, kau merajuk. Kau pinta aku menatapmu, menjadikanmu pusat duniaku. Hanya kau. Ya, hanya dirimu. Bukan yang lain. Dan tak boleh ada yang lain.
Tunggu... Dengan alasan apa aku harus berikan kebebasan hati ini? Hatiku hanya satu, mengapa harus kuisi dengan sosokmu? Sosok yang tak pernah membuat sebuah pernyataan tegas akan rasa dan hasratmu. Sosok yang seperti asap yang tak pernah mampu kusentuh dan kupegang. Sosok yang terkadang menghilang begitu saja dan kemudian kembali berusaha menyelubungi seluruh diriku tanpa rela memberi sedikit celah pada yang lain.
Bila memang kau suka padaku dan bila memang ada cinta itu di sana, mengapa tak pernah cukup kekuatan dirimu untuk menyatakannya? Tidakkah cinta harusnya memberimu kekuatan? Tidakkah cinta harusnya membahagiakanmu ketika kau mengungkapkan kejujuran akan dirinya? Kecuali bila ini bukan cinta. Kecuali bila kesombongan diri lebih berada di atas cinta itu sendiri.
Bila aku punya cinta, akan kuteriakkan selantang-lantangnya dengan suara yang aku punya. Dan akan kubiarkan seisi dunia tahu. Tak peduli dunia menertawakan atau tak setuju padaku. Karena yang terpenting dari semuanya adalah cintaku ini membuatku bahagia dan bangga akannya. Tapi, hanya bila aku punya cinta...
Jadi, cintakah kau padaku?
Photo Link: http://images.google.co.id/imglanding?q=love photo&imgurl
Langganan:
Postingan (Atom)
B'day Gift From My Buddy
Conversation With God (Book I Page 59-60)
Apakah rasa takut adalah yg kamu butuhkan utk menjadi, melakukan dan memiliki apa yg pd hakikatnya benar? Haruskah kamu diancam utk "menjadi baik?" Siapa yg berkuasa ttg itu? Siapa yg menentukan pedomannya? Siapa yg membuat aturannya?
Kukatakan hal ini kpdmu: Kamu adalah pembuat aturanmu sendiri. Kamu menentukan pedomannya. Dan kamu memutuskan seberapa baik telah kamu lakukan; seberapa baik sedang kamu lakukan. Karena kamu lah yg memutuskan Siapa & Apa Dirimu Sebenarnya-dan Diri Yg Kamu Cita-citakan. Dan kamu lah satu-satunya yg dapat menilai seberapa baik sedang kamu lakukan.
Tak ada org lain yg akan menghakimimu selamanya, karena mengapa, dan bagaimana Tuhan dapat menghakimi ciptaanNya sendiri dan menyebutnya buruk? Seandainya Aku ingin kamu menjadi dan melakukan segala sesuatu dengan sempurna, Aku pasti telah meninggalkanmu dalam keadaan benar-benar sempurna dari mana kamu datang. Seluruh maksud proses ini adalah agar kamu menemukan dirimu sendiri, menciptakan Dirimu, sebagaimana kamu sebenarnya - dan sebagaimana kamu inginkan sebenarnya. Namun, kamu tak dapat menjadi itu kalau kamu juga tidak memiliki pilihan untuk menjadi sesuatu yg lain.
Karena itu, apakah Aku seharusnya menghukummu karena membuat pilihan yang Aku sendiri telah letakkan di depanmu? Seandainya Aku tak menginginkanmu membuat pilihan kedua, mengapa Aku menciptakan pilihan yg lain daripada yg pertama?
Ini adalah pertanyaan yg harus kamu tanyakan kepada dirimu sendiri sebelum kamu memberi Aku peran sebagai Tuhan yg menghukum.
Jawaban langsung dr pertanyaanmu adalah ya, kamu boleh bertindak semaumu tanpa takut akan pembalasan. Namun, adalah berguna bagimu untuk menyadari konsekuensinya.
Konsekuensi adalah hasil. Akibat alamiah. Ini benar-benar tidak sama dengan pembalasan, atau hukuman. Akibat, sederhana saja. Akibat adalah apa yg berasal dari penerapan alamiah dari hukum alam. Akibat adalah apa yg terjadi, dengan dapat sungguh diprediksi, sebagai konsekuensi dari apa yg telah terjadi.
Semua kehidupan fisik berfungsi menurut hukum alam. Sekali kamu mengingat hukum ini, dan menerapkannya, kamu telah menguasai kehidupan pd tingkat fisik.
Apa yg tampak seperti hukuman bagimu - atau apa yg kamu sebut kejahatan, atau nasib buruk - tak lebih daripada hukum alam yg menyatakan dirinya
Kukatakan hal ini kpdmu: Kamu adalah pembuat aturanmu sendiri. Kamu menentukan pedomannya. Dan kamu memutuskan seberapa baik telah kamu lakukan; seberapa baik sedang kamu lakukan. Karena kamu lah yg memutuskan Siapa & Apa Dirimu Sebenarnya-dan Diri Yg Kamu Cita-citakan. Dan kamu lah satu-satunya yg dapat menilai seberapa baik sedang kamu lakukan.
Tak ada org lain yg akan menghakimimu selamanya, karena mengapa, dan bagaimana Tuhan dapat menghakimi ciptaanNya sendiri dan menyebutnya buruk? Seandainya Aku ingin kamu menjadi dan melakukan segala sesuatu dengan sempurna, Aku pasti telah meninggalkanmu dalam keadaan benar-benar sempurna dari mana kamu datang. Seluruh maksud proses ini adalah agar kamu menemukan dirimu sendiri, menciptakan Dirimu, sebagaimana kamu sebenarnya - dan sebagaimana kamu inginkan sebenarnya. Namun, kamu tak dapat menjadi itu kalau kamu juga tidak memiliki pilihan untuk menjadi sesuatu yg lain.
Karena itu, apakah Aku seharusnya menghukummu karena membuat pilihan yang Aku sendiri telah letakkan di depanmu? Seandainya Aku tak menginginkanmu membuat pilihan kedua, mengapa Aku menciptakan pilihan yg lain daripada yg pertama?
Ini adalah pertanyaan yg harus kamu tanyakan kepada dirimu sendiri sebelum kamu memberi Aku peran sebagai Tuhan yg menghukum.
Jawaban langsung dr pertanyaanmu adalah ya, kamu boleh bertindak semaumu tanpa takut akan pembalasan. Namun, adalah berguna bagimu untuk menyadari konsekuensinya.
Konsekuensi adalah hasil. Akibat alamiah. Ini benar-benar tidak sama dengan pembalasan, atau hukuman. Akibat, sederhana saja. Akibat adalah apa yg berasal dari penerapan alamiah dari hukum alam. Akibat adalah apa yg terjadi, dengan dapat sungguh diprediksi, sebagai konsekuensi dari apa yg telah terjadi.
Semua kehidupan fisik berfungsi menurut hukum alam. Sekali kamu mengingat hukum ini, dan menerapkannya, kamu telah menguasai kehidupan pd tingkat fisik.
Apa yg tampak seperti hukuman bagimu - atau apa yg kamu sebut kejahatan, atau nasib buruk - tak lebih daripada hukum alam yg menyatakan dirinya